Subscribe:

Labels

Showing posts with label psycho. Show all posts
Showing posts with label psycho. Show all posts

Wednesday, 11 May 2016

Menasehati tanpa Menghakimi


Sebaik-baiknya nasehat adalah nasehat yang disampaikan dengan hikmah,
tanpa menyakiti perasaan mereka yang diberi nasehat.
(Hatake Niwa)

Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Manusia adalah makhluk yang bisa salah dan lupa. Karena mempunyai tabiat seperti itu, manusia diingatkan Tuhan untuk “saling menasehati dalam kebaikan, dan saling menasehati dalam kesabaran”. Dengan kata lain, manusia didorong agar tidak segan berbagi nasehat jika itu memang dibutuhkan.

Nasehat tidak harus berbentuk petuah dengan untaian kata-kata mutiara ala motivator. Tidak harus berupa penjelasan panjang lebar yang membuat pendengarnya mengantuk. Sebagian orang malah kurang respek jika si pemberi nasehat terkesan menggurui. Karena itu, pemberi nasehat yang bijak akan berusaha menjaga perasaan orang yang dinasehatinya. Mereka selalu berusaha mencari jalan tengah agar nasehat mereka didengar tanpa menghakimi perbuatan orang yang diansihati. 

Dalam hal ini, persoalan nasehat-menasehati tidak sesederhana menilai perilaku orang, menjabarkan kesalahannya, untuk kemudian mengakhirinya dengan nasehat. Tidak semudah itu. Kita harus tahu bahwa ada dimensi psikologis dalam diri manusia di mana mereka tidak suka disalahkan. Itu sebabnya, menghakimi atau menyalahkan perbuatan orang lain bukanlah sikap yang bijak untuk mengawali sebuah nasehat. Bisa saja orang yang ingin kita nasehati malah lebih dulu tersinggung dan tidak menaruh respek pada kita, karena perbuatannya disalah-salahkan. Jika sudah begitu, betapa pun benarnya nasehat kita, semua itu akan sia-sia karena orang yang ingin dinasehati keburu menutup telinganya.

Jika kita ingin memberi nasehat, maka “JANGAN MENGHAKIMI” perbuatan orang yang ingin kita nasehati. Sebisa mungkin kita harus menjaga perasaannya. Kita harus membuat orang itu menyadari kesalahannya terlebih dahulu. Bukankah orang yang berbuat salah seringkali tidak sadar jika perbuatannya salah?

Misalkan seorang bocah tidak mengerjakan sholat. Tanpa tahu duduk masalahnya, kita langsung memarahi bocah itu, “Hei, kamu kok nggak sholat? Itu kan dosa! Nanti kamu masuk neraka, lho! Besok lagi jangan diulangi ya!” 

Ya, meninggalkan sholat itu berdosa. Semua orang juga tahu. Tapi kita tidak bisa langsung menghakimi bocah itu tanpa menyelidiki latar belakang masalahnya. Boleh jadi bocah itu belum memahami esensi sholat, sehingga dia tidak merasa harus bangun pagi untuk sholat. Atau boleh jadi bocah itu tidak sholat karena belum pernah diajari orangtuanya.

Dengan mengetahui latar belakang masalah, kita bisa menentukan nasehat seperti apa yang dibutuhkan. Tidak perlu sampai menyalahkan perbuatan orang lain. Sampaikan saja apa yang baik baginya tanpa harus mengusik kesalahannya hingga membuat tidak nyaman. Biarkanlah nasehat kita menggugah kesadaran orang itu. Selama niat dan penyampaian nasehat itu baik, insya Allah nasehat itu tidak akan sia-sia.

Terlepas dari itu semua, apa yang saya tulis di sini sifatnya idealis. Kenyataannya, kita harus menghadapi berbagai tipe karakter manusia. Ada tipe orang yang nurut-nurut saja dinasehati, ada yang cuek, ada yang skeptis, ada pula yang tidak suka dinasehati, alih-alih malah memaki si pemberi nasehat. Karena itu, kembali lagi pada esensi nasehat. Tuhan mendorong manusia agar saling menasehati karena manusia adalah makhluk yang sering salah dan lupa. Tak peduli orang kaya, pejabat, maupun orang berilmu. Kita semua bisa saja khilaf dan harus diingatkan, harus dinasehati agar kembali ke jalan yang benar. Bayangkan kerusakan seperti apa yang akan terjadi jika orang salah dibiarkan salah, dan orang lupa dibiarkan lupa tanpa pernah diingatkan?

Di sisi lain, Tuhan juga membenci pemberi nasehat yang tidak mengerjakan nasehatnya sendiri. Tuhan sangat membenci orang yang “omdo” dalam menasehati orang lain. Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah sholat menasehati orang lain untuk sholat? Bagaimana mungkin orang yang suka korupsi menasehati orang lain untuk tidak korupsi? Dengan kata lain, jika kita menasehati orang lain maka kita mempunyai tanggung jawab moril untuk melakukan apa-apa yang kita nasehatkan. Bukankah konyol rasanya, jika kita mengharuskan orang lain utnuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita lakukan? Begitulah. []

Wednesday, 16 March 2016

Motivator Kok Dipisuhi


Jika motivator cuma modal ngomong,
kenapa tidak semua orang sukses jadi motivator?
(Hatake Niwa)

Dulu, saat saya masih sering galau, saya rajin mengikuti acara motivasi di sebuah televisi swasta. Acara tersebut ditayangkan setiap pekan. Bukan acara live sih, tapi bagi saya acara itu lumayan efektif untuk menyentil nalar dan menggugah nurani.

Setiap pekannya, si motivator membahas topik yang beragam. Biasanya, dalam acara itu si motivator melakukan dialog interaktif dengan audience yang ada di studio. Di sela-sela dialog itu, si motivator akan menyitir banyak nasehat bijak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Apapun pertanyaan dan keluhannya, si motivator selalu memiliki jawaban logisnya—seakan-akan dirinya adalah “doraemon” yang bisa mengatasi segala masalah.

Si motivator tidak hanya terkenal di layar kaca. Di dunia maya, ia juga dikenal luas oleh para netizen. Fanspage-nya di media sosial terbilang sukses. Jumlah followers-nya mencapai jutaan. Dengan fanspage itu, si motivator sering membagikan nasehat-nasehat bijaknya. Kebanyakan nasehatnya bertutur tentang kebijaksanaan hidup, hubungan antarpribadi, percintaan, dan pengembangan diri. Semuanya dikemas dalam bahasa “tingkat tinggi” yang sengaja dipilih demi menggugah motivasi para pembacanya.

Anehnya, tidak semua orang menyukai nasehat si motivator. Ada saja segelintir netizen yang nyinyir bilang si motivator cuma “omdo” (omong doang). Ada juga yang sibuk ngeles, mencoba memelintir nasehat si motivator dengan argumen dangkal. Komentar andalan yang sering mereka pakai kurang lebih begini: “Kalau cuma ngomong doang sih gampang, prakteknya susah, Pak!

Hadeeeh… Saya tidak habis pikir. Namanya juga motivator, tidak salah kalau dia rajin membagi kata-kata mutiara. Ibaratnya, motivator itu penjual roti. Bukankah wajar jika penjual roti berkeliling kampung sambil berseru menjajakan dagangannya. Begitu juga motivator. Bagaimanapun seorang motivator dihargai karena keahliannya memotivasi orang lain. Menggelikan sekali jika kita malah nyinyir misuhi si motivator sampai berani berkomentar miring seakan-akan kita lebih berpengetahuan dibanding si motivator.

Jangan kira seorang motivator cuma waton ngomong. Sekedar ngomong memang gampang. Tapi “ngomong baik-baik” untuk menggugah kesadaran orang lain, mustahil bisa dilakukan sembarang orang. Setiap kata yang dipilih harus kata-kata yang “bertenaga” dan bisa membangkitkan motivasi. Kemampuan itu membutuhkan persiapan yang panjang, penguasaan teori yang mumpuni, dan latihan intens selama bertahun-tahun. Karenanya, tidak semua orang bisa menjadi motivator sukses.

Seorang motivator tidak cukup hanya piawai memahami seluk beluk psikologi. Lebih dari itu, mereka harus memiliki kecerdasan intrapersonal yang tinggi. Semua itu didukung dengan kecakapan public speaking dan pancaran aura kewibawaan yang membuat siapapun tertarik untuk menyimak kata-kata si motivator.

Jika yang dilakukan motivator itu tidak salah, kenapa ia malah punya haters ?

Well, kita tahu, di dunia ini ada tipe-tipe orang yang bebal terhadap nasehat. Orang-orang semacam ini menginginkan kehidupannya bebas dari kritik. Nasehat apapun yang ditujukan pada mereka lebih sering mental dan diabaikan. Orang-orang bebal ini hanya meyakini “kebenaran” versi mereka sendiri. Mereka baru akan “sadar” manakala kebenaran yang mereka yakini ternyata keliru. Jika belum kena batunya, mereka tetap keukeuh mempertahankan idealismenya, tanpa mempedulikan nasehat orang lain. Boleh jadi, orang-orang bebal semacam itulah yang sering nyinyir berkomentar miring terhadap nasehat si motivator.

Terlepas dari itu semua, pada dasarnya “mengkonsumsi” nasehat secara berlebihan bisa berdampak buruk bagi rohani kita. Itu bisa terjadi jika kita tidak mengimbangi nasehat dengan tindakan nyata dan perbaikan diri.

Sebuah nasehat bijak seharusnya menggugah kesadaran kita untuk segera melepaskan diri dari masalah. Tapi terkadang, nasehat itu malah menjadi “candu” yang membuat kita berpikir masalah kita akan selesai karena nasehat itu. Padahal, masalah akan tetap ada sampai kita tergerak untuk mencari solusinya. Karena itu, harus ada keseimbangan antara nasehat yang kita dengar dan tindakan rasional kita di dunia nyata.


Pada akhirnya, jika kalian termasuk salah satu orang yang jengah dengan nasehat motivator, maka saran saya, berhentilah menonton atau membaca nasehatnya. Jika kita merasa tidak setuju atau jengah dengan nasehat itu, tidak perlu repot-repot menjadi haters atau berkomentar miring padanya. Karena sebuah nasehat tetaplah nasehat. Jika bukan untuk kita, boleh jadi nasehat itu bisa bermanfaat bagi orang lain. Toh tugas motivator tetap sama: MEMOTIVASI ORANG AGAR MELIHAT “TERANG” DALAM SETIAP MASALAH YANG DIHADAPINYA.


NB:
* dipisuhi, misuh-misuh = semacam marah-marah/ngedumel dengan tidak jelas

Monday, 15 February 2016

Tak Selamanya Curhat Itu Berguna


Jika curhat itu berguna, curhatlah pada seorang dokter atau polisi.
Yang satu akan mencari cara menyembuhkan penyakitmu,
yang satunya lagi akan menangkap orang yang jahat padamu.
(Hatake Niwa)

Beban hidup memang tidak bisa kita tanggung sendirian. Terkadang kita dibuat sesak karena masalah-masalah yang tak kunjung reda. Dalam kondisi itu, kita merasa berhak mengungkapkan masalah kita pada orang lain yang sekiranya bisa membantu kita. Kita menyebutnya “curhat.”

Tapi pernahkah kita bertanya, apakah orang-orang yang kita curhati selama ini benar-benar peduli pada penderitaan kita? Apakah mereka benar-benar takzim mendengarkan setiap detail masalah yang sedang kita hadapi?

Melihat realitas yang pernah saya alami, saya cenderung mengatakan: TIDAK.

Setiap orang pasti memiliki masalah. Karena itu, tidak semua orang memiliki waktu untuk mengurusi masalah orang lain. Kebanyakan orang tidak akan peduli pada penderitaan kita. Mereka pikir itu bukan urusan mereka. Hanya saja, karena alasan pertemanan, kepedulian, dan rasa setia kawan, mereka mau menjadi tempat curhat untuk kita (meski dalam kondisi terpaksa sekalipun).

Karena itu, kita perlu mencari tahu apa sih yang kita inginkan dari curhat? Solusi? Pilihan baru? Atau sekedar teman bicara? Well, jika kita menginginkan solusi, akan lebih baik jika kita curhat pada orang-orang yang memang memiliki kualifikasi untuk menolong kita (seperti dokter, psikolog, polisi, atau konsultan keuangan). Sebaliknya jika kita menginginkan teman bicara, kita harus mencari waktu yang tepat saat orang yang ingin kita curhati sedang nyaman atau tidak dirundung masalah.

Hal ini penting sekali agar orang yang kita curhati tidak merasa risih. Apalagi jika kita termasuk tipe orang yang suka mengeluh. Siapapun pasti jengah jika berulang kali mendapat keluhan yang sama, masalah yang sama, dan dari orang yang sama, seakan-akan orang yang curhat itu tidak pernah belajar dari curhatan sebelumnya.

Tidak selamanya ada bahu untuk bersandar. Ada kalanya kita harus berjuang sendiri tanpa banyak mengeluh ke sana kemari. Karena sebaik apapun teman curhatmu, hanya diri kita sendiri yang bisa mengentaskan kita dari masalah.


Curhatlah, sekedar untuk mendapatkan motivasi agar kita lebih kuat dalam menghadapi masalah. Karena sekali lagi, tidak banyak orang yang benar-benar memahami penderitaan kita. Nobody cares about our pain, except ourself.

Saturday, 6 February 2016

Pelajaran dari Hari Kebalikan


Jika kau seorang pendiam, belajarlah untuk berani bicara.
Jika kau seorang cerewet, maka belajarlah untuk diam.
(Hatake Niwa)

Saya termasuk penggemar kartun Spongebob Squarepants. Tentu saja alasan saya menyukai kartun tersebut berbeda dengan para balita dan anak-anak yang memandang Spongebob sebagai figur yang konyol. Bagi saya, Spongebob Squarepants lebih dari sekedar kartun yang mengumbar kekonyolan. Secara cerdas, Spongebob Squarepants juga menyisipkan pesan moral dan kritik sosial dalam setiap episodenya. Karena itu, tidak heran jika kartun yang bercerita tentang kehidupan bawah laut di kota Bikini Bottom itu bisa dinikmati semua kalangan usia.

Salah satu episode Spongebob Squarepants yang menarik bagi saya adalah episode Hari Kebalikan (Opposite Day). Dalam episode itu, Squidward tengah dibuat kesal oleh ulah jahil dua tetangganya, Spongebob dan Patrick. Karena tidak tahan lagi dengan kelakuan mereka, Squidward berencana untuk menjual rumahnya dan pindah. Squidward pun menghubungi sebuah agen properti. Setelah bernegosiasi, si agen properti menyetujui permintaan Squidward untuk menjual rumah.

Namun sebelumnya agen properti itu berencana mensurvey kelayakan rumah Squidward. Ia mensyaratkan rumah Squidward harus bebas dari segala bentuk gangguan ketertiban. Perkara ini sepele, tapi dengan adanya Spongebob dan Patrick di sebelah rumahnya, Squidward tidak berpikir penjualan rumahnya akan berhasil. Squidward memikirkan cara untuk membuat Spongebob dan Patrick tidak mengganggunya sampai agen properti itu selesai melakukan survey. Squidward pun menemukan ide untuk membuat sebuah hari di mana setiap orang harus melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan kebiasaan-kebiasannya. Ia menamainya: “Hari Kebalikan.”

Pada Hari Kebalikan, Squidward benar-benar melakukan segala sesuatu di luar kebiasaannya. Pagi-pagi, Squidward sudah berbuat gaduh dengan genderang dan klarinetnya. Ia yang sering mengurung diri di rumah mendadak menjadi periang dan tak segan menyapa orang. Hari Kebalikan buatan Squidward sukses membuat Spongebob dan Patrick urung menjahilinya alih-alih berdiam diri di rumah masing-masing. Squidward merasa kehidupannya telah berubah menjadi lebih baik.

Di dunia nyata, tentu saja kita tidak bisa menerapkan gagasan Hari Kebalikan untuk menghentikan ulah tetangga yang menjengkelkan. Bahkan Hari Kebalikan itu sendiri memang tidak pernah ada. Tapi kita bisa memanfaatkan prinsip Hari Kebalikan untuk hal-hal yang positif seperti mengatasi kejenuhan saat bekerja.

Ya, semua orang pasti mengalami kejenuhan saat menjalani rutinitasnya. Dalam taraf tertentu, kejenuhan dapat menyebabkan motivasi dan produktivitas kerja kita menurun. Dale Carnegie mengungkapkan bahwa kebosanan termasuk salah satu faktor penyebab hasil kerja menurun di samping faktor-faktor psikologis lain seperti rasa sentimen, perasaan tidak dihargai, perasaan sia-sia, rasa diburu-buru, gugup, dan kecemasan. Di sisi lain, jika kita menyikapi kejenuhan itu dengan mengambil cuti kerja, jalan-jalan di pegunungan atau travelling ke luar kota, maka betapa banyak waktu dan biaya yang akan kita habiskan?

Alih-alih kita bisa meniru cara Squidward dengan menciptakan “Hari Kebalikan” versi kita sendiri untuk melawan rasa jenuh. Sebagai contoh, jika kita terbiasa bangun ‘mepet’ sehingga terburu-buru masuk kerja, di Hari Kebalikan kita akan bangun lebih pagi dan berangkat kerja lebih awal. Jika kita terbiasa banyak bicara, pada Hari Kebalikan kita bisa mencoba untuk lebih sering diam. Jika kita terbiasa melewati jalan A saat ke kantor, kita bisa beralih ke jalan B di Hari Kebalikan. Begitu seterusnya,

Perubahan-perubahan kecil pada kebiasaan kita dapat membantu mengatasi kejenuhan kerja yang dirasakan. Dengan cara itu, kita akan terlatih untuk selalu kreatif mencari hal-hal baru setiap harinya. Poin pentingnya: cobalah hal yang baru yang tidak biasa kita lakukan atau lakukan yang biasa kita lakukan dengan cara yang baru. Jika kita selalu menjalani rutinitas dengan cara yang sama dan pola pikir yang sama, bagaimana mungkin kita merasakan nikmatnya bekerja?

*   *   *

Sementara itu, di Bikini Bottom, Hari Kebalikan ternyata tidak berakhir bahagia bagi Squidward. Rencananya menjual rumah kandas karena Spongebob dan Patrick kembali berulah. Dua sejoli itu keliru menafsirkan Hari Kebalikan. Spongebob dan Patrick malah berpikir jika mereka harus “berubah-menjadi-Squidward” pada Hari Kebalikan. Mereka pun mempermak wajah mereka—menambahkan hidung besar khas Squidward—dan mulai bertingkah seperti seorang Squidward. Sialnya, petugas properti keburu datang tepat sebelum Squidward berhasil mengusir Spongebob dan Patrick dari rumahnya. Tak pelak, petugas properti turut menjadi korban kejahilan Spongebob dan Patrick. Rumah Squidward pun urung terjual. Ketika Hari Kebalikan berakhir, Squidward harus menerima kenyataan—tetap hidup bertetangga bersama kejahilan Spongebob dan Patrick.

Tuesday, 5 January 2016

Bahaya Perasaan Takut Salah


Jika kita tidak pernah salah,
maka kita tidak akan pernah tahu hakikat kebenaran.
(Hatake Niwa)

Apa jadinya jika seorang dokter tak kunjung mengoperasi pasiennya hanya karena takut melakukan malpraktek? Apa jadinya jika seorang pilot takut salah saat mengemudikan pesawatnya? Dan apa jadinya jika seorang ibu enggan memasak hanya karena takut salah mengiris hingga jarinya terluka?

Perasaan “takut salah” tidak lebih dari hasil persepsi pikiran kita. Saat kita khawatir tindakannya keliru, kita cenderung merasa takut salah. Kita juga bisa takut salah saat tidak yakin pada kemampuannya sendiri.

Perasaan takut salah adalah salah satu penghalang terbesar bagi siapapun yang ingin sukses. Perasaan ini membuat kita “ragu-ragu dalam melakukan sesuatu.” Misalnya seorang akuntan yang takut salah dalam menghitung. Sekian lama si akuntan mengecek angka-angka yang tertera di layar komputernya. Dia sibuk memastikan angka-angka yang dimasukkannya tidak keliru. Pekerjaannya pun tak kunjung selesai.

Rasa takut salah adalah hal yang normal dimiliki setiap orang. Pada dosis tertentu, rasa takut salah akan mendorong kita bersikap hati-hati. Misalnya, kita takut salah saat mengetik sehingga kita lebih cermat saat mengetik. Atau saat mengiris sayuran—kita takut kita akan salah dalam mengiris sehingga kita lebih berhati-hati agar tidak melukai jari kita. Sebaliknya, rasa takut salah yang berlebihan justru akan membuat kita plin-plan dalam melakukan sesuatu. Kita akan sulit berkembang jika kita tidak pernah berani mengambil langkah perubahan hanya karena takut disalahkan orang lain.

Dalam proses pembelajaran, kita tidak semestinya merasa takut salah. Ketakutan melakukan kesalahan hanya akan membuat kita tidak berani mencoba. Padahal, salah satu aspek penting dalam belajar adalah learning by doing. Kita tidak perlu khawatir dimarahi guru/dosen gara-gara salah mengerjakan soal. Salah adalah bagian dari proses belajar. Karena dari kesalahan itu kita akan belajar memperbaikinya hingga sampai pada kebenaran.

Saat bayi dulu, kita tidak pernah takut salah. Begitu kita bisa menggerakkan tangan dan kaki, kita akan selalu aktif melatih otot-otot kita untuk bergerak. Mulanya kita berguling-guling, merangkak, mencoba berjalan hingga akhirnya kita bisa berjalan dan berlari. Dalam proses pertumbuhan itu, kita tidak pernah takut ada orang yang menyalahkan. Kita juga tidak terlalu mengkhawatirkan “bagaimana kalau nanti saya jatuh.” Yang kita tahu hanya belajar, berusaha, dan berani mencoba.

Kita perlu berkaca dari masa kecil kita ketika proses belajar dijalani tanpa takut salah. Kita menjadi saksi bagi diri kita sendiri, bahwa proses belajar yang bebas rasa takut akan jauh lebih berhasil.

Dari sini, saya sering heran dengan suasana ruang-ruang kelas yang begitu dingin. Ruang kelas yang seharusnya menyenangkan justru tidak beda dengan tempat-tempat uji nyali. Di sisi lain, guru yang mengajar malah tidak ada ramah-ramahnya. Murid yang salah mengerjakan soal dianggap tidak becus dan “bodoh.” Padahal gurulah yang bertanggung jawab menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi murid-muridnya.

Karena itu, agar proses belajar yang kita jalani bertahun-tahun tidak sia-sia, kita harus melenyapkan rasa takut salah yang membuat kita segan melangkah. Selama apa yang kita jalani benar dan tujuan kita mulia, maka tidak seharusnya kita merasa takut salah. Jika pekerjaan kita dinilai salah oleh orang lain, maka cukuplah kita jadikan hal itu sebagai sebuah bentuk pembelajaran. Karena seringkali dari “yang salah”, kita jadi mengerti bagaimana “yang benar.”

Perlu diingat bahwa catatan ini saya tujukan untuk konteks kegiatan yang positif seperti karir dan proses belajar di sekolah. Jangan sampai sikap tidak takut salah malah ditujukan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang negatif dan merusak seperti mencoba minum-minuman keras, narkoba, seks bebas, dan perilaku kriminal lainnya.

Monday, 4 January 2016

Karena TIDAK Semua Kritik Itu Buruk


Seringkali kesuksesan seseorang terhambat hanya karena 
terlalu sibuk mengkhawatirkan kritikan dari orang lain.
(Hatake Niwa)

Terkadang, orang yang mengkritik kita tidak tahu bagaimana perasaan kita selaku objek kritikannya. Orang yang mengkritik kerap tak peduli apakah kritikannya terdengar menyakitkan atau tidak. Boleh jadi kita merasa “dibantai ” saat hasil kerja kita dikritik. Karena kritik, terkadang kita menjadi inferior—merasa semua usaha kita sia-sia dan tidak dihargai.

Inferior—merasa rendah diri hanya karena hasil kerjanya dikritik adalah sebuah pemikiran yang keliru. Hal itu menunjukkan betapa lemahnya mental kita dalam menghadapi kritikan. Terkadang kesuksesan seseorang terhambat karena dirinya terlalu mengkawatirkan kritik yang membuatnya berhenti berinovasi dan takut melangkah.

Dalam hidup ini, kritik akan selalu ada. Akan tetapi kita selalu memiliki pilihan untuk menyikapi kritik secara positif. Kritik bisa kita jadikan sebuah motivasi eksternal untuk meningkatkan kinerja kita—termasuk memperbaiki sikap kita yang keliru.

Setiap orang tak bisa lepas dari kritik. Jangankan orang awam, para penemu hebat seperti Alva Edisson, James Watt, bahkan Einstein sekalipun tak luput dari kritik. Karena itu, kritik tidak selalu berkonotasi negatif, tergantung konteks dan penyikapan kita terhadapnya.

Jika kita mendapat kritik, kita harus mencoba untuk berdamai dengannya. Berdamailah dengan orang yang mengatakan “hasil kerjamu jelek.” Belum tentu orang itu bermaksud mencela. Boleh jadi orang itu malah sedang memotivasi kita agar meningkatkan kualitas kerja—karena dia yakin pada kemampuan kita. 

Di sisi lain kita juga harus belajar untuk mengkritik orang lain secara konstruktif. Artinya jika kita mengkritik orang lain, maka pastikan kritikan kita tidak melukai perasaan mereka yang kita kritik. Selain itu usahakan agar kritikan kita dapat memberi dampak positif bagi mereka yang kita kritik. Jangan malah sebaliknya, mencecar seseorang dengan kritikan-kritikan pedas sampai-sampai membuat pihak yang dikritik merasa malu dan hilang kepercayaan dirinya.

Thursday, 31 December 2015

Lebih Baik "Merasa Bodoh"


Seringkali orang-orang pintar lupa bahwa dulunya mereka adalah orang-orang bodoh.
Hatake Niwa

“A-K-U.” Itulah kata pertama yang berhasil saya tulis. Saya ingat betul ketika saya menggoreskan kapur di kusen pintu rumah saya dan menuliskan kata “AKU”. Awalnya saya tidak berniat membuat kata apapun karena saat itu saya baru belajar mengeja. Saya hanya asal menjejerkan huruf A, K, dan U. Ibu saya pun memberi pujian karena saya sudah bisa menulis. Untuk beberapa saat saya malah tidak sadar dengan apa yang saya lakukan.

Saya mencoba mengingat kembali masa-masa awal saya sekolah dari TK sampai kelas 2 SD. Dalam rentang waktu itu, saya tidak merasa belajar sebagai sebuah beban. Saya hanya didorong oleh rasa ingin tahu sehingga manggut-manggut saja disuruh belajar. Saya juga belum mengalami kesulitan belajar yang membuat saya takut pergi ke sekolah. Pelajaran di sekolah bagi saya tak ubahnya permainan. Tak ada beban, tak ada paksaan, hanya ada perasaan gembira bisa berkumpul dengan teman-teman di sekolah.

Menginjak kelas 3 SD, saya mulai menyadari ada beberapa materi pelajaran yang sulit dipahami, salah satunya materi pecahan. Meski sudah berulang kali diberi penjelasan, saya tak kunjung mengerti. Alih-alih guru saya malah sewot karena saya terlalu banyak bertanya. Saya pun menyerah, beringsut mundur kembali ke tempat duduk dan mulai mengerjakan soal sebisanya. Saat itu saya benar-benar “merasa bodoh.”

“Merasa bodoh” tidak sama artinya dengan mengatakan “Saya bodoh.” Merasa bodoh hanyalah sebuah persepsi kita pada diri sendiri yang belum tentu menunjukkan fakta yang ada. Sementara ungkapan “saya bodoh” lebih menjurus pada ungkapan kekesalan pada diri sendiri atau bisa juga menjadi labelisasi—sebuah perendahan diri akibat ketidakberdayaan menghadapi suatu masalah. Biasanya orang akan menyebut dirinya bodoh ketika muncul persepsi bahwa dia merasa dirinya bodoh (tidak bisa melakukan sesuatu).

Ketika saya tidak kunjung paham materi pecahan, saya “merasa bodoh.” Tapi saya tidak sampai menyebut diri saya bodoh. Saya pun mencoba berbagai upaya agar tidak terus-menerus “merasa bodoh” dalam pecahan. Beruntung saya memiliki ibu yang juga seorang guru SD sehingga dengan bantuannya saya bisa mengejar setiap ketertinggalan materi pelajaran di sekolah.

Beda halnya jika saya buru-buru mengatakan “saya bodoh.” Ungkapan semacam itu adalah labelisasi yang jika dilakukan terus-menerus akan menjadi sebuah afirmasi negatif yang membuat alam bawah sadar berpikir “saya memang bodoh beneran.” Jika saat itu saya mengatakan diri saya bodoh, maka saya akan berhenti mengurusi tetek bengek tentang pecahan. Saya enggan mengerjakan soal yang ada pecahannya. Sangat mungkin ketika saya menemui kesulitan lagi saat belajar matematika, saya menjadi malas berpikir bahkan membenci pelajaran matematika.

Untungnya, skenario mengerikan iitu tidak terjadi. Saya sangat beruntung memiliki guru-guru kelas yang hebat yang bisa membuat para muridnya menguasai sebagin besar materi pelajaran. Saya juga beruntung memiliki orangtua dengan profesi guru. Semua itu memungkinkan saya untuk selalu BELAJAR setiap kali saya “merasa bodoh.” Pada akhirnya, persepsi saya yang “merasa bodoh” tidak sampai menjelma menjadi labelisasi “saya bodoh.”

Dalam dosis tertentu, “merasa bodoh” adalah faktor internal yang akan mendorong kita untuk mau belajar. Dengan “merasa bodoh” kita menyadari bahwa kita harus mempelajari sesuatu untuk melenyapkan kebodohan yang kita rasakan. Sama halnya ketika saya tidak kunjung paham dengan materi pecahan, saya justru terdorong untuk belajar tentang materi tersebut. Saya pun berhasil melenyapkan kebodohan saya dalam materi pecahan.

Hal serupa tidak akan terjadi pada orang yang “merasa pintar.” Orang yang sudah merasa pintar tidak butuh belajar. Mereka sudah melabeli diri mereka sebagai orang pintar yang berderajat tinggi. Orang semacam ini cenderung meremehkan orang lain yang sekiranya lebih bodoh.

Ada dua kemungkinan bagi orang yang merasa pintar. Yang pertama orang itu memang benar-benar pintar, yang kedua orang itu hanya berlagak sok pintar dengan kedangkalan ilmunya. Orang yang merasa pintar akan berbicara panjang lebar memamerkan pengetahuan dan ilmu-ilmu yang dimilikinya. Jika orang ini benar-benar pintar, beberapa kali ia berhasil membuat orang berdecak kagum meski sebagian lain menganggapnya angkuh.

Sebaliknya jika orang ini tidak benar-benar pintar, maka ocehannya tidak lebih dari omong kosong yang membuat dahi berkerut dan membuat tertawa orang-orang yang benar-benar pintar. Siapapun yang lebih percaya kulit daripada isi akan cenderung mempercayai ‘orang sok pintar’ semacam ini (entah kenapa penampilan orang yang sok pintar cenderung lebih meyakinkan daripada orang yang pintar beneran).

Orang yang merasa pintar ibarat teko yang telah penuh terisi air—percuma memasukkan cairan apapun ke dalamnya karena hanya akan membuat isinya tumpah. Kritik dan saran dari orang lain tidak akan mengubah idealisme dan pendiriannya. Pribadinya menjadi keras kepala dan otoriter. Tidak mudah menghadapi orang yang sudah merasa pintar, setidaknya sampai dia termakan sendiri oleh ucapannya yang ternyata keliru.

Karena itu, jika kita ingin belajar kita harus “mengosongkan teko” kita dahulu. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa diri kita tidak sempurna. Pemikiran setiap kepala belum tentu sama. Dengan begitu, kita bisa berpikir terbuka untuk memahami dan menerima ide-ide orang lain.

Harus diakui ada kecenderungan dalam diri kita untuk sombong ketika ilmu yang dimiliki sudah mumpuni. Jika itu terjadi, ada baiknya kita membiasakan diri untuk “merasa bodoh” (bukan berarti menyebut diri kita bodoh dalam artian sebenarnya). Saat bertemu orang lain, tanyakan pada diri kita sendiri “Apa yang bisa aku pelajari darinya.” Dengan sikap semacam itu, akan lebih mudah bagi kita untuk bersikap rendah hati setinggi apapun ilmu yang sudah kita miliki.

Ya, Anda benar, Tuan. Saya memang bodoh. Tapi karena saya merasa bodoh, saya ingin belajar banyak hal dari Tuan. Karena saya bukan tipe orang yang suka berlama-lama dalam penjara kebodohan…

Tuesday, 8 December 2015

Gara-Gara Sulit Fokus


Mengapa sebuah kaca pembesar dan sinar matahari mampu melubangi kertas?
Sederhana. Kaca pembesar hanya memfokuskan sinar matahari pada satu titik pada kertas itu hingga membuatnya terbakar.
(Memory—Sains di SD)

Salah satu hal tersulit bagi saya adalah menjaga fokus. Saya tergolong orang yang sulit memusatkan pikiran pada suatu objek dalam waktu yang lama. Pikiran saya terlalu mudah teralihkan atau mengalami distraksi (distraction). Biasanya penyebab distraksi pikiran tersebut adalah hilangnya kendali atas pikiran saya sendiri. Akibatnya, pikiran saya mudah teralih untuk memikirkan objek lain yang muncul dalam pikiran saya secara bersamaan. Saya menyebut ini sebagai gejala Over-Thinking alias kebanyakan mikir.

Gara-gara saya sulit menjaga fokus, beberapa kali pekerjaan saya mangkrak. Ketika satu pekerjaan belum selesai, pikiran saya beralih untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang lain. Begitu pekerjaan itu belum selesai, pikiran saya lagi-lagi teralih untuk mengerjakan hal lain. Demikian seterusnya hingga saya terkesan begitu lamban menyelesaikan suatu pekerjaan.

Saya rasa hampir semua orang mengalami distraksi pikiran dalam bekerja karena pikiran kita memang cenderung ‘independen,’ bebas bergerak melanglang buana memikirkan hal apapun yang ingin dipikirkannya. Hanya bedanya setiap orang memiliki kendali yang berbeda terhadap pikiran-pikirannya. Ada yang mampu bersikap keras pada pikirannya dan memaksanya untuk fokus, ada pula yang malah terjebak dalam pikirannya sendiri yang dinamis—seperti halnya saya—hingga kesulitan untuk fokus pada satu pekerjaan atau objek.

Pada dasarnya kita selalu punya pilihan dalam menghadapi seabrek pikiran yang berkecamuk di kepala kita. Kita bisa memilih untuk cuek tak ambil pusing dengan pikiran-pikiran yang melintas. Atau sebaliknya, memikirkannya dalam-dalam hingga menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting. Misalnya, suatu ketika saya sedang sibuk mengerjakan tugas. Di tengah kekhusyukan itu, muncul pikiran lain dalam benak saya untuk menonton film yang baru saja didownload. Awalnya saya hanya ingin mengecek film yang saya download. Tapi akhirnya saya malah keterusan hingga akhirnya lebih memilih menanggapi ‘selingan’ untuk menonton film tersebut. Tugas saya pun terbengkalai. Begitu saya ingin kembali mengerjakan tugas, pikiran saya tidak bisa segera fokus. Butuh waktu agar saya mendapatkan mood dan fokus seperti di awal pengerjaan tugas. Hal ini karena pikiran saya mengalami distraksi, fokus saya terbagi, dan saya masih terbawa alur cerita dan ruang imajinasi dari film yang saya tonton.

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa tidak konsistennya saya dalam menghadapi distraksi pikiran saya. Fokus saya seharusnya terjaga untuk tetap mengerjakan tugas. Tapi akhirnya saya memilih menyerah dan menuruti keinginan untuk menonton film. Dalam menyikapi kasus ini, kita seharusnya memiliki kendali penuh dan sikap tegas terhadap pikiran-pikiran kita sendiri. Kita harus mampu menyeleksi, pikiran mana yang perlu ditindaklanjuti, dan mana yang perlu ditanggapi secara serius. Kita akan stres jika memaksa memikirkan banyak hal sekaligus secara bersamaan. Karena itu, ada baiknya kita membuat skala prioritas untuk menindaklanjuti setiap pikiran yang berkecamuk di pikiran kita.

Jika kita sadang mengerjakan tugas, yasudah curahkan fokus kita untuk mengerjakan tugas. Singkirkan segala sesuatu yang bisa membuat pikiran kita terdistraksi. Jika perlu, jauhkan diri kita dari benda-benda seperti HP, televisi, majalah-majalah, dan benda-benda lain yang rawan mendistraksi pikiran kita. Abaikan juga segala jenis gangguan yang muncul dari luar. Mulailah menata pikiran untuk total dalam mengerjakan tugas. Saat kita bisa memfokuskan pikiran pada satu pekerjaan, maka hasil yang akan kita peroleh tentu lebih baik.

Tentu di antara kita ada yang masih ingat percobaan membakar kertas dengan bantuan lup (kaca pembesar) saat SD. Kita semua tahu jika kertas bisa terbakar karena sinar matahari difokuskan oleh lup pada satu titik di kertas. Panas matahari menjadi terkumpul pada satu titik, memanaskannya hingga terbakar. Beda halnya jika kita menjemur kertas itu seharian. Kertas memang menjadi panas karena paparan sinar matahari, tapi tidak akan sampai terbakar.

Sama halnya dengan orang yang menebang pohon dengan kapak. Jika orang itu mengayunkan kapaknya serampangan pada beberapa sisi pohon sekaligus, pohon tidak akan kunjung tumbang. Beda halnya jika kita mengayunkan kapak hanya pada salah satu sisi pohon. Semakin sering kita mengayunkan kapak pada sisi pohon yang sama, maka batang pohon akan lebih mudah terkoyak hingga tak lagi mampu menopang berat pohon. Tak lama kemudian, pohon pun tumbang.

Aktivitas saya membuat artikel ini juga membutuhkan fokus. Karena seperti halnya membaca, menulis adalah aktivitas berpikir yang kompleks. Saat menulis kita perlu fokus agar setiap ide yang muncul di kepala bisa terangkai dan tercurahkan dalam bentuk tulisan yang sistematis dan koheren satu sama lain. Jika fokus ini terdistraksi, maka sangat mungkin tulisan kita melantur keluar dari topik utama yang dibahas (out of topic).

Menjaga fokus dalam bekerja memang tidak mudah. Kita harus melatihnya jika tidak ingin mudah kehilangan fokus. Hal ini tentu membutuhkan kesabaran, terutama bagi orang seperti saya yang pikirannya mudah sekali terdistraksi/teralihkan. Jika kita memiliki kecenderungan mudah terdistraksi atau teralihkan pikirannya, maka kita harus lebih bersabar dalam menyikapinya sambil terus mengupayakan latihan untuk melatih fokus kita.


Aktivitas membaca dan menulis adalah beberapa contoh latihan yang baik untuk mengasah fokus dan kemampuan berpikir. Dengan membaca dan menulis, kita mendorong otak kita untuk aktif berpikir dan menginterpretasi sebuah objek. Lambat laun, kita dapat lebih mudah memfokuskan pikiran kita pada segala sesuatu yang sedang kita kerjakan. Bukankan salah satu kunci kesuksesan adalah fokus dalam bekerja?

Sunday, 17 May 2015

‘Main-Main’ ke Psikiater

Sudah seminggu yang lalu saya memberanikan diri mampir ke psikiater. Tentu saja saya melakukannya diam-diam tanpa seorang pun dari orangtua atau kerabat yang tahu. Maklumlah, datang ke psikiater sama saja membiarkan diri Anda dikatain gila—persepsi kebanyakan orang. Apapun itu, saya yakin Anda yang tengah membaca/nyasar ke blog saya bukanlah orang yang terganggu kejiwaannya.

Saya tidak akan menaruh tugas akhir atau skripsi (yang sampai detik saya menulis tulisan ini masih diproses), karena apa yang saya hadapi lebih kompleks dari sekedar skripsi. Saya merasa ada yang tidak beres dengan kejiwaan saya. Tapi yakinlah, sejauh ini saya tidak pernah lari-lari telanjang di jalan raya, atau terkekeh sendirian tanpa sebab sepanjang hari. Kunjungan saya ke psikiater minggu lalu pun murni inisiatif saya sendiri. Hanya uniknya, saya tidak perlu repot-repot naik ambulans dengan tangan-kaki terikat. Cukup bermodal 100ribu dan saya bisa ‘curhat’ selama hampir satu jam lamanya dengan si psikiater.

Kebanyakan orang akan merasa fine-fine saja tanpa perlu jasa psikiater. Padahal sejatinya ada banyak gejala kejiwaan yang mengindikasikan kalau jiwa Anda sakit. Perasaan cemas dan gelisah sampai perasaan galau seperti yang dialami remaja yang hilang arah sudah termasuk gangguan psikis. Hanya kadar gangguannya saja yang berbeda pada setiap orang. Bagi mereka yang mampu mengatasi ‘perasaan tidak nyamannya,’ maka tak perlulah pergi ke psikiater.

Sialnya, saya tergolong orang yang tidak berhasil mengatasi ‘perasaan tidak nyaman’ dalam diri saya. Semakin hari ‘perasaan tidak nyaman’ itu kian mengganggu aktivitas saya. Hingga pada satu titik saya merasa perlu untuk berkunjung ke psikiater sekedar untuk mencari jawaban atas pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana.

Perasaan tidak nyaman yang saya rasakan akan tampak simpel saat dituliskan: “Cemas,” “takut salah,” “gelisah/was-was,” “terlalu perasa,” “pesimisme,” “perasaan tidak berguna,” dan “ketakutan pada hal-hal yang belum terjadi.” Perasaan-perasaan itu akan bergantian mengisi hari-hari saya dengan kadar yang berbeda-beda. Tergantung kondisi kejiwaan/mood saya.

Hm...kalau dipikir-pikir ‘lebay’ juga sih menuliskan masalah saya sendiri dan mempublikasikannya di blog pribadi. Apa yang Anda baca sekarang pun sebenarnya adalah salah satu terapi psikis yang sedang saya jalani. Setidaknya, menulis memudahkan saya untuk menjauhkan pikiran-pikiran negatif dan mencegah timbulnya depresi berkepanjangan.

Lalu untuk apa saya menulis pengalaman saya ke psikiater? Apa manfaatnya bagi orang-orang??? Ya, sederhananya, saya cuma ingin bilang kepada Anda, tak perlu ragu mendatangi psikiater. Psikiater menerima segala pasien kok. Bahkan orang yang secara lahiriah tidak sakit seperti saya. Psikiater tahu mana pasien yang benar-benar mengalami gangguan jiwa, dan mana pasien yang hanya ‘terguncang’ jiwanya. Penanganan terapi dan resep obatnya pun jelas berbeda.

Ah...sudahlah. Daripada tulisan ini semakin ngelantur dan tidak berdayamanfaat, ijinkan saya menertawakan diri saya sendiri. Hanya karena terlalu mudah ditipu pikiran-pikirannya sendiri, saya sampai terbebani dan merasa sangat-sangat tidak nyaman dan membayar mahal untuk jasa psikiater. Satu resep ampuh dari kunjungan saya ke psikiater: “MENULISLAH”—abaikan semua pemikiran negatif dan buat diri Anda senyaman mungkin dengan pikiran-pikiran lain yang lebih positif.

Tidak ada salahnya kok dicoba :)

*catatan ini adalah reminder yang saya buat ketika saya masih berkutat dengan skripsi. #nostalgia

Distorsi Kognitif vs Hobi Blogging

Kapan ya, bisa rutin ngeblog? Pertanyaan itu seringkali melintas di pkiran saya. Berharap blog yang barusan direnovasi ini bisa eksis. Tapi apa daya karena alasan klasik kesibukan dan tugas-tugas lain yang lebih primer, blog pun terbengkalai.

Sebenernya nggak cuma blog saja yang terbengkalai. Bahkan update status di jejaring sosial pun tidak saya lakukan. Boleh jadi ini adalah indikasi bahwa saya masih belum mencintai aktivitas menulis. Padahal kalau saya mau percaya dan belajar dari mereka para dewa menulis seperti Emha Ainun Najib, Arswendo, Seno Gumira Aji Dharma, Darwis Tere Liye, sampai penulis sekaliber Pramoedya Anantha Toer, mereka mendedikasikan hidup untuk menyenangi menulis dan berkarya lewat tulisan.

Kenapa mereka saya sebut dewa? Karena memang karyanya yang berkualitas dan diimbangi dengan kuantitas. Saya yakin mereka menulis setiap hari, tidak hanya puluhan—ratusan lembar tulisan dalam sehari pun jadi.. kalau tidak demikian, mustahil karya-karya masterpiece mereka bisa mendobrak pasaran, menjadi best seller.

Blog ini saya tujukan sekedar untuk membuat saya menyukai aktivitas menulis. Bagi saya ini penting. Saya memiliki sebuah gejala psikis yang saya namai: gejala “Over-Thinking.” Sebuah gejala psikis yang membuat saya berpikir terlalu banyak terhadap hal sekecil apapun yang saya temui. Maaf kalau istilahnya maksa banget.

Gara-gara Over-Thinking ini pula saya jadi pribadi yang rentan depresi. Saya menjadi orang yang terlalu perasa, sulit mengacuhkan penilaian dan respon emosional orang lain pada saya. Akibatnya pikiran saya acapkali disesaki banyak prasangka—yang sebenarnya hanya ketakutan psikis hasil interpretasi keliru saya terhadap sikap orang lain. Selebihnya, saya lebih sering merasa tidak nyaman dengan apa-apa yang saya beri untuk orang lain, takut dicap salah, cemas dinilai buruk orang lain, dan seterusnya.

Gejala Over-Thinking dalam istilah psikologi (kebetulan saya beli salah satu buku psikologi klinis) disebut Distorsi Kognitif. Ada banyak macam gejala distorsi kognitif. Salah satunya yaa seperti yang saya alami—kecenderungan takut dikritik, merasa tidak bisa melakukan sesuatu yang belum dicoba, menggeneralisasi respon buruk orang lain, melabeli diri sendiri secara negatif, dan meramalkan hal buruk secara ekstrem.

Di antara sekian gejala distorsi kognitif tersebut, satu-satunya jalan untuk mengatasinya adalah dengan memaksa diri saya sendiri untuk mengubah respon kognitif. Artinya saya harus memaksa ‘membelokkan’ setiap pikiran-pikiran buruk yang muncul dengan pikiran-pikiran lain yang lebih positif. Dan salah satu terapi yang psikolog sarankan bagi saya adalah menulis. Ya, tuliskan pikiran negatif yang muncul, lantas ikuti dengan pikiran positif sebagai antitesis dari pikiran negatif tersebut.


Jadi, maafkan saya bila isi blog ini terkesan serba gue, nggak penting, curhat melulu, atau banyak konten yang tidak pantas di dalamnya. Maafkan saya bila Anda tidak puas dengan blog ini, karena blog saya bukan ‘barang pemuas.’ Ijinkan saya untuk belajar menjadi lebih baik. Salam.

Friday, 15 August 2014

Tentang Narsis dan Sebangsanya


Saya ingin jujur di sini. Saya bukan tipe orang yang hobi jeprat-jepret di depan kamera alias selfie. Ritual hadap kamera, kemudian pasang tampang terunyu adalah sesuatu yang jarang saya lakukan. Boleh jadi saya menjauhi selfie karena nggak pede dengan tampilan wajah saya. Eh, tapi saya pribadi merasakan phobia kamera sejak kecil. Ini yang membuat aneh. Jangan-jangan saya memang tidak berjodoh dengan kamera. Jangan-jangan saya memang tidak dikehendaki untuk narsis di sembarang tempat.

Salah seorang teman SMP saya punya motto unik. Di buku kenangan SMP dia menulis motto: “Narsis lebih baik daripada munafik.” Ah, saya kurang begitu tahu untuk siapa motto ini dia tujukan. Yang jelas, membandingkan narsis dan munafik terlihat sangat aneh.

Seperti yang kita tahu bahwa narsis identik dengan pamer (kadang2). Narsis di monas, jepret. Narsis di Tokyo, jepret. Narsis di Mekkah, jepret. Narsis everywhere, menunjukkan ke semua orang bahwa gue pernah ke tempat-tempat ini. Atau dalam hal kuliner misalnya, makan di resto mewah jepret. Makan di pucuk Burj Khalifa di Bahrain, jepret. Atau makan di stasiun luar angkasa Amerika dengan gravitasi nol, jepret (tumpah-tumpah makanannya).

Narsis boleh dibilang sudah menjadi gaya hidup manusia modern belakangan ini. Teknologi kamera yang semakin canggih dan terintegrasi dengan perangkat sejuta umat (HaPe) membuat tren jepret-jepret menjadi jamak dilakukan. Tak peduli ada berita ABG menjadi korban pelecehan karena mengunggah foto mesumnya bla bla bla, fenomena narsis tetap menghinggapi perilaku orang banyak.

Balik lagi ke kasus saya. Berhubung saya tidak suka narsis, canggung di depan kamera, saya jadi sempat mikir kalau saya mungkin mengalami pengalaman mistis seperti tokoh utama di film Insidious. Di film horror ini pemeran utama (sebut saja Bagus) dikejar-kejar oleh sesosok makhluk astral yang sempat memperlihatkan diri dalam foto Bagus saat kanak-kanak. Penampakan selalu mewarnai foto narsis Bagus. Karena itu, foto-foto Bagus kemudian disembunyikan oleh ibunya karena ditengarai menimbulkan hal yang tidak-tidak. Hingga Bagus dewasa, makhluk astral yang menguber-uber Bagus belum juga pergi.

Ah, sudah mulai horror nih jadinya. Boleh jadi kalau nanti ada yang minta foto bareng saya, jangan heran ya, kalau muncul sesosok putih-putih atau hitam legam berbulu. Boleh jadi itu makhluk astral yang menugber-uber jiwa saya sehingga saya phobia sama kamera. Hihihi...

Akhir kata, narsis boleh-boleh saja. Tapi inget lho, tetap menjunjung tinggi etika dan norma kesopanan yang berlaku di masyarakat. Hati-hati fotonya disalahgunakan orang tidak bertanggung jawab.

Thursday, 14 August 2014

Over Thinking STRIKES AGAIN and AGAIN

Dengan ini saya sebenar-benarnya mengamini apa yang diutarakan saudara @noffret adalah benar. Di blognya ia menulis: "Terkadang, bukan kurangnya ide yang membuat seseorang tak kunjung menulis, melainkan terlalu banyaknya ide yang ingin dituliskan." Implikasi dari efek banyak ide ini adalah tidak bisa tidur. Ya, ya, saya berulang kali mengalaminya, tapi baru nyadar sekarang—eh beberapa hari yang lalu.

Sulit membayangkan hidup dengan otak seperti saya. Pikiran saya ini mirip power bank, bisa menyimpan daya listrik untuk kemudian disalurkan ke onggokan gadget-gadget sekarat yang mengalami lowbat. Tapi di sisi lain otak saya juga seperti air yang akan menjadi keruh bila tidak dialirkan dan dibiarkan teronggok di tempat terbuka.

Ini berbahaya! Saya sudah berulang kali mengalami gejala kelelahan fisik—meski tidak beraktivitas berat. Sempat juga mengalami kantuk berulang yang tak kunjung terobati dengan tidur berjam-jam. Pusing. Suhu tubuh tidak menentu, kadang malah merasa panas-dingin di bagian tubuh tertentu (hyyiii...). Mulai horror jadinya. Berasa nyimak penuturan pelaku kesurupan di acara dunia dan lain-lain.

Toh pada akhirnya saya mulai berpikir bahwa kendala utama saya ada di sini (*nunjuk kepala). Memang secara fisik saya tidak ngapa-ngapain, tidak melakukan aktivitas-aktivitas berat semisal lari keliling halaman, menaiki atap rumah, atau gebukin maling ayam di kampung sebelah. No way! Tapi ternyata peliharaan saya yang nggak mau diajak istirahat (*nunjuk kepala lagi). Otak saya sibuk dengan imajinasi dan pikiran-pikiran liarnya. Semua itu menuntut untuk dikeluarkan—lebih kasarnya dimuntahkan bertubi-tubi hingga tiada bersisa.

Jangan keburu mengerutkan dahi karena bahasa saya yang mungkin terlalu lebay a.k.a hiperbolistik konotatif. Akan saya beri gambaran bagaimana otak saya bekerja. Bagi orang seperti saya, mengemudi di jalan raya merupakan aktivitas yang lumayan menguras otak. Lho kok bisa? Memangnya pernah ada orang nyetir pake otak? Bukan, bukan itu maksud saya. Jadi dalam kasus ini saya cenderung banyak mikir ketika berkendara. Otak saya sangat liar dalam mengkonstruksi pikiran-pikiran liarnya.

Pernah nonton film Final Destination 2 yang ada adegan kecelakaan beruntunnya? Nah, bayangan kecelakaan semacam itu terkadang menyembul di pikiran saya. Memaksa saya berpikir lebih banyak, membayangkan kejadian-kejadian yang mungkin terjadi selama perjalanan di jalan raya. Dalam Pikiran saya berkecamuk pertanyaan-pertanyaan yang serba diawali dengan kata tanya “bagaimana kalau...”

Bagaimana kalau mobil di depan berhenti mendadak? Bagaimana kalau ban truk di belakang pecah? Bagaimana kalau muncul penyeberang dungu yang tiba-tiba keluar dari gang? Bagaimana kalau ... bagaimana kalau... dan seterusnya. Itu baru di kasus jalan raya. Dalam pergaulan sosial ceritanya bisa lebih rumit lagi. Katakan saya sedang jalan-jalan kemudian melihat pengemis tua dengan baju lusuh serba menyedihkan. Pikiran yang berkecamuk di otak saya bisa langsung macam-macam. Mulai dari perasaan iba, harapan agar kakek itu segera move on, bayangan kakek-kakek (yang pernah saya temui), sampai masalah ketakutan mengalami nasib yang sama seperti pengemis tua itu.

Bayangkan hidup dengan otak sensitif seperti saya! Banyak orang yang menasehati saya untuk bersikap biasa saja. Banyak juga yang bilang rasah kakehan mikir, rasah mikir sing ora-ora. Inti nasihatnya “Nggak usah mikir yang tidak-tidak, biasa sajalah!” Wedhus! Ngomong sih gampang, ngelakuinnya yang susah. Tentu saja saya sudah mencoba dengan segala daya dan upaya untuk bersikap biasa-biasa saja serta berlatih mikir yang “iya-iya” saja. Tapi sejauh saya mencoba, hasilnya masih nihil. Saya masih tidak konsisten dan sering dibuat bingung dengan pikiran-pikiran saya sendiri. #absurd

Nah, di detik saya mulai mengupdate blog saya ini (ya, di tulisan yang sedang kamu baca ini), saya mulai mencoba meyakinkan diri saya bahwa jalan keluar satu-satunya adalah MENULIS. tidak tertolak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Saya akui saya bukan penulis yang baik. Saya juga bukan seseorang yang cenderung suka menceritakan pengalaman pribadi melalui tulisan. Toh semua itu mentah karena apa daya, menulis adalah OBAT TERAKHIR saya agar tidak terbebani dengan kecamuk pikiran-pikiran absurd dari otak saya sendiri.

Jadi, maafkan bila blog saya terlalu polos. Maafkan, bila blog saya terlalu absurd untuk dicerna dengan akal sehat. Maafkan juga bila blog saya malah terlihat menyeramkan dengan EYD yang menyesatkan. Tapi maklumilah semua itu karena saya memang sengaja membuat blog ini sekedar untuk mengobati OTAK saya yang sebenarnya tidak sakit. Saya malah mau mengucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah sempat mampir di blog saya ini.

Mungkin tidak hanya saya yang mengalami nasib seperti ini. Boleh jadi saya tidak sendirian. Who knows?

Saturday, 19 July 2014

KARENA SAYA MENYUKAI KERAMAHAN

Sudah lama sekali saat terakhir kali saya mengisi blog ini. Lama sekali sampai-sampai saya bingung harus menulis apa di blog ini. Adapun motivasi saya untuk kembali ke sini adalah melepas penat dan stres karena banyaknya pikiran yang melanglang buana di benak saya. Seorang bijak pernah berkata bahwa bila kita berpikir, maka sebaiknya menulis. inilah yang kali ini terjadi pada saya. Saya mencoba menuangkan ide-ide saya ke dalam tulisan. Sedikit banyak ini membantu saya mengurangi beban pikiran yang menghimpit. Singkatnya, menulis membuat saya kembali bergairah. Membuat saya kembali merasakan sebagai pribadi yang merdeka, bebas mengutarakan pendapat, bebas menungkapkan idealisme saya yang semakin hari semakin tampak paradoks dengan kehidupan.

Saya punya idealisme bahwa setiap manusia bagaimana pun karakternya, harus selalu memasang tampang ramah dan bersahabat dengan orang lain yang ditemuinya. Kecuali Anda seorang polisi yang sedang menginterogasi tersangka kejahatan seksual (yang baru trend sekarang kan model ginian). Idealisme saya ini agak nyeleneh juga sih. Masak setiap orang harus bersikap ramah, tampil bersahabat dengan senyum tersungging 24 jam layaknya pramugari di pesawat?

It’s impossible. Ya, memang, impos-sebel. Tapi mau tak mau, saya terlanjur menganut aliran ini. hingga dalam tataran paling parah, saya sering

Wednesday, 29 January 2014

Over-Thinking Strikes Again

Walaah..menulis hingga memberi inspirasi bagi pmbacanya itu memang tidak mudah ya. Apalagi di tengah masyarakat yang minat bacanya memang sangat rendah. Ada yang kasih petuah dikit saja langsung diserang, dikatain sok suci, munafik, sok alim, bla bla bla hingga hati mereka tanpa sadar menjadi bebal atas nasehat. Menulis inspiratif membutuhkan proses juga. Tentu saja belajarnya nggak cuma dengan praktek menulis tapi juga dengan membaca cerita-cerita atau buku-buku inspiratif. Setidaknya cara itu dapat memperkaya wawasan kita. Yaa semacam mengisi bahan bakar kita unutk menulis.
Syaa juga tak habis pikir, bagaimana bisa para novelis, para penulis pro itu dulunya bisa menulis sedemikian rupa hingga mampu mempengaruhi pembacanya, hingga larut ke dalam tulisan yang dibuatnya. Biasanya para novelis fiksi nih yang mampu menghadirkan imaji liar para pembacanya hingga tanpa terasa menggiring para pembaca untuk memasuki dunia yang berbeda. Seringkali pula saking inspiratif atau persuasifnya sebuah tulisan, membuat pembaca sampai mengikuti pola pikir penulisnya.
Saya sih tidak muluk-muluk untuk bisa sampai meng-influence pembaca saya. Toh di sini saya rasa tulisan saya malah tak ada satu pun yang akan di baca. Saya hanya eksis di TUMBLR sekedar untuk menuangkan sepah-sepah otak saya yang dapat membuat sembelit seandainya tidak saya buang segera dengan tulisan. Terkesan kasar sih, tapi setidaknya, sejauh ini cara ini efektif untuk mengatasi gejala over-thinking yang saya alami. Entah sampai kapan gejala ini bisa reda. Sudah beberapa jam saya menghabiskan waktu untuk menulis. Tapi pikiran saya masih mampu berkelana, merayap-rayap tak tahu ke mana. Padahal hari sudah larut. Tengah malam sebentar lagi. Tapi jemari ini tak knjung berhenti menulis.
Maaf, postingan saya malam ini semakin tak jelas. Saya hanya sedang belajar membiasakan diri untuk menuliskan apa yang saya pikirkan . Semoga cara yang saya tempuh dapat mengurangi gangguan yang ditimbulkan oleh over-thinking saya selama ini. Semoga…

Mensyukuri Segala Kekurangan dan Kelemahan Diri

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(55: 13)

Ah, menjadi orang yang sempurna tampaknya menyenangkan. Tapi sudah kodratnya manusia tercipta dengan segala kelebihan dan kelemahan. Tentu saja hal tersebut merupakan ‘kesengajaan Tuhan’ agar manusia dapat saling berinteraksi dan saling menolong satu sama lain. Manusia didesain memiliki kelemahan yang mau tak mau harus diterima.

Sayangnya, menerima kelemahan ataupun kekurangan membutuhkan kebesaran moral tersendiri. Banyak orang yang kurang puas dengan apa yang telah dimiliki. Wajah yang sebenarnya sudah bagus rupa, terpaksa dioperasi plastik hanya karena hidung kurang mancung. Kulit yang sudah sejak lahir putih mulus malah sengaja dijemur agar menjadi gelap. Duh, betapa manusia seringkali lalai mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Lebih memilih mengejar sesuatu yang sifatnya kebendaan duniawi hingga menyiksa diri dan batinnya.

Sudah punya motor bagus-bagus, jadi maksa diri beli mobil gara-gara gengsi dengan tetangga sebelah. Sudah punya android model terbaru, tak disyukuri, malah maksain beli tablet yang konon lebih canggih karena tergiur memiliki seperti yang teman-temannya. Owalah, dari mana bisa belajar bersyukur kalau setiap nikmat yang Tuhan beri tak berbalas dengan rasa terima kasih pada-Nya?

Padahal, bersyukur atas segala kelebihan dan kelemahan adalah kunci kedamaian hidup ini. Bukan berarti kita tidak termotivasi untuk mengejar materi dunia. Jelas bukan seperti itu maksudnya. hanya saja kita selaku manusia harus selalu ingat pada Yang Maha Memberi. Ingat bahwa kita memiliki sesuatu di dunia ini juga karena kehendak-Nya, karena ada campur tangan-Nya. dan sebagai hamba-hamba-Nya yang baik tentunya kita harus berterima kasih. Bukan seblaiknya, mengabaikan keberadaan-nya dan menganggap apa yang dimiliki sebagai hasil kerja keras kita sendiri selama ini.

Apa jadinya bila segala harta dan materi yang susah payah kita kumpulkan lenyap dari pelukan kita? Bayangkan bila tiba-tiba terjadi bencana alam, misal gempa bumi besar merusak rumah dan memporak-porandakan semua materi yang kita miliki. Apa yang tersisa bila semua itu raib begitu saja? Toh ketika kita mati materi, uang, pangkat, jabatan, semua tak akan menolong kita. Tak bisa menjadi penebus kesalahan kita di dunia yang tak pernah bersyukur pada-Nya.

Mulailah berintropeksi. Untuk siapa kita hidup di dunia ini. Untuk siapa kita mengabdi. Untuk siapa
kita bekerja sepanjang hari. Padahal kita selalu yakin bahwa hidup di dunia tidaklah kekal. Sangat singkat. Setidaknya kita harus mencoba untuk selalu ingat bahwa ada kehidupan yang lebih hakiki dan abadi setelah kita pulang menghadap-Nya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?