Subscribe:

Labels

Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts

Monday, 28 March 2016

UKS (Unit Kemalasan Siswa)


Bukannya aku malas belajar,
aku hanya merasa—jenuh.

Pada dasarnya, UKS adalah salah satu fasilitas sekolah yang dipakai untuk memberikan pertolongan pertama pada warga sekolah yang mengalami gangguan kesehatan ringan, seperti: pingsan, pusing, mual, lecet, memar, dan sejenisnya. Tapi bagi saya, UKS tidak jauh beda dengan “penginapan kelas melati” yang menyediakan fasilitas kasur, selimut, dan bantal gratis di sekolah. Dengan berbagai fasilitas penginapan, UKS pun dianggap sebagai tempat paling nyaman di sekolah.

Berbeda dengan ruang-ruang kelas yang terkesan horror, ruang UKS memiliki tingkat kenyamanan yang jauh lebih baik. Di UKS, kita bisa menikmati kasur yang empuk dan bantal yang nyaman. Jika cuaca dingin, kita cukup menggelar selimut untuk menghangatkan tubuh. Di UKS, kita bisa melupakan kepenatan belajar—meski hanya sejenak. Di UKS pula kita bisa mendapat segelas teh hangat dan kudapan gratis dari guru, yang jarang kita jumpai di kantin.

Sementara di kelas, fasilitas yang ada tidak pernah senyaman ruang UKS. Di kelas, kita tidak bisa merasakan kasur yang empuk atau bantal yang nyaman. Satu-satunya benda yang dianggap “paling nyaman” di kelas hanya sebuah bangku kayu, yang lebih sering membuat pantat murid menderita daripada merasa nyaman. Tidak mengherankan, jika ruang UKS kerap disalahgunakan para murid sebagai tempat “melarikan diri”.

Penyalahgunaan ruang UKS memang tidak bisa dibenarkan. Tapi di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan rasa jenuh dan kelelahan murid saat belajar. Metode pembelajaran yang monoton dan proses pembelajaran yang kaku seringkali membuat murid tidak betah berlama-lama di kelas. Pada akhirnya, rasa jenuh dan kelelahan itu terakumulasi, hingga para murid terdorong untuk membolos. Berhubung ruang UKS adalah satu-satunya tempat yang memungkinkan murid membolos tanpa harus meninggalkan sekolah, UKS pun terpilih sebagai “lokalisasi pelarian” paling strategis.

 Murid hanya perlu mengeluh sakit pada bagian tubuh tertentu, kemudian berpura-pura lemas dengan memasang wajah pucat. Seorang “pembolos profesional” biasanya sangat mahir memucatkan wajahnya hingga terlihat seperti seperti orang sakit betulan. Untuk mempermudah izin mbolos ke UKS, murid memakai gangguan kesehatan yang tidak bisa diketahui langsung, seperti: mual, pusing, dan sakit perut. Berbeda dengan gangguan kesehatan seperti “panas,” yang bisa diketahui langsung dengan termometer atau rabaan tangan—keluhan seperti pusing dan meriang tidak memiliki alat ukur tertentu untuk mengetahui seberapa parah sakit si penderita. Orang lain hanya bisa menyimpulkan berdasarkan keluhan-keluhan yang disampaikan si penderita.

Untuk itu, sekolah perlu membuat regulasi khusus untuk mengantisipasi penyalahgunaan ruang UKS. Sekolah perlu memiliki petugas UKS yang bertanggung jawab penuh terhadap penggunaan ruang UKS. Petugas UKS akan mencatat informasi tentang murid yang dirawat di ruang UKS, meliputi gangguan kesehatan yang dirasakan, tindakan perawatan, dan obat-obat apa saja yang dberikan. Petugas UKS juga berwenang dalam memberikan izin penggunaan ruang UKS dan menentukan apakah murid yang sakit perlu dirawat di UKS, diantar pulang, atau langsung dilarikan ke rumah sakit. Di sinilah peran petugas UKS menjadi sangat vital untuk mengantisipasi penyalahgunaan ruang UKS.

Petugas UKS perlu mencurigai keluhan murid yang tidak wajar. Keluhan-keluhan seperti pusing, mual, dan sakit perut patut diselidiki kebenarannya, sebelum memutuskan apakah murid itu benar-benar sakit atau hanya cari-cari alasan untuk membolos. Jika penjelasan murid rancu, petugas UKS bisa langsung mengantar murid ke rumah sakit atau layanan kesehatan terdekat untuk pemeriksaan medis yang lebih akurat.

Tulisan ini saya tujukan pada pihak sekolah agar mereka mengantisipasi penyalahgunaan ruang UKS. Jangan sampai iktikad baik ruang UKS ternodai ulah oknum murid yang menjadikannya tempat membolos. Jika sekolah kerepotan mengurus UKS, hapus saja ruang UKS. Jauh lebih baik jika sekolah menyediakan mobil ambulance atau kendaraan khusus yang bisa mengantarkan murid ke rumah sakit langsung. Gitu aja kok repot!


NB:

Untuk ‘kalian’ yang merasa pernah membolos ke ruang UKS, saya harap kalian tidak tersindir.

Wednesday, 2 March 2016

Membolos dengan Bijaksana


Sudah tahu (itu) melanggar peraturan,
kok masih dilakukan?

Jika di kepolisian ada istilah pemberantasan penyakit masyarakat (PEKAT), maka membolos adalah “PEKAT” versi lembaga pendidikan. Bertahun-tahun kita sekolah, sampai lanjut ke perguruan tinggi, membolos sudah menjadi semacam “penyakit masyarakat” yang sulit diberantas. Padahal kita semua tahu, membolos tanpa ada uzur  yang mendesak jelas melanggar etiket dan norma yang berlaku di lembaga pendidikan. Mana ada sekolah yang mengharuskan murid-muridnya datang telat (?)

Di lingkungan sekolah, virus membolos biasanya menjangkiti murid-murid bermasalah. Murid-murid itu terkenal sebagai biang onar di kelasnya. Boleh jadi, karena sejak awal perilakunya bermasalah, mereka lebih senang membolos daripada memaksakan otak menghadapi sabrek pelajaran. Saya heran, jika sejak awal murid-murid itu sering membolos, dan berbuat onar, kenapa sekolah masih “memelihara” mereka?

Saya tidak ingin bilang membolos itu baik. Hanya saja kalau boleh jujur, dengan reputasi sebagai pembuat onar di kelas, ketiadaan murid-murid bermasalah justru bisa membuat iklim belajar yang lebih kondusif. Guru bisa lebih mudah meng-handle proses pembelajaran tanpa harus terganggu ulah murid-murid bermasalah. Meski begitu, membolos tetap saja melanggar peraturan. Dan pelakunya berhak mendapat ganjaran yang setimpal.

Kita semua tahu, kebanyakan murid membolos dengan alasan yang negatif, seperti nongkrong bareng teman, nge-game di warnet, sampai berduaan kencan dengan pacarnya. Alasan-alasan semacam itu tidak memiliki pembenaran apapun karena dilakukan saat jam sekolah. Tidak jarang murid-murid tukang bolos tertangkap satpol PP atau terjaring patroli polisi. Jika sudah begitu, masalah yang ada bisa lebih runyam.

Kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan untuk “menolong” murid-murid tukang bolos?

Jika memang membolos itu melanggar peraturan, pernahkah sekolah melakukan pendekatan khusus pada murid-murid yang kedapatan sering bolos? Pernahkah sekolah mencari tahu alasan murid-murid itu membolos? Sejauh mana sekolah berani menindak tegas murid yang sering membolos?

Saya menghormati kebijaksanaan masing-masing sekolah dalam menghadapi murid yang sering membolos. Tapi tolonglah, jika si murid telah berkali-kali membolos tanpa alasan yang jelas, tidak mengindahkan surat peringatan, apalagi samapai tertangkap razia pihak berwajib, maka untuk apa murid seperti itu “dipelihara” di sekolah?

Kita semua tahu, sekolah adalah lembaga formal yang berfungsi mencetak generasi penerus bangsa yang berguna, berkarakter, beriman, bla bla bla. Tapi jika memang benar sekolah dibuat demi kebaikan generasi bangsa, mengapa sekolah malah “ditinggal mbolos” murid-muridnya? Bahkan di perguruan tinggi—yang seharusnya lebih bermartabat secara akademis—kok bisa-bisanya mereka lalai membiarkan mahasiswanya ‘nitip absen’ saat kuliah?

Jika memang membolos itu dilarang, maka PAKSALAH segenap warga sekolah untuk mematuhinya. Beri sanksi yang tegas dan menimbulkan efek jera pada pelakunya tanpa pandang bulu. Tidak hanya bagi murid, tapi juga guru. Boleh jadi murid-murid membolos karena gurunya sendiri kedapatan sering membolos. Bukankah itu ironis sekali?

Terakhir—untuk kalian yang masih siswa atau yang sudah maha tapi sering membolos—kenapa kalian tidak mencoba membolos dengan alsan yang “lebih bijaksana?” Kenapa tidak pernah jujur mengatakan alasan kalian membolos? Guru, dosen, siapapun akan memaafkan jika kalian membolos karena harus bekerja demi mencukupi perekonomian keluarga atau kalian sedang fokus bertanding di piala dunia U-21 (misalnya). Tapi jika kalian membolos hanya untuk nongkrong, nge-game, pacaran, dan seribu satu alasan nggak jelas lainnya, siapa yang akan menaruh respek pada kalian?

Selama seorang murid memilih sekolah, ia selalu terikat pada peraturan sekolah. Begitu juga mahasiswa yang terikat pada peraturan kampusnya. Dan peraturan-peraturan itu ada untuk dipatuhi karena kesadaran—bukan sekedar paksaan! Jika kalian merasa sekolah atau kuliah itu penting untuk masa depan kalian, maka SERIUSLAH! Jika kalian tidak lagi merasa lembaga seperti sekolah itu tidak penting, kenapa kalian masih betah berada di dalamnya?

Oh, ya, sekolah punya ijazah yang bisa membuat kalian melanjutkan pendidikan. Kalian masih peduli pada selembar kertas itu. Yang mahasiswa masih ingat toga dan topi wisuda yang konon bisa membuat para pengangguran terlihat lebih bermartabat selagi mencari kerja. Tapi apakah semua itu pantas disematkan pada orang-orang yang selama belajarnya lebih sering melanggar peraturan dan membolos seenaknya?


Jika kalian masih menaruh hormat pada lembaga yang mendidik kalian dan juga orangtua yang berharap banyak pada kalian, maka sekali lagi SERIUSLAH! Buatlah diri kalian layak dibanggakan karena prestasi, bukan karena reputasi sering mbolos dan nitip absen. Bukankah itu reputasi yang tidak keren sama sekali?

Monday, 15 February 2016

Bocah-Bocah yang Tersisih


Bagaimana mungkin aku berpikir untuk hidup menyendiri.
Karena hakikat manusia, kita selalu membutuhkan satu sama lain.”
(Hatake Niwa)

Saat SMP saya pernah memiliki seorang teman, sebut saja Jimmy (bukan nama sebenarnya). Saya sempat beberapa kali menjadi teman sebangku Jimmy. Biasanya, tidak ada yang mau duduk sebangku dengan Jimmy (termasuk saya). Hanya murid yang datang paling akhirlah yang akan duduk sebangku dengannya. 

Sulit untuk mengatakan saya menikmati duduk di sebelah Jimmy. Dia tidak seperti anak-anak lain seusianya. Jimmy sangat polos, pemalu, dan cenderung kekanak-kanakan. Topik obrolan yang disukainya payah dan tidak sesuai dengan selera teman-temannya. Mimik wajahnya sayu, seakan-akan mengajak orang-orang untuk menindasnya beramai-ramai. Di awal-awal perkenalan, saya juga sempat menganggap Jimmy anak yang aneh.

Karena kepribadiannya yang ‘berbeda,’ Jimmy menjadi murid yang sering mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari teman-temannya. Saya sering melihat teman-teman Jimmy berbuat usil padanya. Ada yang mengejek, membuat lelucon sarkas tentang Jimmy, sampai beramai-ramai melempari Jimmy dengan kapur. Beberapa kali anak malang itu kedapatan menangis karena tidak tahan dengan perlakuan teman-temannya (saat itu saya belum tahu kalau perbuatan teman-teman saya termasuk bullying).

Jimmy juga sering tersisih dari pergaulan. Jimmy jarang diajak teman-temannya ke kantin. Dalam class meeting, dia tidak diikutkan turnamen apapun karena payah dalam olahraga. Begitu juga saat teman-temannya sibuk membuat band untuk ujian praktik seni musik. Tidak ada yang mau melibatkan Jimmy. Pada akhirnya, setelah tiga tahun Jimmy tetap kesulitan mendapat penerimaan dari lingkungan pergaulannya.

Padahal, Jimmy tidak seburuk perkiraan teman-temannya. Suatu hari, Jimmy mengajak saya untuk mampir ke rumahnya. Saat itu, saya baru tahu kalau Jimmy cukup ahli mengutak-atik komputer. Kamarnya penuh dengan perangkat komputer dan CD master program. Beberapa kali saya diajak bermain game di rumahnya. Karena jasa Jimmy pula pengetahuan saya tentang komputer meningkat. Sayangnya, semua kelebihan itu tidak pernah membuat Jimmy ‘dianggap’ oleh teman-temannya. Jimmy tetap menjadi "Bocah yang Tersisih."

*    *   *

Kasus Jimmy hanya contoh kecil bagaimana seseorang tersisih dari pergaulan. Manusia cenderung pilih-pilh dalam berteman. Kebanyakan dari kita hanya akan berteman dengan orang-orang yang sekiranya memiliki minat yang sama. Kita pun menciptakan “pengkotak-kotakan” dan stratifikasi dalam pergaulan. Mereka yang tidak memiliki kesamaan minat atau dicap ‘berbeda’ akan ditempatkan di luar 'kotak' (tersisih).

Saat saya SMA, “pengkotak-kotakan“ semacam itu jelas terlihat (terutama di kalangan cewek). Ada kelompok cewek gaul. Ada kelompok cewek alim. Ada pula kelompok cewek rajin. Dalam pergaulannya, saya melihat ada jarak (GAP) antara cewek dari "kelompok rajin"  dan cewek dari "kelompok gaul." Begitu pula cewek dari "kelompok alim" dengan "kelompok gaul." Sementara mereka yang tidak bisa menjadi bagian dalam kelompok-kelompok itu cenderung tersisih.

Kelompok murid cowok pun begitu. Ada saja cowok-cowok ‘cupu’ yang tersisih dari pergaulan. Banyak alasan yang melatari bagaimana mereka bisa tersisih. Sebagian karena ketidaksamaan minat dengan kebanyakan teman-temannya, terlalu pintar, sangat polos, atau payah dalam hal olahraga. 

Saya rasa, kecenderungan semacam itu terjadi di sekolah manapun. Bahkan sampai saya kuliah pun, “pengkotak-kotakan” dan “alienasi” itu tidak pernah hilang. Ada kelompok mahasiswa “borju” yang doyan shopping dan nyalon. Ada kelompok mahasiswa blangsak  yang doyan mbolos dan nitip absen. Ada pula kelompok mahasiswa rajin-religius yang sering mangkal di masjid atau perpustakaan. Di luar itu semua, ada kelompok mahasiswa yang tidak jelas identitasnya, mereka yang introvert dan memiliki minat yang berbeda dengan teman-temannya. Golongan yang terahir ini lebih sering tersisih dalam pergaulan.

Di lingkungan masyarakat juga sama. Stratifikasi dan “pengkotak-kotakan” pergaulan juga terjadi. Kehidupan modern mendorong manusia semakin individualis. Orang-orang saling menatap sesamanya dengan penuh curiga. Rumah-rumah dibuat berpagar tinggi-tinggi. Persaingan gengsi mendorong perilaku konsumtif. Pun dengan menjamurnya sikap acuh pada kemalangan orang lain.

Saya sering membayangkan sekat-sekat antarkelompok itu tidak pernah ada. Saya membayangkan peradaban manusia yang tidak dibatasi sekat antarnegara, identitas suku, agama, profesi atau klan tertentu. Dengan begitu, kita bisa bebas untuk saling berbagi dan peduli satu sama lain.

Ketika kehidupan manusia tidak dibatasi sekat-sekat artifisial itu, tidak akan ada lagi kelompok yang tersisih dari pergaulan (termarjinalkan). Semua orang bebas untuk saling berbagi dan menolong sesamanya tanpa dibatasi suku, agama, ras, atau pangkat.

Para pejabat tidak akan sungkan berkotor-kotor menjamah pemukiman rakyatnya. Orang-orang kaya tidak risih memberi derma dan merangkul tetangganya yang lusuh papa. Satpol PP akan bermusyawarah dengan warga daripada melakukan penggusuran. Para kyai, polisi, pemuka agama, semuanya berkenan membawa ‘pelita’ di area lokalisasi. Tidak ada lagi prinsip “mengenyangkan perut sendiri.” Semuanya saling peduli untuk membantu mengentaskan sesamanya dari masalah.

Mengharapkan semua manusia berlaku seperti itu memang terdengar utopis. Tapi setidaknya, kita bisa memulainya dari lingkungan kecil kita terlebih dahulu. Kita bisa mendorong diri kita untuk lebih peduli pada teman-teman kita yang tersisih dari pergaulan. Ajak mereka untuk bergabung dan terlibat dalam kegiatan bersama. Berilah perhatian dan penerimaan yang tulus agar mereka merasa keberadaannya berharga. Karena yakinlah, tidak ada seorang pun di dunia ini yang merasa nyaman menjadi kelompok yang tersisih dari lingkungannya.

*    *   *

Sekitar dua bulan lalu, dalam sebuah reuni, saya bertemu dengan Jimmy. Itu adalah pertemuan pertama saya dengannya sejak SMP. Saya menyimak bagaimana Jimmy berinteraksi dengan teman-temannya saat itu. Saya baru menyadari jika Jimmy memiliki kecenderungan seorang introvert. Mungkin itu sebabnya, saat SMP Jimmy kesulitan untuk bisa diterima di lingkungan pergaulannya. Andai saat itu saya sudah tahu tentang hal ini, tentu saya akan mencoba menemani Jimmy agar tidak terus-terusan tersisih dari pergaulan.

Toh saya tetap bersyukur Jimmy telah menemukan dirinya yang baru. Sejak SMA, Jimmy mendapat perlakuan yang lebih baik dari lingkungannya. Dia tidak mendapat bullying separah teman-temannya di SMP. Jimmy beruntung bisa berkenalan dengan “orang-orang baik” yang menaruh kepedulian padanya. “Orang-orang baik” ini tidak suka membiarkan temannya kesepian dan tersisih. Mereka juga tidak sungkan berteman dengan siapa saja dan membenci “pengkotak-kotakan” dalam pergaulan. Mereka selalu ada untuk temannya baik pada saat senang maupun susah. Orang-orang inilah yang lebih pantas kita sebut sebagai “sahabat.”

Thursday, 31 December 2015

Orang Bodoh yang Sebenarnya


Orang pintar yang benar-benar “pintar” justru selalu merasa dirinya masih bodoh,
 sementara  orang bodoh yang benar-benar “bodoh” justru merasa dirinya sudah pintar,
tak peduli betapa banyak keburukan yang telah dilakukannya.
—Hatake Niwa

Sebut saja murid ini Kendo (huruf “E” dibaca seperti huruf “E” dalam kata “emas”). Kendo bukanlah tipe murid yang mudah memahami pelajaran. Perbaikan ulangan sudah biasa buatnya. Suatu ketika Kendo terpilih mewakili sekolahnya dalam lomba bulutangkis antarpelajar SMA. Kendo memang aktif menggeluti ekstra bulutangkis. Sementara di rumah dia rutin berlatih bersama ayahnya yang seorang guru olahraga. Kendo memang ‘terbelakang’ dalam urusan nilai akademis. Tapi soal bulutangkis, tidak ada satu pun murid yang lebih baik daripada Kendo di sekolahnya.

Sebagian guru sempat meragukan Kendo yang terkenal suka bikin onar di kelas dan penghuni tetap ranking paling buncit. Mereka beranggapan paling-paling Kendo hanya akan sampai babak pertama. Dengan segala talenta yang dimilikinya, Kendo membungkam semua keraguan gurunya. Kendo terus melaju hingga akhirnya berhasil menggondol juara tingkat provinsi. Kisah yang utopis memang, mengingat ranking Kendo di kelas yang selalu paling buncit. Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah jika kita berposisi sebagai guru Kendo, akankah kita tega melabeli Kendo sebagai murid bodoh?

Saya pernah merasakan betapa sulitnya mengajar murid dengan daya tangkap rendah. Saat itu saya mengampu les matematika. Ada seorang murid yang mengalami ketertinggalan materi dengan temannya. Hal ini sempat menghambat jalannya proses pembelajaran karena di sisi lain saya tidak bisa meninggalkan murid itu begitu saja. Saya pikir murid ini memang lemah dalam matematika dan butuh diberi les secara privat.

Pada hari lain saya mengajar Bahasa Indonesia. Sebagai permulaan saya sengaja memberi tugas “menulis cerita berdasarkan gambar” untuk mengetahui kemampuan menulis para murid. Murid yang tempo hari saya vonis lemah dalam matematika ternyata mampu menulis lebih baik dibanding kebanyakan murid di kelas itu. Bahkan jauh lebih baik. Well, murid itu memang tidak  terlalu berhasil dalam matematika, tapi boleh jadi kecerdasan linguistiknya tidak tertandingi di kelasnya.

Dewasa ini, saya semakin meyakini bahwa tidak ada orang yang benar-benar bodoh di dunia ini. Selama fisik kita normal, tidak idiot, tidak mengalami keterbelakangan mental, kita tidak berhak menganggap siapapun sebagai “orang bodoh” termasuk diri kita sendiri. Frasa “orang bodoh” justru terdengar seperti sebuah penghinaan tak termaafkan. Faktanya, pintar dan bodoh seringkali menjadi sangat subjektif tergantung perspektif mana yang dipakai dan siapa yang menilai.

Boleh jadi Lionel Messi tidak terlalu ahli dalam hal balap kuda, tapi kita tidak mungkin melabelinya “bodoh” karena faktanya dia adalah jenius sepakbola dengan raihan tiga Ballon D’Or selama tiga tahun berturut-turut. Kita bisa saja meragukan kemampuan Lin Dan dalam hal bermain basket. Tapi kita tidak bisa menganggapnya “bodoh” hanya karena dia tidak bisa bermain basket. Faktanya dia termasuk salah satu pebulutangkis terhebat abad ini.

Dari sini kita bisa melihat bahwa setiap manusia memiliki spesialisasi, keahlian tertentu yang belum tentu dimiliki semua orang. Setiap manusia dikaruniai potensi yang berbeda-beda. Belajar hanyalah sarana untuk mengembangkan potensi itu untuk kemudian ditransformasikan menjadi keahlian yang digunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Saya jadi heran, untuk apa bertahun-tahun sekolah mempelajari seabrek bahan pelajaran jika itu semua tidak mendukung keahlian ingin kita geluti di masa depan?

Dalam proses belajar, “bodoh” dan “pintar” adalah dikotomi yang sangat naif dan kekanak-kanakan—sama halnya dengan dikotomi “ganteng/cantik”dan “jelek.” Guru yang bijak pasti paham bahwa potensi dan konstruksi pengetahuan para murid tidak sama. Tapi entah kenapa masih ada sebagian guru yang melabeli muridnya “bodoh” hanya karena nilai akademis yang buruk. Padahal boleh jadi murid yang dikiranya “bodoh” tadi malah jauh lebih ahli mengoperasikan komputer daripada si guru. Bukankah itu fakta yang menggelikan.

Karena itu, sejatinya yang membedakan prestasi setiap orang adalah kemauannya untuk belajar. Kemauan untuk belajar harus kita jaga karena itulah satu-satunya bahan bakar kita agar tetap merasa haus ilmu pengetahuan. Orang yang dalam hidupnya sudah “merasa pintar,” sudah merasa cukup ilmunya, mereka akan berhenti belajar—sebuah kesalahan yang sangat fatal!

Kehidupan di dunia ini berjalan sangat dinamis. Segala sesuatunya berubah sangat cepat. Saat saya SMA, telepon genggam masih mendominasi pasaran. Selang 4-5 tahun kemudian telepon genggam telah bertransformasi menjadi telepon pintar yang saat ini menjamur. Selama saya sekolah, hanya satu dua guru yang membawa laptop. Kini karena tuntutan pekerjaan, setiap guru harus belajar mengoperasikan laptopnya sendiri.

Alam memaksa kita untuk selalu belajar agar bisa survive menghadapi perubahan zaman, sebagaimana ungkapan “Belajarlah dari buaian sampai liang lahat.” Artinya, selama kita hidup di dunia, kita harus selalu belajar! Tak tertolak! Awalnya, manusia bepergian dengan berjalan kaki, kemudian memakai hewan sebagai kendaraan, hingga beralih menciptakan mesin sederhana yang digabungkan dengan roda. Mobilitas manusia semakin cepat hingga akhirnya mampu menciptakan sesuatu yang bisa membawanya terbang mengudara.

Segala pencapaian teknologi manusia saat ini merupakan akumulasi proses belajar yang konsisten di masa lalu. Semua inovasi dan hasil karya menakjubkan manusia tidak akan terwujud jika manusia merasa “sudah cukup pintar”. Manusia yang telah sampai pada tingkatan menyenangi proses belajar tidak akan pernah berhenti belajar. Manusia ini akan selalu melakukan inovasi dalam pekerjaannya demi perbaikan derajat hidup di masa depan. Sementara orang yang berhenti belajar karena sudah “merasa cukup pintar” akan tertinggal tergilas laju perubahan zaman. Jika sudah begitu, bukankan orang-orang yang berhenti belajar karena merasa dirinya “sudah cukup pintar” adalah orang bodoh yang sebenarnya…?

Lebih Baik "Merasa Bodoh"


Seringkali orang-orang pintar lupa bahwa dulunya mereka adalah orang-orang bodoh.
Hatake Niwa

“A-K-U.” Itulah kata pertama yang berhasil saya tulis. Saya ingat betul ketika saya menggoreskan kapur di kusen pintu rumah saya dan menuliskan kata “AKU”. Awalnya saya tidak berniat membuat kata apapun karena saat itu saya baru belajar mengeja. Saya hanya asal menjejerkan huruf A, K, dan U. Ibu saya pun memberi pujian karena saya sudah bisa menulis. Untuk beberapa saat saya malah tidak sadar dengan apa yang saya lakukan.

Saya mencoba mengingat kembali masa-masa awal saya sekolah dari TK sampai kelas 2 SD. Dalam rentang waktu itu, saya tidak merasa belajar sebagai sebuah beban. Saya hanya didorong oleh rasa ingin tahu sehingga manggut-manggut saja disuruh belajar. Saya juga belum mengalami kesulitan belajar yang membuat saya takut pergi ke sekolah. Pelajaran di sekolah bagi saya tak ubahnya permainan. Tak ada beban, tak ada paksaan, hanya ada perasaan gembira bisa berkumpul dengan teman-teman di sekolah.

Menginjak kelas 3 SD, saya mulai menyadari ada beberapa materi pelajaran yang sulit dipahami, salah satunya materi pecahan. Meski sudah berulang kali diberi penjelasan, saya tak kunjung mengerti. Alih-alih guru saya malah sewot karena saya terlalu banyak bertanya. Saya pun menyerah, beringsut mundur kembali ke tempat duduk dan mulai mengerjakan soal sebisanya. Saat itu saya benar-benar “merasa bodoh.”

“Merasa bodoh” tidak sama artinya dengan mengatakan “Saya bodoh.” Merasa bodoh hanyalah sebuah persepsi kita pada diri sendiri yang belum tentu menunjukkan fakta yang ada. Sementara ungkapan “saya bodoh” lebih menjurus pada ungkapan kekesalan pada diri sendiri atau bisa juga menjadi labelisasi—sebuah perendahan diri akibat ketidakberdayaan menghadapi suatu masalah. Biasanya orang akan menyebut dirinya bodoh ketika muncul persepsi bahwa dia merasa dirinya bodoh (tidak bisa melakukan sesuatu).

Ketika saya tidak kunjung paham materi pecahan, saya “merasa bodoh.” Tapi saya tidak sampai menyebut diri saya bodoh. Saya pun mencoba berbagai upaya agar tidak terus-menerus “merasa bodoh” dalam pecahan. Beruntung saya memiliki ibu yang juga seorang guru SD sehingga dengan bantuannya saya bisa mengejar setiap ketertinggalan materi pelajaran di sekolah.

Beda halnya jika saya buru-buru mengatakan “saya bodoh.” Ungkapan semacam itu adalah labelisasi yang jika dilakukan terus-menerus akan menjadi sebuah afirmasi negatif yang membuat alam bawah sadar berpikir “saya memang bodoh beneran.” Jika saat itu saya mengatakan diri saya bodoh, maka saya akan berhenti mengurusi tetek bengek tentang pecahan. Saya enggan mengerjakan soal yang ada pecahannya. Sangat mungkin ketika saya menemui kesulitan lagi saat belajar matematika, saya menjadi malas berpikir bahkan membenci pelajaran matematika.

Untungnya, skenario mengerikan iitu tidak terjadi. Saya sangat beruntung memiliki guru-guru kelas yang hebat yang bisa membuat para muridnya menguasai sebagin besar materi pelajaran. Saya juga beruntung memiliki orangtua dengan profesi guru. Semua itu memungkinkan saya untuk selalu BELAJAR setiap kali saya “merasa bodoh.” Pada akhirnya, persepsi saya yang “merasa bodoh” tidak sampai menjelma menjadi labelisasi “saya bodoh.”

Dalam dosis tertentu, “merasa bodoh” adalah faktor internal yang akan mendorong kita untuk mau belajar. Dengan “merasa bodoh” kita menyadari bahwa kita harus mempelajari sesuatu untuk melenyapkan kebodohan yang kita rasakan. Sama halnya ketika saya tidak kunjung paham dengan materi pecahan, saya justru terdorong untuk belajar tentang materi tersebut. Saya pun berhasil melenyapkan kebodohan saya dalam materi pecahan.

Hal serupa tidak akan terjadi pada orang yang “merasa pintar.” Orang yang sudah merasa pintar tidak butuh belajar. Mereka sudah melabeli diri mereka sebagai orang pintar yang berderajat tinggi. Orang semacam ini cenderung meremehkan orang lain yang sekiranya lebih bodoh.

Ada dua kemungkinan bagi orang yang merasa pintar. Yang pertama orang itu memang benar-benar pintar, yang kedua orang itu hanya berlagak sok pintar dengan kedangkalan ilmunya. Orang yang merasa pintar akan berbicara panjang lebar memamerkan pengetahuan dan ilmu-ilmu yang dimilikinya. Jika orang ini benar-benar pintar, beberapa kali ia berhasil membuat orang berdecak kagum meski sebagian lain menganggapnya angkuh.

Sebaliknya jika orang ini tidak benar-benar pintar, maka ocehannya tidak lebih dari omong kosong yang membuat dahi berkerut dan membuat tertawa orang-orang yang benar-benar pintar. Siapapun yang lebih percaya kulit daripada isi akan cenderung mempercayai ‘orang sok pintar’ semacam ini (entah kenapa penampilan orang yang sok pintar cenderung lebih meyakinkan daripada orang yang pintar beneran).

Orang yang merasa pintar ibarat teko yang telah penuh terisi air—percuma memasukkan cairan apapun ke dalamnya karena hanya akan membuat isinya tumpah. Kritik dan saran dari orang lain tidak akan mengubah idealisme dan pendiriannya. Pribadinya menjadi keras kepala dan otoriter. Tidak mudah menghadapi orang yang sudah merasa pintar, setidaknya sampai dia termakan sendiri oleh ucapannya yang ternyata keliru.

Karena itu, jika kita ingin belajar kita harus “mengosongkan teko” kita dahulu. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa diri kita tidak sempurna. Pemikiran setiap kepala belum tentu sama. Dengan begitu, kita bisa berpikir terbuka untuk memahami dan menerima ide-ide orang lain.

Harus diakui ada kecenderungan dalam diri kita untuk sombong ketika ilmu yang dimiliki sudah mumpuni. Jika itu terjadi, ada baiknya kita membiasakan diri untuk “merasa bodoh” (bukan berarti menyebut diri kita bodoh dalam artian sebenarnya). Saat bertemu orang lain, tanyakan pada diri kita sendiri “Apa yang bisa aku pelajari darinya.” Dengan sikap semacam itu, akan lebih mudah bagi kita untuk bersikap rendah hati setinggi apapun ilmu yang sudah kita miliki.

Ya, Anda benar, Tuan. Saya memang bodoh. Tapi karena saya merasa bodoh, saya ingin belajar banyak hal dari Tuan. Karena saya bukan tipe orang yang suka berlama-lama dalam penjara kebodohan…

Sunday, 25 October 2015

Menjadi Guru Honorer: Antara Profesi dan Panggilan Nurani


“Guru bukanlah sebuah profesi—melainkan sebuah peran yang seharusnya diemban
oleh setiap orang yang memahami esensi belajar.”
(Hatake Niwa)

Sebagai lulusan jurusan pendidikan, saya sering prihatin dengan nasib para guru honorer. Sudah jamak kita jumpai berbagai paradoks di mana kesejahteraan para guru honorer terabaikan—terutama persolan gaji. Tidak peduli di kota-kota besar atau di daerah terpencil, nominal salary yang diterima para guru honorer acapkali membuat miris. Jangankan mendekati UMR, gaji sebulan bisa saja habis hanya untuk biaya transportasi. Belum lagi jika pembayaran gaji tertunda. Gaji beberapa bulan ditangguhkan untuk kemudian dibayarkan kontan pada bulan berikut.

Tetangga saya beda kampung—seorang guru honorer di SD negeri, malah hanya mendapat 300 ribu rupiah per bulannya! Nilai itu tidak lebih dari sepertiga UMR provinsi yang berkisar antara 1,1-1,3 juta. Di sekolah-sekolah swasta, gaji yang diterima biasanya lebih besar tergantung kondisi dan dukungan finansial yang dimiliki sekolah.

Minimnya gaji para guru honorer sedikit banyak bisa dimaklumi karena alokasi dana BOS untuk gaji mereka dibatasi—maksimal 15 persen. Sebagai catatan, jumlah dana BOS yang dibagikan disesuaikan dengan jumlah murid di sekolah itu. Semakin banyak murid yang bersekolah di sekolah itu, semakin banyak pula dana BOS yang diterima. Misal dalam satu sekolah terdapat 100 murid dan hanya mempekerjakan satu guru honorer, gaji yang diperoleh bisa lebih.

Tapi bayangkan sebuah sekolah dengan sedikit murid—satu kelas tak lebih dari 10 orang, dan mempekerjakan dua atau lebih guru honorer. Alokasi 15 persen dana BOS jelas tak mencukupi untuk menunjang kesejahteraan para guru honorer. Gaji yang sebenarnya sudah sedikit, masih harus dibagi lagi sehingga jatah per guru honorer semakin sedikit. Karena itu, atas dasar ‘perikemanusiaan’ terhadap guru honorer, tidak mengherankan jika kemudian muncul praktek ‘sulap’ dalam pengelolaan dana BOS (saya tidak menulis ini sebagai sebuah saran).

Bertahun-tahun guru honorer menyuarakan keluhannya pada pemerintah, tapi situasi yang ada malah semakin dilematis. Mengangkat guru honorer menjadi PNS mungkin terdengar utopis karena berseberangan dengan arah kebijakan moratorium pegawai dari pemerintah (meski beberapa waktu yang lalu kebijakan ini diambil dengan beberapa syarat dan ketentuan ketat). Menetapkan upah minimum bagi guru honorer tentu tidak mudah, karena berpotensi membuat alokasi dana BOS membengkak. Di sisi lain, kebutuhan sekolah terhadap guru kelas semakin mendesak karena masalah kekurangan guru. Hal ini pula yang memaksa sekolah mempekerjakan guru honorer agar penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat terus berlangsung.

Sekolah memang bukan rumah sakit yang memiliki lebih banyak peluang pemasukan untuk menghidupi instansinya, seperti biaya rawat inap, layanan laboratorium, obat, dan berbagai layanan kesehatan lainnya. Analoginya, orang-orang tentu lebih rela membayar 10 juta agar nyawa anaknya tertolong daripada membayarkan uang yang sama agar anaknya bisa naik kelas. Karenanya, sulit disangkal jika tenaga honorer di rumah sakit bisa lebih makmur daripada guru honorer di sekolah. Ah, seandainya persoalan kesejahteraan tidak melulu dikaitkan dengan gaji…

*  *  *

Suatu hari saya mengantar ibu saya mengunjungi mantan rekan kerjanya yang baru saja melahirkan—sebut saja Bu Yatmi. Bu Yatmi juga seorang guru honorer di sebuah SD negeri (sekolah yang dulu dikepalai ibu saya). Sudah 10 tahun lamanya Bu Yatmi menjadi guru honorer di sana. Dari penuturan-penuturannya, saya semakin heran kenapa beliau tidak memutuskan pindah kerja saja? Apalagi statusnya sekarang adalah seorang ibu satu anak, sehingga kebutuhan rumah tangganya pun lebih banyak. Saya rasa, gaji bulanannya sebagai guru honorer tidak akan mencukupi.

Menjadi guru honorer memang pilihan. Setiap diri bebas menentukan pilihan, ingin menjadi apa dirinya saat ini. Semua itu tak lebih dari perwujudan ‘kebebasan berkehendak’ manusia. Yang saya tangkap dari raut wajah Bu Yatmi, mengajar bukan cuma persoalan banyak atau sedikitnya gaji yang diperoleh. Lebih dari itu, Bu Yatmi menikmati proses mengajar itu sendiri. Boleh jadi beliau merasakan kebahagiaan tersendiri melihat wajah-wajah polos siswanya yang riuh saat belajar, penuh tawa, keceriaan, sesekali cemberut tapi kemudian melonjak-melonjak kegirangan karena mendapat nilai tertinggi di kelas. Bu Yatmi menikmati semua itu—dan saya melihat itu dari gurat di wajahnya.

Boleh jadi, Bu Yatmi merasa bahwa mengajar adalah panggilan hidupnya. Sebuah amanah tak tertulis yang entah kenapa terbesit begitu saja dalam benaknya. Bu Yatmi nyata sudah mencintai profesinya sebagai guru. Dan ketika seseorang sudah mencintai profesinya, jangankan digaji sedikit, tak digaji pun tak akan menjadi soal.


Dan Bu Yatmi pun memutuskan menjadi guru dengan segala manis pahitnya. Tak peduli berapa gaji yang diperoleh, honorer atau pegawai, murid-murid akan tetap memanggilnya—”guru”—pahlawan tanpa tanda jasa yang akan selalu dihargai, dihormati, dan mendapat tempat tersendiri dalam kenangan murid-muridnya.

Saturday, 11 July 2015

Bahaya Salah Ketik


Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan,
selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
(Alexander Pope)

Jika ada survey tentang intensitas kesalahan ketik, saya yakin kalangan pengguna smartphone dan tablet layar sentuh akan berada di urutan teratas—lebih banyak daripada pengguna gadget dengan keyboard  konvensional. Sejak beralih menjadi pengguna smartphone, saya cukup sering menerima pesan yang salah ketik. Saking seringnya, salah ketik pun dianggap lumrah. Cukup tambahkan koreksi pada kata yang salah ketik, meminta maaf—persoalan selesai.

Bagi masyarakat awam, kesalahan ketik memang bisa dimaklumi. Tapi bagi sebagian orang, salah ketik bisa saja menjadi perkara besar yang tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain. Pegawai bank, petugas kasir, peracik obat, dan pembuat dokumen resmi adalah contoh profesi yang tidak boleh salah ketik saat bekerja. Tanggung jawab mereka berbeda dengan masyarakat awam karena menyangkut hajat hidup orang lain, kepentingan instansi tempatnya bekerja dan kelangsungan karir mereka. Peraturannya sih sederhana: tidak boleh salah ketik! Tapi dalam prakteknya, menghindari salah ketik tidaklah mudah.

Baru-baru ini di tempat saya tinggal juga terjadi kasus salah ketik. Surat keterangan hasil ujian sekolah (SKHUS) masal. Sekolah-sekolah (termasuk sekolah tempat saya bekerja) dibuat kelabakan  karena harus mengurus berbagai administrasi dan membuat surat keterangan tambahan yang harus dilampirkan bersamaan dengan SKHUS tersebut. Situasi semakin mendesak karena kekeliruan baru diumumkan beberapa hari menjelang pendaftaran siswa baru tahun ajaran 2015/2016.

Setelah saya cermati, kesalahan penulisan SKHUS terletak pada nomor ujian peserta, tepatnya pada  kode tahun. Agaknya si penulis SKHUS melakukan copy-paste dari dokumen tahun lalu, tapi lupa untuk mengganti kode tahunnya. Hasilnya, SKHUS yang keliru terlanjur dicetak dan diedarkan. Sayangnya, dalam dokumen resmi tidak mengenal fitur tip-ex dan coret. Kesalahan tulis dalam bentuk apapun hanya bisa ‘diampuni’ dengan penambahan surat keterangan resmi dari instansi yang menerbitkan dokumen tersebut. Padahal dalam kasus di tempat tinggal saya tadi, kesalahan ketik hanya terjadi pada satu angka saja.

Salah ketik terkesan menjadi perkara sepele. Tapi dalam dunia literasi, salah ketik tidak bisa ditoleransi. Salah ketik ibarat sebuah bisul bernanah yang akan segera menginfeksi jaringan tubuh lainnya. Sepele—tapi dampaknya bisa sangat menyakitkan. Karena itu, penerbit buku ternama sangat memperhatikan presisi pengetikan dalam setiap naskah yang akan diterbitkan. Tidak heran jika kita jarang menjumpai kesalahan ketik dalam buku-buku terbitan penerbit ternama.

Salah ketik juga pernah menjadi ‘dosa’ saya sehingga skripsi saya ngadat beberapa hari. Saat itu saya sedang khusyuk-khusyuknya mengerjakan revisi skripsi. Saya melakukan revisi dengan segenap kesungguhan yang saya miliki, memperbaiki kalimat, tata tulis, memperbanyak kajian pustaka, hingga memikirkan teori/prosedur yang mungkin akan ditanyakan dosen. Intinya, saya tidak mau skripsi saya dikembalikan dosen untuk direvisi lagi.

Setelah dirasa cukup, dengan penuh keyakinan, saya serahkan revisi skripsi saya pada dosen pembimbing. Kebetulan dosen saya sudah berada di ruangannya sehingga saya tidak perlu menunggu lama. Skripsi saya letakkan di meja dosen. Dalam hati, saya sangat yakin skripsi saya tidak akan revisi lagi.

“Apa sudah diteliti skripsinya?”

Sesaat saya mencemaskan pertanyaan dosen saya. Tidak biasanya dosen saya berbasa-basi seperti itu.

“Sudah, Pak,” jawab saya pelan.

“Kalau saya temukan lima saja kesalahan tulis, skripsi ini saya kembalikan!”

DEG!!! Saya sempat keder mendengar ultimatum dosen pembimbing saya. Sebelumnya saya memang kurang memperhatikan presisi dalam mengetik. Saya sering mengetik dengan prinsip sing penting rampung. Saya pikir kesalahan tulis adalah persoalan sepele yang selalu dimaafkan dalam skripsi. Saya terlalu risau dengan kajian teori, prosedur penelitian, instrumen penelitian, dan hal-hal teknis lainnya, sampai-sampai mengabaikan presisi pengetikan (yang bagi dosen saya adalah persoalan besar).

Entah seberapa keruh air muka saya waktu itu. Baru sampai di halaman kata pengantar, dosen saya tidak sudi melanjutkan koreksi. Kesalahan tulis yang ditemukan sudah lebih dari lima biji. Saya pun beringsut meninggalkan ruangan, membawa skripsi dengan salah ketik yang tak termaafkan.

Sejak peristiwa memalukan itu, saya memutuskan untuk lebih memperhatikan presisi dalam mengetik. Memang tidak mudah mengubah kebiasaan lama yang sering salah ketik, tapi memperbaiki diri adalah sebuah keharusan. Saya tidak mau mendapat malu untuk yang kesekian kalinya hanya karena kesalahan sepele seperti salah ketik.

Saya beruntung karena saya hidup ketika mesin ketik digital sudah jamak dipakai. Saya rasa, tombol backspace/delete adalah penemuan spetakuler—sama halnya dengan mesin cetak—karena boleh jadi keberadaannya telah berhasil menghemat jutaan lembar kertas yang terbuang akibat salah ketik. Saya tidak bisa membayangkan jika saya hidup ketika dunia literasi dipenuhi mesin ketik konvensional yang tidak memiliki tombol backspace/delete. Boleh jadi saat ini saya masih betah ‘menginap’ di kampus sambil melihat adik-adik kelas yang diwisuda.

Sedemikian pentingnya untuk mengetik dengan benar sampai-sampai menentukan kelanjutan karir seseorang. Seorang pegawai bank, misalnya, bisa saja dia dipecat/membayar ganti rugi karena salah menginput angka yang mengakibatkan kerugian bank dan nasabah. Salah ketik juga menjadi momok petugas kasir swalayan yang harus menghadapi ribuan barang belanjaan setiap harinya. Konsentrasi, teliti, dan tetap fokus pada pekerjaan sangat esensial agar salah ketik tidak terjadi.

Blog ini pun tidak lepas dari penyakit salah ketik. Betapapun saya mencoba teliti saat mengetik, kesalahan ketik kadang tetap terjadi. Agaknya saya harus menyerah pada pepatah lama bahwa “manusia memang tempatnya salah dan lupa.”

Dan bagi kalian yang masih merasa salah ketik adalah perkara sepele mungkin kalian perlu mengingat kapan terakhir kali kalian salah mengetik huruf U pada kata “TAHU” menjadi huruf I ??? Bukan wewenang saya untuk memastikannya. Kalian sendiri yang lebih tah* (sengaja saya sensor, takut kalau-kalau salah ketik lagi).

Monday, 29 June 2015

Mahasiswa Salah Jurusan


Sungguh merugi orang yang menyesali masa lalunya yang tidak mungkin kembali dan mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi, hingga ia menyia-nyiakan 
penghidupannya hari ini.
(Hatake Niwa)

Memilih jurusan kuliah bukanlah perkara sepele. Betapa banyak mahasiswa yang setelah diterima di perguruan tinggi malah kecele—menyadari dirinya telah salah memilih jurusan. Akibatnya para mahasiswa yang salah jurusan menjadi kumpulan pesakitan di kampus. Kuliah tidak serius, skripsi terbengkalai, IPK mengkhawatirkan, hingga terancam kena drop out (DO) dari kampusnya.

Bagi mereka yang punya dana melimpah, bisa saja mereka pindah jurusan begitu pendaftaran mahasiswa baru dibuka kembali. Uang masuk puluhan juta yang kadung dibayarkan tak menjadi soal, yang penting bisa pindah jurusan sesuai passion yang diminati. Tapi bagaimana dengan mereka yang kadung salah jurusan tapi tidak memiliki pilihan lain selain menyelesaikan studi di jurusannya yang salah?

Sewaktu saya kuliah, beberapa teman saya sering nyeletuk telah salah memilih jurusan. Mereka tidak bahagia di jurusan yang diambilnya. Sebagian besar karena prospek jurusan yang dinilai tidak cukup bagus untuk mendapat pekerjaan yang layak. Maklum, jurusan saya adalah jurusan pendidikan yang prospek profesinya adalah menjadi tenaga pengajar (guru/dosen). Bukan rahasia lagi jika selama ini gaji guru tidak menjanjikan (kecuali guru yang sudah menjadi PNS dan mendapat sertifikasi beserta tunjangan-tunjangannya).

Bandingkan dengan jurusan-jurusan lain semisal jurusan berlatar kesehatan (perawat, bidan, dokter). Lowongan bagi jurusan-jurusan tadi cukup banyak, sehingga ketika masa studi berakhir lulusan dari jurusan tadi dapat segera terserap lapangan kerja dengan penghasilan yang lumayan (untuk ukuran fresh graduated).

Pertanyaan saya, kalau mereka tahu prospek jurusan pendidikan seperti itu, kenapa tidak segera pindah jurusan saja?

Saya yakin ada ribuan mahasiswa lain yang mengalami nasib serupa—menyesal telah salah memilih jurusan. Sebagian menyesali pilihannya begitu kuliah dijalani. Sebagian lagi menyesal ketika dirinya sudah lulus. Mereka pun terjebak pada penyesalan klise, “Seandainya dulu saya tidak kuliah di jurusan ini, pasti nasib saya lebih baik…”

Penyesalan memang selalu datang belakangan, tidak mungkin penyesalan hadir sebelum suatu peristiwa terjadi. Yang sudah terjadi biarkan terjadi. Keputusan sudah kita ambil. Di antara sekian pilihan, kita sudah memutuskan untuk memilih salah satunya yang kita anggap paling baik. Ketika kita memilih jurusan A, kita pasti sudah mempertimbangkannya masak-masak kenapa kita memilih jurusan itu—kecuali kalau kuliahnya sekedar untuk mencari titel sarjana. Karena pilihan yang kita ambil sudah didasarkan pertimbangan matang, kita pun harus konsekuen dengan segala resikonya. Menyalah-nyalahkan diri sendiri atau merutuk pilihan kita yang telah lalu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Mahasiswa yang merasa salah jurusan harus tetap mengedepankan rasionalitasnya.

"Manusia tidak bisa pergi melintasi dimensi waktu. Kita hanya bisa bergerak mengikuti dinamika waktu itu sendiri yang bergerak sangat cepat."

Kalau mau jujur, orang yang bisa kuliah itu seharusnya bersyukur. Ada jutaan pelajar yang belum bisa mengenyam bangku perguruan tinggi. Giliran kita yang sudah menjadi mahasiswa malah ribut memikirkan jurusan yang salah pilih. Pikirkan pula bagaimana kedua orangtua kita yang telah bersusah payah membiayai kuliah dengan harapan anak kebanggaannya dapat meraih penghidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Karena itu, saya sangat menyarankan terutama pada adik-adik calon mahasiswa. Pertimbangkan masak-masak jurusan apa yang ingin dipilih. Kenali passion kalian. Dan yang paling penting, jangan cuma ikut-ikutan teman. Dunia kuliah tidak sama dengan dunia sekolah. Kuliah menuntut kemandirian kalian dalam belajar dan belajar membuat keputusan. Nasib kalian ketika kuliah ditentukan oleh pilihan-pilihan yang kalian ambil. Maka berhati-hatilah dalam membuat keputusan.

Bagi kalian yang saat ini sedang menjalani kuliah dan merasa salah jurusan, saya sarankan untuk mempertimbangkan pilihan pindah jurusan (dengan catatan kondisi finansial dan dukungan orangtua memungkinkan). Jika tidak, maka ikhlaslah menjalani kuliah di jurusan itu. Suka atau tidak, pilihan yang tersisa tinggal menjalani kuliah di sana daripada DO (mubazir kan uang yang sudah dibayarkan). Ikuti berbagai kegiatan lain di luar kuliah yang sesuai dengan passion kalian. Dengan begitu setidaknya kalian tetap mendapat pengalaman baru di bidang yang sesuai passion kalian meski bukan dari ruang kuliah.

Dan bagi kalian yang menyesal ketika sudah lulus, maka belajarlah untuk ikhlas dan jangan pernah menyalahkan nasib. Keputusan sudah diambil. Nasib hari ini adalah buah dari keputusan yang kita tanam kemarin. Jangan terlalu terpengaruh oleh orang-orang yang rewel menanyakan: “Kenapa kemarin nggak kuliah di jurusan ini saja…?” Tidak ada gunanya meladeni pertanyaan mereka yang klise yang boleh jadi malah akan menambah penyesalan kita. Lebih baik segera mencari jalan keluar agar hidup kalian tetap survive meski salah jurusan. Jika memungkinkan tidak ada salahnya untuk mendaftar kuliah lagi di jurusan yang sesuai dengan minat kalian. Itu pun kalau urusan finansial tidak bermasalah dan kalian siap menghabiskan bertahun-tahun lagi di bangku kuliah.

Yang jelas pertimbangkanlah setiap pilihan yang kalian ambil dengan kepala dingin. Bijaklah memikirkan semua kemungkinan, peluang, dan resiko dari setiap pilihan. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. Dan berhentilah menyesali keputusan di masa lalu yang boleh jadi tidak mengenakkanmu. Masa lalu tidak akan berubah dan masa depan kita belum ditulis. Karena kita hidup di hari ini, bukan hari kemarin, bukan juga esok. Maka berikanlah yang terbaik darimu untuk hari ini.

Monday, 15 June 2015

Menyoal Status Mahasiswa Bermasalah

Kebanggaan apa yang kau peroleh selama kau menjadi mahasiswa, Nak?
Saya tidak bangga, Tuan, saya justru—prihatin…
(Hatake Niwa)

Saya bingung dengan senior saya saat ospek empat tahun lalu. Mahasiswa-mahasiswa baru (maba)—termasuk saya—diminta meneriakkan pekik “Hidup Mahasiswa!” Konon pekik sakral itulah yang membuka jalan reformasi di negeri ini (terlepas dari peran politisi-politisi busuk dan isu kosnpirasi di dalamnya). Saya dan ratusan maba lainnya seakan didoktrin untuk membangga-banggakan status ‘mahasiswa.’ Mungkin para senior menganggap junior-juniornya adalah makhluk setoran pilihan yang berhasil memenangkan persaingan masuk ke almamater kebanggaannya—mengalahkan ratusan ribu pendaftar lainnya.

Kedengarannya hebat. Tapi seiring berjalannya waktu, saya terus menemui paradoks demi paradoks dalam kehidupan mahasiswa yang kehilangan jati dirinya.

Ah, Mahasiswa. Ketikkan saja kata “mahasiswa” di kotak pencarian Google, maka suggestions yang akan muncul justru kasus-kasus hitam tentang mahasiswa. Bunuh diri, tewas (di/mem)bunuh, pencurian, hilang, tenggelam, dan semacamnya. Saya curiga kata “mahasiswa” telah mengalami peyorasi (penurunan makna). Sama halnya dengan kata “video” yang dulunya bermakna: segala citra audio-visual dari mesin perekam, berubah menjadi citra audio-visual yang memuat konten porno dan adegan dewasa. Karena telah mengalami peyorasi, setiap kali mendengar kata “mahasiswa,” yang terbayang di benak kita tidak jauh dari aksi demonstrasi, kerusuhan massal, pengrusakan fasilitas publik dan seabrek berita kriminal yang menyeret nama mahasiswa.

Ah, mahasiswa. Saya sering tidak enak dengan penambahan kata ‘maha’ di depannya. Saya lebih afdhal menyebutnya ‘siswa’ saja. Saya rasa penambahan kata ‘maha’ adalah sebuah arogansi. Kata ‘maha’ identik dengan objek yang powerful, memiliki kecerdasan dan kekuatan di atas rata-rata—misalnya mahaguru dan maharaja. Dengan adanya “maha”+”siswa”, maka seorang mahasiswa dapat kita definisikan sebagai jenis pelajar powerful yang dapat melakukan banyak hal ajaib yang tidak bisa dilakukan pelajar biasa.

Analoginya, jika pelajar biasa terlibat tawuran dengan geng sekolah lain, ‘minimal’ mahasiswa tawuran dengan aparat kepolisian (greget!). Jika pelajar biasa harus curi-curi kesempatan untuk bikin ‘adegan 3gp’ di semak-semak, mahasiswa bisa terang-terangan berzina di kos-kosannya sendiri—‘direkam’ tetangga kos yang mendadak lupa dengan ajaran amr ma’ruf nahi munkar. Ya, segala sesuatu tentang perilaku mahasiswa harus selalu dan selalu lebih powerful dibanding perilaku pelajar biasa. Absurd!

Well, maafkan bila saya terkesan menjelek-jelekkan mahasiswa. Saya hanya mencoba bersikap kritis dengan sedikit guyon satire. Kalaupun saya menjelek-jelekkan mahasiswa, saya juga menjelek-jelekkan diri saya sendiri setahun yang lalu. Saya tidak lebih dari mahasiswa biasa dari ‘genus kupu-kupu’ yang rutinitas hariannya: kuliah-pulang-kuliah-pulang (karena kalau tidak pulang tidak dapat uang). Terlihat tidak ada yang bisa dibanggakan dari saya ketika menjadi mahasiswa. Uang saku masih bergantung upeti orangtua, kerja part-time tak mau, lulus pun mesti tertunda setengah semester.

Kondisi berbeda seratus delapan puluh derajat dengan mahasiswa aktivis yang selalu sibuk. Kalau tidak kuliah ya sibuk ngurus organisasi. Kalau tidak ngurus organisasi ya ke luar ikut demonstrasi. Mahasiswa-mahasiswa tipe aktivis selalu tampak menonjol dibanding mahasiswa umumnya. Mereka sadar betul peran yang harus diambil. Mereka mengambil kesempatan-kesempatan yang ada demi meningkatkan kualitas dirinya. Ya, kualitas pribadilah yang membuat mahasiswa aktivis berbeda dengan mahasiswa rata-rata.

Lalu di kubu manakah kita sekarang?

Kubu yang mengemban amanah sebagai “Agent of Change” yang kehadirannya selalu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Atau malah kubu yang membawa perubahan positif pada tespack pacar yang menuntut pertanggungjawaban? So lame, dude.

Padahal kita (mahasiswa) seharusnya menyadari besarnya harapan dan espektasi masyarakat kepadanya. Dalam kegiatan KKN misalnya. Seringkali kedatangan mahasiswa ke desa-desa akan disambut dengan permohonan warga agar para mahasiswa membuat proposal begini begitu lalu membuat proyek ini itu. Sederhananya, mahasiswa diminta ikut serta membangun desa. Kenapa? Karena mereka percaya bahwa mahasiswa memiliki kapasitas lebih untuk membawa perubahan positif bagi lingkungannya.

Belum lagi jika kita menerawang jauh ribuan kilometer ke kampung halaman. Berjuta-juta doa para orangtua berpilin ke langit. Mengharapkan putra-putrinya beroleh takdir terbaik setelah menjadi mahasiswa kelak. Tidakkah kita—para mahasiswa—tergerak hatinya untuk menjadi penjawab doa-doa orangtua kita?

Jadi, ijinkan saya menulis uraian panjang ini sebagai refleksi kehidupan saya saat masih menjadi mahasiswa tempo dulu. Saya tidak ingin adik-adik mahasiswa menyia-nyiakan empat tahun studinya di bangku perkuliahan. Saya ingin agar mereka menyadari esensi “menjadi mahasiswa.” Karena menjadi mahasiswa bukan persoalan gaya-gayaan. Karena menjadi  mahasiswa bukan pula persoalan ikut-ikutan. Menjadi mahasiswa adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Jangan sampai kuliah bertahun-tahun hanya menyisakan penyesalan. Merutuki nasib kenapa dulu saya memilih jurusan ini? Jangan sia-siakan kesempatan menjadi mahasiswa. Apapun jurusanmu, aktiflah dalam berbagai kegiatan organisasi. Galilah pengalaman sebanyak-banyaknya dari sana. Selalu bangun budaya kritis dalam perkuliahan. Akrabilah perpustakaan, jadilah kutu buku yang sebenarnya. Mulailah melakukan segala sesuatunya dengan benar berdasar pada nurani. Dengan begitu, masa-masa kuliah yang dijalani akan menjadi lebih bermakna dan bermanfaat—tidak akan menyesal di kemudian hari.

Saran-saran di atas tidak hanya ditujukan bagi peningkatan kualitas diri mahasiswa, tapi juga untuk membuka kesadaran menjadi mahasiswa agar lebih bertanggung jawab. Agar nantinya mahasiswa bisa mengenakan toga dan selempang di dada karena mereka memang pantas menerimanya. Agar nantinya mereka memang pantas diberi amanah sebagai agen perubahan. Juga agar nantinya mereka pantas menjadi penjawab doa-doa dan harapan orangtua mereka selama ini.

Wednesday, 29 January 2014

Nggak Ada yang Namanya Orang Bodoh


Lagi-lagi menyoal orang bodoh. CApek deh dibilang anak bodoh melulu. Positifnya apa sih jadi orang bodoh??? Bodoh itu label sob. Bukan ketokan palu hakim yang adil. Bodoh itu relatif. Jadi kalo saat ini ente ngerasa bodoh, itu cuma luapan perasaan sesaat. Misalnya ada orang nggak bisa maen gitar, dia bakalan dibilang bodohlah kalo megang gitar. Tpi tanpa disadari ternyata si bodoh yang nggak bisa maen gitar tadi jago nyanyi. Apa kita masih mau bilang dia bodoh???

Ada baiknya kita mengembalikan semuanya pada hakikat penciptaan manusia oleh Tuhan. Masak Tuhan tega ngasih kita label bodoh? Manusia diberi akal en hati untuk memakmurkan bumi ini kan? LAgian asal ita pinter2 ngembangin bakat kita, label cerdas tadi tinggal nunggu waktu aja. Cerdas itu hasil usaha jga loh. Jadi kalo hari ini masih juga ada yang merasa bodoh munkin perlu diklarifikasi lagi pernyataan ente.

Katakan: Saya orang cerdas...saya orang cerdas...saya orang cerdas,...dan saya masih WARAS!
Selamat menjadi orang cerdas... Inilah saatnya berubah!