Subscribe:

Labels

Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

Tuesday, 10 May 2016

Blog yang Sepi


…tulislah apa yang harus dibaca orang,
bukan apa yang ingin dibaca orang.
(Tere Liye)

Bagi mereka yang memakai blognya untuk mencari uang, jumlah pengunjung merupakan salah isu yang sensitif. Seperti yang kita tahu, meski tidak selalu menjadi faktor penentu, jumlah pengunjung blog bisa mempengaruhi trafik sebuah blog. Semakin sering blog dikunjungi, semakin sering duit masuk rekening.

Itu cerita mereka yang sudah memonetisasi blog-nya. Sementara saya, dengan blog ini, tidak terlalu memusingkan urusan semacam itu. Boleh dibilang, saya cuma ngeblog untuk sambilan saja. Boleh juga dikatakan saya ngeblog dengan malas. Saking malasnya, saya sering menelantarkan blog ini dalam kondisi hiatus selama berminggu-minggu.

Jika saya memonetisasi atau menguangkan blog ini, maka saya akan terbebani dengan berbagai tuntutan seperti tuntutan menyajikan konten yang berkualitas, tekun meng-update informasi, menjaga trafik dan jumlah pengunjung, serta mengurus berbagai hal lain yang berkaitan dengan blog. Tentu saja hal-hal semacam itu merepotkan saya yang sejak awal hanya menjadikan blog sebagai “pelarian penyakit”.

Karena itu, daripada pusing-pusing memikirkan trafik dan tetek bengek lainnya, saya lebih memilih menjadikan blog ini sebagai kumpulan catatan pribadi saya. Karena sifatnya catatan pribadi, maka sebagian besar konten blog ini berbicara tentang saya, atau membahas sesuatu dari perspektif saya. Niatnya, sih, blog ini bisa bermanfaat bagi pembacanya (meski sejujurnya masih jauh dari harapan).

Saya tertarik untuk mengabadikan pemikiran-pemikiran saya melalui blog. Hal ini jauh lebih mudah dibanding kita menuangkannya dalam bentuk buku. Untuk membuat buku, terkadang kita harus melewati serangkaian prosedur pelik, mulai dari menyerahkan naskah, bertemu editor, ngedit, menunggu berbulan-bulan sampai ke konfirmasi penertiban penerbitan. Bandingkan dengan blog yang memberi banyak kemudahan serta efisiensi waktu dan biaya. Blog dapat menghapus batas-batas Sebuah buku boleh jadi rusak, hilang, atau tidak dikembalikan teman yang meminjam. Sementara blog, selama blog itu tidak diretas, tidak diblok, atau tidak dihapus pemiliknya, maka selama itu pula blog akan menetap dan bisa ditemukan di internet via mesin pencari.

Karena tujuannya ingin mengabadikan pemikiran-pemikiran kita melalui blog, maka kita tidak bisa sembarangan membuat kontennya. Prinsipnya: “Kalau kau ingin menjadi penulis, maka tulislah apa yang harus dibaca orang, bukan apa yang ingin dibaca orang.

Menulis apa yang harus dibaca orang tentu berbeda dengan menulis apa yang ingin dibaca orang. Menulis apa yang harus dibaca orang mengharuskan kita untuk menulis sesuatu yang memang penting untuk diketahui dan dibaca orang lain. Itu berarti, tulisan kita harus mampu memberikan nilai manfaat bagi pembacanya.

Sementara menulis apa yang ingin dibaca orang, mengharuskan kita menulis sesuatu yang bersesuaian dengan selera pembacanya. Dengan prinsip ini, boleh jadi tulisan kita akan laris manis, tapi di sisi lain, penulis terkesan “disetir” oleh selera pembacanya. Jika selera pembacanya menye-menye, maka tulisan yang dihasilkan akan menye-menye. Sebaliknya, jika selera pembacanya keren, bermutu, edukatif, maka tuntutan untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas pun menjadi sebuah keharusan.

Sejauh saya blogwalking, saya sering menjumpai artikel blog yang bagus. Artikel tersebut tidak hanya informatif tapi juga mampu menginspirasi pembacanya. Blog yang berisikan artikel semacam itu (bagi saya) cenderung lebih berkesan. Saya juga pernah nyasar ke blog-blog komedi yang kebanyakan bercerita tentang pengalaman kocak penulisnya. Beberapa artikel di blog itu memang bisa membuat pembaca terhibur, tapi efeknya temporer sekali—sekedar “Hahaha” tanpa kesan dan hilang begitu saja.

*   *   *

Jika saya mau, bisa saja saya mempermak blog ini menjadi blog remaja, yang membahas tema “percintaan.” Tentu saja tema semacam itu lebih ramai di kalangan remaja. Karena topiknya tentang “percintaan”, boleh jadi saya akan menulis tentang pengalaman saya jatuh cinta, mulai dari yang romantis sampai yang absurd. Mungkin juga saya akan menulis artikel-artikel nyeleneh seperti: Tips-Tips Mencari Gebetan, Taktik Nembak yang Benar, Tips Kencan Menyenangkan, Cara Nikung Pacar Orang, sampai Tips Pedekate Sama Kakak Kelas. Jika sudah begitu, hanya menunggu waktu sampai archive blog saya dijejali artikel-artikel “nakal” yang menggoda pengunjung untuk meng-klik-nya (tentu saja topik semacam ini tidak akan saya ambil, karena saya khawatir akan disalahartikan).

Ada kemungkinan, blog saya akan jauh lebih ramai jika saya menulis tentang konten-konten remaja semacam itu. Tapi karena blog ini hanya bersifat “selingan”, saya tidak terlalu terobsesi untuk memonetisasinya (menjadikan blog ini sebagai “mesin uang”). Karenanya, saya tidak akan terlalu khawatir seandainya blog ini sepi pengunjung. Ada atau tidaknya pengunjung tidak akan mempengaruhi kebebasan saya dalam menulis.

Andai blog saya bermanfaat bagi pembacanya, maka saya anggap itu bonus. Setidaknya saya senang karena blog saya masih eksis, sampai-sampai orang dari antah berantah bisa nyasar ke blog ini. Sekalipun saya sudah tiada, pemikiran-pemikiran saya telah terdokumentasi melalui blog ini. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, selama blog ini eksis di internet, selama itu pula tulisan-tulisan saya bisa dibaca siapapun.


Bukankah menyenangkan jika tulisan kita bisa menginspirasi banyak orang sekalipun kita sudah tidak lagi di dunia? Sekali lagi, seperti kata Tere Liye:  “…..tulislah apa yang harus dibaca orang, bukan apa yang ingin dibaca orang.” Dengan begitu, iktikad kita dalam menulis menjadi lebih bermakna dan tidak sia-sia. []

Sunday, 8 May 2016

Masalah Saya dengan Aplikasi Chatting


Apalah artinya punya WeChat, Kakao, Line, BBM, Whatsapp,
jika kau tak punya teman ngobrol yang menyenangkan?
(Hatake Niwa)

Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang doyan gonta-ganti gadget. Selama sebuah gadget masih berfungsi dan tidak terlalu ketinggalan zaman, maka saya akan terus memakainya. Seperti dulu ketika saya kuliah semester awal. Saat itu, Blackberry tengah menjamur di kalangan anak muda. Beberapa teman saya juga ikut memakai Blackberry dan mulai bergerilya bertukar pin BBM (Blackberry Messenger). Di sisi lain, saya malah masih betah ngutak-atik HP konvensional yang pin default –nya: “1-2-3-4”.

Begitu tren Blackberry meredup, datanglah smartphone dengan OS Androidnya. Seperti halnya tren Blackberry, teman-teman saya mulai beralih memakai smartphone yang terkesan lebih futuristik. Sementara saya, masih bertahan dengan HP konvensional yang kameranya tak lebih dari 2MP. Alasannya sederhana, gadget lama saya masih layak pakai kok.

Sejujurnya, saya melakukan itu karena prinsip “mengedepankan FUNGSI daripada GENGSI” (yah, walaupun lebih terdengar seperti ‘mengenaskan’ dan ‘tidak bermodal’). Dengan prinsip itu, selama sebuah barang masih bisa dipakai dan tidak terlalu ketinggalan zaman, saya akan terus memakainya. Lagipula saat itu saya merasa belum membutuhkan smartphone. Komunikasi saya dengan teman-teman saya juga tidak terganggu meski tanpa smartphone ataupun Blackberry.

“Iman” saya baru mulai terusik ketika fitur chatting berjejalan di Playstore. Keberadaan aplikasi tersebut membuat pengiriman pesan konvensional via SMS mulai ditinggalkan. Banyak teman saya yang memakai aplikasi pesan berbasis internet (seperti Whatsapp dan BBM) untuk berkomunikasi. Dalam kondisi itu, mau tak mau, saya harus menyesuaikan diri. HP konvensional saya tidak lagi mencukupi untuk mengikuti dinamika teknologi dan tren saat itu. Pada akhirnya, dengan sedikit niat ikut-ikutan, saya pun tergoda membeli sebuah smartphone.

*   *   *

Sejak memiliki smartphone, saya mulai bergerilya menginstal berbagai aplikasi chatting. Mulai dari WeChat, Kakao, BeeTalk, Line, BBM, Whatsapp, sampai aplikasi random seperti Scout dan Friendstalk pernah saya instal. Berhubung kapasitas RAM saya kecil, saya memberlakukan sistem “bongkar pasang” saat mencoba berbagai aplikasi tersebut. Harapannya, aplikasi-aplikasi tersebut akan mempermudah saya dalam berkomunikasi dengan teman-teman saya.

Sayangnya, di antara sekian banyak aplikasi chatting  yang saya instal, hanya segelintir saja yang bertahan di smartphone saya. Sebagian besar aplikasi malah terasa mubadzir karena jarang atau tidak pernah saya pakai. Bahkan aplikasi sekaliber Whatsapp pun terpaksa saya uninstal karena memang tidak berguna (bagi saya). Sampai saya menuliskan ini, aplikasi chatting yang bertahan di smartphone saya hanya Line Messenger dan BBM. Itu pun saya pakai karena ada fitur groupchat di dalamnya. Jika groupchat sepi, maka praktis smartphone saya ikut-ikutan sepi.

Karena itu, tidak mengherankan jika saya bisa tidak menerima pesan apapun dalam sehari. Saya memang jarang berkirim pesan di luar groupchat kecuali saat ada acara atau urusan penting. Terkadang saya merasa teralienasi dari pergaulan di dunia smartphone—meski itu bukan hal yang buruk. Alih-alih mencari kesenangan dengan chatting, smartphone saya justru lebih berguna untuk keperluan browsing  di internet.

Ada beberapa alasan logis untuk menjelaskan kenapa saya jarang menerima pesan langsung dari orang lain. Alasan-alasan itu antara lain:

1. Saya bukan orang penting karena saya bukan bukan artis, aktivis, apalagi pebisnis.
2. (Karena alasan nomor 1) Tidak ada yang perlu menghubungi saya.
3. (Alasan nomor 2 terjadi karena) Saya bukan orang yang asyik diajak ngobrol.
4. (Mungkin juga karena) Saya segan untuk flirting pada anak gadis orang.
5. (Keempat alasan di atas menjelaskan kenapa) Saya enggan mencari pacar.

Alasan-alasan itu mungkin terdengar mengada-ada (lebih tepatnya saya hanya mengira-ngiranya saja). Toh bagaimanapun juga, muara dari permasalahan jarangnya orang yang nge-chat saya tidak lepas dari prinsip saya untuk memilih “sendiri”. Prinsip tersebut membuat saya tidak terlalu tertarik untuk flirting dengan anak gadis orang (baca: gebetan). Lagipula, saya bukan tipe-tiper orang yang mudah percaya dengan cinta di dunia maya.

Lho apa hubungannya chatting sama urusan asmara?

Tentu saja ada. Maraknya aplikasi chatting seperti sekarang, berbanding lurus dengan perkembangan cara-cara pedekate dan tebar pesona. Kita tidak bisa naif jika sejak jaman dahulu, orang-orang sibuk bertukar pesan untuk mencari pasangan, pacar, kekasih, suami, istri, atau apapun istilahnya. Dengan adanya aplikasi chatting, urusan semacam itu tentu menjadi lebih mudah. Segala sesuatu bisa disampaikan dengan lebih cepat.

Bandingkan dengan fitur SMS dan telepon yang (pada masa jayanya) penuh dengan “cerita heroik”—mulai dari membuat pesan tanpa spasi, menyingkat pesan agar tidak melebihi batas karakter, nelpon secukupnya, sampai begadang semalaman demi mendapat tarif nelpon gratis. Dan ujung dari semua perjuangan itu lagi-lagi sama—“mencari pasangan”, entah itu disebut pacar, kekasih, suami, istri, atau apapun istilahnya.

Tapi tentu saja, tidak semua orang memakai aplikasi chatting untuk mencari pasangan semata. Banyak juga yang memakainya untuk keperluan akademis, seperti janjian dengan dosen pembimbing atau untuk kepentingan bisnis seperti jualan online. Sangat disayangkan jika kemajuan teknologi komunikasi saat ini hanya dimanfaatkan sebatas untuk memenuhi insting mencari pasangan. Ada hal-hal lain yang lebih penting dan lebih layak diperjuangkan daripada sekedar mencari kekasih yang ditikung atau sekedar berebut gebetan.

Terlepas dari semua itu, sampai batas-batas tertentu, aplikasi chatting memudahkan kita berkomunikasi dengan orang lain—melebihi fasilitas SMS dan telepon. Aplikasi chatting via smartphone memungkinkan kita untuk berkirim pesan sebanyak dan sesering mungkin tanpa terhambat batasan karakter dan biaya pulsa per pesan. Tidak mengherankan jika orang jaman sekarang lebih memilih nge-chat daripada menekan tombol “Kirim SMS”.


Meski begitu, karena tidak semua orang memakai smartphone dan koneksi internet di tiap daerah berbeda-beda, fitur SMS dan telepon masih akan tetap survive. Saat ini pun saya masih memakai HP konvensional untuk berkirim pesan. Setidaknya, hal itu mengantisipasi kalau-kalau orang yang saya tuju tidak memiliki smartphone atau tengah bermasalah dengan koneksi internetnya (lost signal  atau kuota habis). Jika sudah begitu, maka tidak ada salahnya untuk tetap setia memakai cara-cara lama untuk berkirim pesan. []

Friday, 6 May 2016

Bulan yang Hilang


“Terkadang, sesuatu yang benar di matamu,
belum tentu benar di mata orang lain.

Cukup lama blog ini mengalami hiatus (lagi). Untuk kesekian kalinya, ada bulan yang hilang di archive blog ini. Ya, di bulan yang hilang itu, saya sibuk dengan “pencarian.” Ada banyak sekali pertanyaan yang mengusik saya dalam beberpaa minggu terakhir. Tentang cinta, tentang karya, tentang karir, tentang mati, tentang hidup, tentang manusia, tentang kepedulian, tentang ego, tentang panggilan hidup, sampai-sampai tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini.

Saya merasakan begitu banyak pertentangan dalam kehidupan ini. Sesuatu yang berjalan seharusnya, tidak berlaku dalam realitas. Seringkali realitas yang ada justru menyeleweng dari tataran yang seharusnya. Orang bilang rajinlah beribadah agar terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Tapi kenyataannya, ada juga orang yang rajin beribadah tapi kata-kata dan perilakunya menyakiti pihak lain. Orang bilang bersabarlah dalam menghadapi kemiskinan, padahal yang memberi nasihat tidak pernah sekalipun merasakan kelaparan. Orang bilang sekolah-lah tinggi-tinggi, agar kelak menjadi orang sukses. Realitasnya, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang menganggur.

Semuanya serba kontradiktif. Penuh pertentangan. Tidak ada pencerahan di sana. Yang ada malah keruwetan yang semakin kusut untuk dipikirkan. Saking ruwetnya, sampai-sampai saya harus menegaskan: “BERHENTILAH mendengarkan omongan orang!” Ya, sampai taraf tertentu kita tidak bisa melulu mendengarkan kata-kata orang lain. Sebuah nasihat, atau sesuatu yang dianggap orang baik, belum tentu benar-benar baik. Kita perlu mengolah nasihat itu, mencocokkannya dengan realitas yang ada, barulah kemudian kita refleksikan, apakah nasihat itu relevan dengan masalah kita atau tidak.

Kita lihat dunia ini dipenuhi kata-kata bijak, petuah, nasihat, motivasi. Sebagian orang malah menjadikan “nasihat” sebagai barang dagangannya. Mereka berkeliling dari satu forum ke forum lain, bercakap tentang keadilan, tentang kesetaraan, tentang iman, perjuangan, dan dengan berapi-api mengobarkan motivasi serta harapan dalam benak “para jamaahnya.” Ironisnya, apa-apa yang mereka omongkan secara berapi-api itu justru tidak dipraktekkan dalam kesehariannya. Mereka hanya menjual “nasihat” pada “para jamaah” yang merasa butuh nasihat. Padahal hakikatnya, nasihat atau motivasi yang diberikan orang lain sama halnya dengan “candu” jika tidak diimbangi dengan tindakan dan usaha nyata! Untuk sesaat, mendengarkan nasihat atau meminta motivasi dari orang lain membuat kita merasa lega. Beban yang menghimpit bahu terasa lebih ringan. Tapi itu hanya efek temporer. Sekembalinya dengan rutinitas dan realitas kehidupan nyata, apa-apa yang diomongkan tidak semudah yang dilakukan.

Di bulan yang hilang, saya berkeliling mencari “kebenaran.” Saya berharap akan menemukan penjelasan tentang kebenaran itu di suatu tempat. Pada akhirnya saya sadar bahwa kebenaran bukan monopoli manusia. “Kebenaran” mutlak milik Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Bagi manusia, seringkali kebenaran menemui relativitasnya sendiri. Apa yang kita anggap benar, belum tentu benar di mata orang lain. Begitu juga apa yang orang lain anggap benar, belum tentu benar di mata kita. Relatif. Tergantung dari sudut mana kita melihat.


Dan karena itu, bisa saja manusia melakukan kekeliruan dalam hal yang mereka anggap benar. Itu sebabnya manusia disarankan untuk terus-menerus saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Karena bagaimanapun sebuah nasihat tetap penting dalam kehidupan sosial manusia. Hanya saja, dibutuhkan kearifan dan keterbukaan pemikiran dalam menyikapi nasihat itu. Di samping kerendahan hati untuk melihat nasihat dari berbagai sudut pandang. Saya rasa itulah jalan terbaik daripada sibuk berkonfrontasi di tengah kebenaran yang semakin rancu di masyarakat. []

Thursday, 17 March 2016

Tiga Bayi Kucing di Sebelah Rumah


Semua pemberian Tuhan itu gratis.
Hanya pemberian manusia yang minta bayaran,
pakai ‘syarat dan ketentuan’ pula!?—repotnya.
(Hatake Niwa)

Mak…maaak…maakkk…” Beberapa waktu yang lalu saya mendengar erangan dari bangunan sebelah rumah. Awalnya, saya pikir itu suara tikus yang mencicit di loteng rumah. Setelah saya telusuri, ternyata suara itu bukan suara tikus, melainkan predatornya tikus—“kucing”. Saya mendapati ada tiga ekor bayi kucing di bangunan sebelah rumah. Dari kondisi tubuhnya, sepertinya bayi-bayi kucing itu baru lahir beberapa hari yang lalu. Anehnya, tidak ada induk kucing di sana. Mungkin si induk sedang sibuk mencari makanan di luar. Saya pun membiarkan bayi kucing itu di tempatnya.

Selang beberapa jam, tidak ada tanda-tanda induk kucing itu kembali. Agaknya si induk kucing itu sudah pergi, entah karena tidak mau mengasuh bayinya atau malah sudah mati di luar sana. Karena induknya pergi, rengekan ketiga bayi kucing itu semakin menjadi. Saat saya melongoknya, mereka mulai terlihat kelaparan. Demi memenuhi rasa “peri-ke-hewan-an”, mau tak mau saya pun mengacuhkan ketiga binatang malang itu.

Masalahnya, saya belum pernah memelihara seekor kucing pun di rumah. Rumah saya boleh dibilang steril dari kucing. Keluarga saya juga tidak terlalu senang memelihara binatang jenis mamalia, seperti kucing. Mereka lebih senang memelihara unggas seperti ayam atau burung. Karenanya, saya cukup kelabakan ketika memutuskan untuk mengurus tiga bayi kucing itu.

Saya pun mencari informasi tentang cara merawat bayi kucing di internet. Dari sekian banyak artikel dan tips yang saya peroleh, setidaknya saya harus menyiapkan perlengkapan dasar merawat bayi kucing, seperti kandang, dot (tempat susu), lampu pemanas, dan tentu saja susu kucing.

Seperti halnya bayi manusia, kebutuhan pokok bayi kucing adalah SUSU. Jika bayi manusia butuh ASI, maka bayi kucing butuh ASK (Air Susu Kucing). Idealnya, bayi kucing yang ditinggal induknya harus disusukan ke kucing lain yang mau berbagi ASK. Tujuannya, agar bayi kucing tetap mendapat pasokan nutrisi demi kelangsungan hidupnya.

Sayangnya, saya tidak melihat tetangga kanan kiri memelihara kucing. Saya terpaksa mencari susu kucing di petshop yang ada di kota. Di petshop itusaya sempat berkonsultasi dengan seorang karyawan tentang perawatan bayi kucing. Menurutnya, bayi kucing perlu diberi susu setiap 2-3 jam. Porsinya tidak perlu banyak, tapi sering.

Dengan kata lain, dalam sehari, seekor bayi kucing rata-rata harus diberi susu sebanyak 6-8 kali. Jika saya libur panjang, mungkin saya bisa melakukannya. Tapi seringkali, saya tidak selalu berada di rumah. Ada saja kepentingan yang mengharuskan saya keluar rumah selama berjam-jam. Karena itu, beberapa kali saya terpaksa melewatkan “jam makan” dan membuat bayi-bayi kucing itu kelaparan. (Maafin aku, ya, Cing…)

Urusan susu ini ternyata rempong sekali. Andai bayi-bayi kucing itu tinggal bersama induknya, maka masalahnya akan jauh lebih mudah. Semesta sudah menyiapkan “fasilitas” khusus untuk kelangsungan hidup bayi kucing. Dari tetek induknya, bayi kucing bisa langsung minum susu murni yang kaya colostrum—sebuah zat yang sangat penting bagi pertumbuhan bayi kucing. Susu kucing murni tentu jauh lebih aman dan bernutrisi dibanding susu “pabrik” yang diproses dari susu sapi. Terkadang, susu bikinan pabrik malah membuat bayi kucing mencret karena kadar laktosanya berbeda.

Tidak hanya soal susu, keberadaan induk kucing juga dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar bayi kucing, misalnya dalam urusan pencernaan. Biasanya, induk kucing akan menjilati daerah genital dan anus bayinya, agar bayi kucing itu bisa ngeden sampai akhirnya nge-pup dan pipis sendiri. Jika induk kucing tidak ada, maka si perawat bayi kucing-lah yang harus melakukan “pembersihan” itu (kita bisa memakai tisu atau kapas yang diberi air hangat untuk mengusap daerah genital dan anus si anak kucing).

Dengan segala kerempongan itu, tidak heran jika banyak bayi kucing yang sengaja dibuang pemiliknya. Biasanya bayi kucing dibuang di tempat-tempat pembuangan sampah. Jika pemiliknya “berbaik hati,” bayi kucing akan dipaketi dalam kardus, kemudian diletakkan di depan rumah orang—siapa tahu pemilik rumah akan merasa iba dan sudi merawat si bayi kucing. Yang paling sadis, bayi kucing akan dibuang ke jalanan, dan dibiarkan mati terlindas kendaraan yang lewat.

Semua kerepotan itu membuat saya memilih untuk tidak memelihara binatang seperti kucing. Bukan karena saya membenci kucing, melainkan lebih karena saya merasa tidak cukup telaten mengurusnya. Daripada ke-kurang-telaten-an saya malah menyiksa si kucing, lebih baik saya tidak usah memeliharanya saja (kasus tiga bayi kucing yang saya ceritakan di atas termasuk pengecualian).

Dari pengalaman merawat kucing, saya menyadari betapa sempurnanya sistem alam semesta. Sistem itu didesain khusus oleh Penciptanya demi menjaga kelangsungan hidup makhluk-makhluk-Nya. Seperti halnya air susu tadi, kuasa-Nya menjadikan air susu yang mengalir di antara darah dan kotoran. Air susu itu mudah ditelan dan “diformulasikan” khusus untuk menopang hidup si jabang bayi. Daya nalar dan teknologi manusia memang memungkinkan kita membuat susu formula. Meski begitu, kandungan nutrisi susu formula bikinan manusia masih tetap kalah jauh dibanding air susu alami ciptaan Tuhan.

Memikirkan hal ini, seharusnya membuat manusia merasa malu. Sebagai manusia, kita menikmati berbagai fasilitas gratis ciptaan Tuhan, tapi kenapa sedikit sekali di antara kita yang mau bersyukur? Kita tidak pernah membayar Tuhan untuk bernapas. Kita juga tidak pernah membayar-Nya untuk sekedar melihat. Sementara di rumah sakit, orang-orang bahkan harus membayar milyaran hanya untuk bisa bernafas atau melihat.

Lebih dari itu, Tuhan tetap bermurah hati memberikan fasilitas hidup, tanpa pandang bulu. Orang baik maupun orang jahat sekali pun, bisa tetap mendapat rahmat-Nya. Sekarang, tinggal bagaimana manusia mensyukuri dan memanfaatkan fasilitas itu—apakah ia akan memakainya demi menebar kebaikan atau untuk merusak tatanan semesta.


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ” []

Saturday, 27 February 2016

Pengalaman Pertama Menginap di Hotel


“Malu bertanya sesat di jalan,
Bertanya terus—itu memalukan”


Quote saya di atas itu kata-kata guru SD saya. Intinya, jika kita tidak mengetahui suatu hal, maka segeralah bertanya. Dengan segala kepolosan saya sebagai bocah SD, saya mengamini kata-kata guru saya. Setiap kali mengingat pepatah “malu bertanya…” saya jadi teringat pengalaman saya ketika masih duduk di bangku SMA.

Saat itu, saya masih awal-awal SMA, kelas X. Sekolah saya mendapat undangan dari sebuah instansi pemerintah—sebut saja Dinas Rakyat Sejahtera (DRS). 

Kebetulan sekolah memilih saya untuk mendampingi ketua OSIS menghadiri seminar tersebut. Acara itu sendiri dilangsung kan di sebuah hotel bintang tiga di kawasan Yogyakarta. Peserta acara adalah perwakilan pelajar SMA dari tiap kabupaten di provinsi DIY. Saya merasa sangat beruntung bisa mengikuti seminar itu karena tidak semua pelajar mendapat kesempatan itu. Terlebih acara itu digelar di sebuah hotel bintang tiga di Yogyakarta. Itu berarti, saya akan mendapatkan pengalaman pertama menginap di hotel.

Sebelumnya, saya hanya melihat hotel di film-film. Hotel ditampilkan sebagai tempat yang mewah, kasur yang empuk, orang-orang berduit, tempat nginap James Bond, dan tempat “dolan” para lelaki hidung belang. Berhubung saya bukan lelaki hidung belang, saya tidak punya alasan untuk menginap di hotel. Saya bukan tipe pelajar SMA yang gemar dolan apalagi nginap di tertentu bersama lawan jenis—menyewa hotel kelas melati pun tidak pernah (sungguh!). Boleh jadi benar, gara-gara sering disalahgunakan, orang-orang kadung menstigma hotel sebagai tempat yang nggak beres.

Di hotel itu, saya sekamar dengan ketua OSIS—sebut saja Wawan. Kebetulan dia laki-laki. Jadi anggapan orang bahwa saya mengerjakan “sesuatu yang nggak beres” di hotel sudah terbantahkan (lagipula saya juga bukan penggiat LGBT). Dalam satu kamar, hanya ada satu kamar mandi minimalis yang berisi kloset duduk dan shower. Karena itu, saya dan Wawan harus bergantian memakai kamar mandi itu.

Setelah seminar sesi pertama, saya memutuskan untuk mandi.

Begitu masuk kamar mandi, saya 

DEG!!!

Shower di depan saya terlihat janggal. Tidak ada kenop di sana. Biasanya, kenop shower berbentuk kincir atau mirip bulatan besar yang mencolok agar pengguna bisa segera tahu jika benda itu adalah kenop shower. Tapi shower di hotel itu berbeda. Saya sudah menggerayangi shower “laknat” itu, mencoba menekan dan memutar-mutar setiap lekuknya. tapi hasilnya nihil. Shower itu tetap tidak mengeluarkan air—mungkin alatnya sudah rusak.

Di luar, Wawan sudah menunggu giliran mandinya. Sementara saya masih berkutat dengan shower “laknat” itu. Sebenarnya saya bisa bertanya pada Wawan, tapi ini kan cuma shower—masak nggak tahu caranya nyalain shower. Saya pun terjebak. Saya tidak bisa membiarkan Wawan lama menunggu. Saya harus segera mandi. Jika shower “laknat” itu tidak bisa memberi air, saya harus memikirkan cara lain untuk mandi.

Otak saya mulai bekerja. Pandangan saya beralih pada kloset yang ada di sebelah shower. Tentu saja saya tidak akan memakai air dari tombol flush untuk mandi. Tapi saya bisa memanfaatkan “pistol air” di dekat kloset itu.

Prroottt…proott….proottt….!!!

“Eureka”—seperti kata Archimedes saat menemukan konsep berat jenis. Saya berhasil mendapatkan air untuk mandi. Ternyata kloset itu serbaguna. “Pistol air” yang biasa dipakai menyemprot lubang kloset bisa dimanfaatkan menjadi pengganti shower rusak. Saya pun segera menuntaskan keperluan mandi dengan guyuran air dari semprotan kloset.

Setelah keluar, saya katakan pada Wawan kalau showernya rusak. Wawan pun mencoba menyalakan shower itu. Dan ternyata…….Wawan juga tidak berhasil menyalakan shower itu. Saya pun semakin yakin jika shower itu rusak. Wawan pun bertanya-tanya (kira-kira begini):

“Terus kowe mau aduse nganggo opo ?” (terus kamu tadi mandinya pakai apa?)

Sambil nyengir saya bilang saya mandi pakai semprotan kloset. Dan tawa kami pecah saat itu juga. Siapa sangka, semprotan kloset bisa menjadi sedemikian berguna. Wawan pun menuruti “ajaran sesat” saya—mandi memakai semprotan kloset!

Selesai urusan mandi, saya berpikir untuk menelpon resepsionis, Saya katakan bahwa shower di kamar saya rusak. Beberapa saat kemudian, seorang Mas-Mas pegawai hotel datang. Mas-mas itu segera mengecek shower di kamar mandi (tentu saja Wawan sudah tidak ada di sana). Tangannya meraba-raba sebuah panel kotak di bawah shower itu, memutarnya, kemudian ………

“Seerrrr…….”

Shower “laknat” itu mengeluarkan air. Shower itu tidak rusak. Saya saja yang tidak tahu cara menyalakannya. Sejenak saya tercenung. Saya pikir panel kotak itu termasuk bagian penyangga shower, bukan sebuah kenop. Rasa heran saya bercampur dengan rasa malu. Heran, karena saya tidak pernah menyangka panel kotak di bawah shower itu bisa diputar. Dan malu—karena merasa dirinya payah, menyalakan shower saja nggak bisa.

Malamnya, setelah saga dengan shower “laknat“ usai, saya dan Wawan ngongkrong dengan beberapa pelajar SMA lain di beranda hotel. Saya urung bertanya, apakah mereka juga bermasalah dengan shower “laknat” di kamar mandi. Boleh jadi, mereka juga tidak tahu cara menyalakan shower. Entahlah. Jika memang begitu, saya yakin mereka juga akan berpikir untuk mandi dengan memanfaatkan—“pistol air” penyemprot kloset. Case closed !

*   *   *

Poin cerita:
Jika sejak awal tidak tahu, maka segeralah bertanya, bukan malah berlagak sok tahu. Menjadi orang sok tahu itu menjengkelkan sekali. Berlagak bisa mengerjakan semua hal, merasa paham segala disiplin ilmu—sampai-sampai “nekat” menceramahi orang dengan kedangkalan ilmunya. Padahal boleh jadi orang yang diceramahi malah jauh lebih berilmu daripada dirinya.

Pada kasus saya, meski harus menanggung malu, setidaknya saya mendapat ilmu baru karena saya jadi tahu bahwa ada jenis shower yang knenop pembuka airnya berbentuk panel kotak. Karena memang begitulah hakikat belajar, terkadang salah, terkadang malu. Tapi yakinlah, buah bagi mereka yang mau belajar akan manis.

Tuesday, 23 February 2016

Jebakan Setan di Urinoir


Seringkali kerikil-kerikil kecil bisa lebih berbahaya
daripada sebongkah batu besar di tengah jalan
(anonim)

*Sebelumnya, demi kenyamanan semua orang, mohon tidak membaca postingan ini jika kalian sedang makan atau mempunyai gangguan pencernaan.
.   .   .

Pertama kali saya berkenalan dengan kloset jenis urinoir adalah ketika berkunjung ke sebuah bioskop XXI di kota saya. Saat itu, saya merasa kebelet dan harus ke toilet. Di dalam toilet, saya melihat urinoir yang berjejeran menempel di dinding. Berhubung saya bukan tipe orang yang suka mencoba benda asing tanpa memiliki informasi apapun tentangnya, saya hanya melihat urinoir-urinoir itu. Sementara untuk buang air, saya lebih memilih memakai kloset duduk yang ada di sebelah urinoir.

Sejauh ini saya mengenal beberapa jenis kloset. Untuk pemakaian sehari-hari, saya masih memakai kloset jongkok. Saya paling afdhal memakai kloset jenis ini karena proses “pembuangan” dan “pembersihan” (maaf, cebok) bisa dilakukan secara leluasa dengan jumlah air yang memadai. Tidak heran jika kloset jenis ini paling digemari warga sekitar rumah saya.

Saat SD dulu, sekolah saya memakai kloset “leher angsa.” Kloset jenis ini tidak jauh beda dengan kloset jongkok biasa. Hanya bedanya, lubang pembuangan kloset ini lebih dalam—mirip dengan leher angsa. Boleh jadi karena itulah, kloset ini dinamakan kloset “leher angsa.”

Selain dua jenis kloset di atas, ada juga jenis kloset “cemplung ” yang dulu biasa dipakai oleh warga perkampungan pinggir sungai. Kloset jenis ini terkenal paling jorok karena memakai sistem pembuangan langsung ke aliran sungai (percayalah, saya tidak pernah memakainya). Konon, kloset ini menghasilkan bunyi “plung…plung…plung ” yang khas ketika dipakai. Boleh jadi karena itulah kloset ini dinamakan kloset cemplung.

Beralih ke peradaban modern, saya mengenal kloset duduk. Kloset jenis ini efektif menghindarkan pemakainya dari sensasi kesemutan—seperti yang biasa dialami “penggemar fanatik” kloset jongkok. Hanya sayangnya, pemakaian kloset duduk sering merepotkan jika tidak dilengkapi air guyuran, atau ketika tombol flush-nya tidak berfungsi. Walaupun tersedia tisu untuk pembersihan, tidak semua orang (termasuk saya) yang afdhal memakainya. Selain itu, dudukan di toilet ini kerap luput dibersihkan meski sering terciprat air kencing. Karena alasan itulah, saya sering kikuk ketika harus memakai kloset duduk.

Dari berbagai jenis kloset yang saya kenal, urinoir adalah jenis kloset yang paling praktis dan mudah dipakai. Biasanya, urinoir dilengkapi dengan sensor suhu dan sistem guyuran otomatis. Si pemakai cukup buang air kecil di sana, “krucukk…krucuk…” sebentar—dan air guyuran akan keluar secara otomatis setelah urinoir ditinggal pergi—praktis sekali. Tapi, di sinilah letak masalahnya.

Urinoir (yang konon merupakan buah peradaban  modern) tidak menyediakan fasilitas cebok. Padahal, cebok merupakan salah satu elemen penting dalam “ritual” buang air (baik kecil, sedang, maupun besar sekali). Para ahli medis pun sepakat bahwa kita harus cebok setiap kali selesai buang air demi menjaga kebersihan dan kesehatan organ genital. Parahnya, air guyuran dari urinoir tidak mencukupi untuk keperluan cebok. Boleh jadi urinoir memang didesain untuk orang-orang yang sudah nggak  tahan lagi, terdesak kebelet, dan berpikir cebok itu tidak penting.

Masalah lainnya, urinoir mengharuskan kita mendekatkan celana ke bibir urinoir agar urin tidak tercecer ke lantai. Kita juga harus mendekatkan celana jika tidak ingin mengalami insiden "ter-intip” seperti yang biasa terjadi di toilet cowok. Nah, pada saat mendekatkan celana itulah, ada sekian tetes urin yang menciprat ke celana kita !!!

Bagi yang berpikir cebok itu tidak penting, masalah ini mungkin terlihat sepele. Tapi bagi kalian yang muslim—yang merasa punya kewajiban untuk menjaga kebersihan diri sebelum beribadah—hal sepele ini harus tetap diperhatikan. Kenapa?

Kita tahu, urinoir tidak hanya meniadakan fitur cebok, tapi juga meninggalkan cipratan urin yang bisa mengurangi kesempurnaan thaharah (kegiatan mensucikan diri) sebelum ibadah. Karena itu, untuk menghindari “jebakan setan” di urinoir, lebih baik gunakan kloset duduk atau kloset jongkok saja. Gunakan urinoir saat kepepet saja, misalnya saat sudah nggak tahan lagi atau saat antrian kloset konvensional terlalu lama.

“Kalau di tempat itu cuma ada urinoir gimana dong ?”

Nah, itu juga repot. Ada seorang blogger  yang pernah memberi tips mengatasi masalah ini, yaitu dengan memanfaatkan botol air mineral. Caranya, sebelum “setor” pipis  ke urinoir, terlebih dahulu isi botol itu dengan air dari wastafel. Gunakan air di dalam botol untuk keperluan cebok di depan urinoir. Jadi, jangan berpikir botol ini akan dipakai untuk nampung urin seperti pispot, lho  ya.

Sayangnya, trik ini hanya bisa digunakan ketika suasana toilet sepi. Kalian tentu tidak mau ambil resiko dicap “udik ” jika ketahuan cebok di depan urinoir—lebih-lebih pakai botol air mineral!

*   *   *

Kesimpulannya, daripada kita repot tidak bisa cebok, lebih baik hindari penggunaan urinoir, kecuali terpaksa saja. Selalu prioritaskan kloset konvensional, baik yang jongkok maupun yang duduk, karena pemakaiannya jauh lebih afdhal—meski untuk itu kita harus sabar mengantri atau merogoh kocek.

Jika kita baru pertama kali memasuki sebuah gedung, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menanyakan letak toilet. Ini penting untuk mengantisipasi kondisi darurat saat kita kebelet atau sudah nggak tahan lagi. Lagipula, kita perlu tahu jenis kloset yang dipakai di gedung itu agar kita bisa menyiapkan trik untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul, seperti tidak adanya air guyuran, tisu habis, tombol flush rusak, dan “jebakan setan” di urinoir.

Boleh jadi masalah urinoir ini terlihat sepele. Tapi demi kesempurnaan thaharah, lebih baik kita mulai peduli pada masalah ini. Jika kalian lebih memilih kepraktisan, malu, dan menyerah pada alasan “tidak mau repot,” maka itu hak kalian. Tulisan ini sekedar mengingatkan saja. Karena bagaimanapun, yang namanya ibadah tidak hanya urusan niat dan khidmat-nya saja, tapi juga bagaimana mensucikan diri demi meraih kesempurnaan ibadah itu sendiri.

Saturday, 20 February 2016

Pelajaran dari Kecelakaan


.   .   .

Seperti yang saya tulis di artikel 5 Penyebab Utama Kecelakaan Lalu Lintas, salah satu penyebab utama kecelakaan adalah "perasaan buru-buru". Kecelakaan pertama yang pernah saya alami juga berawal dari rasa buru-buru saat berkendara. 

Saat itu, saya masih SMA. Saya baru saja selesai menjalani perbaikan ulangan semester. Karena hanya menjalani perbaikan, kegiatan sekolah pada hari itu tidak banyak. Beberapa murid tampak sudah meninggalkan sekolah.

Seorang teman sekelas—sebut saja Andi, mengajak saya bermain game. Saya pun menyanggupi ajakannya. Tidak lama berselang, saya membonceng Andi menuju tempat bermain game yang letaknya tidak jauh dari sekolah.

Sekitar dua jam bermain game, saya ingin mengambil motor yang masih saya taruh di parkiran sekolah. Kebetulan saat itu ada seorang teman yang juga ingin kembal ke sekolah. Saya pun membonceng teman saya itu dan beranjak pergi ke sekolah, sementara Andi menunggu saya di tempat bermain game.

Untunglah gerbang sekolah belum tutup. Beberapa motor masih tampak berjejer di parkiran. Saya bergegas mengeluarkan motor karena saya tidak ingin membuat Andi menunggu lama.

Keluar dari gerbang sekolah, dengan terburu-buru saya memacu motor menuju tempat main game. Sekitar 50 meter dari gerbang sekolah, seorang bocah bersepeda tiba-tiba keluar dari mulut gang. Bocah itu berhenti tepat di jalur motor saya. Dan tabrakan pun tak terhindarkan lagi.

BRAKKK!!!

Stang motor saya dengan telak menghantam kepala bocah itu. Saya kehilangan kendali. Motor saya oleng, membuat saya terpental dan terseret sekitar 5 meter setelah menghujam permukaan aspal.

Saya lihat bocah itu terkapar—diam tak bergerak. Darah mengucur deras dari kepala si bocah. Di seberang jalan, sepeda mini bocah itu tampak ringsek parah. Begitu juga dengan kap depan motor saya yang remuk setelah menghantam aspal. Hampir-hampir saya tidak mempercayai kejadian itu. Semuanya terjadi begitu cepat.

Orang-orang berdatangan menolong kami. Motor saya dan sepeda mini si bocah ditepikan Kami pun segera dibawa ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, kami langsung dilarikan ke UGD. Bocah itu berada di bilik yang terpisah dari saya, sehingga saya tidak bisa melihat keadaannya. Saya cukup beruntung hanya mengalami luka lecet dan nyeri di persendian. Penanganan luka saya tidak lama. Saya lebih mencemaskan keadaan bocah itu.

Pendarahan di kepalanya terlihat cukup parah. Saat bocah itu akan dibawa ke rumah sakit, saya sempat melihat darah yang terus mengucur dari kepalanya. Saya ragu bocah itu akan selamat. Jika hal itu yang terjadi, sayalah yang harus bertanggungjawab karena telah menghabisi nyawanya—sekalipun saya tidak sengaja.

Saya mulai bergidik ngeri membayangkan skenario terburuk itu. Saya tidak percaya hidup saya akan berakhir sebagai seorang pembunuh. Saya masih SMA, tapi mungkinkah polisi akan mau melunak dan memaafkan kesalahan saya? Pikiran saya malah semakin kusut memikirkan hal itu.

Sejak memasuki ruang UGD, saya mendengar banyak sekali suara tangis anak kecil. Dalam hati, saya berharap itu adalah suara tangis bocah nahas yang saya tabrak. Setidaknya, itu akan mengurangi kegelisahan saya dan menyalakan harapan bahwa bocah itu masih mungkin selamat.

“Adiknya tadi bagaimana, Mbak?” tanya saya pada seorang perawat yang sedang memeriksa keadaan luka saya.

“Oh, dia baik-baik saja kok,” jawab perawat itu.

(Alhamdulillaah...)"  Kecemasan saya jauh lebih berkurang setelah mendengar jawaban perawat itu.

Setengah jam kemudian, orangtua saya datang. Keduanya tampak sangat khawatir. Selama beberapa menit, saya berbincang dengan orangtua saya. Tak banyak yang bisa saya ceritakan pada mereka. Saya masih agak syok dengan kecelakaan itu. Setelah mengetahui kondisi saya baik-baik saja, orangtua saya beranjak pergi menemui keluarga si bocah nahas.

*   *   *

Buru-buru, ngebut—keduanya seperti semacam ‘paket kecelakaan siap saji.’ Banyak sekali kecelakaan fatal yang terjadi karena pengendara yang buru-buru dan alpa memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Setelah kecelakaan itu, saya sempat trauma naik motor. Bayangan bocah nahas yang terkapar berdarah-darah masih membekas di benak saya. Selama beberapa hari, saya memutuskan untuk jalan kaki ke sekolah.

Meski terlihat menyeramkan, saya mendapat banyak pelajaran dari kecelakaan itu. Saya sadar, buru-buru dalam berkendara adalah tindakan konyol. Kita tidak akan bisa berkendara dengan tenang saat dikejar perasaan buru-buru. Ketika itu terjadi, pikiran kita tidak fokus pada kendaraan yang sedang kita kendarai. Dan itu bisa jadi sangat berbahaya, tidak hanya mengancam keselamatan kita, tapi juga mengancam keselamatan orang lain.

Jadi, buang jauh-jauh perasaan buru-buru saat berkendara. Jangan sampai hanya karena alasan buru-buru, kita mempertaruhkan keselamatan banyak orang di jalanan. Berhati-hatilah dalam berkendara, karena kecepatan bukan jaminan untuk cepat sampai tujuan. “Keluarga Anda menunggu di rumah.”

Wednesday, 17 February 2016

Ketika Konsumen Menjadi Korban Iklan


Seorang sales memang cerdas,
tapi sebagai konsumen kita harus lebih cerdas!
(Hatake Niwa)

Saya ini orangnya kepenginan alias mudah tergiur sesuatu. Saya cenderung tertarik membeli barang yang kemasannya menarik. Lebih-lebih jika barang itu sedang trend dan sering diiklankan di TV.

Waktu saya bocah, kampung saya sering disatroni sales keliling. Ada sales kompor, blender, sampai sales bel rumah. Sales-sales itu sangat mahir melakukan persuasi untuk memikat hati wanita konsumen. Mereka selalu mempamerkan kecanggihan barang dagangannya. Warga pun antusias menyimak ‘pertunjukan’ si sales—termasuk saya.

Pernah suatu kali seorang sales blender mampir ke kampung saya. Karena kepengin blender seperti punya tetangga, saya merengek minta dibelikan blender. Permintaan saya tidak dituruti. Saya pun menangis sampai mengejar-ngejar sales blender tadi. Sayangnya, sales blender itu sudah pergi jauh. Dengan kecewa, saya kembali pulang ke rumah. Kelak saya akan tahu betapa ‘konyolnya’ perbuatan saya saat itu.

Pengalaman masa kecil akan menentukan kepribadian seseorang ketika sudah dewasa.” Tujuh belas tahun berselang, tabiat ‘konyol’ saya belum sepenuhnya hilang.

*   *   *

Ceritanya, suatu hari saya kesulitan mencari sabun muka bermerk “Dempul Whitening Foam” (merk disamarkan demi menghormati brand sabun tersebut). Saya sudah mencari ke mana-mana. Dari toko-toko langganan sampai “maret-maret berjejaring” yang menjamur di pinggir jalan. Tapi hasilnya nihil. Ada kemungkinan Dempul yang saya cari tidak diproduksi lagi. Saya cukup kecewa karena saya sudah bertahun-tahun 'setia' memakai produk tersebut.

Saya pun memutuskan untuk move on dan memakai jenis Dempul  lain. Saya tertarik pada varian terbarunya bernama “Dempul Brightening Scrub.” Konon berdasarkan uji klenik klinis, produk tersebut efektif menambah kadar 'keputihan' (pada wajah) pria. Iklannya sudah tersebar luas dan merambah berbagai platform media sosial. Akhirnya, dengan pertimbangan “iklane akeh” (iklannya banyak), saya pun membeli Dempul Brightening Scrub.

Saya cukup antusias memakai produk baru tersebut. Saya memakainya setiap hari dengan harapan kadar ‘keputihan’ wajah saya meningkat. Satu botol Dempul pun habis—tidak ada masalah.

Pada pemakaian botol kedua satu dua jerawat mulai menggerayangi dahi dan pipi saya. Usut punya usut, ternyata saya telah salah memilih jenis Dempul.

Seperti yang saya singgung tadi, saya hanya memakai pertimbangan “iklane akeh” saat memutuskan memakai Dempul Brightening Scrub. Padahal, setelah saya telusuri di situs-situs 'perkulitan dan kosmetik,' facial foam dan scrub memiliki beberapa perbedaan.

Keduanya memang berguna untuk membersihkan wajah. Tapi yang namanya scrub  tidaklah cocok untuk dipakai setiap hari. Pemakaian scrub cukup 3-4 kali saja seminggu. Beda halnya dengan facial foam yang kandungannya lebih ‘lunak’ dan aman dipakai setiap hari.

Pemakaian scrub setiap hari (seperti yang saya lakukan) membuat wajah saya ‘terlalu bersih.’ Karena itu, wajah saya malah menjadi rentan terserang jerawat.

Kasus ini ibarat orang yang menuangkan cairan pemutih untuk mencuci pakaian berwarna. Selesai dicuci, bukannya jadi bersih, alih-alih malah warna pakaiannya yang luntur seketika.

Well, di tengah persaingan bisnis yang gila-gilaan, peranan iklan semakin penting. Tidak jarang sebuah iklan dipenuhi trik tipu-tipu, semata hanya untuk menarik minat konsumen. Karena itu, kita selaku konsumen patut berhati-hati. Ingatlah nasihat lama: “teliti dulu sebelum membeli.” Jangan sampai kalian menjadi “korban iklan” berikutnya!

*   *   *

Beberapa hari kemudian, saya mencari produk Dempul lain dengan label “Dempul Ice Whitening Foam(bukan scrub laknat). Untungnya, setelah rutin memakai produk tersebut, jerawat saya berangsur-angsur sembuh.

Alhamdulillaah.

Saya pun merasa perlu membuat testimoni: 
“Dulu wajah saya berjerawat. Setelah ‘didempul’ dengan Dempul Ice Whitening Foam, jerawat saya malah hilang. Terima kasih klinik Dempul.”


NB: 
* Dempul (dalam arti sebenarnya) = bubuk penghalus kayu/kusen pintu dan jendela.

Tuesday, 16 February 2016

Perbuatan Baik Saja Tidak Cukup


Orang hanya akan mendapatkan sebatas
apa yang diniatkannya

Pada Hari Kiamat, seorang yang mati syahid didatangkan menghadap Allah. Kepadanya, ditampakkan kenikmatan-kenikmatan yang akan diperolehnya.

Allah berfirman: "Amalan apa yang telah engkau kerjakan di dunia sehingga engkau merasa berhak memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"

Orang itu menjawab: “Aku berperang untuk membela agama-Mu, Ya Tuhan, sehingga aku terbunuh dan mati syahid.”

Allah berfirman “Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau berperang semata-mata supaya engkau dikatakan sebagai seorang pemberani dan memang engkau sudah dikatakan seperti itu.”

Allah pun memerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Kemudian didatangkanlah seorang lelaki yang belajar suatu ilmu agama dan mengajarkannya, serta fasih membaca Al-Quran. Kepada lelaki itu, ditampakkan kenikmatan-kenikmatan yang akan diperolehnya.

Allah berfirman: "Amalan apa yang telah engkau kerjakan di dunia sehingga engkau merasa berhak memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"

Orang itu menjawab: “Aku menyibukkan diri mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya pada orang lain. Aku juga membaca Al-Qur’an dengan mengharap keridhaan-Mu.”

Allah berfirman “Engkau berdusta! Sesungguhnya kau belajar ilmu agama supaya engkau dikatakan sebagai orang alim. Engkau membaca Al-Qur’an supaya engkau dikatakan sebagai orang yang pandai membaca Al-Qur’an dan memang engkau sudah dikatakan seperti itu.”

Allah pun memerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Kemudian didatangkan lagi seorang lelaki yang telah dikaruniai kelapangan hidup dan harta benda yang melimpah. Kepada lelaki itu, ditampakkan kenikmatan-kenikmatan yang akan diperolehnya.

Allah berfirman: "Amalan apa yang telah engkau kerjakan di dunia sehingga engkau merasa berhak memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"

Orang itu menjawab: “Aku selalu mendermakan harta benda yang aku miliki karena mengharapkan keridhaan-Mu.”

Allah berfirman “Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau melakukan itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang dermawan dan memang engkau sudah dikatakan seperti itu.”

Allah pun memerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Tiga orang saleh itu justru menjadi orang-orang yang pertama kali masuk neraka hanya karena niat yang tidak lurus. Sebegitu pentingnya perkara niat sampai-sampai bisa menggelincirkan orang yang seharusnya masuk surga ke dalam neraka.

Saya mulai membayangkan jika blog yang saya tulis tidak dilandasi niat yang lurus. Boleh jadi nasib saya tidak jauh beda dengan ketiga orang saleh itu. Karena itu, perbuatan baik saja tidak cukup, kita juga harus mati-matian menjaga niat.


*   *   *

Beberapa saat kemudian, seorang blogger didatangkan menghadap Tuhan. Kepada blogger itu, ditampakkan kenikmatan-kenikmatan yang akan diperolehnya.

Tuhan berfirman: "Amalan apa yang telah engkau kerjakan di dunia sehingga engkau merasa berhak memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"

Blogger itu menjawab: “Saya menghabiskan sepanjang umur saya untuk menulis di blog dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak. Semua saya lakukan demi mengharap keridhaan-Mu.”

Tuhan berfirman: “Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau melakukan itu supaya blog-mu ramai dikunjungi orang. Engkau rajin menulis supaya blog-mu cepat terindeks mesin pencari dan mendapat dollar dari AdSense. Engkau membuat blog supaya dikatakan sebagai orang keren yang dikenal banyak orang dan memang engkau sudah dikatakan seperti itu.”

Tuhan pun memerintahkan agar orang itu …………………………………….

Monday, 15 February 2016

Bocah-Bocah yang Tersisih


Bagaimana mungkin aku berpikir untuk hidup menyendiri.
Karena hakikat manusia, kita selalu membutuhkan satu sama lain.”
(Hatake Niwa)

Saat SMP saya pernah memiliki seorang teman, sebut saja Jimmy (bukan nama sebenarnya). Saya sempat beberapa kali menjadi teman sebangku Jimmy. Biasanya, tidak ada yang mau duduk sebangku dengan Jimmy (termasuk saya). Hanya murid yang datang paling akhirlah yang akan duduk sebangku dengannya. 

Sulit untuk mengatakan saya menikmati duduk di sebelah Jimmy. Dia tidak seperti anak-anak lain seusianya. Jimmy sangat polos, pemalu, dan cenderung kekanak-kanakan. Topik obrolan yang disukainya payah dan tidak sesuai dengan selera teman-temannya. Mimik wajahnya sayu, seakan-akan mengajak orang-orang untuk menindasnya beramai-ramai. Di awal-awal perkenalan, saya juga sempat menganggap Jimmy anak yang aneh.

Karena kepribadiannya yang ‘berbeda,’ Jimmy menjadi murid yang sering mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari teman-temannya. Saya sering melihat teman-teman Jimmy berbuat usil padanya. Ada yang mengejek, membuat lelucon sarkas tentang Jimmy, sampai beramai-ramai melempari Jimmy dengan kapur. Beberapa kali anak malang itu kedapatan menangis karena tidak tahan dengan perlakuan teman-temannya (saat itu saya belum tahu kalau perbuatan teman-teman saya termasuk bullying).

Jimmy juga sering tersisih dari pergaulan. Jimmy jarang diajak teman-temannya ke kantin. Dalam class meeting, dia tidak diikutkan turnamen apapun karena payah dalam olahraga. Begitu juga saat teman-temannya sibuk membuat band untuk ujian praktik seni musik. Tidak ada yang mau melibatkan Jimmy. Pada akhirnya, setelah tiga tahun Jimmy tetap kesulitan mendapat penerimaan dari lingkungan pergaulannya.

Padahal, Jimmy tidak seburuk perkiraan teman-temannya. Suatu hari, Jimmy mengajak saya untuk mampir ke rumahnya. Saat itu, saya baru tahu kalau Jimmy cukup ahli mengutak-atik komputer. Kamarnya penuh dengan perangkat komputer dan CD master program. Beberapa kali saya diajak bermain game di rumahnya. Karena jasa Jimmy pula pengetahuan saya tentang komputer meningkat. Sayangnya, semua kelebihan itu tidak pernah membuat Jimmy ‘dianggap’ oleh teman-temannya. Jimmy tetap menjadi "Bocah yang Tersisih."

*    *   *

Kasus Jimmy hanya contoh kecil bagaimana seseorang tersisih dari pergaulan. Manusia cenderung pilih-pilh dalam berteman. Kebanyakan dari kita hanya akan berteman dengan orang-orang yang sekiranya memiliki minat yang sama. Kita pun menciptakan “pengkotak-kotakan” dan stratifikasi dalam pergaulan. Mereka yang tidak memiliki kesamaan minat atau dicap ‘berbeda’ akan ditempatkan di luar 'kotak' (tersisih).

Saat saya SMA, “pengkotak-kotakan“ semacam itu jelas terlihat (terutama di kalangan cewek). Ada kelompok cewek gaul. Ada kelompok cewek alim. Ada pula kelompok cewek rajin. Dalam pergaulannya, saya melihat ada jarak (GAP) antara cewek dari "kelompok rajin"  dan cewek dari "kelompok gaul." Begitu pula cewek dari "kelompok alim" dengan "kelompok gaul." Sementara mereka yang tidak bisa menjadi bagian dalam kelompok-kelompok itu cenderung tersisih.

Kelompok murid cowok pun begitu. Ada saja cowok-cowok ‘cupu’ yang tersisih dari pergaulan. Banyak alasan yang melatari bagaimana mereka bisa tersisih. Sebagian karena ketidaksamaan minat dengan kebanyakan teman-temannya, terlalu pintar, sangat polos, atau payah dalam hal olahraga. 

Saya rasa, kecenderungan semacam itu terjadi di sekolah manapun. Bahkan sampai saya kuliah pun, “pengkotak-kotakan” dan “alienasi” itu tidak pernah hilang. Ada kelompok mahasiswa “borju” yang doyan shopping dan nyalon. Ada kelompok mahasiswa blangsak  yang doyan mbolos dan nitip absen. Ada pula kelompok mahasiswa rajin-religius yang sering mangkal di masjid atau perpustakaan. Di luar itu semua, ada kelompok mahasiswa yang tidak jelas identitasnya, mereka yang introvert dan memiliki minat yang berbeda dengan teman-temannya. Golongan yang terahir ini lebih sering tersisih dalam pergaulan.

Di lingkungan masyarakat juga sama. Stratifikasi dan “pengkotak-kotakan” pergaulan juga terjadi. Kehidupan modern mendorong manusia semakin individualis. Orang-orang saling menatap sesamanya dengan penuh curiga. Rumah-rumah dibuat berpagar tinggi-tinggi. Persaingan gengsi mendorong perilaku konsumtif. Pun dengan menjamurnya sikap acuh pada kemalangan orang lain.

Saya sering membayangkan sekat-sekat antarkelompok itu tidak pernah ada. Saya membayangkan peradaban manusia yang tidak dibatasi sekat antarnegara, identitas suku, agama, profesi atau klan tertentu. Dengan begitu, kita bisa bebas untuk saling berbagi dan peduli satu sama lain.

Ketika kehidupan manusia tidak dibatasi sekat-sekat artifisial itu, tidak akan ada lagi kelompok yang tersisih dari pergaulan (termarjinalkan). Semua orang bebas untuk saling berbagi dan menolong sesamanya tanpa dibatasi suku, agama, ras, atau pangkat.

Para pejabat tidak akan sungkan berkotor-kotor menjamah pemukiman rakyatnya. Orang-orang kaya tidak risih memberi derma dan merangkul tetangganya yang lusuh papa. Satpol PP akan bermusyawarah dengan warga daripada melakukan penggusuran. Para kyai, polisi, pemuka agama, semuanya berkenan membawa ‘pelita’ di area lokalisasi. Tidak ada lagi prinsip “mengenyangkan perut sendiri.” Semuanya saling peduli untuk membantu mengentaskan sesamanya dari masalah.

Mengharapkan semua manusia berlaku seperti itu memang terdengar utopis. Tapi setidaknya, kita bisa memulainya dari lingkungan kecil kita terlebih dahulu. Kita bisa mendorong diri kita untuk lebih peduli pada teman-teman kita yang tersisih dari pergaulan. Ajak mereka untuk bergabung dan terlibat dalam kegiatan bersama. Berilah perhatian dan penerimaan yang tulus agar mereka merasa keberadaannya berharga. Karena yakinlah, tidak ada seorang pun di dunia ini yang merasa nyaman menjadi kelompok yang tersisih dari lingkungannya.

*    *   *

Sekitar dua bulan lalu, dalam sebuah reuni, saya bertemu dengan Jimmy. Itu adalah pertemuan pertama saya dengannya sejak SMP. Saya menyimak bagaimana Jimmy berinteraksi dengan teman-temannya saat itu. Saya baru menyadari jika Jimmy memiliki kecenderungan seorang introvert. Mungkin itu sebabnya, saat SMP Jimmy kesulitan untuk bisa diterima di lingkungan pergaulannya. Andai saat itu saya sudah tahu tentang hal ini, tentu saya akan mencoba menemani Jimmy agar tidak terus-terusan tersisih dari pergaulan.

Toh saya tetap bersyukur Jimmy telah menemukan dirinya yang baru. Sejak SMA, Jimmy mendapat perlakuan yang lebih baik dari lingkungannya. Dia tidak mendapat bullying separah teman-temannya di SMP. Jimmy beruntung bisa berkenalan dengan “orang-orang baik” yang menaruh kepedulian padanya. “Orang-orang baik” ini tidak suka membiarkan temannya kesepian dan tersisih. Mereka juga tidak sungkan berteman dengan siapa saja dan membenci “pengkotak-kotakan” dalam pergaulan. Mereka selalu ada untuk temannya baik pada saat senang maupun susah. Orang-orang inilah yang lebih pantas kita sebut sebagai “sahabat.”