Subscribe:

Labels

Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts

Tuesday, 23 February 2016

Jebakan Setan di Urinoir


Seringkali kerikil-kerikil kecil bisa lebih berbahaya
daripada sebongkah batu besar di tengah jalan
(anonim)

*Sebelumnya, demi kenyamanan semua orang, mohon tidak membaca postingan ini jika kalian sedang makan atau mempunyai gangguan pencernaan.
.   .   .

Pertama kali saya berkenalan dengan kloset jenis urinoir adalah ketika berkunjung ke sebuah bioskop XXI di kota saya. Saat itu, saya merasa kebelet dan harus ke toilet. Di dalam toilet, saya melihat urinoir yang berjejeran menempel di dinding. Berhubung saya bukan tipe orang yang suka mencoba benda asing tanpa memiliki informasi apapun tentangnya, saya hanya melihat urinoir-urinoir itu. Sementara untuk buang air, saya lebih memilih memakai kloset duduk yang ada di sebelah urinoir.

Sejauh ini saya mengenal beberapa jenis kloset. Untuk pemakaian sehari-hari, saya masih memakai kloset jongkok. Saya paling afdhal memakai kloset jenis ini karena proses “pembuangan” dan “pembersihan” (maaf, cebok) bisa dilakukan secara leluasa dengan jumlah air yang memadai. Tidak heran jika kloset jenis ini paling digemari warga sekitar rumah saya.

Saat SD dulu, sekolah saya memakai kloset “leher angsa.” Kloset jenis ini tidak jauh beda dengan kloset jongkok biasa. Hanya bedanya, lubang pembuangan kloset ini lebih dalam—mirip dengan leher angsa. Boleh jadi karena itulah, kloset ini dinamakan kloset “leher angsa.”

Selain dua jenis kloset di atas, ada juga jenis kloset “cemplung ” yang dulu biasa dipakai oleh warga perkampungan pinggir sungai. Kloset jenis ini terkenal paling jorok karena memakai sistem pembuangan langsung ke aliran sungai (percayalah, saya tidak pernah memakainya). Konon, kloset ini menghasilkan bunyi “plung…plung…plung ” yang khas ketika dipakai. Boleh jadi karena itulah kloset ini dinamakan kloset cemplung.

Beralih ke peradaban modern, saya mengenal kloset duduk. Kloset jenis ini efektif menghindarkan pemakainya dari sensasi kesemutan—seperti yang biasa dialami “penggemar fanatik” kloset jongkok. Hanya sayangnya, pemakaian kloset duduk sering merepotkan jika tidak dilengkapi air guyuran, atau ketika tombol flush-nya tidak berfungsi. Walaupun tersedia tisu untuk pembersihan, tidak semua orang (termasuk saya) yang afdhal memakainya. Selain itu, dudukan di toilet ini kerap luput dibersihkan meski sering terciprat air kencing. Karena alasan itulah, saya sering kikuk ketika harus memakai kloset duduk.

Dari berbagai jenis kloset yang saya kenal, urinoir adalah jenis kloset yang paling praktis dan mudah dipakai. Biasanya, urinoir dilengkapi dengan sensor suhu dan sistem guyuran otomatis. Si pemakai cukup buang air kecil di sana, “krucukk…krucuk…” sebentar—dan air guyuran akan keluar secara otomatis setelah urinoir ditinggal pergi—praktis sekali. Tapi, di sinilah letak masalahnya.

Urinoir (yang konon merupakan buah peradaban  modern) tidak menyediakan fasilitas cebok. Padahal, cebok merupakan salah satu elemen penting dalam “ritual” buang air (baik kecil, sedang, maupun besar sekali). Para ahli medis pun sepakat bahwa kita harus cebok setiap kali selesai buang air demi menjaga kebersihan dan kesehatan organ genital. Parahnya, air guyuran dari urinoir tidak mencukupi untuk keperluan cebok. Boleh jadi urinoir memang didesain untuk orang-orang yang sudah nggak  tahan lagi, terdesak kebelet, dan berpikir cebok itu tidak penting.

Masalah lainnya, urinoir mengharuskan kita mendekatkan celana ke bibir urinoir agar urin tidak tercecer ke lantai. Kita juga harus mendekatkan celana jika tidak ingin mengalami insiden "ter-intip” seperti yang biasa terjadi di toilet cowok. Nah, pada saat mendekatkan celana itulah, ada sekian tetes urin yang menciprat ke celana kita !!!

Bagi yang berpikir cebok itu tidak penting, masalah ini mungkin terlihat sepele. Tapi bagi kalian yang muslim—yang merasa punya kewajiban untuk menjaga kebersihan diri sebelum beribadah—hal sepele ini harus tetap diperhatikan. Kenapa?

Kita tahu, urinoir tidak hanya meniadakan fitur cebok, tapi juga meninggalkan cipratan urin yang bisa mengurangi kesempurnaan thaharah (kegiatan mensucikan diri) sebelum ibadah. Karena itu, untuk menghindari “jebakan setan” di urinoir, lebih baik gunakan kloset duduk atau kloset jongkok saja. Gunakan urinoir saat kepepet saja, misalnya saat sudah nggak tahan lagi atau saat antrian kloset konvensional terlalu lama.

“Kalau di tempat itu cuma ada urinoir gimana dong ?”

Nah, itu juga repot. Ada seorang blogger  yang pernah memberi tips mengatasi masalah ini, yaitu dengan memanfaatkan botol air mineral. Caranya, sebelum “setor” pipis  ke urinoir, terlebih dahulu isi botol itu dengan air dari wastafel. Gunakan air di dalam botol untuk keperluan cebok di depan urinoir. Jadi, jangan berpikir botol ini akan dipakai untuk nampung urin seperti pispot, lho  ya.

Sayangnya, trik ini hanya bisa digunakan ketika suasana toilet sepi. Kalian tentu tidak mau ambil resiko dicap “udik ” jika ketahuan cebok di depan urinoir—lebih-lebih pakai botol air mineral!

*   *   *

Kesimpulannya, daripada kita repot tidak bisa cebok, lebih baik hindari penggunaan urinoir, kecuali terpaksa saja. Selalu prioritaskan kloset konvensional, baik yang jongkok maupun yang duduk, karena pemakaiannya jauh lebih afdhal—meski untuk itu kita harus sabar mengantri atau merogoh kocek.

Jika kita baru pertama kali memasuki sebuah gedung, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menanyakan letak toilet. Ini penting untuk mengantisipasi kondisi darurat saat kita kebelet atau sudah nggak tahan lagi. Lagipula, kita perlu tahu jenis kloset yang dipakai di gedung itu agar kita bisa menyiapkan trik untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul, seperti tidak adanya air guyuran, tisu habis, tombol flush rusak, dan “jebakan setan” di urinoir.

Boleh jadi masalah urinoir ini terlihat sepele. Tapi demi kesempurnaan thaharah, lebih baik kita mulai peduli pada masalah ini. Jika kalian lebih memilih kepraktisan, malu, dan menyerah pada alasan “tidak mau repot,” maka itu hak kalian. Tulisan ini sekedar mengingatkan saja. Karena bagaimanapun, yang namanya ibadah tidak hanya urusan niat dan khidmat-nya saja, tapi juga bagaimana mensucikan diri demi meraih kesempurnaan ibadah itu sendiri.

Wednesday, 17 February 2016

9 Tips Memilih Jurusan Kuliah


Tidak ada takdir, selain yang kita pilih.
( @noffret )

Sekitar dua tahun yang lalu, saya masih menjadi mahasiswa semester akhir (selanjutnya disingkat: MSA) di sebuah perguruan tinggi di Jogja. Saat itu, para MSA jamak bertanya: “Mau kerja apa setelah lulus nanti?” Mereka pun mulai mengkhawatirkan banyak hal. skripsi yang belum kelar, keinginan untuk segera mencari uang sendiri, sampai penyesalan karena keliru memilih jurusan.

Beberapa teman saya sesama MSA memang pernah mengeluh salah jurusan. Entah karena masalah prospek kerja atau karena ketidaksesuaian antara minat dan jurusan yang dipilihnya. Mendengar keluh kesah itu, dalam hati saya membatin, kenapa mereka baru memperkarakan pilihan jurusannya sekarang? Kenapa mereka baru memikirkan hal sepenting itu di saat semua sudah sangat terlambat?

Salah jurusan bisa berdampak pada jatuhnya motivasi kuliah. Karena itu, jangan heran jika mahasiswa yang salah pilih jurusan lebih akrab dengan masalah akademik, mulai dari tugas-tugas kuliah yang mangkrak, IPK mengkhawatirkan, skripsi tak kunjung selesai, hingga ancaman di-drop out (DO) dari kampusnya. Kalian bisa membaca tulisan saya tentang mahasiswa-mahasiswa yang salah jurusan di sini.

Untuk itu, saya merasa perlu menuliskan hal ini agar kalian tidak mengalami “Salah Jurusan.” Lagipula, hal ini urgent sekali agar uang puluhan sampai ratusan juta yang kalian bayarkan tidak sia-sia.

*   *   *

1.  Kenali Minat dan Bakatmu
Poin pertama ini adalah poin terpenting. Mengingat biaya kuliah tidak sedikit, akan lebih aman jika kalian memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat. Jika kalian merasa berbakat di bidang desain, pilihlah jurusan seni. 

Jika kalian berbakat di bidang sains, maka pilihlah jurusan yang berkaitan dengan sains. Kuliah di jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat akan membantu kalian dalam menjaga motivasi kuliah. Hal ini penting untuk menghindari resiko “kuliah mangkrak,” entah karena nilai akademis yang buruk atau karena hilangnya motivasi kuliah. 

Berjudi dengan memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minat dan bakat sangat tidak disarankan!


2.  Jadi PNS atau Pengusaha?
Berharap kuliah agar bisa diterima PNS hampir menjadi ‘utopia’ saat ini, apalagi dengan adanya moratorium PNS. Kalau pun pemerintah membuka penerimaan CPNS, persaingan di tiap posisi akan sangat ketat. Satu posisi bisa diperebutkan hingga ratusan pelamar (peluang lolos pun bisa jauh lebih kecil daripada SBMPTN). 

Sebaliknya, jika kalian mantap menjadi seorang pengusaha atau berkecimpung dalam industri kreatif, maka pilihlah jurusan yang sekiranya dapat mengasah keterampilan kalian di bidang itu.


3.  Pertimbangkan Prospek Jurusan
Jika kalian memang ngebet ingin langsung bekerja setelah lulus, ada baiknya kalian mendaftar ke perguruan tinggi yang menyelenggarakan ikatan dinas seperti STAN, STIS, atau STPN. Hanya saja, kalian butuh lebih dari sekedar belajar untuk bisa menembus perguruan tinggi tersebut karena seleksi masuknya sangat ketat.  

Jika kalian merasa inferior duluan, maka pilihlah jurusan yang sekiranya membekali kalian dengan keahlian dan keterampilan yang bisa langsung digunakan untuk mencari penghasilan setelah lulus. Misalnya, kalian bisa memilih jurusan bahasa asing untuk kemudian membuka jasa penerjemah atau kursus bahasa asing. Kalian juga bisa memilih jurusan tata boga untuk kemudian menjadi seorang chef  dan membuka restoran sendiri.


4.  Perhatikan Nilai Akreditasi Jurusan
Nilai akreditasi setidaknya memberikan gambaran kualitas dan reputasi sebuah jurusan. Pilihlah jurusan yang berakreditasi minimal B. Jangan mudah mengalah pada prinsip “sing penting kuliah.” Nilai akreditasi ini perlu dipertimbangkan karena tidak sedikit lowongan kerja yang mensyaratkan nilai akreditasi minimal.


5. Pertimbangkan Jarak dan Ongkos Kuliah
Jika kalian sudah mendapat gambaran ingin kuliah di mana, kalian bisa mulai mempertimbangkan jarak dan ongkos kuliah. Pikirkan, apakah nanti kalian ingin nge-kos, mengontrak rumah, numpang di rumah saudara, atau menjadi komuter yang bolak-balik berkendara dari rumah ke kampus. 

Pertimbangkan juga ongkos kuliahnya. Biasanya, SPP di perguruan tinggi negeri lebih murah daripada di swasta. Perhatikan juga biaya per SKS-nya karena di beberapa jurusan terdapat biaya tambahan untuk setiap SKS yang diambil mahasiswanya.


6.  Komunikasikan dengan Orangtua
Seringkali terjadi ketidakcocokan antara jurusan pilihan anak dan jurusan pilihan orangtua. Ada tipe-tipe orangtua yang mengharuskan anaknya kuliah di jurusan tertentu meski si anak merasa tidak cocok. 

Dalam hal ini, kita perlu melobi orangtua dengan pendekatan persuasif. Yakinkan orangtua kalian bahwa jurusan yang kalian pilih tidak keliru. Gunakan argumen-argumen objektif seperti bagaimana prospek jurusan yang kalian pilih dan betapa kalian menyukai kuliah di jurusan itu. 

Komunikasi dengan orangtua juga penting untuk membahas masalah lain seperti biaya kuliah dan akomodasi anak selama kuliah.


7. Belajar Mulai dari Sekarang!
Saya rasa poin ini tidak perlu dijelaskan. Gunakan semua sumber daya yang kalian miliki. Membaca buku-buku, mengerjakan soal latihan, belajar kelompok, mengikuti try out, bimbel, semua itu harus kalian lakukan atas kesadaran kalian sendiri. Berhenti menunda-nunda dengan bermalas-malasan. Tidak ada waktu lagi, kalian harus belajar mulai dari sekarang!


8. Fokus!
Lakukan semua persiapan dengan fokus. Saat kalian belajar, matikan TV dan pinggirkan ponsel pintarmu. Jangan biarkan bunyi ‘cenung…’ ‘cenung…’ notifikasi mengacaukan konsentrasi belajarmu. Ingat, sudah tidak ada waktu lagi untuk menunda!


9. Berdoa
Berdoa adalah salah satu unsur terpenting dalam kehidupan umat beragama. Segala bentuk peribadatan mensyaratkan pelakunya untuk berdoa—memohon kebaikan dan pertolongan Tuhan. Dengan ikhlas berdoa, setidaknya hati kita menjadi lebih damai. Kita pun menjadi lebih siap menerima segala bentuk kesuksesan maupun kegagalan.

*   *   *

Enam tahun lalu, saya juga merasakan kegamangan yang sama. Memilih jurusan kuliah lebih dari sekedar gengsi. Anggaplah ini urusan hidup dan mati. Pilihlah dengan sepenuh kesadaran dan keyakinan bahwa pilihan yang kalian ambil adalah yang terbaik. 

Terima segala pahit manis dari pilihan hidup yang diambil agar tidak ada lagi sesal di kemudian hari—agar tidak ada lagi yang berkata “seandainya dulu aku begini…begitu…” Karena takdir yang kalian dapatkan hari ini adalah buah dari pilihan-pilihan yang telah kalian ambil di masa lalu.



NB: Semua yang saya tulis di sini adalah hasil interpretasi pengalaman pribadi. Karena itu jika ada yang ingin men-share tulisan ini atau menuliskannya di media lain, mohon mencantumkan sumber link-nya di blog ini.

Saturday, 6 February 2016

Pelajaran dari Hari Kebalikan


Jika kau seorang pendiam, belajarlah untuk berani bicara.
Jika kau seorang cerewet, maka belajarlah untuk diam.
(Hatake Niwa)

Saya termasuk penggemar kartun Spongebob Squarepants. Tentu saja alasan saya menyukai kartun tersebut berbeda dengan para balita dan anak-anak yang memandang Spongebob sebagai figur yang konyol. Bagi saya, Spongebob Squarepants lebih dari sekedar kartun yang mengumbar kekonyolan. Secara cerdas, Spongebob Squarepants juga menyisipkan pesan moral dan kritik sosial dalam setiap episodenya. Karena itu, tidak heran jika kartun yang bercerita tentang kehidupan bawah laut di kota Bikini Bottom itu bisa dinikmati semua kalangan usia.

Salah satu episode Spongebob Squarepants yang menarik bagi saya adalah episode Hari Kebalikan (Opposite Day). Dalam episode itu, Squidward tengah dibuat kesal oleh ulah jahil dua tetangganya, Spongebob dan Patrick. Karena tidak tahan lagi dengan kelakuan mereka, Squidward berencana untuk menjual rumahnya dan pindah. Squidward pun menghubungi sebuah agen properti. Setelah bernegosiasi, si agen properti menyetujui permintaan Squidward untuk menjual rumah.

Namun sebelumnya agen properti itu berencana mensurvey kelayakan rumah Squidward. Ia mensyaratkan rumah Squidward harus bebas dari segala bentuk gangguan ketertiban. Perkara ini sepele, tapi dengan adanya Spongebob dan Patrick di sebelah rumahnya, Squidward tidak berpikir penjualan rumahnya akan berhasil. Squidward memikirkan cara untuk membuat Spongebob dan Patrick tidak mengganggunya sampai agen properti itu selesai melakukan survey. Squidward pun menemukan ide untuk membuat sebuah hari di mana setiap orang harus melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan kebiasaan-kebiasannya. Ia menamainya: “Hari Kebalikan.”

Pada Hari Kebalikan, Squidward benar-benar melakukan segala sesuatu di luar kebiasaannya. Pagi-pagi, Squidward sudah berbuat gaduh dengan genderang dan klarinetnya. Ia yang sering mengurung diri di rumah mendadak menjadi periang dan tak segan menyapa orang. Hari Kebalikan buatan Squidward sukses membuat Spongebob dan Patrick urung menjahilinya alih-alih berdiam diri di rumah masing-masing. Squidward merasa kehidupannya telah berubah menjadi lebih baik.

Di dunia nyata, tentu saja kita tidak bisa menerapkan gagasan Hari Kebalikan untuk menghentikan ulah tetangga yang menjengkelkan. Bahkan Hari Kebalikan itu sendiri memang tidak pernah ada. Tapi kita bisa memanfaatkan prinsip Hari Kebalikan untuk hal-hal yang positif seperti mengatasi kejenuhan saat bekerja.

Ya, semua orang pasti mengalami kejenuhan saat menjalani rutinitasnya. Dalam taraf tertentu, kejenuhan dapat menyebabkan motivasi dan produktivitas kerja kita menurun. Dale Carnegie mengungkapkan bahwa kebosanan termasuk salah satu faktor penyebab hasil kerja menurun di samping faktor-faktor psikologis lain seperti rasa sentimen, perasaan tidak dihargai, perasaan sia-sia, rasa diburu-buru, gugup, dan kecemasan. Di sisi lain, jika kita menyikapi kejenuhan itu dengan mengambil cuti kerja, jalan-jalan di pegunungan atau travelling ke luar kota, maka betapa banyak waktu dan biaya yang akan kita habiskan?

Alih-alih kita bisa meniru cara Squidward dengan menciptakan “Hari Kebalikan” versi kita sendiri untuk melawan rasa jenuh. Sebagai contoh, jika kita terbiasa bangun ‘mepet’ sehingga terburu-buru masuk kerja, di Hari Kebalikan kita akan bangun lebih pagi dan berangkat kerja lebih awal. Jika kita terbiasa banyak bicara, pada Hari Kebalikan kita bisa mencoba untuk lebih sering diam. Jika kita terbiasa melewati jalan A saat ke kantor, kita bisa beralih ke jalan B di Hari Kebalikan. Begitu seterusnya,

Perubahan-perubahan kecil pada kebiasaan kita dapat membantu mengatasi kejenuhan kerja yang dirasakan. Dengan cara itu, kita akan terlatih untuk selalu kreatif mencari hal-hal baru setiap harinya. Poin pentingnya: cobalah hal yang baru yang tidak biasa kita lakukan atau lakukan yang biasa kita lakukan dengan cara yang baru. Jika kita selalu menjalani rutinitas dengan cara yang sama dan pola pikir yang sama, bagaimana mungkin kita merasakan nikmatnya bekerja?

*   *   *

Sementara itu, di Bikini Bottom, Hari Kebalikan ternyata tidak berakhir bahagia bagi Squidward. Rencananya menjual rumah kandas karena Spongebob dan Patrick kembali berulah. Dua sejoli itu keliru menafsirkan Hari Kebalikan. Spongebob dan Patrick malah berpikir jika mereka harus “berubah-menjadi-Squidward” pada Hari Kebalikan. Mereka pun mempermak wajah mereka—menambahkan hidung besar khas Squidward—dan mulai bertingkah seperti seorang Squidward. Sialnya, petugas properti keburu datang tepat sebelum Squidward berhasil mengusir Spongebob dan Patrick dari rumahnya. Tak pelak, petugas properti turut menjadi korban kejahilan Spongebob dan Patrick. Rumah Squidward pun urung terjual. Ketika Hari Kebalikan berakhir, Squidward harus menerima kenyataan—tetap hidup bertetangga bersama kejahilan Spongebob dan Patrick.

Monday, 29 June 2015

Mahasiswa Salah Jurusan


Sungguh merugi orang yang menyesali masa lalunya yang tidak mungkin kembali dan mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi, hingga ia menyia-nyiakan 
penghidupannya hari ini.
(Hatake Niwa)

Memilih jurusan kuliah bukanlah perkara sepele. Betapa banyak mahasiswa yang setelah diterima di perguruan tinggi malah kecele—menyadari dirinya telah salah memilih jurusan. Akibatnya para mahasiswa yang salah jurusan menjadi kumpulan pesakitan di kampus. Kuliah tidak serius, skripsi terbengkalai, IPK mengkhawatirkan, hingga terancam kena drop out (DO) dari kampusnya.

Bagi mereka yang punya dana melimpah, bisa saja mereka pindah jurusan begitu pendaftaran mahasiswa baru dibuka kembali. Uang masuk puluhan juta yang kadung dibayarkan tak menjadi soal, yang penting bisa pindah jurusan sesuai passion yang diminati. Tapi bagaimana dengan mereka yang kadung salah jurusan tapi tidak memiliki pilihan lain selain menyelesaikan studi di jurusannya yang salah?

Sewaktu saya kuliah, beberapa teman saya sering nyeletuk telah salah memilih jurusan. Mereka tidak bahagia di jurusan yang diambilnya. Sebagian besar karena prospek jurusan yang dinilai tidak cukup bagus untuk mendapat pekerjaan yang layak. Maklum, jurusan saya adalah jurusan pendidikan yang prospek profesinya adalah menjadi tenaga pengajar (guru/dosen). Bukan rahasia lagi jika selama ini gaji guru tidak menjanjikan (kecuali guru yang sudah menjadi PNS dan mendapat sertifikasi beserta tunjangan-tunjangannya).

Bandingkan dengan jurusan-jurusan lain semisal jurusan berlatar kesehatan (perawat, bidan, dokter). Lowongan bagi jurusan-jurusan tadi cukup banyak, sehingga ketika masa studi berakhir lulusan dari jurusan tadi dapat segera terserap lapangan kerja dengan penghasilan yang lumayan (untuk ukuran fresh graduated).

Pertanyaan saya, kalau mereka tahu prospek jurusan pendidikan seperti itu, kenapa tidak segera pindah jurusan saja?

Saya yakin ada ribuan mahasiswa lain yang mengalami nasib serupa—menyesal telah salah memilih jurusan. Sebagian menyesali pilihannya begitu kuliah dijalani. Sebagian lagi menyesal ketika dirinya sudah lulus. Mereka pun terjebak pada penyesalan klise, “Seandainya dulu saya tidak kuliah di jurusan ini, pasti nasib saya lebih baik…”

Penyesalan memang selalu datang belakangan, tidak mungkin penyesalan hadir sebelum suatu peristiwa terjadi. Yang sudah terjadi biarkan terjadi. Keputusan sudah kita ambil. Di antara sekian pilihan, kita sudah memutuskan untuk memilih salah satunya yang kita anggap paling baik. Ketika kita memilih jurusan A, kita pasti sudah mempertimbangkannya masak-masak kenapa kita memilih jurusan itu—kecuali kalau kuliahnya sekedar untuk mencari titel sarjana. Karena pilihan yang kita ambil sudah didasarkan pertimbangan matang, kita pun harus konsekuen dengan segala resikonya. Menyalah-nyalahkan diri sendiri atau merutuk pilihan kita yang telah lalu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Mahasiswa yang merasa salah jurusan harus tetap mengedepankan rasionalitasnya.

"Manusia tidak bisa pergi melintasi dimensi waktu. Kita hanya bisa bergerak mengikuti dinamika waktu itu sendiri yang bergerak sangat cepat."

Kalau mau jujur, orang yang bisa kuliah itu seharusnya bersyukur. Ada jutaan pelajar yang belum bisa mengenyam bangku perguruan tinggi. Giliran kita yang sudah menjadi mahasiswa malah ribut memikirkan jurusan yang salah pilih. Pikirkan pula bagaimana kedua orangtua kita yang telah bersusah payah membiayai kuliah dengan harapan anak kebanggaannya dapat meraih penghidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Karena itu, saya sangat menyarankan terutama pada adik-adik calon mahasiswa. Pertimbangkan masak-masak jurusan apa yang ingin dipilih. Kenali passion kalian. Dan yang paling penting, jangan cuma ikut-ikutan teman. Dunia kuliah tidak sama dengan dunia sekolah. Kuliah menuntut kemandirian kalian dalam belajar dan belajar membuat keputusan. Nasib kalian ketika kuliah ditentukan oleh pilihan-pilihan yang kalian ambil. Maka berhati-hatilah dalam membuat keputusan.

Bagi kalian yang saat ini sedang menjalani kuliah dan merasa salah jurusan, saya sarankan untuk mempertimbangkan pilihan pindah jurusan (dengan catatan kondisi finansial dan dukungan orangtua memungkinkan). Jika tidak, maka ikhlaslah menjalani kuliah di jurusan itu. Suka atau tidak, pilihan yang tersisa tinggal menjalani kuliah di sana daripada DO (mubazir kan uang yang sudah dibayarkan). Ikuti berbagai kegiatan lain di luar kuliah yang sesuai dengan passion kalian. Dengan begitu setidaknya kalian tetap mendapat pengalaman baru di bidang yang sesuai passion kalian meski bukan dari ruang kuliah.

Dan bagi kalian yang menyesal ketika sudah lulus, maka belajarlah untuk ikhlas dan jangan pernah menyalahkan nasib. Keputusan sudah diambil. Nasib hari ini adalah buah dari keputusan yang kita tanam kemarin. Jangan terlalu terpengaruh oleh orang-orang yang rewel menanyakan: “Kenapa kemarin nggak kuliah di jurusan ini saja…?” Tidak ada gunanya meladeni pertanyaan mereka yang klise yang boleh jadi malah akan menambah penyesalan kita. Lebih baik segera mencari jalan keluar agar hidup kalian tetap survive meski salah jurusan. Jika memungkinkan tidak ada salahnya untuk mendaftar kuliah lagi di jurusan yang sesuai dengan minat kalian. Itu pun kalau urusan finansial tidak bermasalah dan kalian siap menghabiskan bertahun-tahun lagi di bangku kuliah.

Yang jelas pertimbangkanlah setiap pilihan yang kalian ambil dengan kepala dingin. Bijaklah memikirkan semua kemungkinan, peluang, dan resiko dari setiap pilihan. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. Dan berhentilah menyesali keputusan di masa lalu yang boleh jadi tidak mengenakkanmu. Masa lalu tidak akan berubah dan masa depan kita belum ditulis. Karena kita hidup di hari ini, bukan hari kemarin, bukan juga esok. Maka berikanlah yang terbaik darimu untuk hari ini.

Sunday, 28 June 2015

Untuk Hidup Kita Butuh Konsistensi

Kita tidak tahu pada usaha ke berapa usaha kita akan berhasil.
Kita juga tidak tahu doa ke berapa yang akan Tuhan kabulkan.
Satu hal yang bisa kita lakukan—memperbanyaknya.
(Anonim)

Setetes air memang tidak akan membuat perubahan berarti pada batu yang jauh lebih keras karena kerapatan molekulnya. Tapi ketika tetesan air semakin banyak dan terjadi dalam kurun waktu puluhan tahun, batu akan mengalami pengikisan. Pada akhirnya, konsistensi air yang menetes berhasil membuat lubang pada batu itu.

Sama halnya ketika kita ingin memecah batu. Pukulan palu pertama boleh jadi tidak berhasil. Kita pun memberikan pukulan kedua, ketiga, keempat, sampai akhirnya batu itu berhasil kita pecahkan. Kita berhasil karena konsistensi kita memukulkan palu. Tapi pertanyaannya, apakah kita bisa memastikan, pada pukulan ke berapa batu itu akan pecah?

Setiap orang tidak tahu tentang masa depannya. Seakan-akan Tuhan merahasiakan masa depan kita agar setiap diri lebih mengutamakan usaha. Kita juga tidak tahu pasti berapa hasil yang kita peroleh. Kita bisa saja membuat rencana—misal rencana bisnis—sampai mengkalkulasikan prospek laba sekian-sekian. Tapi kita tidak tahu pasti seperti apa prospek laba itu menjadi kenyataan. Begitu pula dengan orangtua yang bersusah payah membesarkan anaknya, menyekolahkannya tinggi-tinggi dan memberi bekal terbaik untuk masa depan si anak. Orangtua tidak bisa menggaransi kapan waktunya si anak akan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, meraih sukses dan hidup berkecukupan. Justru konsistensi usaha-lah yang menjadi kepastian itu sendiri.

"Orang-orang yang konsisten pada kerja keras tentu lebih mudah untuk sukses daripada mereka yang konsisten pada kemalasan."

Tetangga saya—sebut saja Pak Agus (bukan nama sebenarnya)—juga menerapkan prinsip konsistensi. Warung Pak Agus bisa dibilang warung modern pertama di desa saya. Pelayanannya ramah dan selalu menyediakan ruang khusus untuk mainan anak-anak secara lengkap. Sejak saya TK hingga sekarang lulus kuliah, warung Pak Agus masih tetap eksis dengan ruang khusus mainan anak-anak yang ikonik. Warung Pak Agus pun menjadi salah satu referensi utama bagi anak-anak yang ingin membeli mainan di desa saya. Munculnya warung baru dengan konsep swalayan lengkap dan murah di desa saya, memang berhasil membuat satu dua warung gulung tikar. Tapi tidak halnya dengan warung Pak Agus yang tetap konsisten beroperasi di tengah mencuatnya pesaing-pesaing baru.

Di tempat lain akan lebih sering kita jumpai orang-orang yang konsisten pada profesinya. Boleh jadi mereka adalah mamang tukang sayur yang setiap pagi mendorong gerobak sayurnya berkeliling komplek. Atau guru honorer yang konsisten mengajar meski gajinya tidak seberapa. Atau buruh tani yang senantiasa bekerja keras menggarap sawah tanpa pernah tahu pasti berapa benih padi yang akan berhasil dipanennya kelak. Penghasilan mereka memang tidak bisa dibandingkan dengan profesi lain yang lebih menjanjikan seperti dokter, PNS, atau polisi. Tapi konsistensi mereka pada usahanya menyentil kehidupan kita yang ‘lembek’ dan terlalu royal mengeluhkan sedikitnya hasil.

Segala kemudahan dan kecanggihan teknologi yang kita miliki membuat kita malas. Kita tak lagi menghargai kerja keras dan menginginkan segala sesuatu yang serba instan. Perlahan etos kerja kita menurun. Kita lebih sensitif meributkan sedikitnya gaji daripada memikirkan kualitas kerja kita selama ini. Tanpa sadar kita menjadi manusia-manusia yang lebih mementingkan hasil,daripada proses.

Sebaliknya, prinsip konsistensi melekat pada proses, bukan hasil. Betapa tidak tahu dirinya jika kita mengharap hasil yang konsisten tanpa menerapkan usaha yang konsisten pula. Jangan suka meremehkan usaha orang lain yang tampak kecil karena siapa tahu Tuhan akan mengganjar mereka dengan kesuksesan di masa depan. Lagipula bagaimana mungkin kita bisa menjalani hidup ini jika kita terlalu banyak mengeluh dan terlalu mudah menyerah pada kegagalan? Karena untuk hidup, kita memerlukan konsistensi dalam berusaha, tak peduli kapan usaha itu akan membuahkan hasil.

Apakah Biil Gates pernah berpikir untuk menjadi manusia terkaya ketika memulai usahanya di bilik garasi rumahnya? Pun dengan almarhum Bob Sadino—apakah dia tahu bisnis Kemchicks yang dimulainya dengan door to door akan menjadi sesukses sekarang? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu, mereka telah membuat rencana. Mereka telah mencoba segala sumber daya yang dimiliki. Dan mereka telah melakukan usaha terbaik secara konsisten setelah berulang kali menemui kegagalan. Dan lihatlah prestasi apa yang telah Tuhan beri pada mereka sejauh ini. Karena pada prinsipnya, tidak mungkin Tuhan akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu yang berusaha mengubah nasibnya sendiri. Tak tertolak!

Wednesday, 17 June 2015

Tips Agar Skripsi Cepat Selesai

Semenit yang kau gunakan untuk mengeluh adalah
semenit yang seharusnya kau gunakan untuk berupaya.
(Mario Teguh)

Ujian adalah keniscayaan hidup. Di mana pun tempatnya, ujian adalah sarana untuk mengetahui sejauh mana kepantasan seseorang untuk naik ke level pendidikan berikutnya. Jika di kalangan siswa sekolah dasar hingga menengah ada ujian nasional (UN), maka di kalangan mahasiswa ada skripsi.

Sudah terlalu banyak cerita ngenes di buku-buku harian, media sosial, blog, gara-gara skripsi yang tak kunjung kelar. Karena itu tulisan ini tidak bermaksud menambah kadar kengenesan kalian yang mungkin saat ini sedang berkutat dengan skripsi. Saya hanya ingin menshare pengalaman saya yang juga menjadi korban ‘skripsi karet.’

Saya menyebutnya begitu karena gara-gara skripsi, masa studi saya yang seharusnya cukup 4 tahun, molor sampai 4 bulan berikutnya. Ya, masih mending molornya 4 bulan. Ada yang molornya hingga satu, dua, bahkan tiga tahun berikutnya (itu kuliah ato mau kredit rumah?).

Well, ibarat dokter yang ingin melakukan operasi, maka dia harus tahu dulu tentang anatomi tubuh manusia. Skripsi pun tak jauh berbeda dengannya. Sebelum membahas tips menangani skripsi agar cepat selesai, penting untuk mengetahui hal-hal yang mempengaruhi kelancaran skripsi.

Adapun beberapa tips yang bisa saya berikan agar skripsi cepat selesai yaitu:

1.Kerjakan!
Tidak ada nasihat yang lebih baik untuk mempercepat penyelesaian skripsi selain “KERJAKAN sekarang juga!” Skripsi itu bisa selesai jika dan hanya jika kita kerjakan. Tidak ada jalan lain. Agar lebih mudah, pengerjaan skripsi harus dicicil per bab dengan tenggat waktu tertentu. Dan jangan lupa untuk terus bersabar menghadapi coretan merah dosen pembimbing yang ‘kalap’.

2.Baca lagi Poin Satu!
Ini serius. Baca lagi poin nomor satu. Tak cuma dibaca, tapi juga dipatuhi. Betapa banyak mahasiswa semester akhir yang sadar harus segera menyelesaikan skripsi, tapi sikapnya mengalah pada kemalasan? Ingat, semenit menunda skripsi = sehari menunda wisuda! “Kerjakan—SEKARANG JUGA!!!”

3.Kejarlah Dosbing, Skripsi-Ku-Garap
Jangan biasakan bersikap lembek pada dosbing. Jangan cuma menjawab nggih, njih, ya, paham, atau baik Pak. Kita harus berani menyampaikan inisiatif perbaikan. “Kalau saya tulis begini bagaimana, Pak? Kalau saya buat begitu bagaimana?” Dosen akan menghargai mahasiswa seperti itu. Kuatlah terhadap kritik, saran, bahkan cercaan dosbing. Anggaplah mentalmu sedang dilatih agar sast sidang tidak kelabakan.

4.Bersekutulah
Tidak ada salahnya jika kita bertanya pada kakak tingkat yang sudah lebih dulu lulus. Pengalaman mereka saat mengerjakan skripsi sangat penting. Apalagi jika jenis penelitian atau dosbingnya sama. Kita bisa mengorek banyak hal dari kakak tingkat—termasuk meminjam buku-buku referensi yang dipakainya. Selain dengan kakak tingkat, bersekutulah dengan teman sekelas/sejurusan. Ajak teman untuk mengerjakan skripsi bersama-sama. Tapi pastikan fokus kita tetap pada pengerjaan skripsi, tidak beralih menjadi kesibukan ngerumpi bersama teman kita.

5.Rajin BackUp
Mem-backup data skripsi itu penting. Gunakan berbagai media penyimpanan untuk membackup data. Jangan menyimpan file skripsi di satu harddisk, simpanlah di partisi hardisk yang lain (yang jelas jangan sekali-kali menyimpan di drive C). Gunakan pula media penyimpanan yang bersifat eksternal seperti flashdisk atau aplikasi Google Drive. Intinya, gunakan segala media penyimpanan untuk membackup data. Lebih-lebih data yang memuat hasil penelitian. Jangan malas membackup datamu! Kehilangan di luar tanggung jawab dosen pembimbing.

Itu saja 5 tips sederhana untuk mempercepat pengerjaan skripsi. Tips-tips lainnya bisa menyusul karena saya agak illfeel kalau blog ini mengekor On The Sp*t yang konsisten dengan tujuh fakta uniknya. Dan sekali lagi, ini hanya didasarkan pada pengalaman saya dulu semasa kuliah, Jangan digeneralisasikan sebagai hujjah yang boleh jadi bisa menyesatkan mahasiswa lain. Sekian dan semoga skripsi kita dilancarkan. Aamiin

Hal-Hal yang Bisa Menentukan Kelancaran Skripsi (2)

*Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya (bisa dibaca di sini)

. . .

4. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tidak kalah pentingnya karena dari merekalah data diperoleh. Usahakan subjek penelitian (responden) kita bisa diajak kerjasama, bersikap proaktif, jujur, dan tidak memasang tarif (yang terakhir ini demi kebaikan isi dompet kita). Bersekutulah dengan setan kakak tingkat tentang daerah penghasil responden terbaik sesuai dengan jenis penelitian kita.

5. Teman Satu Jenis Penelitian
Berbahagialah jika kita memiliki teman yang sama jenis penelitian/dosbingnya. Teman kita bisa diajak sharing, bertanya, dan bahu-membahu mengerjakan skripsi. Selain itu selama menjalani bimbingan kita tidak akan sendirian dengan adanya teman kita. Semua bisa terealisasi asalkan teman kita tidak keburu lulus duluan.

6. Perizinan ’Bermasalah’
Harus diakui birokrasi di negara ini sering mempersulit urusan. Ada yang bilang kalau nggak pake pelicin, nggak bakal diurus. Tapi tidak penting mengeluhkan birokrasi yang ada. Berprasangka baiklah bahwa masih banyak pegawai amanah yang tidak tergoda dengan pelicin. Buatlah jadwal untuk mengurus administrasi dan perizinan jauh-jauh hari sebelumnya agar tidak berlarut-larut. Nasihat bijaknya: “Jangan menunda urusan perizinan yang bisa kau kerjakan hari ini karena kau tidak pernah tahu kapan urusan perizinan itu terselesaikan esok.

7. Mahasiswa Itu Sendiri
Faktor terakhir yang menentukan kelancaran skripsi adalah diri kita sendiri. Kita adalah ‘motor’-nya skripsi. Segala keputusan berada di tangan kita. Dosen pembimbing, buku, teman-teman, dan warung makan hanya fasilitas pendukung. Sehebat apapun fasilitas pendukungnya, jika kita malas maka tidak akana ada artinya. Tak perlu banyak keluh kesah. Jalani saja. Biasakan berkaca pada diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.

Itu tadi ketujuh faktor yang bisa menjadi penentu kelancaran skripsi (berasa nyimak On The Sp*t). Setelah tahu faktor-faktor yang menentukan kelancaran skripsi, apa yang harus dilakukan agar skripsi cepat selesai? Artikelnya bisa dibaca di sini (Tips Agar Skripsi Cepat Selesai).

Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk para mahasiswa semester akhir yang masih berjuang dengan skripsinya di mana pun kalian berada. Silahkan jika ada yang mau menambahkan faktor yang lainnya. Share please.

Hal-Hal yang Bisa Menentukan Kelancaran Skripsi (1)

Aku perlu tahu musuh seperti apa yang kuhadapi agar aku bisa mencari tahu
bagaimana cara mengalahkannya sebelum dia mengalahkanku…
(Hatake Niwa)

*Penting diketahui bahwa tulisan ini tidak bermaksud memberikan pendangan ilmiah. Semua murni hasil interpretasi dan pengalaman penulis (saya) sendiri saat berkutat dengan skripsi. Karenanya, jangan sampai tulisan saya ini ditelan bulat-bulat tanpa disaring dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Jangan pula dicomot untuk menambah daftar pustaka karena blog adalah referensi paling rendah dalam strata kesahihannya. Ambil positifnya, buang negatifnya. Simpel.

Seorang dokter yang ingin melakukan operasi tentu harus belajar tentang anatomi tubuh manusia terlebih dahulu. Begitu pula Seorang arsitek yang ingin membuat bangunan pencakar langit, harus memiliki banyak data tentang profil tanah dan lokasi tempat bangunan yang akan dibangunnya.  Tujuannya sama, agar dokter dan arsitek dapat membuat rencana terbaik demi keberhasilan pekerjaannya.

Dalam menghadapi tugas akhir skripsi, mahasiswa semester akhir pun begitu (agar lebih mudah saya akan memakai sudut pandang ‘kita’).

Mengerjakan skripsi tidak sama dengan membangun candi semalam jadi. Perencanaan yang matang dan usaha keras yang konsisten dapat menjadi katalisator yang mempercepat penyelesaian skripsi. Seperti halnya dokter dan arsitek di atas, kita pun membutuhkan rencana matang agar skripsi kita tidak menjadi biang penunda  haid  hari wisuda kita.

Setidaknya ada 7 hal/faktor yang bisa menjadi penentu kelancaran skripsi. Kelima faktor itu yaitu:

1. Dosen Pembimbing
Memahami karakteristik dosen pembimbing (dosbing) adalah keharusan. Cari tahu jadwal kerjanya, jam berapa beliau ngantor, bagaimana cara menemuinya, tipikal bimbingannya bagimana, perfeksionis atau iso diajak santai, dan yang terpenting jenis penelitian apa yang disukainya. Bukan berarti kita harus mengkepo dosen pembimbing (dosbing) hingga menyadap smartphone-nya. Tak perlu sejauh itu. Cukup mengkepo hal-hal yang terkait langsung dengan skripsi. Dalam hal ini, ada baiknya kita bersekutu dengan kakak angkatan yang sudah lebih dulu mengenal dosbing. Semakin banyak informasi yang kita tahu tentang dosbing kita, semakin siap kita menghadapi berbagai ‘bencana mental’ selama mengerjakan skripsi kelak.

2. Jenis Penelitian
Di poin 1 sudah disebutkan penting utuk mengorek informasi tentang jenis penelitian apa yang disukai dosbing. Buat apa? Masing-masing dosbing memiliki idealisme yang berbeda. Dosen yang satu sangat mungkin berbeda dengan dosen lainnya. Jika kita mengajukan jenis/judul penelitian yang disukai dosbing, kita akan lebih mudah mendapat support darinya. Ini modal penting kita saat menghadapi sidang nanti. Dosbing kita bisa berperan menjadi ‘pengacara’ ketika argumen kita mengalami kebuntuan. Alih-alih jika kita ‘ngeyel’ memakai jenis penelitian yang tidak direstui dosbing. Sudah dikasih tahu penelitian kita bermasalah, kita malah kepala batu. Alhasil skripsi ditelantarkan, saat sidang dosbing memilih pasang badan. Salah siapa?

3. Ketersediaan Referensi
Pastikan judul skripsi yang kita pilih memiliki referensi yang cukup. Referensi ini bisa berupa buku ataupun contoh-contoh skripsi kakak kelas. Hati-hati dengan skripsi yang belum jelas ketersediaan referensinya. Boleh jadi judul skripsi kita keren, original, belum pernah dibuat mahasiswa lain sebelumnya—tapi giliran ditanya referensi malah kelabakan. Sadar diri-lah dengan kemampuan kita. Jika kita merasa punya cukup amunisi referensi dan otak yang encer, take it. Tapi jika kita mahasiswa kupu-kupu yang asing dengan perpustakaan, bermain aman bukanlah dosa. Tak usah sungkan jika ingin ganti judul. Daripada permasalahan referensi mengakibatkan sembelit di kemudian hari. Ini serius. Beberapa teman saya terkendala referensi hingga beberapa kali ganti judul. Putuskan di awal, agar tidak menyesal belakangan.
.
.
.
lanjut ke sini

Tuesday, 9 June 2015

Ketika Menulis Terasa Berat

Menulsilah seakan kamu sedang berbicara. Maka kamu tidak akan kesulitan menulis. Seringkali ketika kamu menulis, maka yang terpikirkan adalah apakah tulisanku bagus. Ataukah tulisanku jelek? Takut kena kritik. Takut kena semprot orang-orang yang mungkin tersinggung dengan tulisan kita.

Tak apa, semua adalah proses belajar. Karena itu agar kita lebih enjoy dalam menulis, mulaihlah dengan menulis apa yang seharusnya orang baca, bukan apa yang ingin orang baca. Menulislah dengan keyakinan bahwa “tulisanku berharga”. Menulislah dengan keyakiann bahwa apa yang kita tulis akan membawa kebaikan yang lebih besar.

Maka ketika ada yang mengatkan bahwa menulis itu sulit, maka sudah semestinya ia bercermin kembali untuk apakah dia menulis. Jika rumusan tujuannya saja tidak jelas, cari popularitas instan, ya wajar saja kalau menulis menjadi serba sulit dan berat memulainya.

Sebagai penutup di notes singkat ini, beranilah menulis. Karena ketika kita berpikir, maka sebaiknya kita menulis.

- self reminder -

Monday, 25 May 2015

3 Alasan yang Membuat Film Superhero Menarik untuk Ditonton

Maaf kalau judulnya terlalu mengintimidasi. Ini murni soal selera. Jadi jangan hakimi saya bila saya terlalu jujur mengatakan film The Avengers itu biasa-biasa saja. Temanya masih seputar Sisi Baik vs Sisi Jahat. Endingnya Sisi Baik bersatu kemudian mengalahkan Sisi Jahat. Sisi jahat yang tidak tuntas dikalahkan, kemudian membangun kekuatan baru untuk menjadi villain di sekuel berikutnya. Demikian seterusnya.

Menurut opini saya pribadi, sebuah film superhero akan menjadi lebih berkesan apabila memenuhi 5 kriteria seperti yang saya paparkan di bawah ini:


1. Ikonik
Iron Man=Robert Downey Jr;
Captain America=Luke Evans;
Spiderman=Tobey McGuire;
Wolverine=Hugh Jackman.
Hampir semua tokoh superhero yang tidak mengalami pergantian pemeran lebih mendapat tempat di hati penontonnya. Karena memang aktor superhero harus memiliki cukup wibawa dan konsistensi untuk memerankan superhero tersebut. Apa jadinya bila pemeran Iron Man bukan Robert Downey? Gayanya yang genius tapi slengekan boleh jadi hanya bisa diemban olehnya. Berganti aktor adalah pilihan yang buruk jika sekuel Iron Man 4 jadi dibuat.
Masih ingat  Ksatria Baja Hitam? Bagi anak-anak era 90-an, ksatria baja hitam selalu diidentikkan dengan Kotaro Minami. Sekalipun ksatria baja hitam (atau yang biasa disebut Kamen Rider) sudah berganti-ganti versi, dari Kuuga, Den-O, sampai Kiva, Kotaro Minami tetaplah aktor terbaik sebagai pemeran Kamen Rider.

2. Dramatic
Film superhero yang melulu mengusung tema kebaikan vs kejahatan sangat membosankan. Dibutuhkan sentuhan drama di dalam film superhero untuk mempermanis sajian ceritanya. Karena alasan ini pula saya lebih menyukai Spiderman versi Sam Raimi daripada The Amazing Spiderman. Balutan drama dalam trilogi Spiderman-nya Sam Raimi jauh lebih mengena dan memorable dibanding The Amazing Spiderman. Jalinan konflik jati diri yang dialami Spiderman, cinta segitiga, hingga kesalahpahaman yang terjadi antar tokoh membuat Spiderman versi Sam Raimi lebih dari sekedar film superhero.
Film X-Men pun demikian. Terlepas dari jatuh bangunnya sekuel filmnya, isu rasial antara manusia vs mutan yang diusung film ini layak diacungi jempol. Konflik yang terjadi tidak melulu mengikuti pakem manusia vs makhluk luar angkasa, tapi justru dengan sesama manusia yang memiliki ‘kelainan’ sebagai mutan.

3. Plot yang tidak terduga
Seperti yang saya bahas di atas, pakem cerita Baik vs Jahat di mana yang baik selalu menang akan terasa sangat membosankan bila tidak dibumbui konflik lain yang membuat jalinan cerita lebih kompleks. Saya cenderung menyukai film yang plot-nya mengajak penonton untuk berpikir sepanjang jalan cerita. Kemudian jawaban atas semua konflik terjawab di pertengahan sampai akhir film. Meskipun endingnya tokoh protagonis yang menang, tapi proses untuk sampai memenangkan si tokoh protagonis harus dilakukan dengan elegan dan penuh gaya khas karakter superhero tersebut.

Sekali lagi ini murni soal selera. Saya bukan seorang movie addict yang setiap ada rame-rame film terntentu saya ikut-ikutan nonton. Tapi berhubung selama beberapa tahun mendatang film-film superhero akan membanjiri bioskop, saya merasa perlu untuk menuliskan uneg-uneg saya terkait hal tersebut. Akhir kata, selamat menikmati sajian film superhero berikutnya beserta sekuel-sekuelnya. Saya sih masih setia menunggu sekuel X-Men dan Iron Man (cuma 2 itu yang masuk waitting list saya dari film bergenre superhero).

Monday, 28 July 2014

Menulislah untuk Menyebar Kebaikan pada Sesama

Seringkali bagi para penulis pemula seperti saya bertanya-tanya “Mau nulis apa???” Wajar saja kalau anda bingung. Saya pun begitu. Tapi hendaknya jangan sampai kebingungan kita justru menjadi penghambat langkah kita unutk bisa menulis secara konsisten. Saya kutip saran dari salah satu penulis, novelis favorit saya bernama pena Darwis Tere Liye:

Menulislah apa yang harus dibaca orang, bukan apa yang disukai orang.

Yup, menulis apa yang harus dibaca orang. Ini tentu saja menarik karena belum tentu apa yang harus dibaca orang lain otomatis akan disukai. Kadang-kadang suatu kebenaran akan tampak pahit bagi orang-orang yang meyangkal kebenaran itu. Tapi itulah

Wednesday, 29 January 2014

Tips Mengatasi Galau #3


Semakin tidak menentu perasaan ini berarti makin galau lah kita. Ya, booming galau udah bikin banyak orang kecipratan perasaan nggak menentu yang nggak mengenakkan ini. Tapi anehnya karena banyak orang yang galau, dari sekian banyak itu nggak banyak yang nyadar dan pengen mentas alias keluar dari kungkungan perasaan galau yang jelas-jelas nggak nyaman itu. Banyak orang yang justru menikmati rasa galau demi sesuatu yang aneh dan tak pasti, yaitu perasaan bodohnya sendiri.

Menurutku perasaan ini juga kayak otak, bisa pinter, bisa juga bodoh. Pinter kalo lagi tenang, bodoh kalo lagi semrawut atau pas galau tadi. Ya begitulah realitanya. Tanyakan pada diri Anda sendiri karena hanya Anda yang paling tahu perasaan sendiri. Bukankah galau justru menyiksa kalo dibiarin? Perasaan kayak gitu kok dipelihara, padahal udah tahu rasanya nggak ngenakin banget. Bukane blo’on kalo kayak gitu caranya?

Oke lah aku elu semua orang di dunia ini pernah galau. Tapi kecerdasan emosional masing-masing orang lah yang bisa membuat rasa galau menjadi ringan, tak membebani dan segera hilang. Sayangnya menghilangkan galau nggak gampang. Maklum, semakin banyak orang di dunia ini yang galau. Kalo dipersen, dari 7 milyar ekor manusia di bumi ini yang galaunya hilang mungkin cuma 3,66943965397% (perhitungan ngawur).

Galau itu energi negatif, makanya alihkan saja energi negatif itu menjadi energi positif. Ingat, energi nggak bisa dimusnahkan tapi bisa dialihkan. Caranya ya dengan mengisi hari-hari ente semua dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat. Kalo seharian cuma nongkrongin HP, nunggu SMS pacar misalnya, apalagi sambil denger lagu-lagu mellow, uda pasti gampang kena galau. Ada baiknya jangan sendirian. Gue sendiri udah berkali-kali nyoba kalo lagi sendiri bawaannya galau lebih kuat. Ni semua cuma teori, gue sendiri juga nggak mesti bisa menerapkan teori ini. Praktek emang selalu lebih susah. Tapi nggak ada salahnya mencoba menjadi lebih baik daripada nggak sama sekali. Jadi, katakan  pada dirimu sendiri, “Galau? ngGAk LAh yaUuuu...!” (hahahaaaa....lebay kuadrat!!!!!!!!)

Tips Mengatasi Galau #2


Kalo diputus pacar gimana perasaanmu? Kalo ditinggal pacar selingkuh gimana perasaannmu? Kalo seharian nggak di-SMS pacarmu gimana perasaannmu? Nggak usah jauh-jauh, lihat aja status-nya. Mungkin saja tinggal update jadi “GALAU.” Yah...galau lagi, galau lagi. Perasaan nggak menentu yang bikin penderitanya stres bin depresi. Terus gimana kalo udah kena virus galau?

Galau dan cinta menurutku erat banget kaitannya. Apalagi buat yang cintanya pake tambahan bumbu pacaran alias ikatan kovalen antara cowok-cewek tanpa status yang sah karena belum memiliki persetujuan legal hitam di atas putih dari ortu maupun Depag (departemen agama) setempat (haha...definisi pacaran yang aneh). Nah, berawal dari ketidaklegalan itulah yang justru mengundang banyak masalah dalam pacaran, seperti galau tadi. Cinta yang diutarakan pada seseorang menjadikan perasaan ingin memiliki yang entah gimana asalnya nggak terbendung lagi. Pokoknya gue mau kamu, i want u because i need u. Bah... sshiiit, bullshit!!!

Ungkapan lebay seorang pacar lebih bisa bikin galau cepet mampir. Misal setiap hari ente diSMS pacar, bahkan mungkin setiap jam bahkan menit pun do’i tetep kasih kabar meski hanya bertanya “Udh mkn blm???” Ketika semua kemesraan, romantisme, dan kenyamanan hubungan tak lagi diperoleh serta munculnya prasangka bahwa do’i udah berubah sikap maka yang terjadi adalah munculnya perasaan galau. Galau karena takut jangan-jangan do’i udah lari ke lain hati, takut jangan-jangan do’i lagi main sama kekasih remang-remangnya, takut jangan-jangan do’i kenapa-kenapa di jalan, takut jangan-jangan do’i udah nggak betah lagi pacaran ama gue, dan masih banyak lagi “jangan-jangan do’i” yang semuanya bikin ente tambah galau. YAKIN!!!

Trus, kalo galau gimana? Yaudah, itu resiko ente yang pacaran. Belajar aja ama yang bisa menjaga perasaan ampe nggak galau meski si do’i udah mulai nggak betah ato mulai nglirik laen hati. Udah deh, sejujurnya ane orang single, (sedang tidak) berpacaran dengan (siapa-siapa). Makanya, jangan tanya gue, tanya orang lain sono. Ada baiknya, jangan lupa ente tanya guru ngaji ente di masjid-masjid ato TPA terdekat. Insya Allah galaunya hilang! (//_n)

Tips Mengatasi Galau #1


Update satatusnya: “GALAU.” Wah,ada apa dengan galau. Perasaaan tak menentu yang selalu menggelayuti hati orang-orang yang sedang dilanda banyak kesesahan. Berarti kalo nggak susah nggak bakal galau. Ya, bisa aja sih. Tapi meski nggak susah tapi hati sedang sedih bisa juga bikin galau. Capeeek deh. Trus mau digimanain tuh “galau-mu”??? mengikuti perasaan yang nggak menentu selamanya? Mau galau sampe tua?

Semakin lama perasaan kita nggak menentu otomatis jalan pikiran kita juga nggak menentu. Akibatnya ya kalo jalan nggak tentu arah, kalo makan nggak tentu (malah nggak nafsu makan mungkin), kalo mandi nggak tentu, kalo tidur juga nggak tentu, semua jadi serba nggak menentu, jadi nggak biasa. Depresi, stres biasa jadi output galau. Kalo udah begitu apa-apa jadi nggak enak. HP ditongkrongin terus berharap ada SMS ato sekedar missed call yang mampir guna mencairkan situasi yang serba nggak menentu itu. Lha kalo nggak dapet SMS ato missed call gimana? HP tetep sepi, kagak ada yang merhatiin.

Yaudah, tidur aja!!! Menurutku sedikit banyak galau itu gara-gara kurang tidur ato pola tidur yang salah. Misalnya karena sering begadang ato tidur kelamaan, bisa bikin badan rentan galau. Maklum pas kurang tidur bisa jadi manusia lebih emosional. Perasaaannya kacau. Galau jadi mudah mampir. Dengerin musik-musik cadas, punk, rock, metal, ampe reggae ato dangdut bisa juga sih mengusir galau tapi mungkin hanya sesaat.

Jadi gimana kalo galau lagi? Wah, seharusnya pertanyaan itu diganti, kenapa tiap kali ente galau ente nggak mau keluar dari kegalauan yang menyiksa itu? Kenapa ente justru membiarkan rasa galau menyelimuti pikiran dan hati? Sejujurnya, bukankah ente justru menikmati kegalauan itu? Nggak sadar apa? Dasar!!! Damn, SHIT!!! Udah galau addict tuh namanya!