Subscribe:

Labels

Showing posts with label inspiratif. Show all posts
Showing posts with label inspiratif. Show all posts

Monday, 13 June 2016

Hikmah dan Romantisme Puasa


“Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan atas orang- sebelum kamu,
agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa, sebagaimana ibadah wajib lainnya bagi saya menyimpan romantisme tersendiri. Saya masih ingat pertama kali berpuasa, di mana saya perlu beberapa kali latihan sebelum bisa berpuasa penuh seharian. Saat saya bocah, saya harus melatih diri dengan “puasa bedug” (puasa setengah hari). Dalam puasa bedug, saya mulai berbuka pukul 12 atau ketika adzan Dzuhur berkumandang. Kemudian setelah jam 1 siang, saya melanjutkan puasa sampai waktu Maghrib.

Tentu saja tidak ada tuntunannya berpuasa seperti itu. Idealnya, kalau mau berlatih puasa ya langsung saja puasa penuh seharian. Tapi kadar makrifat setiap orang berbeda. Dan salah satu tahap makrifat saya terhadap ibadah puasa adalah dengan puasa bedug tersebut. Dengan kata lain, puasa bedug adalah salah satu “kelokan” perjalanan spiritual saya untuk mengenal ibadah puasa.

Ngomong-ngomong urusan ini jangan dilaporin ke MUI ya. Saya takut dianggap sesat, bid’ah, melecehkan agama, atau sejenisnya. Namanya juga “bocah”, ada masanya perlu melatih diri. Jadi tolong urusan ini jangan langsung dikontradiksikan dengan kajian fiqih. Toh setelah akil balig, saya tidak lagi puasa bedug. Alhamdulillaah…

Kembali ke persoalan puasa.

Saat saya bocah, salah satu hal yang paling berkesan di bulan puasa adalah sirine tanda berbuka puasa yang nyaring terdengar di radio. Saya senang sekali mendengarkan sirine tersebut. Berhubung kampung saya jarang didatangi mobil ambulans, suara sirine di radio terdengar keren dan spesial—karena hanya muncul setahun sekali selama bulan puasa. Karena itu, tidak heran jika saya sering menanti-nantikan bunyi sirine itu, sampai-sampai melakukan countdown dan memukul kentongan keras-keras begitu sirine berbunyi—sekedar ikut-ikutan memberi tanda berbuka puasa pada tetangga (masa bodoh jika ada tetangga yang bilang saya “norak”—namanya juga bocah).

Puluhan tahun berlalu, sejak saya berisik memukul kentongan tanda berbuka. Saya mulai terusik untuk menyelami hikmah-hikmah puasa. Saat saya bocah, saya tidak ambil pusing dengan makna puasa. Puasa hanya saya pahami sebagai aktivitas tidak makan dan tidak minum dari waktu Subuh hingga Maghrib. Sesederhana itu. Tapi ketika beranjak dewasa, saya mulai menyadari bahwa ternyata ibadah puasa tidak sesederhana itu. Puasa lebih dari sekedar larangan tidak boleh makan dan tidak boleh minum. Dalam ibadah puasa, terdapat unsur “pengendalian diri” yang sangat kental, baik pengendalian hawa nafsu maupun pengendalian emosi.

Dalam ibadah puasa, kita diharuskan untuk mengakrabkan diri dengan rasa lapar dan haus meski secara alamiah, kita menyenangi rasa kenyang. Bukankah hal ini mengherankan? Jika kita senang kenyang, mengapa kita diwajibkan untuk berlapar-lapar dari Subuh hingga Maghrib? Mengapa kita diharuskan “menderita” meski di sekitar kita tersedia begitu banyak hidangan untuk disantap?

Jika pembelajaran puasa kita berhenti pada pertanyaan ini, boleh jadi kita akan memilih untuk tidak berpuasa. Kenapa? Karena puasa itu tidak enak. Puasa itu menyiksa. Puasa malah bikin kepala pusing dan badan lemas. Bodoh banget kalau ada orang yang mau-maunya puasa.

Pemikiran semacam itu bisa saja muncul jika kita memaknai puasa sebatas larangan makan dan minum. Jika kita melihat puasa dari sisi lahiriahnya saja, maka memang itulah yang terlihat. Rasa lapar, haus, badan lemas, kepala pusing, semua itu adalah dampak fisiologis yang dirasakan orang berpuasa. Itu normal. Tapi jika kita cuma mendapat sensasi lapar dan haus dari puasa, maka kita termasuk orang-orang yang merugi, karena sejatinya hikmah puasa lebih luas dari sekedar rasa lapar dan haus. Betapa membosankannya ibadah puasa, jika kita hanya menahan lapar dan haus dari Subuh hingga Maghrib.

Di sinilah pentingnya mencari tahu hikmah di balik perintah puasa. Karena dengan menyelami hikmah puasa, kita dapat menikmati ibadah yang oleh sebagian orang dianggap sebagai bentuk “penyiksaan diri” itu. Pengetahuan kita tentang hikmah puasa juga akan mendorong kita untuk lebih ikhlas dalam berpuasa, sehingga amal ibadah kita insya Allah tidak akan sia-sia.

Sebenarnya, ada begitu banyak hikmah di balik puasa. Jika merujuk pada ayat yang menyatakan perintah berpuasa, maka puasa ditujukan untuk menjadikan kita orang-orang yang bertakwa. Dengan puasa, kita diharapkan bisa semakin mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Dari segi sosial, kita bisa memahami puasa sebagai sarana untuk berempati, turut merasakan rasa lapar dan haus saudara-saudara kita yang kelaparan di luar sana. Dengan puasa pula kita bisa lebih bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang tercurah pada kita.

Kita bisa memaknai puasa sebagai metode pelatihan diri untuk mengendalikan hawa nafsu dan mengasah sisi-sisi ruhaniah batin kita. Karena itu, bulan puasa adalah momen yang sangat baik untuk memperbanyak amal ibadah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Jika kita memahami hakikat puasa, maka kita tidak akan “membenci” puasa sebagaimana kita membenci rasa lapar dan haus. Alih-alih kita malah akan merindukan ibadah puasa—sama halnya ketika saya merindukan bunyi sirine di radio saat saya masih bocah. Ibadah puasa memang bisa membuat tubuh lemas, tapi di sisi lain ibadah puasa juga bisa mengasah spiritualitas kita, semakin mendekatkan kita kepada Allah.

Semua hikmah itu bisa kita peroleh, jika kita MENCARINYA. Jika kita berhenti mempertanyakan hikmah ibadah puasa dan puas dengan jawaban “puasa adalah aktivitas tidak makan dan tidak minum”, maka urusan puasa selesai sebatas larangan makan dan minum—atau paling tidak iming-iming pahala dan ancaman siksa karena dosa meninggalkannya. Itu persis seperti pemahaman saya saat masih bocah dulu.

Karenanya, jika kita merasa sudah bertahun-tahun puasa tapi tak kunjung mendapat manfaat yang jelas dari ibadah puasa itu, maka kita perlu mengevaluasi lagi pemahaman kita tentang hikmah berpuasa. Begitu juga jika kita masih berat menyambut Ramadhan dengan hati gembira. Boleh jadi kita masih belum bisa ikhlas menjalankan ibadah puasa, alih-alih kita malah terpaksa menunaikannya.

Terlepas dari semua itu, ibadah puasa akan selalu menghadirkan romantisme tersendiri bagi orang-orang yang sudah memahami hikmahnya. Tidak hanya janji pahala yang berlipat ganda, tapi kesadaran batin bahwa puasa adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya, sampai-sampai Beliau menyatakan bahwa “…amal ibadah puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya”. Betapa besarnya makna puasa, sampai-sampai ganjaran ibadah puasa akan langsung diberikan oleh Allah. Jika kita sudah sampai pada taraf makrifat ini, maka bolehlah kita berharap agar Allah berkenan menjadikan kita orang-orang yang bertakwa—sebagaimana tujuan utama ibadah puasa itu sendiri. Semoga.[]

Monday, 30 May 2016

Merayakan Kehidupan


Ijinkan aku bertanya padamu,

Jika kamu seorang guru, apakah kamu menjadi guru karena kamu menyenanginya, ataukah karena kamu terpaksa menjalaninya?

Jika kamu seorang perawat, apakah kamu menjadi perawat karena kamu menyenanginya, ataukah karena kamu terpaksa menjalaninya?

Jika kamu seorang sopir ojek, petani, pedagang, tukang sapu, atau profesi apapun, apakah kamu menjalani semua itu karena kamu menyenanginya, ataukah karena kamu terpaksa melakukannya?

Jika dalam hidup ini kamu bisa memilih, tentu kamu akan memilih apa-apa yang kamu senangi. Pada dasarnya kamu lebih senang menjadi hartawan, menjadi orang penting, pejabat, atau setidaknya pegawai negeri. Kamu inginkan semua yang menurutmu bisa membuatmu bahagia. Kamu inginkan kehidupan ini berjalan sesuai keinginanmu. Bahkan diriku pun ingin begitu.

Nyatanya tidak. Kehidupan ini, tidak melulu soal melakukan apa-apa yang kita senangi. Kehidupan ini tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita mau. Justru sebaliknya, seringkali kita harus melakukan apa-apa yang tidak kita senangi. Seringkali kita harus menghadapi situasi yang tidak pernah kita harapkan terjadi. Tapi pada hal-hal yang demikian itulah, Tuhan mengajak kita untuk merenungi dan menyelami hakikat kehidupan ini.

Menjadi pedagang, misalnya. Boleh jadi kamu akan berpkir "Oh tidak, menjadi pedagang? Pedagang itu susah, serba tidak pasti, serba prihatin. Lebih banyak rugi daripada untung. Kalau ketemu kawan lama, bisa gengsi aku mengakuinya. Inginku ya jadi pegawai saja, lebih bermartabat, lebih berpangkat, kerja juga enak, tiap bulan dapat gaji dan tunjangan segala macam."

Tapi pernahkah kamu berpikir, bahwasanya justru karena berdaganglah, tanpa sadar kamu memberi lebih banyak manfaat.

Dengan berdagang itu, kamu cukupi kebutuhan banyak orang yang membutuhkan. Kamu beri kemudahan pada banyak orang untuk mengenyangkan perutnya. Kamu ringankan beban mereka yang "papa" dengan sengaja mengambil laba yang sedikit. Bahkan sekali dua, kamu rela dihutangi, saat pelangganmu kehabisan uang sementara anak-anaknya menangis kelaparan di rumah. Jika kamu ikhlas melakukan semua itu, boleh jadi ada lebih banyak "kebaikan" yang kamu peroleh, yang belum tentu kamu terima jika kamu memilih menjadi pegawai.

"Karena dalam hidup ini, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu. Pun boleh jadi kamu menyenangi sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu."

Hidup ini tak melulu soal materi. Hidup ini tak selalu tentang mendapatkan apa-apa yang kita inginkan. Hidup ini tak selalu tentang melakukan apa-apa yang kita senangi. Jika hidup hanya tentang melakukan apa-apa yang kita senangi dan mendapatkan apa-apa yang kita inginkan, bukankah kita tak jauh beda dengan bayi?

Maka, ikhlaslah. Belajarlah mensyukuri hal-hal kecil dalam hidup ini, sekalipun hanya helaan nafas atau seulas senyum dari bibir mungil anak-anak kita. Menjadi apapun dirimu sekarang, jalanilah itu, sebagai wujud "pengabdianmu". Hargai dirimu dan mulailah menebar manafat bagi sesama. Bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya?


Wednesday, 11 May 2016

Menasehati tanpa Menghakimi


Sebaik-baiknya nasehat adalah nasehat yang disampaikan dengan hikmah,
tanpa menyakiti perasaan mereka yang diberi nasehat.
(Hatake Niwa)

Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Manusia adalah makhluk yang bisa salah dan lupa. Karena mempunyai tabiat seperti itu, manusia diingatkan Tuhan untuk “saling menasehati dalam kebaikan, dan saling menasehati dalam kesabaran”. Dengan kata lain, manusia didorong agar tidak segan berbagi nasehat jika itu memang dibutuhkan.

Nasehat tidak harus berbentuk petuah dengan untaian kata-kata mutiara ala motivator. Tidak harus berupa penjelasan panjang lebar yang membuat pendengarnya mengantuk. Sebagian orang malah kurang respek jika si pemberi nasehat terkesan menggurui. Karena itu, pemberi nasehat yang bijak akan berusaha menjaga perasaan orang yang dinasehatinya. Mereka selalu berusaha mencari jalan tengah agar nasehat mereka didengar tanpa menghakimi perbuatan orang yang diansihati. 

Dalam hal ini, persoalan nasehat-menasehati tidak sesederhana menilai perilaku orang, menjabarkan kesalahannya, untuk kemudian mengakhirinya dengan nasehat. Tidak semudah itu. Kita harus tahu bahwa ada dimensi psikologis dalam diri manusia di mana mereka tidak suka disalahkan. Itu sebabnya, menghakimi atau menyalahkan perbuatan orang lain bukanlah sikap yang bijak untuk mengawali sebuah nasehat. Bisa saja orang yang ingin kita nasehati malah lebih dulu tersinggung dan tidak menaruh respek pada kita, karena perbuatannya disalah-salahkan. Jika sudah begitu, betapa pun benarnya nasehat kita, semua itu akan sia-sia karena orang yang ingin dinasehati keburu menutup telinganya.

Jika kita ingin memberi nasehat, maka “JANGAN MENGHAKIMI” perbuatan orang yang ingin kita nasehati. Sebisa mungkin kita harus menjaga perasaannya. Kita harus membuat orang itu menyadari kesalahannya terlebih dahulu. Bukankah orang yang berbuat salah seringkali tidak sadar jika perbuatannya salah?

Misalkan seorang bocah tidak mengerjakan sholat. Tanpa tahu duduk masalahnya, kita langsung memarahi bocah itu, “Hei, kamu kok nggak sholat? Itu kan dosa! Nanti kamu masuk neraka, lho! Besok lagi jangan diulangi ya!” 

Ya, meninggalkan sholat itu berdosa. Semua orang juga tahu. Tapi kita tidak bisa langsung menghakimi bocah itu tanpa menyelidiki latar belakang masalahnya. Boleh jadi bocah itu belum memahami esensi sholat, sehingga dia tidak merasa harus bangun pagi untuk sholat. Atau boleh jadi bocah itu tidak sholat karena belum pernah diajari orangtuanya.

Dengan mengetahui latar belakang masalah, kita bisa menentukan nasehat seperti apa yang dibutuhkan. Tidak perlu sampai menyalahkan perbuatan orang lain. Sampaikan saja apa yang baik baginya tanpa harus mengusik kesalahannya hingga membuat tidak nyaman. Biarkanlah nasehat kita menggugah kesadaran orang itu. Selama niat dan penyampaian nasehat itu baik, insya Allah nasehat itu tidak akan sia-sia.

Terlepas dari itu semua, apa yang saya tulis di sini sifatnya idealis. Kenyataannya, kita harus menghadapi berbagai tipe karakter manusia. Ada tipe orang yang nurut-nurut saja dinasehati, ada yang cuek, ada yang skeptis, ada pula yang tidak suka dinasehati, alih-alih malah memaki si pemberi nasehat. Karena itu, kembali lagi pada esensi nasehat. Tuhan mendorong manusia agar saling menasehati karena manusia adalah makhluk yang sering salah dan lupa. Tak peduli orang kaya, pejabat, maupun orang berilmu. Kita semua bisa saja khilaf dan harus diingatkan, harus dinasehati agar kembali ke jalan yang benar. Bayangkan kerusakan seperti apa yang akan terjadi jika orang salah dibiarkan salah, dan orang lupa dibiarkan lupa tanpa pernah diingatkan?

Di sisi lain, Tuhan juga membenci pemberi nasehat yang tidak mengerjakan nasehatnya sendiri. Tuhan sangat membenci orang yang “omdo” dalam menasehati orang lain. Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah sholat menasehati orang lain untuk sholat? Bagaimana mungkin orang yang suka korupsi menasehati orang lain untuk tidak korupsi? Dengan kata lain, jika kita menasehati orang lain maka kita mempunyai tanggung jawab moril untuk melakukan apa-apa yang kita nasehatkan. Bukankah konyol rasanya, jika kita mengharuskan orang lain utnuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita lakukan? Begitulah. []

Sunday, 8 May 2016

Masalah Saya dengan Aplikasi Chatting


Apalah artinya punya WeChat, Kakao, Line, BBM, Whatsapp,
jika kau tak punya teman ngobrol yang menyenangkan?
(Hatake Niwa)

Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang doyan gonta-ganti gadget. Selama sebuah gadget masih berfungsi dan tidak terlalu ketinggalan zaman, maka saya akan terus memakainya. Seperti dulu ketika saya kuliah semester awal. Saat itu, Blackberry tengah menjamur di kalangan anak muda. Beberapa teman saya juga ikut memakai Blackberry dan mulai bergerilya bertukar pin BBM (Blackberry Messenger). Di sisi lain, saya malah masih betah ngutak-atik HP konvensional yang pin default –nya: “1-2-3-4”.

Begitu tren Blackberry meredup, datanglah smartphone dengan OS Androidnya. Seperti halnya tren Blackberry, teman-teman saya mulai beralih memakai smartphone yang terkesan lebih futuristik. Sementara saya, masih bertahan dengan HP konvensional yang kameranya tak lebih dari 2MP. Alasannya sederhana, gadget lama saya masih layak pakai kok.

Sejujurnya, saya melakukan itu karena prinsip “mengedepankan FUNGSI daripada GENGSI” (yah, walaupun lebih terdengar seperti ‘mengenaskan’ dan ‘tidak bermodal’). Dengan prinsip itu, selama sebuah barang masih bisa dipakai dan tidak terlalu ketinggalan zaman, saya akan terus memakainya. Lagipula saat itu saya merasa belum membutuhkan smartphone. Komunikasi saya dengan teman-teman saya juga tidak terganggu meski tanpa smartphone ataupun Blackberry.

“Iman” saya baru mulai terusik ketika fitur chatting berjejalan di Playstore. Keberadaan aplikasi tersebut membuat pengiriman pesan konvensional via SMS mulai ditinggalkan. Banyak teman saya yang memakai aplikasi pesan berbasis internet (seperti Whatsapp dan BBM) untuk berkomunikasi. Dalam kondisi itu, mau tak mau, saya harus menyesuaikan diri. HP konvensional saya tidak lagi mencukupi untuk mengikuti dinamika teknologi dan tren saat itu. Pada akhirnya, dengan sedikit niat ikut-ikutan, saya pun tergoda membeli sebuah smartphone.

*   *   *

Sejak memiliki smartphone, saya mulai bergerilya menginstal berbagai aplikasi chatting. Mulai dari WeChat, Kakao, BeeTalk, Line, BBM, Whatsapp, sampai aplikasi random seperti Scout dan Friendstalk pernah saya instal. Berhubung kapasitas RAM saya kecil, saya memberlakukan sistem “bongkar pasang” saat mencoba berbagai aplikasi tersebut. Harapannya, aplikasi-aplikasi tersebut akan mempermudah saya dalam berkomunikasi dengan teman-teman saya.

Sayangnya, di antara sekian banyak aplikasi chatting  yang saya instal, hanya segelintir saja yang bertahan di smartphone saya. Sebagian besar aplikasi malah terasa mubadzir karena jarang atau tidak pernah saya pakai. Bahkan aplikasi sekaliber Whatsapp pun terpaksa saya uninstal karena memang tidak berguna (bagi saya). Sampai saya menuliskan ini, aplikasi chatting yang bertahan di smartphone saya hanya Line Messenger dan BBM. Itu pun saya pakai karena ada fitur groupchat di dalamnya. Jika groupchat sepi, maka praktis smartphone saya ikut-ikutan sepi.

Karena itu, tidak mengherankan jika saya bisa tidak menerima pesan apapun dalam sehari. Saya memang jarang berkirim pesan di luar groupchat kecuali saat ada acara atau urusan penting. Terkadang saya merasa teralienasi dari pergaulan di dunia smartphone—meski itu bukan hal yang buruk. Alih-alih mencari kesenangan dengan chatting, smartphone saya justru lebih berguna untuk keperluan browsing  di internet.

Ada beberapa alasan logis untuk menjelaskan kenapa saya jarang menerima pesan langsung dari orang lain. Alasan-alasan itu antara lain:

1. Saya bukan orang penting karena saya bukan bukan artis, aktivis, apalagi pebisnis.
2. (Karena alasan nomor 1) Tidak ada yang perlu menghubungi saya.
3. (Alasan nomor 2 terjadi karena) Saya bukan orang yang asyik diajak ngobrol.
4. (Mungkin juga karena) Saya segan untuk flirting pada anak gadis orang.
5. (Keempat alasan di atas menjelaskan kenapa) Saya enggan mencari pacar.

Alasan-alasan itu mungkin terdengar mengada-ada (lebih tepatnya saya hanya mengira-ngiranya saja). Toh bagaimanapun juga, muara dari permasalahan jarangnya orang yang nge-chat saya tidak lepas dari prinsip saya untuk memilih “sendiri”. Prinsip tersebut membuat saya tidak terlalu tertarik untuk flirting dengan anak gadis orang (baca: gebetan). Lagipula, saya bukan tipe-tiper orang yang mudah percaya dengan cinta di dunia maya.

Lho apa hubungannya chatting sama urusan asmara?

Tentu saja ada. Maraknya aplikasi chatting seperti sekarang, berbanding lurus dengan perkembangan cara-cara pedekate dan tebar pesona. Kita tidak bisa naif jika sejak jaman dahulu, orang-orang sibuk bertukar pesan untuk mencari pasangan, pacar, kekasih, suami, istri, atau apapun istilahnya. Dengan adanya aplikasi chatting, urusan semacam itu tentu menjadi lebih mudah. Segala sesuatu bisa disampaikan dengan lebih cepat.

Bandingkan dengan fitur SMS dan telepon yang (pada masa jayanya) penuh dengan “cerita heroik”—mulai dari membuat pesan tanpa spasi, menyingkat pesan agar tidak melebihi batas karakter, nelpon secukupnya, sampai begadang semalaman demi mendapat tarif nelpon gratis. Dan ujung dari semua perjuangan itu lagi-lagi sama—“mencari pasangan”, entah itu disebut pacar, kekasih, suami, istri, atau apapun istilahnya.

Tapi tentu saja, tidak semua orang memakai aplikasi chatting untuk mencari pasangan semata. Banyak juga yang memakainya untuk keperluan akademis, seperti janjian dengan dosen pembimbing atau untuk kepentingan bisnis seperti jualan online. Sangat disayangkan jika kemajuan teknologi komunikasi saat ini hanya dimanfaatkan sebatas untuk memenuhi insting mencari pasangan. Ada hal-hal lain yang lebih penting dan lebih layak diperjuangkan daripada sekedar mencari kekasih yang ditikung atau sekedar berebut gebetan.

Terlepas dari semua itu, sampai batas-batas tertentu, aplikasi chatting memudahkan kita berkomunikasi dengan orang lain—melebihi fasilitas SMS dan telepon. Aplikasi chatting via smartphone memungkinkan kita untuk berkirim pesan sebanyak dan sesering mungkin tanpa terhambat batasan karakter dan biaya pulsa per pesan. Tidak mengherankan jika orang jaman sekarang lebih memilih nge-chat daripada menekan tombol “Kirim SMS”.


Meski begitu, karena tidak semua orang memakai smartphone dan koneksi internet di tiap daerah berbeda-beda, fitur SMS dan telepon masih akan tetap survive. Saat ini pun saya masih memakai HP konvensional untuk berkirim pesan. Setidaknya, hal itu mengantisipasi kalau-kalau orang yang saya tuju tidak memiliki smartphone atau tengah bermasalah dengan koneksi internetnya (lost signal  atau kuota habis). Jika sudah begitu, maka tidak ada salahnya untuk tetap setia memakai cara-cara lama untuk berkirim pesan. []

Wednesday, 30 March 2016

Karena Cinta Butuh LOGIKA


Cinta tanpa logika,
kalau tidak bikin sakit, paling-paling bikin ‘’khilaf’’.
 (Hatake Niwa)

Seorang bijak pernah berkata “hidup itu pilihan.” Dalam pandangan filsafat, setiap orang memiliki apa yang disebut “kehendak bebas”. Kehendak bebas itulah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Dengan kehendak bebas itu, setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Karenanya, pada hakikatnya kehidupan ini hanya berisi pilihan-pilihan hidup. Tugas kita hanya memilih pilihan-pilihan itu. Dan untuk setiap pilihan yang kita pilih, selalu ada konsekuensi logis yang akan menentukan perjalanan hidup kita di masa depan.

Konsep kehendak bebas ini mencakup segala aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal cinta. Sebagai perasaan universal, cinta menyediakan berbagai macam pilihan bagi kita. Pacaran, menikah, LDR, HTS, jomblo, TTM, selingkuh, putus, dan cerai, adalah beberapa contoh pilihan dalam cinta. Tugas kita tidak lebih dari memilih pilihan-pilihan itu dan menerima segala konsekuensinya.

Jika kita memilih pacaran misalnya. Ok, well, mungkin kita akan merasakan betapa bahagianya memiliki kekasih. Kita bahagia, karena memiliki seseorang yang spesial yang tulus memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada kita. Dengan pacaran, kita berpikir kita sudah mendapatkan calon pendamping hidup. Itu gambaran indahnya pacaran. Tapi di sisi lain, ada saja kemungkinan buruk saat kita memilih pacaran.

Kita tidak bisa naif mengatakan pacaran adalah cara terbaik mencari pasangan hidup. Di satu sisi pacaran memang terlihat indah, seperti cerita novel atau di film-film picisan. Tapi di dunia nyata, realitasnya tidak semudah itu. Bagaimana jika pacar kita ternyata orang yang cuek? Bagaimana jika pacar kita ternyata seorang maniak tukang selingkuh? Bagaimana jika pacar kita keburu jengah dan memilih putus ? Semua kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi saat pacaran.

Sama halnya dengan menikah. Betapa banyak orang yang mengompori para lajang untuk segera menikah tanpa mau mengungkap susah payahnya kehidupan berumah tangga. Itu berbahaya sekali. Orang akan berpikir menikah itu mudah. Kemudian tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk menikah meski persiapannya pas-pasan. Tahu-tahu setelah menikah, orang itu menyadari ternyata kehidupan rumah tangga tak seindah kata orang. Biduk rumah tangga pun berantakan.

*   *   *

Seperti yang saya katakan di atas, setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi. Kita sendirilah yang harus bertanggung jawab atas setiap pilihan hidup yang kita ambil. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain, jika pilihan yang kita pilh ternyata keliru. Begitu juga dengan pilihan hidup orang lain. Kita tidak bisa menjamin pilihan hidup orang lain akan berdampak sama baiknya bagi kehidupan kita. Masing-masing orang menghadapi situasi dan kondisi lingkungan yang berbeda. Karenanya, pilihan-pilihan yang diambil pun sudah pasti berbeda.

Sebagai contoh, jika ada orang yang pacarannya awet sampai menikah, itu tidak selalu berarti pacaran adalah pilihan terbaik untuk mendapat pasangan. Kenyataannya, tidak sedikit orang yang pacaran sampai bertahun-tahun, tapi akhirnya putus sebelum ke pelaminan. Begitu juga dengan orang yang sudah menikah. Meski banyak orang mengaku bahagia setelah menikah, belum tentu setiap orang yang menikah akan bahagia. Ada saja segelintir orang yang rumah tangganya berantakan, meski sudah menikah bertahun-tahun lamanya.

Kita semua tahu, urusan cinta terkait dengan perasaan. Dan setiap perasaan akan selalu menyentuh emosi. Sementara emosi hanya bisa dikendalikan dengan LOGIKA. Cinta membutuhkan LOGIKA agar ia tetap berjalan dalam batas-batas hubungan yang semestinya. Menyikapi cinta tanpa logika, sama saja menyerahkan cinta pada dorongan nafsu dan pemenuhan ego pribadi.

Misalkan kita memiliki seorang pacar. Kita sangat mencintai pacar kita dan tidak bisa berpaling darinya. Karena hanya dia yang tahu cara membuat kita merasa nyaman. Tapi ketika pacar kita tak lagi perhatian dan berulang kali mengecewakan kita, logika kita akan bertanya, “Apakah pacar kita memberi cinta sebesar cinta yang kita berikan padanya? Apakah pacar kita berharap sebagaimana kita selalu berharap padanya?”

Jika saat itu kita memperturutkan perasaan kita, maka yang terjadi kemudian adalah kita “membenarkan” setiap perlakuan buruk dan kekecewaan yang kita terima. Kita selalu memaafkan pacar, dengan harapan suatu saat pacar kita akan sadar dan berubah. Kita yakin itu, karena cinta selalu memaafkan. Ya, memang benar cinta selalu memaafkan. Tapi ketika orang yang dimaafkan tidak kunjung memperbaiki diri, apa lagi yang bisa kita percaya dari cinta semacam itu? Tanpa sadar, kita justru "memperkosa" makna cinta itu sendiri, dan membiarkan orang lain “memanfaatkan” keluguan kita karena menyikapi cinta tanpa logika.

Contoh di atas hanya segelintir kasus di mana orang-orang terjebak dalam perasaan cinta sampai mengabaikan pertimbangan logika. Di luar itu, masih banyak kasus lain yang jauh lebih mengkhawatirkan, seperti kehamilan di luar nikah, aborsi, kawin lari, sampai pembunuhan berencana. Semua itu bisa terjadi, karena cinta disikapi dengan nafsu dan ego pribadi, hingga mengabaikan batas-batas logika.

*   *   *

Orang pacaran bisa saja putus. Orang menikah, bisa saja bercerai. Dan jomblo pun, tak selamanya berarti kebebasan. 

Dengan logika, kita belajar menerima segala konsekuensi hubungan cinta. Kita akan melihat cinta dari sisi yang berbeda—tidak hanya sisi indahnya, seperti di cerita novel atau film picisan, tapi juga mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dengan memahami konsekuensi hubungan cinta, kita bisa menjaga cinta itu pada koridor-koridor hubungan yang sewajarnya. Kita pun lebih mudah menerima kenyataan untuk move on, ketika hubungan itu harus kandas. Karena bagi orang yang jatuh cinta, konsekuensi logisnya cuma dua: berujung derita atau berakhir bahagia. Demikian. []

Thursday, 17 March 2016

Tiga Bayi Kucing di Sebelah Rumah


Semua pemberian Tuhan itu gratis.
Hanya pemberian manusia yang minta bayaran,
pakai ‘syarat dan ketentuan’ pula!?—repotnya.
(Hatake Niwa)

Mak…maaak…maakkk…” Beberapa waktu yang lalu saya mendengar erangan dari bangunan sebelah rumah. Awalnya, saya pikir itu suara tikus yang mencicit di loteng rumah. Setelah saya telusuri, ternyata suara itu bukan suara tikus, melainkan predatornya tikus—“kucing”. Saya mendapati ada tiga ekor bayi kucing di bangunan sebelah rumah. Dari kondisi tubuhnya, sepertinya bayi-bayi kucing itu baru lahir beberapa hari yang lalu. Anehnya, tidak ada induk kucing di sana. Mungkin si induk sedang sibuk mencari makanan di luar. Saya pun membiarkan bayi kucing itu di tempatnya.

Selang beberapa jam, tidak ada tanda-tanda induk kucing itu kembali. Agaknya si induk kucing itu sudah pergi, entah karena tidak mau mengasuh bayinya atau malah sudah mati di luar sana. Karena induknya pergi, rengekan ketiga bayi kucing itu semakin menjadi. Saat saya melongoknya, mereka mulai terlihat kelaparan. Demi memenuhi rasa “peri-ke-hewan-an”, mau tak mau saya pun mengacuhkan ketiga binatang malang itu.

Masalahnya, saya belum pernah memelihara seekor kucing pun di rumah. Rumah saya boleh dibilang steril dari kucing. Keluarga saya juga tidak terlalu senang memelihara binatang jenis mamalia, seperti kucing. Mereka lebih senang memelihara unggas seperti ayam atau burung. Karenanya, saya cukup kelabakan ketika memutuskan untuk mengurus tiga bayi kucing itu.

Saya pun mencari informasi tentang cara merawat bayi kucing di internet. Dari sekian banyak artikel dan tips yang saya peroleh, setidaknya saya harus menyiapkan perlengkapan dasar merawat bayi kucing, seperti kandang, dot (tempat susu), lampu pemanas, dan tentu saja susu kucing.

Seperti halnya bayi manusia, kebutuhan pokok bayi kucing adalah SUSU. Jika bayi manusia butuh ASI, maka bayi kucing butuh ASK (Air Susu Kucing). Idealnya, bayi kucing yang ditinggal induknya harus disusukan ke kucing lain yang mau berbagi ASK. Tujuannya, agar bayi kucing tetap mendapat pasokan nutrisi demi kelangsungan hidupnya.

Sayangnya, saya tidak melihat tetangga kanan kiri memelihara kucing. Saya terpaksa mencari susu kucing di petshop yang ada di kota. Di petshop itusaya sempat berkonsultasi dengan seorang karyawan tentang perawatan bayi kucing. Menurutnya, bayi kucing perlu diberi susu setiap 2-3 jam. Porsinya tidak perlu banyak, tapi sering.

Dengan kata lain, dalam sehari, seekor bayi kucing rata-rata harus diberi susu sebanyak 6-8 kali. Jika saya libur panjang, mungkin saya bisa melakukannya. Tapi seringkali, saya tidak selalu berada di rumah. Ada saja kepentingan yang mengharuskan saya keluar rumah selama berjam-jam. Karena itu, beberapa kali saya terpaksa melewatkan “jam makan” dan membuat bayi-bayi kucing itu kelaparan. (Maafin aku, ya, Cing…)

Urusan susu ini ternyata rempong sekali. Andai bayi-bayi kucing itu tinggal bersama induknya, maka masalahnya akan jauh lebih mudah. Semesta sudah menyiapkan “fasilitas” khusus untuk kelangsungan hidup bayi kucing. Dari tetek induknya, bayi kucing bisa langsung minum susu murni yang kaya colostrum—sebuah zat yang sangat penting bagi pertumbuhan bayi kucing. Susu kucing murni tentu jauh lebih aman dan bernutrisi dibanding susu “pabrik” yang diproses dari susu sapi. Terkadang, susu bikinan pabrik malah membuat bayi kucing mencret karena kadar laktosanya berbeda.

Tidak hanya soal susu, keberadaan induk kucing juga dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar bayi kucing, misalnya dalam urusan pencernaan. Biasanya, induk kucing akan menjilati daerah genital dan anus bayinya, agar bayi kucing itu bisa ngeden sampai akhirnya nge-pup dan pipis sendiri. Jika induk kucing tidak ada, maka si perawat bayi kucing-lah yang harus melakukan “pembersihan” itu (kita bisa memakai tisu atau kapas yang diberi air hangat untuk mengusap daerah genital dan anus si anak kucing).

Dengan segala kerempongan itu, tidak heran jika banyak bayi kucing yang sengaja dibuang pemiliknya. Biasanya bayi kucing dibuang di tempat-tempat pembuangan sampah. Jika pemiliknya “berbaik hati,” bayi kucing akan dipaketi dalam kardus, kemudian diletakkan di depan rumah orang—siapa tahu pemilik rumah akan merasa iba dan sudi merawat si bayi kucing. Yang paling sadis, bayi kucing akan dibuang ke jalanan, dan dibiarkan mati terlindas kendaraan yang lewat.

Semua kerepotan itu membuat saya memilih untuk tidak memelihara binatang seperti kucing. Bukan karena saya membenci kucing, melainkan lebih karena saya merasa tidak cukup telaten mengurusnya. Daripada ke-kurang-telaten-an saya malah menyiksa si kucing, lebih baik saya tidak usah memeliharanya saja (kasus tiga bayi kucing yang saya ceritakan di atas termasuk pengecualian).

Dari pengalaman merawat kucing, saya menyadari betapa sempurnanya sistem alam semesta. Sistem itu didesain khusus oleh Penciptanya demi menjaga kelangsungan hidup makhluk-makhluk-Nya. Seperti halnya air susu tadi, kuasa-Nya menjadikan air susu yang mengalir di antara darah dan kotoran. Air susu itu mudah ditelan dan “diformulasikan” khusus untuk menopang hidup si jabang bayi. Daya nalar dan teknologi manusia memang memungkinkan kita membuat susu formula. Meski begitu, kandungan nutrisi susu formula bikinan manusia masih tetap kalah jauh dibanding air susu alami ciptaan Tuhan.

Memikirkan hal ini, seharusnya membuat manusia merasa malu. Sebagai manusia, kita menikmati berbagai fasilitas gratis ciptaan Tuhan, tapi kenapa sedikit sekali di antara kita yang mau bersyukur? Kita tidak pernah membayar Tuhan untuk bernapas. Kita juga tidak pernah membayar-Nya untuk sekedar melihat. Sementara di rumah sakit, orang-orang bahkan harus membayar milyaran hanya untuk bisa bernafas atau melihat.

Lebih dari itu, Tuhan tetap bermurah hati memberikan fasilitas hidup, tanpa pandang bulu. Orang baik maupun orang jahat sekali pun, bisa tetap mendapat rahmat-Nya. Sekarang, tinggal bagaimana manusia mensyukuri dan memanfaatkan fasilitas itu—apakah ia akan memakainya demi menebar kebaikan atau untuk merusak tatanan semesta.


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ” []

Wednesday, 16 March 2016

Motivator Kok Dipisuhi


Jika motivator cuma modal ngomong,
kenapa tidak semua orang sukses jadi motivator?
(Hatake Niwa)

Dulu, saat saya masih sering galau, saya rajin mengikuti acara motivasi di sebuah televisi swasta. Acara tersebut ditayangkan setiap pekan. Bukan acara live sih, tapi bagi saya acara itu lumayan efektif untuk menyentil nalar dan menggugah nurani.

Setiap pekannya, si motivator membahas topik yang beragam. Biasanya, dalam acara itu si motivator melakukan dialog interaktif dengan audience yang ada di studio. Di sela-sela dialog itu, si motivator akan menyitir banyak nasehat bijak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Apapun pertanyaan dan keluhannya, si motivator selalu memiliki jawaban logisnya—seakan-akan dirinya adalah “doraemon” yang bisa mengatasi segala masalah.

Si motivator tidak hanya terkenal di layar kaca. Di dunia maya, ia juga dikenal luas oleh para netizen. Fanspage-nya di media sosial terbilang sukses. Jumlah followers-nya mencapai jutaan. Dengan fanspage itu, si motivator sering membagikan nasehat-nasehat bijaknya. Kebanyakan nasehatnya bertutur tentang kebijaksanaan hidup, hubungan antarpribadi, percintaan, dan pengembangan diri. Semuanya dikemas dalam bahasa “tingkat tinggi” yang sengaja dipilih demi menggugah motivasi para pembacanya.

Anehnya, tidak semua orang menyukai nasehat si motivator. Ada saja segelintir netizen yang nyinyir bilang si motivator cuma “omdo” (omong doang). Ada juga yang sibuk ngeles, mencoba memelintir nasehat si motivator dengan argumen dangkal. Komentar andalan yang sering mereka pakai kurang lebih begini: “Kalau cuma ngomong doang sih gampang, prakteknya susah, Pak!

Hadeeeh… Saya tidak habis pikir. Namanya juga motivator, tidak salah kalau dia rajin membagi kata-kata mutiara. Ibaratnya, motivator itu penjual roti. Bukankah wajar jika penjual roti berkeliling kampung sambil berseru menjajakan dagangannya. Begitu juga motivator. Bagaimanapun seorang motivator dihargai karena keahliannya memotivasi orang lain. Menggelikan sekali jika kita malah nyinyir misuhi si motivator sampai berani berkomentar miring seakan-akan kita lebih berpengetahuan dibanding si motivator.

Jangan kira seorang motivator cuma waton ngomong. Sekedar ngomong memang gampang. Tapi “ngomong baik-baik” untuk menggugah kesadaran orang lain, mustahil bisa dilakukan sembarang orang. Setiap kata yang dipilih harus kata-kata yang “bertenaga” dan bisa membangkitkan motivasi. Kemampuan itu membutuhkan persiapan yang panjang, penguasaan teori yang mumpuni, dan latihan intens selama bertahun-tahun. Karenanya, tidak semua orang bisa menjadi motivator sukses.

Seorang motivator tidak cukup hanya piawai memahami seluk beluk psikologi. Lebih dari itu, mereka harus memiliki kecerdasan intrapersonal yang tinggi. Semua itu didukung dengan kecakapan public speaking dan pancaran aura kewibawaan yang membuat siapapun tertarik untuk menyimak kata-kata si motivator.

Jika yang dilakukan motivator itu tidak salah, kenapa ia malah punya haters ?

Well, kita tahu, di dunia ini ada tipe-tipe orang yang bebal terhadap nasehat. Orang-orang semacam ini menginginkan kehidupannya bebas dari kritik. Nasehat apapun yang ditujukan pada mereka lebih sering mental dan diabaikan. Orang-orang bebal ini hanya meyakini “kebenaran” versi mereka sendiri. Mereka baru akan “sadar” manakala kebenaran yang mereka yakini ternyata keliru. Jika belum kena batunya, mereka tetap keukeuh mempertahankan idealismenya, tanpa mempedulikan nasehat orang lain. Boleh jadi, orang-orang bebal semacam itulah yang sering nyinyir berkomentar miring terhadap nasehat si motivator.

Terlepas dari itu semua, pada dasarnya “mengkonsumsi” nasehat secara berlebihan bisa berdampak buruk bagi rohani kita. Itu bisa terjadi jika kita tidak mengimbangi nasehat dengan tindakan nyata dan perbaikan diri.

Sebuah nasehat bijak seharusnya menggugah kesadaran kita untuk segera melepaskan diri dari masalah. Tapi terkadang, nasehat itu malah menjadi “candu” yang membuat kita berpikir masalah kita akan selesai karena nasehat itu. Padahal, masalah akan tetap ada sampai kita tergerak untuk mencari solusinya. Karena itu, harus ada keseimbangan antara nasehat yang kita dengar dan tindakan rasional kita di dunia nyata.


Pada akhirnya, jika kalian termasuk salah satu orang yang jengah dengan nasehat motivator, maka saran saya, berhentilah menonton atau membaca nasehatnya. Jika kita merasa tidak setuju atau jengah dengan nasehat itu, tidak perlu repot-repot menjadi haters atau berkomentar miring padanya. Karena sebuah nasehat tetaplah nasehat. Jika bukan untuk kita, boleh jadi nasehat itu bisa bermanfaat bagi orang lain. Toh tugas motivator tetap sama: MEMOTIVASI ORANG AGAR MELIHAT “TERANG” DALAM SETIAP MASALAH YANG DIHADAPINYA.


NB:
* dipisuhi, misuh-misuh = semacam marah-marah/ngedumel dengan tidak jelas

Tuesday, 15 March 2016

Long Distance Relationship Tak Selamanya Buruk


Yang nikah saja bisa kandas gara-gara LDR,
apalagi yang cintanya sebatas pacar, TTM, 
atau hubungan lain  yang tidak jelas statusnya.
(Hatake Niwa)

Saya sering kasihan pada orang yang LDR. Gara-gara LDR, mereka tidak bisa menghabiskan malam minggu bersama. Gara-gara LDR, mereka harus membunuh tega setiap kerinduan yang muncul ke permukaan. Gara-gara LDR pula, mereka sibuk berharap-harap cemas, takut pasangannya mencari “ban serep di perantauan. Saking beratnya LDR, sampai-sampai banyak hubungan percintaan yang kandas di tengah jalan.

Bagaimana tidak. Sampai batas-batas tertentu, LDR bisa mengurangi, bahkan meniadakan jalinan interaksi dan komunikasi dengan pasangan. Padahal interaksi dan komunikasi intens dengan pasangan merupakan elemen penting dalam membangun hubungan percintaan. Minimnya interaksi dan komunikasi bisa mendorong kita untuk mencari kompensasi lain demi memenuhi rasa ingin diperhatikan dan disayang. Karena itu, jangan heran jika banyak cerita LDR yang endingnya ditinggal selingkuh atau ditinggal nikah.

Terlepas dari semua itu, LDR tidak melulu terlihat buruk. Bagi pasangan yang sudah di ambang perceraian, misalnya, LDR malah dilihat sebagai jalan terbaik untuk memperlancar urusan cerai. Alih-alih mereka memang “sepantasnya” menjaga jarak dengan mantan istri atau suami demi menjaga martabat dan harga diri.

Tapi bagi pasangan muda yang baru saja menikah, LDR jelas sebuah mimpi buruk. Malam-malam di saat mereka seharusnya berbulan madu, malah diisi dengan dinginnya harapan dan penantian. Setan pun leluasa membuka prasangka, “Jangan-jangan laki-mu sedang ‘main gila’ dengan wanita lain di seberang.

LDR bagi mereka yang sudah nikah tentu terasa berbeda daripada LDR-nya mereka yang belum nikah. Setelah menikah, kita menanggung tanggung jawab dan konsekuensi yang lebih besar dalam setiap keputusan yang diambil. Ikatan pernikahan mengharuskan sebuah hubungan percintaan mengikuti tatanan formal hukum yang berlaku. 

Orang yang sudah nikah akan berpikir dua kali untuk selingkuh, lebih-lebih jika mereka ingin kawin lagi di perantauan. Andai nekat meminta cerai karena tidak betah LDR, mereka harus mengurus seabrek berkas gugatan ke pengadilan agama. Belum lagi berbicara seputar hak asuh, hubungan dengan mertua, sampai uang ganti rugi.

Sementara pada pasangan yang belum nikah, tanggung jawab yang diemban tidak sebesar mereka yang sudah nikah. Orang pacaran yang LDR lebih leluasa untuk minta putus dan berpaling, tanpa harus menanggung konsekuensi seperti halnya orang minta cerai. Orang pacaran bisa saja minta putus dalam semenit. Dan LDR bisa menjadi alasan paling wajar untuk minta putus. Jika itu yang terjadi, tidak akan ada satu pengadilan pun yang sudi mengurus gugatan kita. Yang bisa kita lakukan paling-paling ‘cuma’ mengurung diri di kamar dan mewek—menangis semalaman.

Saya bukan bermaksud menakut-nakuti apalagi mendoakan yang buruk-buruk. LDR-nya mereka yang belum menikah boleh jadi lebih berpotensi “merusak hubungan” daripada mereka yang sudah nikah. Semua ini simply karena mereka yang belum nikah hanya menyandarkan hubungan mereka pada “kontrak lisan” yang berupa janji-janji—entah janji untuk setia, janji untuk tetap mencinta, atau janji untuk menikahinya kelak saat kembali. Karena tidak ada “hitam di atas putih”, pada akhirnya lebih banyak orang yang memilih ingkar daripada setia.

Melihat beratnya menjalani LDR, kita tidak bisa memutuskan LDR dengan mengabaikan keinginan pasangan kita. Kita harus memiliki pembenaran logis sebelum memutuskan untuk menjalani LDR. Setiap pasangan harus memahami alasan mereka memilih LDR. Mereka juga harus siap menerima segala konsekuensi dan skenario terburuk dari hubungan jarak jauh.

Kita juga tidak bisa naif mempasrahkan urusan LDR pada “kontrak emosional” seperti komitmen, kepercayaan, dan janji setia seperti yang ada dalam novel-novel picisan. Apalagi jika kita masih belum bisa percaya sepenuhnya pada pasangan kita. Dalam konteks ini, boleh dibilang kita belum siap menjalani hubungan jarak jauh. Karena itu, ada baiknya kita mengutarakan masalah tersebut di awal, daripada menelan pil pahit belakangan. Dengan begitu, kita bisa mendiskusikan win-win solution sebelum memutuskan menjalani LDR.

LDR memang tidak selamanya buruk. Kita bisa memaknai "jarak" sebagai sebuah variabel untuk menguji kesetiaan pasangan kita. Dengan jarak, kita akan mengerti apakah cinta yang selama ini kita rasakan semakin besar atau malah sebaliknya—berubah hambar. Dengan jarak pula, kita akan belajar untuk bersabar, mentafakuri kesetiaan dan menyelami agungnya pengharapan. Karena yakinlah, ada saat di mana kita harus merelakan orang yang kita kasihi pergi—menuju kehidupan lain yang lebih abadi. Tak tertolak!

Thursday, 3 March 2016

Menjadi Pekerja Seks Sukarela


Ada siswi SMA hamil di-DO sekolahnya.
Giliran mahasiswi hamil kok tidak di-DO kampusnya?
Oh, betapa ‘adilnya’ si pembuat peraturan
(Hatake Niwa)

Sebelumnya, saya mohon maaf, jika judul di atas terlalu vulgar. Tapi yakinlah, tulisan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan Kalijodo atau penertiban lokalisasi sejenisnya. Kasus yang ingin saya utarakan di sini berbeda.

Ilustrasi :
Ceritanya, ada seorang mahasiswi—sebut saja Neneng—yang kedapatan hamil di luar nikah. Neneng mengaku khilaf saat berpacaran dengan kekasihnya yang bernama Blengur. (sebut saja begitu). Neneng terpikat bujuk rayu dan janji manis Blengur yang mengaku akan segera menikahinya. Blengur juga mengaku akan bertanggung jawab setelah “menyebar benih” di perut Neneng.

Tapi setelah tahu perihal kehamilan Neneng, Blengur ingkar janji. Bukannya segera bertanggung jawab, Blengur malah kabur. Blengur tidak kunjung menikahi Neneng. Neneng pun tidak terima. Neneng mencoba membawa persoalan ini ke jalur hukum. Neneng ingin menggugat Blengur dengan tuduhan penipuan, perkosaan, dan serangkaian tindak asusila. Harapannya, Blengur akan dijerat pasal berlapis dan “mampus” dipenjarakan.

Sayang seribu sayang, gugatan Neneng tidak dikabulkan. Neneng tidak bisa membuktikan adanya unsur kekerasan atau paksaan yang mengakibatkan dirinya hamil. Padahal dalam pasal 285 KUHP (pasal yang biasa dipakai untuk kasus perkosaan), harus ada unsur kekerasan atau ancaman yang memaksa korbannya. Sementara dalam kasus Neneng, perbuatannya dilakukan atas dasar suka sama suka.

Neneng tidak putus asa. Dia mencoba menggugat Blengur dengan tuduhan lain, yakni pencabulan. Neneng yakin, Blengur bisa dijerat pasal pencabulan atas dirinya. Tapi sekali lagi, gugatan Neneng tidak dikabulkan. Alasannya, Neneng sudah berumur 21 tahun saat terlibat “hubungan terlarang” dengan Blengur. Neneng tidak masuk kategori “anak di bawah umur” sebagaimana yang disyaratkan pasal 81 dan 82 Undang-Undang Perlindungan Anak (pasal yang biasa dipakai menjerat pelaku pencabulan).

Kasus Neneng pun menjadi benang kusut yang tidak bisa diurai oleh hukum. Neneng ingin menggugat Blengur dengan pasal 287 KUHP (pasal tentang perzinahan) tapi urung, karena pasal itu diperuntukkan khusus bagi mereka yang sudah menikah (memiliki pasangan sah). Neneng pun hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia benar-benar khilaf saat berpacaran dengan Blengur. Tapi itulah harga yang harus dibayar untuk cinta yang tidak semestinya, sampai-sampai kehormatan diri pun telah tergadaikan.

*   *   *

Seperti yang pernah saya bilang di sini, saya tidak berani menyarankan orang lain untuk pacaran. Resiko terjadinya kasus seperti Neneng terlalu besar. Di luar sana, boleh jadi ada banyak Neneng-Neneng lain yang mengalami nasib serupa—kedapatan hamil lantas ditinggal kabur pacarnya. Jika sudah begitu, apa yang bisa dilakukan?

Pacaran sudah menjadi aktivitas jamak di kalangan remaja. Pacaran dinilai sebagai “jalan terbaik” menemukan cinta sejati. Banyak pelaku pacaran yang berharap pacarnya akan setia sehidup semati, hingga mengikat janji suci, bla bla bla. Karena itu, banyak orang rela mengorbankan apapun demi mempertahankan hubungan cintanya (atau mungkin egonya).

Masalahnya, aktivitas pacaran tidak bisa lepas dari interaksi intens antara dua orang berlainan jenis (LGBT di luar konteks). Interaksi intens tersebut bisa menimbulkan stimulus emosional bagi pelakunya, entah berupa perasaan nyaman, keakraban, rasa damai, bahkan sampai……..dorongan seksual.

Itu benar. Kita tidak bisa naif mengabaikan variabel itu saat membahas aktivitas pacaran. Kita juga tidak bisa menganggap sepele dengan berkata: “saya pacarannya nggak ngapa-ngapain kok.” Saat remaja, manusia akan merasakan dorongan seksual yang tinggi. Hal itu sudah menjadi semacam “hukum alam,” yang dialami semua orang.

Adanya dorongan seksual itulah yang kemudian meracuni aktivitas pacaran. Pacaran yang semula dianggap jalan mencapai cinta sejati, malah menjadi ajang “memberi servis” pada pasangan. Boleh jadi awalnya cuma pegangan tangan—(tapi kok) lamaaaa…banget. Kemudian mulai berani cipika-cipiki, pelukan, cium bibir (maaf), hingga berlanjut pada perbuatan tidak senonoh yang lebih “dewasa.”

Sekali lagi, jangan naif membaca urusan ini dengan mengabaikan realitas yang terjadi!

Memang ada orang yang pacarannya safe banget, cuma ngobrol, tidak pernah kencan, dan sebagainya. Tapi berapa banyak yang seperti itu? Lebih banyak mana dengan yang melakukan peluk-cium dan perbuatan tidak senonoh lainnya?

Seseorang yang rela memberikan tubuhnya untuk digerayangi pacarnya, entah karena penasaran atau alasan suka sama suka, tidak jauh beda dengan (maaf) “seorang pekerja seks” yang menjajakan kenikmatan pada pelanggannya. Boleh jadi pekerja seks malah lebih "bermartabat" karena mereka dibayar untuk itu. Sementara seseorang yang dibutakan oleh bujuk rayu dan dalih pembuktian cinta, dengan sukarela memberikan tubuhnya pada pacar yang entah kapan dinikahinya. (Ironis!)

Jika kalian masih memiliki kepedulian untuk menjaga kehormatan diri dan tidak ingin disamakan dengan pekerja seks, maka kalian harus melakukan sesuatu untuk menghentikan pacar kalian yang bertindak sembrono—bukannya malah menikmati “servis gratis” dari pacar kalian.

*   *   *

Dari kacamata hukum, remaja yang belum genap 18 tahun masih tergolong “anak di bawah umur.” Golongan tersebut masih bisa mendapat perlindungan hukum dari Undang-Undang Perlindungan Anak. Jadi, jika kalian merasa diperlakukan tidak senonoh oleh pacar kalian, dicium, dipeluk, atau digerayangi yang aneh-aneh, maka kalian bisa memperkarakan pacar kalian ke pengadilan dengan tuduhan pencabulan.

Ini serius. Undang-Undang Perlindungan Anak, khususnya pasal 81 dan 82, dibuat untuk melindungi anak di bawah umur dari ancaman kekerasan seksual dan tindak pencabulan. Pasal-pasal itu ampuh sekali untuk menjerat orang-orang cabul di sekitar kita. Nggak percaya? Buktinya, tuh ada artis ngetop yang baru saja terjerat pasal 81 dan 82 setelah terbukti mencabuli remaja cowok di bawah umur.

Sekali lagi, jika kalian masih peduli pada kehormatan diri, peduli pada batas-batas nilai agama, dan peduli pada masa depan, maka kalian tidak akan membiarkan seorang pun “menodai” kalian. Tak peduli siapa pelakunya, kalian berhak memperkarakan setiap perilaku mesum yang kalian terima melalui jalur hukum. Itu jika kalian memilih untuk peduli.

Tapi jika kalian memilih tidak peduli lagi, menyerah pada alasan klise “suka sama suka” maka kalian akan pasrah saja “di-anu-anuin” sama pacar. Alih-alih merasa berdosa, boleh jadi kalian malah sibuk menikmati “servis” dari pacar kalian. Suka tidak suka, kalian berhasil membuat pacar kalian senang karena mendapat layanan seks gratis tanpa harus membayar. Itulah yang saya sebut sebut menjadi “pekerja seks” sukarela.

Sampai di sini mungkin kalian akan nyinyir bilang, “Apa salahnya kalau cuma ciuman, pelukan, kan nggak sampai melakukan hubungan ranjang..Well, itu hak kalian bicara. Asal kalian tahu saja, kebanyakan “hubungan terlarang yang kebablasan” berawal dari kata “cuma.” Ah,kita cuma pegangan tangan kok. Ah, kita cuma cipika-cipiki kok. Ah, kita cuma bla bla bla. Pada akhirnya, ketika yang “cuma-cuma” itu berlanjut, maka kehormatan diri tidak bisa dikembalikan dan waktu tidak bisa kalian putar.

*   *   *

Sebagian orang merasa pacaran tidak akan seru jika cuma ngobrol dan kencan tanpa ada “servis” lain yang lebih menggairahkan. Lebih-lebih jika pelakunya masih remaja dengan dorongan seks yang tinggi. Dengan dalih pembuktian cinta, seseorang bisa meminta pacarnya untuk memberikan “servis gratis“. Bujuk rayu dan janji manis—seperti kasus Nenengseringkali digunakan untuk meluluhkan "iman" pasangannya. Tidak jarang permintaan itu disertai unsur paksaan dan ancaman pemutusan hubungan.

Di sisi lain, kita tidak bisa memaksakan pacaran gaya Barat yang menganggap pacar hamil sebagai hal yang biasa. Dalam budaya Timur, hamil di luar nikah tetap saja aib yang tidak termaafkan dan menodai citra diri kita di mata masyarakat.

Jika memang pacaran adalah jalan yang sudah kalian pilih saat ini, maka jagalah kehormatan diri kalian baik-baik. Jangan pernah mau dijadikan “pekerja seks sukarela” demi memuaskan birahi pacarmu. Sungguh, jika pacarmu itu beneran baik, dia tidak akan berani menggerayangimu. Dia akan memilih untuk segera menseriusi hubungan kalian dalam ikatan yang dicatat negara dan direstui agama. Pikirkanlah! []

Wednesday, 2 March 2016

Membolos dengan Bijaksana


Sudah tahu (itu) melanggar peraturan,
kok masih dilakukan?

Jika di kepolisian ada istilah pemberantasan penyakit masyarakat (PEKAT), maka membolos adalah “PEKAT” versi lembaga pendidikan. Bertahun-tahun kita sekolah, sampai lanjut ke perguruan tinggi, membolos sudah menjadi semacam “penyakit masyarakat” yang sulit diberantas. Padahal kita semua tahu, membolos tanpa ada uzur  yang mendesak jelas melanggar etiket dan norma yang berlaku di lembaga pendidikan. Mana ada sekolah yang mengharuskan murid-muridnya datang telat (?)

Di lingkungan sekolah, virus membolos biasanya menjangkiti murid-murid bermasalah. Murid-murid itu terkenal sebagai biang onar di kelasnya. Boleh jadi, karena sejak awal perilakunya bermasalah, mereka lebih senang membolos daripada memaksakan otak menghadapi sabrek pelajaran. Saya heran, jika sejak awal murid-murid itu sering membolos, dan berbuat onar, kenapa sekolah masih “memelihara” mereka?

Saya tidak ingin bilang membolos itu baik. Hanya saja kalau boleh jujur, dengan reputasi sebagai pembuat onar di kelas, ketiadaan murid-murid bermasalah justru bisa membuat iklim belajar yang lebih kondusif. Guru bisa lebih mudah meng-handle proses pembelajaran tanpa harus terganggu ulah murid-murid bermasalah. Meski begitu, membolos tetap saja melanggar peraturan. Dan pelakunya berhak mendapat ganjaran yang setimpal.

Kita semua tahu, kebanyakan murid membolos dengan alasan yang negatif, seperti nongkrong bareng teman, nge-game di warnet, sampai berduaan kencan dengan pacarnya. Alasan-alasan semacam itu tidak memiliki pembenaran apapun karena dilakukan saat jam sekolah. Tidak jarang murid-murid tukang bolos tertangkap satpol PP atau terjaring patroli polisi. Jika sudah begitu, masalah yang ada bisa lebih runyam.

Kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan untuk “menolong” murid-murid tukang bolos?

Jika memang membolos itu melanggar peraturan, pernahkah sekolah melakukan pendekatan khusus pada murid-murid yang kedapatan sering bolos? Pernahkah sekolah mencari tahu alasan murid-murid itu membolos? Sejauh mana sekolah berani menindak tegas murid yang sering membolos?

Saya menghormati kebijaksanaan masing-masing sekolah dalam menghadapi murid yang sering membolos. Tapi tolonglah, jika si murid telah berkali-kali membolos tanpa alasan yang jelas, tidak mengindahkan surat peringatan, apalagi samapai tertangkap razia pihak berwajib, maka untuk apa murid seperti itu “dipelihara” di sekolah?

Kita semua tahu, sekolah adalah lembaga formal yang berfungsi mencetak generasi penerus bangsa yang berguna, berkarakter, beriman, bla bla bla. Tapi jika memang benar sekolah dibuat demi kebaikan generasi bangsa, mengapa sekolah malah “ditinggal mbolos” murid-muridnya? Bahkan di perguruan tinggi—yang seharusnya lebih bermartabat secara akademis—kok bisa-bisanya mereka lalai membiarkan mahasiswanya ‘nitip absen’ saat kuliah?

Jika memang membolos itu dilarang, maka PAKSALAH segenap warga sekolah untuk mematuhinya. Beri sanksi yang tegas dan menimbulkan efek jera pada pelakunya tanpa pandang bulu. Tidak hanya bagi murid, tapi juga guru. Boleh jadi murid-murid membolos karena gurunya sendiri kedapatan sering membolos. Bukankah itu ironis sekali?

Terakhir—untuk kalian yang masih siswa atau yang sudah maha tapi sering membolos—kenapa kalian tidak mencoba membolos dengan alsan yang “lebih bijaksana?” Kenapa tidak pernah jujur mengatakan alasan kalian membolos? Guru, dosen, siapapun akan memaafkan jika kalian membolos karena harus bekerja demi mencukupi perekonomian keluarga atau kalian sedang fokus bertanding di piala dunia U-21 (misalnya). Tapi jika kalian membolos hanya untuk nongkrong, nge-game, pacaran, dan seribu satu alasan nggak jelas lainnya, siapa yang akan menaruh respek pada kalian?

Selama seorang murid memilih sekolah, ia selalu terikat pada peraturan sekolah. Begitu juga mahasiswa yang terikat pada peraturan kampusnya. Dan peraturan-peraturan itu ada untuk dipatuhi karena kesadaran—bukan sekedar paksaan! Jika kalian merasa sekolah atau kuliah itu penting untuk masa depan kalian, maka SERIUSLAH! Jika kalian tidak lagi merasa lembaga seperti sekolah itu tidak penting, kenapa kalian masih betah berada di dalamnya?

Oh, ya, sekolah punya ijazah yang bisa membuat kalian melanjutkan pendidikan. Kalian masih peduli pada selembar kertas itu. Yang mahasiswa masih ingat toga dan topi wisuda yang konon bisa membuat para pengangguran terlihat lebih bermartabat selagi mencari kerja. Tapi apakah semua itu pantas disematkan pada orang-orang yang selama belajarnya lebih sering melanggar peraturan dan membolos seenaknya?


Jika kalian masih menaruh hormat pada lembaga yang mendidik kalian dan juga orangtua yang berharap banyak pada kalian, maka sekali lagi SERIUSLAH! Buatlah diri kalian layak dibanggakan karena prestasi, bukan karena reputasi sering mbolos dan nitip absen. Bukankah itu reputasi yang tidak keren sama sekali?