Subscribe:

Labels

Saturday, 1 February 2014

Menemukan Kesadaran Diri sebagai Manusia

Apakah kita hidup hanya untuk makan? Kalu hidup hanya untuk makan, maka monyet pun juga makan. Kecuali Anda penganut Darwinisme radikal, Anda tidak akan senang bila dipersamakan dengan monyet pun keturunan monyet. Tentu saja apa yang saya utarakan hanya sekedar perumpamaan. Saya sering berpikir-pikir apa sih sebenarnya yang kita inginkan di dunia ini? Hampir semua orang akan menjawab ‘uang.’ Tentu saja. Saya pun butuh uang untuk hidup. Tapi seandainya uang sudah didapat lalu apa lagi? Wanita? Ya, pasangan hidup, tentu saja. Tak terbantah. Tapi setelah itu lalu apa? Emas sepenuh bumi? Rumah yang megah? Mobil sport keluaran terbaru? Lalu apa lagi?

Begitulah keinginan manusia, tiada berbatas. Selalu ingin lebih dan lebih. Apalagi bagi mereka yang dilimpahi harta berlebih. Ketika segepok uang dengan mudah didapat dan kebutuhan badaniah tercukupi, orang-orang ini akan sampai pada pertanyaan “apa lagi yang aku inginkan?”

Perlu diketahui bahwa kita sejatinya adalah makhluk spiritual. Jangan keburu mengaitkan tulisan ini dengan khotbah keagamaan tiap pekan. Saya hanya mengajak Anda untuk merenungkan eksistensi diri Anda selaku sebaik-baiknya makhluk ciptaan Tuhan. Manusia adalah makhluk spiritual yang hanya akan menemukan kedamaian apabila

Friday, 31 January 2014

Makna Kesempatan (Chance)

Bagi para atlet lari dan perenang profesional, selisih seperseratus detik bisa jadi sangat berharga. Itu artinya hanya gara-gara selisih nol koma nol satu (0,01) saja sudah lebih dari cukup untuk memupuskan asa meraih medali. Tak heran bila banyak atlet yang berlomba-lomba untuk mendongkrak performa dengan berbagai cara.

Ada celana didesain mirip kulit sirip hiu yang konon mampu meningkatkan laju perenang sekian persen. Ada pula sepatu super ringan yang mampu membuat pemakainya serasa tak menapak bumi saat berlari. Semua dilakukan demi memangkas sepersekian detik dari lawan-lawannya. Itu baru contoh kecil dalam perlombaan atletik saja. kompetisi lain macam balapan F1, motoGP, sampai pertandingan sepakbola tentu jauh lebih rumit. Semua berfokus pada satu hal, “kesempatan” yang lebih besar untuk menang.

Kesempatan, atau yang beken disebut “chance” dalam bahasa Inggris adalah salah satu serpihan dari waktu. “Time” dan “chance” adalah dua hal yang tak terpisahkan. Di mana ada waktu, di situ pula ada kesempatan. Keduanya pun sama-sama bermata dua, bisa membawa keuntungan berlipat atau kebangkrutan lusinan turunan. Barangsiapa dapat memanfaatkan waktunya, maka bisa dipastikan orang itu akan beroleh kesempatan yang lebih banyak.

Namun seringkali kesempatan hadir tak terduga. Kesempatan hanya hadir sekejap kemudian lenyap tak berbekas. Padahal belum sejengkal pun kita melangkah mendekat. Itulah kesempatan. hanya diperuntukkan bagi golongan yang pertama dan utama. Itulah kesempatan, pembeda antara pecundang dan pemenang.

Lihatlah, berapa banyak orang di dunia yang gagal dalam karirnya hanya karena keterlambatan beberapa menit? Berapa banyak pengusaha yang diputus kontrak karena proyek molor? Berapa banyak orang yang harus menjadi pecundang karena kesempatan yang menghampiri justru disia-siakan hingga raib diambil orang?

Saya, Anda, dan siapapun yang membaca tulisan saya adalah manusia. Pada dasarnya ada satu sisi dalam jiwa manusia yang enggan bekerja, enggan berpeluh-peluh dalam upaya. Jiwa yang lebih memilih hidup enak berleha-leha, tidur di atas ranjang empuk dengan pemanas hangat kala musim dingin, atau terpaan AC di musim panas. Nyamanya. Tentu saja. Tapi bisa dibayangkan mau jadi apa orang yang selama hidupnya tidak mau bekerja keras? Bukankah kita telah dikaruniai akal pikir serta hati yang dengan itu kita dapat mencari karunia Tuhan di muka bumi ini?

Kalau hidup hanya untuk makan, maka monyet pun juga makan. Kalau hidup hanya untuk tidur, maka beruang kutub bisa tidur lebih lama dari kita. Maka, sudah sepantasnya manusia memposiskan diri pada fitrahnya semula sebagai sebaik-baik makhluk ciptaan Tuhan. Berpikir, bekerja, bertindak nyata untuk membangun peradaban. Itulah yang menjadi pembeda manusia dengan binatang.

Bergegaslah menjemput kesempatan itu. Bergegaslah beranjak dari tempat tidur dan segera berlari menyongsong hangat mentari. Bergegaslah, sebelum hangat sang mentari menjelma menjadi beku yang mengusik dalam pekatnya malam. Karena kesempatan (seringkali) takkan datang dua kali.

Thursday, 30 January 2014

Gunakan Waktumu Sebelum Habis Umurmu

Tanpa kita sadari hidup ini penuh dengan pertempuran. Ada lebih banyak pertempuran terjadi dalam diri kita daripada apa yang sering kita saksikan di layar kaca. Pertempuran diri kita dengan hawa nafsu, pertempuran zat antibodi kita melawan kuman penyebab penyakit, pertempuran diri kita dengan kenangan pahit masa lalu, atau mungkin pertempuran kita dengan waktu. Ya, pertempuran kita dengan waktu. (?)

Semua orang tahu betapa pentingnya waktu. Ada yang bilang “waktu adalah uang.” Tapi saya lebih suka menyebutnya modal. Jika waktu adalah uang, maka besar kemungkinan kita akan menghamburkannya sia-sia. Beda halnya jika waktu adalah modal. Kita akan terlecut untuk menginvestasikan modal tersebut dengan baik melalui aktivitas-aktivitas positif nan produktif.

Waktu adalah musuh yang selalu menang. Kita tak kuasa sedikit pun melawannya. Meski semua arloji dan jam dinding di dunia dihancurkan, waktu akan terus berjalan gagah. Konstan. Memberikan modal berharga bagi siapapun yang memahami keberadaannya. Saking berharganya, banyak orang yang berandai-andai bisa menciptakan mesin waktu. Dengan mesin itu kita bisa kembali ke sekian jam hingga abad yang lalu. Entah sekedar ingin bertamasya atau memang ingin memperbaiki masa lalu untuk kebaikan masa depan. Ah, angan yang terlalu tinggi. Gila. Tentu saja.

Waktu adalah pedagang yang tak pernah rugi, tapi kehadirannya bisa membuat rugi banyak orang. Tentu saja orang-orang yang rugi karena waktu adalah orang-orang yang tak pernah mau memahami hakikat waktu dan malah menyia-nyiakan waktunya tanpa upaya. Lantas, kenapa hari ini masih ada anak manusia yang duduk manis bertopang dagu menunggu rejeki datang? Masih percaya kalau hujan emas akan turun dari langit? Masih percaya bahwa Tuhan bisa menghadirkan mukjizat yang membuatmu kaya dalam sekejap tanpa upaya? Lupakan. Saya dan semua orang juga pasti tahu bahwa orang yang lebih keras berupaya dan lebih sabar menghadapi ujian-Nya, jauh lebih pantas beroleh rezeki dari langit.

Bergegaslah bekerja, bertindak nyata, seakan hidupmu akan berakhir esok. Bergegaslah, jangan sampai ada sesal di hari esok. Bergegaslah agar lebih banyak kesempatan yang kau peroleh. Kesempatan untuk belajar lebih banyak hal baru, kesempatan untuk lebih banyak berbagi dengan orang-orang yang kau kasihi, dan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhanmu, Tuhan semesta alam.