Subscribe:

Labels

Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Sunday, 20 March 2016

Melecehkan Lambang Negara, Gundulmu!


.   .   .

Dari kejauhan, seorang pemuda tampak terbirit-birit menuju halaman rumah Pak RT. Pagar rumah yang tak seberapa tinggi dilompatinya. Sejurus kemudian, pemuda itu sudah berteriak memanggil si empunya rumah keras-keras.

“Pak RT, Pak RT…!!!”

Yang diteriaki segera membuka pintu. “Owalah…Trimbil!”

“Gawat Pak RT, gawat!”

“Gawat kenapa? Nggak usah kemrungsung begitu to! Pelan-pelan ngomongnya!”

Pemuda bernama Trimbil itu mencoba mengatur nafasnya. Setelah tenang, ia meneruskan kata-katanya. “Barusan saya jatuh Pak RT.”

“Jatuh? Kamu nabrak orang?” mata Pak RT membelalak.

“Bukan, Pak. Saya barusan jatuhin kaos saya ke jamban,” Trimbil berkata sambil mengacungkan sebuah kaos warna merah dari kresek yang dibawanya.

Ladalah…Jabang bayi!  Kok pesing tenan Mbil!” Dengan refleks, Pak RT menutup hidung.

“Maaf Pak. Soalnya saya takut, keburu dicari Polisi.”

“Lho, memangnya kamu salah apa?” Dahi Pak RT berkerut.

“Pak RT nggak lihat? Di kaos ini ada lambang Garudanya, Pak.” Trimbil menunjukkan lambang Garuda yang dibordir di kaos merah itu.

“Pak RT kan tahu, ‘Garuda’ itu lambang negara. Kalau saya menjatuhkan kaos ini ke jamban, berarti saya telah melecehkan lambang negara dong, Pak. Iya to? Kemarin saya lihat di TV ada artis ditangkap polisi gara-gara melecehkan lambang negara. Katanya diancam hukuman 5 tahun penjara, lho, Pak. Aduh, saya nggak mau dipenjara, Pak. Tolong Pak RT, tolong saya. Sumpah saya nggak sengaja…”

Pak RT menghela napas panjang. “Owalah…Mbil...Trimbil. Apanya yang melecehkan lambang negara? Gundulmu! Mbok berita di TV jangan diikuti mentah-mentah. Kasus kaosmu itu jelas beda.“

“Beda gimana, Pak RT?”

“Lha iya to. Yang namanya kaos jatuh di kamar mandi, itu biasa. Cuma kebetulan di kaosmu itu ada lambang Garudanya. Tapi dalam hal ini, kamu kan tidak sengaja. Beda soal kalau kamu nginjak-injak bendera merah-putih, misalnya, terus rekamannya kamu unggah ke Yutub. Itu baru jadi masalah.”

Trimbil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Memangnya yang artis itu gimana, Pak RT?”

Sambil berkacak pinggang, Pak RT kembali menjelaskan. “Walah…tadi kan sudah saya bilangin, berita di TV jangan kamu telan mentah-mentah. Tidak semua ‘pelecehan’ dianggap melecehkan lambang negara. Anak SD yang keliru mengurutkan sila Pancasila, misalnya, tidak bisa serta merta dianggap melecehkan lambang negara. Lagipula kalau dipikir-pikir, apa untungnya sih melecehkan lambang negara?”

Trimbil menggelengkan kepalanya. “Nggak ada Pak RT. Warga negara yang baik, tentu tidak akan menjadikan atribut negaranya sendiri sebagai bahan bercandaan.”

“Nah, iya to. Buat saya, yang ‘melecehkan’ itu malah orang-orang yang ngaku hapal Pancasila, tapi kelakuannya tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Dia ngaku berketuhanan Yang Maha Esa, tapi ibadah saja jarang-jarang. Katanya paham kemanusiaan yang adil dan beradab, tapi kok tega nilep subsidi orang lain? Waktu kampanye, janji memperjuangkan keadilan sosial. Tapi setelah terpilih, kok ya masih tega melakukan korupsi. Apa nggak melecehkan itu namanya? Saya malah lebih setuju orang-orang semacam itu yang diperkarakan.”

Trimbil manggut-manggut. “Betul juga Pak RT. Saya yang wong cilik ini juga nggak mungkin sengaja melecehkan lambang negara. Lalu saya harus gimana ini, Pak RT?”

Wis kamu pulang saja. Kaose dicuci sampai bersih. Kalau perlu dikasih pewangi biar hilang pesingnya.”

“Saya nggak bakal dicari Polisi to Pak?” Trimbil masih agak ragu.

“Iyo,,,iyo…Ora bakal digoleki Polisi wis. Nyatane kowe yo ora salah. Buruan dicuci kaos. Ora nguwati tenan ambune!

“Hehe…injih, Pak RT.” Trimbil malah nyengir.


*   *   *

Thursday, 25 February 2016

Klinik Mbah Brojol


.   .   .

Klinik itu tak seberapa luas. Bangunannya hanya satu atap. Dinding-dindingnya terbuat dari kayu dan hanya bagian depannya saja yang berlapis semen. Klinik itu tampak lenggang. Sejak tadi sore, tak ada seorang pasien pun yang datang. Mungkin karena mendung, orang-orang malas keluar rumah. Cericit burung prenjak terdengar bersahut-sahutan di kerimbunan pohon waru. Menjadi selingan dalam kelenggangan klinik itu.

Gemuruh halilintar memecah suasana. Seorang pemuda tergopoh-gopoh memasuki halaman klinik yang ditumbuhi rumput kering. Resepsionis klinik memicingkan mata melihat pemuda itu,
“Permisi. Mbah Brojolnya ada?”
“Ya, ada. Beliau sedang tidak ada pasien sekarang. Mas-nya ada keperluan apa? Mau periksa?”
Pemuda itu mengangguk.
“Silahkan masuk saja, Mas. Beliau ada di ruangannya, di ujung lorong, pintu cat merah.”
“Terima kasih.”
Pemuda itu beringsut pergi meninggalkan meja resepsionis. Langkah kakinya gontai menuju ruangan berpintu merah tempat Mbah Brojol berada.

Pemuda itu sedikit kikuk memasuki ruangan Mbah Brojol. Dilihatnya seorang wanita tua sedang duduk menghadap meja kerjanya. Umurnya mungkin sekitar enam puluhan tahun. Rambutnya sudah memutih, meski berusaha ditutupi pewarna rambut.

“Ada apa, Cah Bagus, kok buru-buru?” Mbah Brojol menyapa pemuda itu ramah. Dari sorot matanya, seakan-akan dia sudah tahu maksud kedatangan pemuda itu.

“Saya…saya mau aborsi, Mbah. Saya mau gugurin kandungan saya.”

“Yang mau aborsi itu siapa? Pacarmu? Istrimu? Atau simpananmu?”

“Bukan, Mbah. Saya sendiri yang mau aborsi.”

“Eh…maksudnya?” Mbah Brojol membenahi letak duduknya.

“Saya sendiri, Mbah, yang mau aborsi.” Kata pemuda itu lirih.

“Maaf, Le. Klinik ini tidak menampung pasien gangguan jiwa. Silahkan coba klinik sebelah”

“Saya waras, Mbah.”

Walah!  Kamu itu laki-laki, masak ya minta aborsi. Ada-ada saja.”

“Sungguh, Mbah. Belakangan saya sering mual sampai muntah. Perut saya rasanya kebas. Saya coba belikan test pack dan ternyata hasilnya positif. Tolonglah, Mbah. Ini sudah tak tertahankan lagi.”

Pemuda itu mengeluarkan test pack bertanda positif dari sakunya. Perut pemuda itu memang tampak membesar secara tak wajar. Mbah Brojol terperanjat melihatnya. Entah bagaimana caranya, pemuda di depannya benar-benar hamil. Ia pun berusaha untuk tetap tenang. Segelas Martini  di meja kerjanya diteguknya sampai habis.

“Tolonglah, Mbah. Mengertilah kondisi saya. Saya malu sama keluarga saya. Saya malu sama emak saya. Saya malu, Mbah. Saya masih ingin punya masa depan.” Cowok itu memelas.

“Ya…ya…akan saya bantu semampunya. Kalau boleh tahu, kok bisa sampai meteng itu bagaimana?

“Ini gara-gara pacar saya, Mbah. Dia khilaf semalam. Kami pacaran kebablasan. Tapi, saya juga ndak tahu, tiba-tiba setelah bangun bukannya dia yang hamil tapi malah saya yang hamil.”

Mbah Brojol menghela napas panjang. Gurat wajahnya menyiratkan kebingungan yang teramat sangat. Baru kali ini ia menangani pasien laki-laki yang minta aborsi. Dan anehnya laki-laki itu juga tidak tahu kenapa dia bisa hamil.

“Kamu itu laki-laki, orok-nya nanti mau dikeluarin dari mana? Kan nggak ada jalan keluar.” Mbah Brojol menanyai pemuda di depannya.

“Aduh…Mbah. Tempuh segala caralah. Pakai obat kek, pakai minyak urut kek. Kalau perlu nanas, saya bisa ambil dari kebun Bapak saya, Mbah. Butuh berapa banyak? Kebetulan Bapak saya juragan nanas.”

“Baik, Nanti coba saya urut saja.”

Pemuda itu memasuki sebuah bilik bertirai di ruangan Mbah Brojol. Dia diminta tidur telentang. Sementara Mbah Brojol menumbuk-numbuk sesuatu di belakang, menyiapkan obat untuk pemijatan.

Tak lama kemudian, Mbah Brojol datang bersama seorang pelayannya. Minyak urut, obat, dan segelas air putih diletakkan di sudut ruangan oleh si pelayan. Mbah Brojol pun mulai memijat. Perut pemuda itu diurut-urut.

 “Aduh…Mbah…sakit…” pemuda itu merintih kesakitan.

“Ditahan, Le. Sebentar lagi juga keluar.” Mbah Brojol masih terus memijat dan mengurut perut pemuda itu.

“Arrgh….! Perut saya panas, Mbah.”

Selang beberapa saat, tubuh pemuda itu bergetar. Darah segar mengalir dari kedua pahanya. Pemuda itu mengerang kesakitan. Suaranya memekik memenuhi seisi ruangan. Mbah Brojol dan Si Pelayan kewalahan memegangi tubuh pemuda itu.  Keduanya tampak panik. Pemuda itu pun tak sadarkan diri.

.   .   .

Begitu terbangun, pemuda itu mendapati dirinya di rumah sakit. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengembalikan kesadaran. Dilihatnya ruangan itu penuh sesak dengan orang-orang berpakaian serba putih. Mereka berjalan mondar-mandir penuh kepanikan. Dari kejauhan, tampak seorang lelaki paruh baya mendatanginya.

Plak!!! 

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pemuda itu.

“Saya tidak pernah menyangka kamu setega itu pada Rina.”

“Maksud, Bapak?”

“Kamu ini buta apa!? Rina sedang sekarat sekarang! Dia kehabisan banyak darah saat tiba di sini. Semua ini gara-gara kamu! Kamu nekat menyuruhnya aborsi! Kamu pikir kamu siapa! Bangsat! Kamu yang harus bertanggung jawab sekarang!”

Deg!

Jantung pemuda itu serasa berhenti. Ruangan rumah sakit tampak berputar-putar. Keping-keping ingatannya mulai kembali, dari pergumulannya dengan Rina, isak tangis Rina saat dia hamil, hingga jeritan Rina di klinik itu. Semuanya berkelindan menjadi serangkaian film hitam putih yang tidak terhapus—menetap dalam dimensi perjalanan waktunya.

Tapi…semua ini sudah sangat terlambat. Ya, terlalu terlambat untuk menyesal. Pemuda itu berharap dirinya tidak pernah dilahirkan saja. Dalam kegamangannya, pemuda itu melihat siluet bayangan Mbah Brojol menari-nari di depannya—terkekeh-kekeh menertawakannya dengan bibir melengkung mewujud seringai iblis.


*   *   *

Wednesday, 24 February 2016

Ini Blog Apaan???


.   .   .

Prolog *
Suatu hari, seorang ABG nyasar ke blog saya. Dia mendapati konten blog saya tidak wajar. ABG itu banyak bertanya tentang blog ini. Agar tidak salah paham, saya merasa perlu menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Saya tuliskan di sini untuk kalian yang mungkin juga memiliki pertanyaan yang sama.

*   *   *

1.  Barusan saya blogwalking  terus nemu blog ini. Sebenernya, ini blog apaan?
Singkatnya, genre blog saya ini gado-gado. Ibarat kamu dulu sekolah cuma bawa satu buku. Buku itu kamu pakai nulis pelajaran matematika, fisika, kimia, bahasa, geografi, santet, sampai pertahanan terhadap ilmu hitam. Blog ini juga begitu. Saat saya sedang ‘waras,’ saya akan menulis tentang hal-hal yang bisa menginspirasi orang lain. Jika saya mengalami peristiwa berkesan, saya akan menulis cerita tentangnya. Jika saya sedang mendapat ide dari membaca buku, saya akan menuliskannya juga. Sesimpel itu, tergantung mood.


2.  Bisa Anda ceritakan saat pertama kali membuat blog ini?
Perlu kamu tahu, blog ini awalnya saya buat untuk ‘pelampiasan’ ketika saya mengerjakan skripsi. Saat itu, saya sering kesulitan untuk fokus dalam menulis. Saya terlalu banyak memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu saya pikirkan dalam-dalam. Jangan heran jika banyak tulisan saya di tahun 2014 yang tata bahasanya acak-acakan, salah ketik di sana sini, dan pilihan katanya amburadul. Semua itu tidak lain karena saya masih menulis dengan emosi, tanpa editing, dan hanya berprinsip yang penting beban pikiran saya terlampiaskan. Beruntung, untuk saat ini hal semacam itu sudah banyak berkurang—berkat jasa blog ini.


3.  Jadi ini bukan personal blog ya?
Tentu saja bukan. Setelah urusan dengan tetek-bengek skripsi selesai, saya memang mulai memikirkan blog ini akan dibawa ke mana. Jika saya memilih menjadikan blog ini sebagai personal blog, saya malah inferior karena saya tidak punya cukup amunisi membuat cerita komedi. Hidup saya miskin drama dan tidak banyak hal yang bisa saya tertawakan dari pengalaman sehari-hari. Saya juga enggan menulis satu topik yang spesifik, seperti fotografi, desain grafis, komputer, atau semacamnya. Saya paling malas membuat tulisan how to terus-terusan.


4.  Jadi, apa yang Anda tulis di blog ini?
Apapun. Saya menulis apapun terutama yang sekiranya bisa bermanfaat untuk orang lain. Saya mengikuti prinsip novelis favorit saya: “Tulislah apa yang HARUS dibaca orang, bukan apa yang INGIN dibaca orang.”


5.  Kenapa Anda tidak pernah memakai sebutan lo, gue di blog Anda? Bukankah itu terdengar lebih akrab?
Untuk sebagian orang, memang iya. Tapi dalam standar etika saya, memakai lo, gue, itu kurang sopan. Kebetulan saya orang Jawa. Saya terbiasa dengan hierarki kata. Misalnya, menyebut kowe (kamu) untuk orang yang lebih tua itu kurang sopan. Akan lebih baik jika kata kowe diganti menjadi panjenengan.


6.  Kenapa namanya Hatake Niwa? Seperti nama Jepang, tapi malah tidak ada konten Jepang di sini.
Saya pernah menuliskan tentang itu di sini. Jadi saya hanya sembarang membuat nama, hasil dari menghubung-hubungkan dan menyortir nama panjang saya. Jadi nama saya tidak ada kaitannya dengan budaya Jepang sama sekali. Lagipula, blog yang membahas budaya Jepang sudah terlalu banyak.


7.  Kalau boleh saya tahu, kenapa jarang sekali memposting ‘blue material? ’ Artikel-artikel Anda sepertinya “main aman,” dan terlalu sopan.
Tergantung sih, blue material seperti apa. Blue material jika ditujukan untuk penjelasan ilmiah bisa bermanfaat. Misalnya, jika saya merasa perlu menulis tentang (maaf) kondom. Boleh jadi saya akan lebih tertarik untuk menulis tentang dampak kondom yang dijual bebas bagi para remaja. Saya ragu jika menulis sesuatu yang ‘nyeleneh ’ seperti cara memakai kondom atau pengalaman pertama memakai kondom. Itu sangat beresiko dan bisa ditafsirkan lain oleh pembaca yang belum cukup dewasa. Apalagi, blog saya tidak memakai label “adult content.” 


8. Wah, kalau begitu blog ini membosankan sekali ya?
Ya, tergantung penilaian dan selera masing-masing orang. Sekali lagi, saya ingin menulis apa yang harus dibaca orang. Saya takut jika tulisan saya disalahartikan. Tulisan semacam itu bisa berbahaya sekali.


9. Maksudnya?
Misalnya kenapa di blog ini saya jarang menulis tentang tips-tips kencan, cara cepat dapat pacar, atau topik-topik lain seputar pacaran? Itu tidak lain karena saya tidak mau ‘memotivasi’ pembaca saya untuk pacaran. Ilustrasinya begini: katakanlah saya menulis tentang “tips cepat dapat pacar.” Suatu kali ada pembaca saya—sebut saja Neneng—yang mempraktekkan tips dari blog saya sampai akhirnya dia beneran dapat pacar. Satu dua tahun Neneng awet dengan pacarnya, sampai kemudian Neneng terlibat masalah pelik. Suatu malam pacarnya khilaf, Neneng kedapatan hamil, kemudian DO dari sekolah.


10.  Lha itu kan salah pembacanya yang tidak cerdas.
Iya, tapi poinnya bukan di situ. Saya merasa ikut bertanggung jawab karena tulisan saya mendorong Neneng untuk pacaran. Secara tidak langsung, saya manas-manasin dia untuk pacaran. Padahal kita tahu, resiko pacaran tidak hanya putus, sakit hati, nyeseg, galau, tapi juga resiko lain yang jauh lebih gawat seperti hamil di luar nikah sampai keinginan untuk bunuh diri. Itu berbahaya sekali. Karenanya, saya tidak mau kena “dosa turunan” gara-gara menyarankan sesuatu yang banyak resikonya—seperti pacaran—kepada pembaca blog saya.


11.  Saya malah tidak pernah berpikir sejauh itu.
Makanya ada baiknya kamu mulai memikirkannya. Masak ngeblog cuma sekedar posting nananina, judul heboh, konten wah, foto vulgar, bahasa kocak, tapi itu semua dibuat cuma demi mengejar traffict ? Pikirkan juga dampak negatif yang mungkin timbul akibat tulisan kita.


12.  Ya, itu masukan buatku. Ngomong-ngomong kalau begitu terus, bukannya blogmu bisa sepi? Apalagi nggak ada hiasan apa-apa di sini? 
Nggak apa-apa sepi. Sebisa mungkin saya akan belajar membuat tulisan yang (semoga) bermanfaat bagi orang lain. Kalau soal tampilan saya tidak mau ambil pusing. Saya pilih yang simpel saja. Toh saya juga jarang memposting gambar di blog. Loading blog jadi lebih ringan dan tidak banyak memakan kuota internet pengunjungnya.


13.  Jadi begitu ya. Saya sependapat denganmu soal itu. Ngomong-ngomong saya sudah terlalu lama ngobrol dengan Anda. Perbincangan kita cukupkan sampai di sini saja dulu. Nuhun informasi dan sharing-nya. Saya mau lanjut blogwalking . Kapan-kapan tak dolan ke sini lagi.
Oke, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Hati-hati, banyak blog nggak jelas di luar sana.


14. Haha…bukannya blogmu sendiri juga nggak jelas?
Makanya, baca dulu dong keterangannya. Yang punya blog ini kan ingin “menyesatkan pembacanya ke jalan yang lurus!”


NB:
* obrolan di atas murni fiktif—untuk memudahkan pembaca memahami konteks tulisan, bukan untuk tipu-tipu. Jika ada kesamaan nama atau kejadian, mungkin karena kita berjodoh !?


Thursday, 18 February 2016

Pacar Blangsak



.   .   .

Suatu hari pacarmu yang blangsak*  minta putus. Tapi kamu malah nggak terima. Kamu keukeuh  nolak putus tanpa alasan. Kamu pikir kamu cukup ahli buat ngubah tabiat blangsak-nya. Kamu selalu berharap dia sadar diri dan mau berubah.

Tapi kamu keliru. Sangat keliru malah. Dia nggak pernah peduli pada ‘dirimu.’ Dia nggak pernah menganggap semua pemberian kamu itu berarti. Blangsak !!!

Dia hanya mempedulikan egonya. Dia hanya mempedulikan kesenangannya. Ketika dia bosan, dia pergi begitu saja. Oh, alangkah malangnya dirimu.

Tapi masalahnya, kenapa sekarang kamu malah menyesal? Kenapa malah kamu yang menangis? Jelas-jelas kamu sendiri yang cari gara-gara dengan memacarinya? Padahal, kamu ini jagoan matematika di kelas. Bagaimana mungkin kamu alpa memperhitungkan semua ini?

Oh ya, cinta memang bukan matematika. Tapi tak kusangka kamu malah percaya pada prasangka. Sekarang lihatlah, kamu malah jadi sakit hati sendiri. Dia memang ganteng, tajir, bintang sekolah, tapi jika kelakuannya blangsak, apa lagi yang tersisa untuk dipertahankan?

Kalau pun kamu masih mau bertahan dengannya, apa yang kamu harapkan dari hubunganmu selanjutnya? Bukannya kamu malah semakin makan hati? Padahal kamu nggak pantas diperlakukan blangsak  oleh pacarmu. Kamu punya harga diri, ‘adikku sayang.’

Sini-sini mendekatlah padaku. Aku lebih tahu bagaimana membuatmu bahagia. Aku memang tidak pernah menyatakan cintaku padamu. Aku selalu mencintaimu dalam diam. Karena itu, boleh jadi akulah orang yang paling peduli pada perasaanmu—lebih dari siapapun.

Sini-sini, mendekatlah padaku. Aku mau menemanimu, mendengarkan keluh kesahmu sampai akhir malam. Tapi tolong jangan baper. Aku tidak bisa menjadikanmu pacar sekarang. Aku tidak ingin kamu terlalu berharap. Ada hal lain yang ingin kukejar saat ini.

Jika kamu mau menungguku di batas waktu, maka tunggulah. Bersabarlah, sambil terus memperbaiki diri. Biarkan jarak menjawab perasaan ini. Apakah ia akan semakin membesar atau malah lenyap tak berbekas.

Untuk sekarang, aku hanya ingin menemanimu—sebatas seorang sahabat.


Oh, iya, jangan lupa sampaikan ‘jari tengahku’ pada pacarmu yang blangsak itu!


NB:
* blangsak = tabiat buruk, semacam kata ganti untuk "brengsek"

Tuesday, 16 February 2016

Perbuatan Baik Saja Tidak Cukup


Orang hanya akan mendapatkan sebatas
apa yang diniatkannya

Pada Hari Kiamat, seorang yang mati syahid didatangkan menghadap Allah. Kepadanya, ditampakkan kenikmatan-kenikmatan yang akan diperolehnya.

Allah berfirman: "Amalan apa yang telah engkau kerjakan di dunia sehingga engkau merasa berhak memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"

Orang itu menjawab: “Aku berperang untuk membela agama-Mu, Ya Tuhan, sehingga aku terbunuh dan mati syahid.”

Allah berfirman “Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau berperang semata-mata supaya engkau dikatakan sebagai seorang pemberani dan memang engkau sudah dikatakan seperti itu.”

Allah pun memerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Kemudian didatangkanlah seorang lelaki yang belajar suatu ilmu agama dan mengajarkannya, serta fasih membaca Al-Quran. Kepada lelaki itu, ditampakkan kenikmatan-kenikmatan yang akan diperolehnya.

Allah berfirman: "Amalan apa yang telah engkau kerjakan di dunia sehingga engkau merasa berhak memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"

Orang itu menjawab: “Aku menyibukkan diri mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya pada orang lain. Aku juga membaca Al-Qur’an dengan mengharap keridhaan-Mu.”

Allah berfirman “Engkau berdusta! Sesungguhnya kau belajar ilmu agama supaya engkau dikatakan sebagai orang alim. Engkau membaca Al-Qur’an supaya engkau dikatakan sebagai orang yang pandai membaca Al-Qur’an dan memang engkau sudah dikatakan seperti itu.”

Allah pun memerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Kemudian didatangkan lagi seorang lelaki yang telah dikaruniai kelapangan hidup dan harta benda yang melimpah. Kepada lelaki itu, ditampakkan kenikmatan-kenikmatan yang akan diperolehnya.

Allah berfirman: "Amalan apa yang telah engkau kerjakan di dunia sehingga engkau merasa berhak memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"

Orang itu menjawab: “Aku selalu mendermakan harta benda yang aku miliki karena mengharapkan keridhaan-Mu.”

Allah berfirman “Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau melakukan itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang dermawan dan memang engkau sudah dikatakan seperti itu.”

Allah pun memerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Tiga orang saleh itu justru menjadi orang-orang yang pertama kali masuk neraka hanya karena niat yang tidak lurus. Sebegitu pentingnya perkara niat sampai-sampai bisa menggelincirkan orang yang seharusnya masuk surga ke dalam neraka.

Saya mulai membayangkan jika blog yang saya tulis tidak dilandasi niat yang lurus. Boleh jadi nasib saya tidak jauh beda dengan ketiga orang saleh itu. Karena itu, perbuatan baik saja tidak cukup, kita juga harus mati-matian menjaga niat.


*   *   *

Beberapa saat kemudian, seorang blogger didatangkan menghadap Tuhan. Kepada blogger itu, ditampakkan kenikmatan-kenikmatan yang akan diperolehnya.

Tuhan berfirman: "Amalan apa yang telah engkau kerjakan di dunia sehingga engkau merasa berhak memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?"

Blogger itu menjawab: “Saya menghabiskan sepanjang umur saya untuk menulis di blog dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak. Semua saya lakukan demi mengharap keridhaan-Mu.”

Tuhan berfirman: “Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau melakukan itu supaya blog-mu ramai dikunjungi orang. Engkau rajin menulis supaya blog-mu cepat terindeks mesin pencari dan mendapat dollar dari AdSense. Engkau membuat blog supaya dikatakan sebagai orang keren yang dikenal banyak orang dan memang engkau sudah dikatakan seperti itu.”

Tuhan pun memerintahkan agar orang itu …………………………………….

Friday, 5 February 2016

Kenapa Belum Punya Pacar?


.   .   .

“Kenapa kau belum punya pacar?”

“Untuk apa? Aku malah kasihan jika aku punya pacar.”

“Lho, kok kasihan?”

“Pacaran saat kita masih jauh dari menikah itu tidak mudah.”

“Ya, tentu saja. Bukankah cinta memang perlu diperjuangkan?”

“Diperjuangkan, tapi bukan berarti dilakukan dengan nekat dan tanpa memperhitungkan resiko patah hati. Alih-alih berakhir bahagia, yang aku lihat pacaran justru menyiksa pelakunya.

“Maksudmu?”

“Ketika pacaran kau memberi harapan, membicarakan janji-janji masa depan yang semuanya terlihat begitu hijau bagi pasanganmu. Semakin lama pasanganmu akan semakin berharap semua itu akan menjadi kenyataan. Tapi ketika kau tak kunjung bisa mewujudkannya, bukankah itu sama saja kau sedang menyiksa pasanganmu dengan harapan?”

“Memang terdengar menyakitkan kalau yang terjadi seperti itu.”

“Bukankah di dunia ini banyak orang yang pacaran bertahun-tahun tapi akhirnya kandas sebelum ke pelaminan? Bukankah tidak sedikit di antara pelaku pacaran yang terjebak dalam perasaannya sendiri, susah move on, bahkan sampai menikah pun mereka masih teringat pada masa-masa pacaran? Apa jadinya kalau mantan pacarnya ternyata bukan orang yang dinikahinya?”

“Menurutmu apakah itu memalukan?”

“Ya. Dan dalam standar moralku, orang yang sudah lama pacaran tapi tidak jadi nikah itu memalukan. Aku tidak mau itu terjadi padaku. Belum lagi mereka yang pacarannya kebablasan, sampai harus menjalani pernikahan yang bukan karena kesiapan melainkan karena ‘kecelakaan.’ Itu ironis sekali.”

“Tapi kau kan orang baik-baik. Kau tampan. Pintar. Kau disenangi banyak orang. Luwes dalam bergaul. Kau punya wawasan tentang bagaimana menghadapi wanita dan semacamnya. Rasa-rasanya kau tidak mungkin melakukan kekhilafan seperti itu.”

“Justru karena itulah. Aku tidak tahu kapan aku akan khilaf. Aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa menjaga diriku sendiri. Tidak ada jaminan. Dan ketika kita memutuskan untuk melibatkan orang lain dalam lingkaran kehidupan kita, itu bukan persoalan main-main dan penuh coba-coba. Jika sampai orang yang aku libatkan merasa tersakiti, merasa dirugikan, maka aku akan menanggung dosa selama orang itu belum mau memaafkanku. Bukankah itu mengerikan?”

“Jadi apa yang sedang kau lakukan? Kapan kau akan mulai memikirkan tentang jalinan hubungan yang serius dengan seseorang?”


“Entahlah. Ada hal lain yang harus aku lakukan untuk saat ini. Kalau kau ingin meminta saran tentang urusan perasaan, urusan cinta, lebih baik kau tanyakan pada temanmu yang sudah menikah. Mereka pasti jauh lebih paham pahit manisnya jatuh cinta dan tahu seluk-beluk membangun komitmen yang lebih tinggi daripada seorang lajang sepertiku.”

Wednesday, 27 January 2016

Obrolan Bujang

.  .  .

“Satu dua teman kita sudah menikah. Pekan depan, Si Baik Hati itu yang akan menikah.”

“Yeah, kita semua tahu itu.”

“Bagaimana perasaanmu?”

“Biasa saja—selain fakta bahwa kita ‘kehilangan’ seorang teman lagi.”

“Pertemuan ini jadi kurang seru tanpa Si Baik Hati itu. Sejak sekolah dulu, kita sering menghabiskan waktu di kedai ini. Aku juga merasa ‘kehilangan.’ Apa kau juga akan segera menyusulnya?”

“Pertanyaanmu seperti kau tak mengenal diriku saja. Kita sudah bersama sejak SMP, termasuk Si Baik Hati itu. Kalau kau ingin tahu apakah pernikahannya membuatku gusar untuk segera menikah, tentu saja tidak.”

“Kau tidak berpikir untuk punya pacar?”

“Pacar? Jangan bodoh. Untuk apa punya pacar jika tidak ada rencana menikah dalam waktu dekat? Itu sama saja menyakiti pacarmu dengan harapan-harapan semu. Membuatnya menunggu tanpa kepastian dan janji yang belum tentu kau tepati.”

“Sepertinya kau mulai percaya pada ‘bualan’ Si Baik Hati itu. Tapi, bukankah banyak orang melakukannya?”

“Haha…peduli setan dengan orang-orang. Jika mereka melakukan itu hanya karena novel-novel picisan atau film-film roman, itu sangat disayangkan. Mereka tidak benar-benar memahami pilihan hidupnya. Tapi aku—prinsipku, keputusanku, ini semua berdasarkan pertimbangan nalar logikaku.”

Well, setiap kepala bisa berbeda. Aku tak ingin berdebat denganmu.  Lagipula, Si Baik Hati itu tak jauh beda denganmu. Wanita yang dinikahinya bukan bekas pacarnya.”

“Benarkah? Aku belum tahu soal itu. Dan bagaimana mereka bisa bertemu?”

“Mereka teman saat SMA. Saat Si Baik Hati pergi berbelanja di swalayan, dia bertemu wanita itu, terlibat obrolan dengannya dan……….. Yah, seperti di cerita-cerita picisan—pertemuan yang tidak sengaja, takdir, jodoh, kiranya kau sudah tahu kelanjutannya. Si Baik Hati itu benar-benar beruntung.”

“Oh, well, Si Baik Hati itu menohok banyak orang yang bertahun-tahun pacaran tapi belum kunjung menikah juga.”

“Jadi pekan depan, bisakah kau datang?”

“Tentu saja. Mana bisa aku mengecewakan karibku sekarang. Aku banyak berhutang budi padanya.”

“Ya. Dia memang selalu baik pada semua orang. Ngomong-ngomong, berapa banyak yang akan kau beri?”

“Sebanyak yang aku bisa. Haha…untuknya tidak ada diskon.”

“Kita tak akan tega memberinya amplop kosong, bukan?”

.  .  .


Derai tawa kami pecah di kedai itu. Dulu, kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama di sana—melewati hingar bingar masa sekolah. Si Baik Hati itu sering menraktir kami, memberi banyak nasihat untuk tidak pacaran. Sempat aku berpikir dia membual. Tapi kini, Si Baik Hati itu benar-benar membuktikan ‘bualannya’.


Menikah adalah bagian dari ‘ritual hidup’ manusia yang memilih untuk menikah. Bagi kami yang masih bujang, tidak ada yang bisa disalahkan dari pernikahan, selain fakta bahwa kita ‘kehilangan’ seorang teman bermain. Toh, jika memang sudah waktunya, kita juga harus mulai memikirkan ‘sahabat hidup’ yang akan menemani sisa umur kita. Begitulah.

Wednesday, 6 January 2016

Mumpung Masih Hidup di Dunia


Waktu terkadang terlalu lambat bagi mereka yang menunggu,
terlalu cepat bagi yang takut, terlalu panjang bagi yang gundah,
dan  terlalu pendek bagi yang bahagia.  Tapi bagi yang selalu mengasihi,
 waktu adalah keabadian.
(Henry van Dyke)

Semua orang tahu betapa pentingnya waktu. Ada yang bilang “waktu adalah uang.” Saya lebih suka menyebut waktu sebagai “modal.” Jika waktu dipersepsikan sebagai “uang,” maka kita akan cenderung untuk menghambur-hamburkannya—sebagaimana hakikat uang yang tak pernah cukup memenuhi keinginan kita. Beda halnya jika waktu dipersepsikan sebagai “modal.” Kita akan berusaha menginvestasikan “modal” tersebut sebaik-baiknya agar tidak merugi di kemudian hari.

Waktu adalah “musuh” yang selalu menang. Kita tidak memiliki kuasa sedikit pun atas waktu. Waktu tetap terus berjalan meski peradaban dunia ini tidak pernah mengenal arloji. Begitu berharganya waktu sampai-sampai banyak orang berimajinasi memiliki mesin waktu. Dengan mesin itu manusia bisa pergi ke mana saja melewati dimensi waktu. Ada yang pergi ke masa depan untuk melihat dunia yang penuh keajaiban. Ada pula yang pergi ke masa lalu hanya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

Waktu adalah “pedagang” yang tidak pernah rugi, tapi kehadirannya bisa membuat rugi banyak orang. Tentu saja orang-orang yang merugi di sini adalah  orang-orang yang tidak memahami esensi waktu. Alih-alih mereka justru menyia-nyiakan waktu yang dimiliki untuk melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Kita sadar bahwa waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas. Manusia bukan makhluk yang kekal karena memiliki jatah umur tertentu. Jika umurnya habis, maka berakhir pula kehidupan manusia di dunia ini. Keterbatasan ini seharusnya membuat kita bersikap arif. Kita tidak akan mampu memenuhi semua keinginan kita dengan umur yang terbatas itu. Kita harus memilih cara-cara terbaik untuk menghabiskan umur agar kelak kita menuai berkah kebaikan.

Saya jadi teringat sebuah kisah tentang seorang pemuda yang hidupnya berubah setelah menyadari esensi waktu. Saya lupa di mana pertama kali membaca cerita ini. Di sini, akan saya ceritakan ulang cerita tersebut dalam cerita versi saya sendiri.

*   *   *

Alkisah seorang pemuda mengeluhkan hidupnya yang serba susah dan dipenuhi berbagai masalah keluarga. Suatu hari pemuda ini menemui seorang ‘Guru’ dan mengadukan segala penderitaannya. Si Pemuda bahkan terang-terangan mengaku ingin mengakhiri hidupnya. Sang Guru mengangguk takzim menyimak penuturan Si Pemuda. Setelah Si Pemuda selesai bicara, Sang Guru memberikan sebotol air padanya.

“Cairan bening dalam botol ini adalah racun. Cukup kau minum sekali, maka besok pagi kau akan mati tanpa rasa sakit.”

Muka Si Pemuda mendadak berseri-seri. Ia begitu gembira menerima racun dari Sang Guru. Dia lega karena besok pagi dia bisa mati tanpa harus menghadapi rasa sakit. Tanpa banyak ba-bi-bu Si Pemuda itu langsung menenggak racun yang diberikan Sang Guru.

“Terima kasih, Guru. Sampai jumpa di surga,” kata Si Pemuda sambil beranjak pergi meninggalkan rumah Sang Guru.

Sesampainya di rumah, pemuda itu mendapati istri dan anaknya yang tengah tertidur pulas. Si Pemuda sadar bahwa inilah hari terakhirnya di dunia. Ia merasa perlu melakukan sesuatu agar besok ia bisa mati dengan tenang. Ia pun bergegas menuju pasar. Didatanginya para pedagang di pasar itu. Si Pemuda meminta untuk dipekerjakan. Ia mengaku bersedia melakukan pekerjaan apapun agar memperoleh uang.

Hari menjelang sore, pemuda itu kembali ke rumahnya. Ia membawa sebuah keranjang yang penuh dengan makanan. Istrinya terheran-heran. Tidak biasanya Si Pemuda pulang menenteng keranjang makanan. Sore itu, untuk pertama kalinya istri dan anak Si Pemuda bisa makan dengan kenyang.

Malam harinya, Si Pemuda mengajak istri dan anaknya berjalan-jalan ke bukit. Istrinya bertambah heran karena selama ini Si pemuda hampir tidak pernah mengajaknya berjalan-jalan. Ketika ditanya, Si Pemuda hanya membalasnya dengan senyum.

Di atas bukit keluarga kecil Si Pemuda menikmati hiasan bintang di langit sambil membuat ikan bakar. Si Pemuda tampak asyik mengobrol dan bercanda dengan istri dan anaknya. Gelak tawa mereka menggema memecah kesunyian bukit itu. Sekembalinya di rumah, Si Pemuda tidur bersisian dengan istri dan anaknya. Saat itu, Si Pemuda benar-benar merasa bahagia. Ia ingin merayakan momen bahagia itu lebih lama.

Tiba-tiba Si Pemuda tersentak. Ia ingat bahwa ia sudah meminum racun dari Sang Guru. Besok pagi ia akan mati. Buru-buru Si Pemuda mendatangi rumah Sang Guru dengan panik.

Sang Guru tampak masih duduk-duduk di beranda rumahnya sambil minum teh. Sambil terengah-terengah Si Pemuda berusaha mengatur nafasnya. Setelah tenang, ia meminta penawar racun pada Sang Guru. Si Pemuda tidak mau mati besok pagi. Ia sadar bahwa ternyata hidup ini sangat berharga. Sang Guru pun tersenyum mendengarnya.

“Botol yang aku berikan tadi pagi hanyalah air biasa. Tak usah khawatir. Besok kau masih bisa bekerja seperti biasa. Kembalilah pulang. Jangan biarkan istri dan anakmu mengkhawatirkanmu.” Si Pemuda menangis mendengar jawaban Sang Guru. Dipeluknya Sang Guru erat-erat. Si Pemuda pun kembali ke rumahnya dengan sebongkah kelegaan dan kesadaran baru. Hari-hari esok Si Pemuda pun berubah menjadi lebih berarti.

*   *   *

Kita tahu bahwa kematian adalah kepastian. Meski begitu, kita tidak pernah tahu berapa jatah umurnya di dunia. Ketidaktahuan ini membuat kita sering lalai mengingat kematian. Kita selalu merasa “masih ada hari esok” atau “nanti sajalah.” Akhirnya, kita pun merasa fine-fine saja menunda berbuat kebajikan. Alih-alih kita malah menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna dan merusak diri sendiri. Urusan mati pun terlupakan.

Waktu adalah modal kita yang paling berharga. Sadar bahwa umur kita terbatas, alangkah baiknya jika kita selalu merenung “bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirku di dunia?” Dengan begitu, kita akan terlecut untuk menggunakan waktu yang kita punya untuk melakukan kebajikan. Kesadaran kita akan tergugah untuk meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat dan merusak diri sendiri.

Kita harus bergegas, umur kita terbatas. Bergegaslah bekerja, bertindak nyata, seakan hidup ini akan berakhir esok. Bergegaslah, jangan sampai ada sesal di kemudian hari. Bergegaslah, agar lebih banyak kesempatan yang bisa kita peroleh. Kesempatan untuk belajar lebih banyak hal baru, kesempatan untuk menolong sesama, kesempatan untuk menemani orang-orang yang kita kasihi, dan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan—Dzat Yang Maha Tahu kapan kita akan “pulang” menuju lembah keabadian.

Monday, 26 October 2015

Tentang Cinta dari Dunia Maya


“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada,  cinta tak akan pernah tercipta
dalam hitungan tahun bahkan abad.
(Kahlil Gibran)

Hari sudah semakin sore. Lorong-lorong kampus sudah sepi. Kebetulan ini hari Jumat, hanya beberapa jurusan yang membuka kelas sore. Aku tercenung sendirian di lantai 2, di depan ruang penyimpanan barang. Tempat yang selalu kupilih untuk menyendiri karena kesunyiannya. Begitu sunyinya, membuatku menerawang jauh mengingat fragmen-fragmen masa laluku. Masa lalu yang seharusnya tidak pernah kuingat.

Seperti sebuah film hitam putih—kenangan-kenangan itu terputar begitu saja. Rasa-rasanya, kejadiannya baru kualami kemarin. Tanpa terasa semua itu telah berlalu. Ya, waktu memang berlalu begitu cepat dan hanya menyisakan dua hal: kenangan atau—penyesalan.

“Masih mencoba untuk melupakan masa lalu?” Suara temanku membuyarkan nostalgiaku.

“Eh…apa?” aku beringsut menoleh setengah kaget.

“Yang kau lakukan itu.” Agaknya temanku hafal membaca pikiranku.

“Bukan urusanmu!” Aku mendengus sebal.

“Ah, sikapmu selalu saja begitu. Sok tegar, meski hatimu tak pernah damai.”

“Hey, sejak kapan kau berubah menjadi pria yang peduli?” kataku ketus.

“Sejak kita berkenalan.”

“Sudah basa basinya? Ada perlu apa kau menemuiku? Tak biasanya.”

“Baiklah, aku hanya ingin bertanya. Menurutku kau yang paling tahu di antara teman-temanku yang lain.” Wajah pria di hadapanku menjadi serius.

“Kalau kau ingin menanyakan tentang keburukan seseorang, kau salah tempat.”

“Bukan itu. Aku hanya minta tanggapanmu. Apa kau percaya cinta dari dunia maya?”
Aku mengernyitkan dahi.

“Maksudmu?”

“Itu…Cinta yang muncul karena komunikasi yang intens di dunia maya.”

“Hm…aku belum pernah mengalaminya.” Jawabku pendek.

“Anggaplah kau sedang mengalaminya sekarang.” Temanku mencoba membujukku bicara.

Sebenarnya aku malas membahas persoalan perasaan. Jika pria yang berdiri di hadapanku bukan teman baikku, tak sudi kulanjutkan percakapan itu.

“Hei, bukankah sudah lama kau tahu kalau aku seorang yang sangat rasional? Lantas bagaimana mungkin aku bisa merasakan cinta hanya dari komunikasi dunia maya? Aku bukan lelaki gampangan semacam itu.”

“Ini bukan perkara gampangan atau tidak. Aku hanya menanyakan, apa kau percaya bahwa cinta bisa muncul dari dunia maya?”

“Tentu saja bisa. Tapi itu tak lebih dari proses bertemunya “perhatian” dengan “perhatian.”

“Maksudnya?” giliran temanku yang mengernyitkan dahi.

“Sederhananya, siapa sih yang tidak gembira jika  mendapat perhatian dari seseorang? Apalagi jika perhatian itu berlangsung secara intens. Padahal kau tahu, rumus agar orang bisa jatuh cinta itu sederhana. Berikan ‘perhatian dan kepedulian’ Jika yang kau cinta orang yang waras nuraninya, lama-lama dia akan luluh juga.”

“Segampang itukah? Kalau begitu, bisakah perasaan dari dunia maya menjadi cinta sejati?”

“Apa kau tidak salah orang menanyakan hal itu pada seorang lajang yang bahkan tidak punya pacar sepertiku?”

“Oh, ayolah. Aku malah lebih percaya pada kata-katamu karena jawabanmu murni dari rasionalitas pikiran yang tidak terecoki sisi emosional tertentu. Sekali lagi kutanya, bisakah perasaan dari dunia maya menjadi cinta sejati?”

“Tergantung. Setiap diri kita tidak pernah bisa memastikan masa depan. Cinta sejati, jodoh, urusan perasaan, semuanya jauh lebih rumit dari relativitas Einstein. Kau tak akan mendapat jawaban jika kau menggunakan pendekatan rasional untuk memahami urusan perasaan. Memangnya kau sedang jatuh cinta dengan gadis di dunia maya?”

“Entahlah, kukira begitu.”

“Sudah pernah bertemu?”

“Belum.” Temanku menggeleng.

“Saranku, berhentilah berangan-angan. Jangan simpulkan apapun tentangnya sampai kau menemuinya. Urusan perasaan terlalu rumit jika kau jadikan meja taruhan.”

“Bagaimana denganmu?”

“Hah? Aku? Jangan konyol. Pembicaraan ini tidak menyinggung tentangku melainkan dirimu.”

“Aku dengar kau sempat bertemu dengan gadis yang kau kenal dari dunia maya. Teman chatmu?”

“Entahlah. Aku malas membicarakannya. Dia orang yang berbeda dengan ‘dia’ yang kukenal di dunia maya.”

“Kau menyukainya?” Temanku malah menginterogasiku.

“Bodoh! Sudah lama aku tak mempercayai dongeng-dongeng cinta di masa kecil. Omong kosong jika kita membahas cinta tanpa membahas komitmen! Sudah, pembicaraan ini sampai di sini.”


Aku beringsut pergi. Temanku hanya melongo. Terpaku di tempat yang sama ketika aku menerawang mengingat-ingat masa lalu. Pria yang tengah berdiri di sana, mungkin jauh lebih menderita daripada aku.

Wednesday, 1 July 2015

Bocah-Bocah Usil di Langgar

Paklik, bawa anak kecil ke masjid hukumnya apa sih?”

“Lho, bukan wewenang saya memfatwa.”

“Walah, Paklik ini. Yasudah saya tanya pendapat Paklik saja. Saya mau nguda rasa ini.”

Paklik mengangguk pelan.

“Tahu sendiri kan Paklik, kalau tarawih di langgar* sebelah pasti ada anak kecil yang ramai di belakang.”

“Memangnya masalah?”

“Ya jelas mengganggu kekhusyukan beribadah to, Paklik. Terutama si Paidi. ‘Amin’-nya sengaja di-mbleyer-mbleyerke  ngalahin suara knalpot motor.”

“Lha wong Paidi masih bocah kok piye.”

Mosok nggak diingatkan to, Paklik.”

“Berarti kamu yang harus belajar khusyuk.”

“Gimana mau khusyuk kalau Paidi dan konco-konconya gojek sendiri di belakang?”

Mbok ya maklum saja. Mereka kan masih anak-anak, besok kalau sudah baligh juga sadar, nggak bakal rame lagi kalau di langgar.”

“Jadi saya harus nunggu mereka baligh, Paklik? Kenapa nggak sekalian dilarang aja itu Paidi cs ke langgar?”

“Wah, kalau sampe melarang saya ndak sependapat. Ditegur saja.”

“Nggak bakal kapok, Paklik. Minta dijewer itu bocah-bocah.”

“Halah, mbok ya wes ben, to Gus. Biarkan saja. Lagipula bocah-bocah yang rame pas sholat itu nggak beda jauh kayak kamu.”

“Kok saya, Paklik?”

“Lha iya to. Kalau anak-anak itu ramenya vulgar, blak-blakan. Kalau orang dewasa sholat, ramenya di sini.” Paklik menunjuk kepalanya yang mulai beruban.

“Orang dewasa sholat itu sebenarnya juga rame. Badannya di tempat sholat tapi pikirannya ngelayap ke urusan dunianya, pekerjaannya, duitnya, istrinya, anaknya. Nggak beda kan sama Paidi dan konco-konconya?”

Paklik menyeruput kopinya sambil membenahi letak kopiahnya. Sejurus kemudian ia sudah beringsut mentafakuri kitab yang dibawanya sejak tadi. Aku hanya mengangguk takzim, mengiyakan.


NB:
*langgar: surau, tempat sholat sederhana, masjid kecil yang biasa ada di perkampungan

Friday, 19 June 2015

Hanya Beruntung

Aku hanya beruntung,
Terlahir dari keluarga berada
Yang membuat semua pinta menjadi terlaksana
Yang membuat semua mimpi menjadi nyata

Tak usah kau iri, kawan
Aku hanya beruntung
Mendapat kesempatan menapak tangga belajar  tinggi-tinggi
Meski Tuhan menciptakanku ‘berbeda’

Tak usah kau dengki, kawan
Aku hanya beruntung
Bisa mengerjakan banyak hal
Meski diriku sendiri penuh dengan keterbatasan

Tak usah kau bersyak prasangka, kawan.
Aku hanya beruntung
Kebaikanmu dan kebaikanku sama dalam niat
Kepedulianmu dan kepedulianku sama dalam keikhlasan

Kuucap syukur pada-Nya atas takdir yang mempertemukan kita
Karena—mengenalmu—juga keberuntungan terbesar dalam hidupku

Wednesday, 10 June 2015

Surat Kecil dari Ayah

Dear Rizal...

Nak, manusia hanya diizinkan ‘tahu’ tentang masa depannya—tahu tentang apa-apa yang harus dipersiapkan untuk membuat masa depannya berjalan lebih baik. Tapi ketahuilah bahwa tak seorang pun tahu takdir apa yang akan menimpanya kelak. Itu mutlak kuasa Tuhan. Tuhan tak pernah menyuruh manusia untuk duduk manis mengharap takdir terbaik mendatanginya. Tuhan meminta kita untuk berupaya seikhlas dan semampunya.

Bahkan Ayah pun tak tahu kalau kau akan mengalami kecelakaan itu. Ayah juga tak pernah mengharapkan kau harus menanggung takdir ini. Semua itu di luar kuasa Ayah, Nak. Bila Tuhan telah berkehendak, maka tugas kita adalah menjalani. Tak perlu banyak protes karena kita harus yakin bahwa selalu ada tujuan dan hikmah dari semua ketentuan-Nya. Karena tak satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia.

Sekarang, lihatlah dirimu, Nak. Syukurilah apa-apa yang telah kau miliki saat ini. Syukurilah kedua telingamu yang dengannya kau masih bisa mendengar banyak nasehat. Syukurilah kedua matamu yang dengannya kau masih bisa membaca. Syukurilah kedua tanganmu yang dengannya kau masih bisa makan, menulis, dan memberi sedekah pada orang lain. Dan yang terpenting syukurilah dirimu sendiri yang hari ini masih diperkenankan Tuhan untuk belajar menerima takdir lebih dari siapapun.

Bersyukurlah, Nak. Dan rayakan setiap kemenangan-kemenangan kecil hari ini agar kau selalu percaya bahwa masih ada harapan untuk hari esok sekalipun kau menjalaninya dengan tetap ‘berpijak’ di tempat dudukanmu sekarang. Ayah selalu percaya padamu, Nak. Ayah akan selalu bangga padamu...

ttd

Ayah