Subscribe:

Labels

Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Wednesday, 30 March 2016

Karena Cinta Butuh LOGIKA


Cinta tanpa logika,
kalau tidak bikin sakit, paling-paling bikin ‘’khilaf’’.
 (Hatake Niwa)

Seorang bijak pernah berkata “hidup itu pilihan.” Dalam pandangan filsafat, setiap orang memiliki apa yang disebut “kehendak bebas”. Kehendak bebas itulah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Dengan kehendak bebas itu, setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Karenanya, pada hakikatnya kehidupan ini hanya berisi pilihan-pilihan hidup. Tugas kita hanya memilih pilihan-pilihan itu. Dan untuk setiap pilihan yang kita pilih, selalu ada konsekuensi logis yang akan menentukan perjalanan hidup kita di masa depan.

Konsep kehendak bebas ini mencakup segala aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal cinta. Sebagai perasaan universal, cinta menyediakan berbagai macam pilihan bagi kita. Pacaran, menikah, LDR, HTS, jomblo, TTM, selingkuh, putus, dan cerai, adalah beberapa contoh pilihan dalam cinta. Tugas kita tidak lebih dari memilih pilihan-pilihan itu dan menerima segala konsekuensinya.

Jika kita memilih pacaran misalnya. Ok, well, mungkin kita akan merasakan betapa bahagianya memiliki kekasih. Kita bahagia, karena memiliki seseorang yang spesial yang tulus memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada kita. Dengan pacaran, kita berpikir kita sudah mendapatkan calon pendamping hidup. Itu gambaran indahnya pacaran. Tapi di sisi lain, ada saja kemungkinan buruk saat kita memilih pacaran.

Kita tidak bisa naif mengatakan pacaran adalah cara terbaik mencari pasangan hidup. Di satu sisi pacaran memang terlihat indah, seperti cerita novel atau di film-film picisan. Tapi di dunia nyata, realitasnya tidak semudah itu. Bagaimana jika pacar kita ternyata orang yang cuek? Bagaimana jika pacar kita ternyata seorang maniak tukang selingkuh? Bagaimana jika pacar kita keburu jengah dan memilih putus ? Semua kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi saat pacaran.

Sama halnya dengan menikah. Betapa banyak orang yang mengompori para lajang untuk segera menikah tanpa mau mengungkap susah payahnya kehidupan berumah tangga. Itu berbahaya sekali. Orang akan berpikir menikah itu mudah. Kemudian tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk menikah meski persiapannya pas-pasan. Tahu-tahu setelah menikah, orang itu menyadari ternyata kehidupan rumah tangga tak seindah kata orang. Biduk rumah tangga pun berantakan.

*   *   *

Seperti yang saya katakan di atas, setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi. Kita sendirilah yang harus bertanggung jawab atas setiap pilihan hidup yang kita ambil. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain, jika pilihan yang kita pilh ternyata keliru. Begitu juga dengan pilihan hidup orang lain. Kita tidak bisa menjamin pilihan hidup orang lain akan berdampak sama baiknya bagi kehidupan kita. Masing-masing orang menghadapi situasi dan kondisi lingkungan yang berbeda. Karenanya, pilihan-pilihan yang diambil pun sudah pasti berbeda.

Sebagai contoh, jika ada orang yang pacarannya awet sampai menikah, itu tidak selalu berarti pacaran adalah pilihan terbaik untuk mendapat pasangan. Kenyataannya, tidak sedikit orang yang pacaran sampai bertahun-tahun, tapi akhirnya putus sebelum ke pelaminan. Begitu juga dengan orang yang sudah menikah. Meski banyak orang mengaku bahagia setelah menikah, belum tentu setiap orang yang menikah akan bahagia. Ada saja segelintir orang yang rumah tangganya berantakan, meski sudah menikah bertahun-tahun lamanya.

Kita semua tahu, urusan cinta terkait dengan perasaan. Dan setiap perasaan akan selalu menyentuh emosi. Sementara emosi hanya bisa dikendalikan dengan LOGIKA. Cinta membutuhkan LOGIKA agar ia tetap berjalan dalam batas-batas hubungan yang semestinya. Menyikapi cinta tanpa logika, sama saja menyerahkan cinta pada dorongan nafsu dan pemenuhan ego pribadi.

Misalkan kita memiliki seorang pacar. Kita sangat mencintai pacar kita dan tidak bisa berpaling darinya. Karena hanya dia yang tahu cara membuat kita merasa nyaman. Tapi ketika pacar kita tak lagi perhatian dan berulang kali mengecewakan kita, logika kita akan bertanya, “Apakah pacar kita memberi cinta sebesar cinta yang kita berikan padanya? Apakah pacar kita berharap sebagaimana kita selalu berharap padanya?”

Jika saat itu kita memperturutkan perasaan kita, maka yang terjadi kemudian adalah kita “membenarkan” setiap perlakuan buruk dan kekecewaan yang kita terima. Kita selalu memaafkan pacar, dengan harapan suatu saat pacar kita akan sadar dan berubah. Kita yakin itu, karena cinta selalu memaafkan. Ya, memang benar cinta selalu memaafkan. Tapi ketika orang yang dimaafkan tidak kunjung memperbaiki diri, apa lagi yang bisa kita percaya dari cinta semacam itu? Tanpa sadar, kita justru "memperkosa" makna cinta itu sendiri, dan membiarkan orang lain “memanfaatkan” keluguan kita karena menyikapi cinta tanpa logika.

Contoh di atas hanya segelintir kasus di mana orang-orang terjebak dalam perasaan cinta sampai mengabaikan pertimbangan logika. Di luar itu, masih banyak kasus lain yang jauh lebih mengkhawatirkan, seperti kehamilan di luar nikah, aborsi, kawin lari, sampai pembunuhan berencana. Semua itu bisa terjadi, karena cinta disikapi dengan nafsu dan ego pribadi, hingga mengabaikan batas-batas logika.

*   *   *

Orang pacaran bisa saja putus. Orang menikah, bisa saja bercerai. Dan jomblo pun, tak selamanya berarti kebebasan. 

Dengan logika, kita belajar menerima segala konsekuensi hubungan cinta. Kita akan melihat cinta dari sisi yang berbeda—tidak hanya sisi indahnya, seperti di cerita novel atau film picisan, tapi juga mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dengan memahami konsekuensi hubungan cinta, kita bisa menjaga cinta itu pada koridor-koridor hubungan yang sewajarnya. Kita pun lebih mudah menerima kenyataan untuk move on, ketika hubungan itu harus kandas. Karena bagi orang yang jatuh cinta, konsekuensi logisnya cuma dua: berujung derita atau berakhir bahagia. Demikian. []

Tuesday, 15 March 2016

Long Distance Relationship Tak Selamanya Buruk


Yang nikah saja bisa kandas gara-gara LDR,
apalagi yang cintanya sebatas pacar, TTM, 
atau hubungan lain  yang tidak jelas statusnya.
(Hatake Niwa)

Saya sering kasihan pada orang yang LDR. Gara-gara LDR, mereka tidak bisa menghabiskan malam minggu bersama. Gara-gara LDR, mereka harus membunuh tega setiap kerinduan yang muncul ke permukaan. Gara-gara LDR pula, mereka sibuk berharap-harap cemas, takut pasangannya mencari “ban serep di perantauan. Saking beratnya LDR, sampai-sampai banyak hubungan percintaan yang kandas di tengah jalan.

Bagaimana tidak. Sampai batas-batas tertentu, LDR bisa mengurangi, bahkan meniadakan jalinan interaksi dan komunikasi dengan pasangan. Padahal interaksi dan komunikasi intens dengan pasangan merupakan elemen penting dalam membangun hubungan percintaan. Minimnya interaksi dan komunikasi bisa mendorong kita untuk mencari kompensasi lain demi memenuhi rasa ingin diperhatikan dan disayang. Karena itu, jangan heran jika banyak cerita LDR yang endingnya ditinggal selingkuh atau ditinggal nikah.

Terlepas dari semua itu, LDR tidak melulu terlihat buruk. Bagi pasangan yang sudah di ambang perceraian, misalnya, LDR malah dilihat sebagai jalan terbaik untuk memperlancar urusan cerai. Alih-alih mereka memang “sepantasnya” menjaga jarak dengan mantan istri atau suami demi menjaga martabat dan harga diri.

Tapi bagi pasangan muda yang baru saja menikah, LDR jelas sebuah mimpi buruk. Malam-malam di saat mereka seharusnya berbulan madu, malah diisi dengan dinginnya harapan dan penantian. Setan pun leluasa membuka prasangka, “Jangan-jangan laki-mu sedang ‘main gila’ dengan wanita lain di seberang.

LDR bagi mereka yang sudah nikah tentu terasa berbeda daripada LDR-nya mereka yang belum nikah. Setelah menikah, kita menanggung tanggung jawab dan konsekuensi yang lebih besar dalam setiap keputusan yang diambil. Ikatan pernikahan mengharuskan sebuah hubungan percintaan mengikuti tatanan formal hukum yang berlaku. 

Orang yang sudah nikah akan berpikir dua kali untuk selingkuh, lebih-lebih jika mereka ingin kawin lagi di perantauan. Andai nekat meminta cerai karena tidak betah LDR, mereka harus mengurus seabrek berkas gugatan ke pengadilan agama. Belum lagi berbicara seputar hak asuh, hubungan dengan mertua, sampai uang ganti rugi.

Sementara pada pasangan yang belum nikah, tanggung jawab yang diemban tidak sebesar mereka yang sudah nikah. Orang pacaran yang LDR lebih leluasa untuk minta putus dan berpaling, tanpa harus menanggung konsekuensi seperti halnya orang minta cerai. Orang pacaran bisa saja minta putus dalam semenit. Dan LDR bisa menjadi alasan paling wajar untuk minta putus. Jika itu yang terjadi, tidak akan ada satu pengadilan pun yang sudi mengurus gugatan kita. Yang bisa kita lakukan paling-paling ‘cuma’ mengurung diri di kamar dan mewek—menangis semalaman.

Saya bukan bermaksud menakut-nakuti apalagi mendoakan yang buruk-buruk. LDR-nya mereka yang belum menikah boleh jadi lebih berpotensi “merusak hubungan” daripada mereka yang sudah nikah. Semua ini simply karena mereka yang belum nikah hanya menyandarkan hubungan mereka pada “kontrak lisan” yang berupa janji-janji—entah janji untuk setia, janji untuk tetap mencinta, atau janji untuk menikahinya kelak saat kembali. Karena tidak ada “hitam di atas putih”, pada akhirnya lebih banyak orang yang memilih ingkar daripada setia.

Melihat beratnya menjalani LDR, kita tidak bisa memutuskan LDR dengan mengabaikan keinginan pasangan kita. Kita harus memiliki pembenaran logis sebelum memutuskan untuk menjalani LDR. Setiap pasangan harus memahami alasan mereka memilih LDR. Mereka juga harus siap menerima segala konsekuensi dan skenario terburuk dari hubungan jarak jauh.

Kita juga tidak bisa naif mempasrahkan urusan LDR pada “kontrak emosional” seperti komitmen, kepercayaan, dan janji setia seperti yang ada dalam novel-novel picisan. Apalagi jika kita masih belum bisa percaya sepenuhnya pada pasangan kita. Dalam konteks ini, boleh dibilang kita belum siap menjalani hubungan jarak jauh. Karena itu, ada baiknya kita mengutarakan masalah tersebut di awal, daripada menelan pil pahit belakangan. Dengan begitu, kita bisa mendiskusikan win-win solution sebelum memutuskan menjalani LDR.

LDR memang tidak selamanya buruk. Kita bisa memaknai "jarak" sebagai sebuah variabel untuk menguji kesetiaan pasangan kita. Dengan jarak, kita akan mengerti apakah cinta yang selama ini kita rasakan semakin besar atau malah sebaliknya—berubah hambar. Dengan jarak pula, kita akan belajar untuk bersabar, mentafakuri kesetiaan dan menyelami agungnya pengharapan. Karena yakinlah, ada saat di mana kita harus merelakan orang yang kita kasihi pergi—menuju kehidupan lain yang lebih abadi. Tak tertolak!

Thursday, 3 March 2016

Menjadi Pekerja Seks Sukarela


Ada siswi SMA hamil di-DO sekolahnya.
Giliran mahasiswi hamil kok tidak di-DO kampusnya?
Oh, betapa ‘adilnya’ si pembuat peraturan
(Hatake Niwa)

Sebelumnya, saya mohon maaf, jika judul di atas terlalu vulgar. Tapi yakinlah, tulisan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan Kalijodo atau penertiban lokalisasi sejenisnya. Kasus yang ingin saya utarakan di sini berbeda.

Ilustrasi :
Ceritanya, ada seorang mahasiswi—sebut saja Neneng—yang kedapatan hamil di luar nikah. Neneng mengaku khilaf saat berpacaran dengan kekasihnya yang bernama Blengur. (sebut saja begitu). Neneng terpikat bujuk rayu dan janji manis Blengur yang mengaku akan segera menikahinya. Blengur juga mengaku akan bertanggung jawab setelah “menyebar benih” di perut Neneng.

Tapi setelah tahu perihal kehamilan Neneng, Blengur ingkar janji. Bukannya segera bertanggung jawab, Blengur malah kabur. Blengur tidak kunjung menikahi Neneng. Neneng pun tidak terima. Neneng mencoba membawa persoalan ini ke jalur hukum. Neneng ingin menggugat Blengur dengan tuduhan penipuan, perkosaan, dan serangkaian tindak asusila. Harapannya, Blengur akan dijerat pasal berlapis dan “mampus” dipenjarakan.

Sayang seribu sayang, gugatan Neneng tidak dikabulkan. Neneng tidak bisa membuktikan adanya unsur kekerasan atau paksaan yang mengakibatkan dirinya hamil. Padahal dalam pasal 285 KUHP (pasal yang biasa dipakai untuk kasus perkosaan), harus ada unsur kekerasan atau ancaman yang memaksa korbannya. Sementara dalam kasus Neneng, perbuatannya dilakukan atas dasar suka sama suka.

Neneng tidak putus asa. Dia mencoba menggugat Blengur dengan tuduhan lain, yakni pencabulan. Neneng yakin, Blengur bisa dijerat pasal pencabulan atas dirinya. Tapi sekali lagi, gugatan Neneng tidak dikabulkan. Alasannya, Neneng sudah berumur 21 tahun saat terlibat “hubungan terlarang” dengan Blengur. Neneng tidak masuk kategori “anak di bawah umur” sebagaimana yang disyaratkan pasal 81 dan 82 Undang-Undang Perlindungan Anak (pasal yang biasa dipakai menjerat pelaku pencabulan).

Kasus Neneng pun menjadi benang kusut yang tidak bisa diurai oleh hukum. Neneng ingin menggugat Blengur dengan pasal 287 KUHP (pasal tentang perzinahan) tapi urung, karena pasal itu diperuntukkan khusus bagi mereka yang sudah menikah (memiliki pasangan sah). Neneng pun hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia benar-benar khilaf saat berpacaran dengan Blengur. Tapi itulah harga yang harus dibayar untuk cinta yang tidak semestinya, sampai-sampai kehormatan diri pun telah tergadaikan.

*   *   *

Seperti yang pernah saya bilang di sini, saya tidak berani menyarankan orang lain untuk pacaran. Resiko terjadinya kasus seperti Neneng terlalu besar. Di luar sana, boleh jadi ada banyak Neneng-Neneng lain yang mengalami nasib serupa—kedapatan hamil lantas ditinggal kabur pacarnya. Jika sudah begitu, apa yang bisa dilakukan?

Pacaran sudah menjadi aktivitas jamak di kalangan remaja. Pacaran dinilai sebagai “jalan terbaik” menemukan cinta sejati. Banyak pelaku pacaran yang berharap pacarnya akan setia sehidup semati, hingga mengikat janji suci, bla bla bla. Karena itu, banyak orang rela mengorbankan apapun demi mempertahankan hubungan cintanya (atau mungkin egonya).

Masalahnya, aktivitas pacaran tidak bisa lepas dari interaksi intens antara dua orang berlainan jenis (LGBT di luar konteks). Interaksi intens tersebut bisa menimbulkan stimulus emosional bagi pelakunya, entah berupa perasaan nyaman, keakraban, rasa damai, bahkan sampai……..dorongan seksual.

Itu benar. Kita tidak bisa naif mengabaikan variabel itu saat membahas aktivitas pacaran. Kita juga tidak bisa menganggap sepele dengan berkata: “saya pacarannya nggak ngapa-ngapain kok.” Saat remaja, manusia akan merasakan dorongan seksual yang tinggi. Hal itu sudah menjadi semacam “hukum alam,” yang dialami semua orang.

Adanya dorongan seksual itulah yang kemudian meracuni aktivitas pacaran. Pacaran yang semula dianggap jalan mencapai cinta sejati, malah menjadi ajang “memberi servis” pada pasangan. Boleh jadi awalnya cuma pegangan tangan—(tapi kok) lamaaaa…banget. Kemudian mulai berani cipika-cipiki, pelukan, cium bibir (maaf), hingga berlanjut pada perbuatan tidak senonoh yang lebih “dewasa.”

Sekali lagi, jangan naif membaca urusan ini dengan mengabaikan realitas yang terjadi!

Memang ada orang yang pacarannya safe banget, cuma ngobrol, tidak pernah kencan, dan sebagainya. Tapi berapa banyak yang seperti itu? Lebih banyak mana dengan yang melakukan peluk-cium dan perbuatan tidak senonoh lainnya?

Seseorang yang rela memberikan tubuhnya untuk digerayangi pacarnya, entah karena penasaran atau alasan suka sama suka, tidak jauh beda dengan (maaf) “seorang pekerja seks” yang menjajakan kenikmatan pada pelanggannya. Boleh jadi pekerja seks malah lebih "bermartabat" karena mereka dibayar untuk itu. Sementara seseorang yang dibutakan oleh bujuk rayu dan dalih pembuktian cinta, dengan sukarela memberikan tubuhnya pada pacar yang entah kapan dinikahinya. (Ironis!)

Jika kalian masih memiliki kepedulian untuk menjaga kehormatan diri dan tidak ingin disamakan dengan pekerja seks, maka kalian harus melakukan sesuatu untuk menghentikan pacar kalian yang bertindak sembrono—bukannya malah menikmati “servis gratis” dari pacar kalian.

*   *   *

Dari kacamata hukum, remaja yang belum genap 18 tahun masih tergolong “anak di bawah umur.” Golongan tersebut masih bisa mendapat perlindungan hukum dari Undang-Undang Perlindungan Anak. Jadi, jika kalian merasa diperlakukan tidak senonoh oleh pacar kalian, dicium, dipeluk, atau digerayangi yang aneh-aneh, maka kalian bisa memperkarakan pacar kalian ke pengadilan dengan tuduhan pencabulan.

Ini serius. Undang-Undang Perlindungan Anak, khususnya pasal 81 dan 82, dibuat untuk melindungi anak di bawah umur dari ancaman kekerasan seksual dan tindak pencabulan. Pasal-pasal itu ampuh sekali untuk menjerat orang-orang cabul di sekitar kita. Nggak percaya? Buktinya, tuh ada artis ngetop yang baru saja terjerat pasal 81 dan 82 setelah terbukti mencabuli remaja cowok di bawah umur.

Sekali lagi, jika kalian masih peduli pada kehormatan diri, peduli pada batas-batas nilai agama, dan peduli pada masa depan, maka kalian tidak akan membiarkan seorang pun “menodai” kalian. Tak peduli siapa pelakunya, kalian berhak memperkarakan setiap perilaku mesum yang kalian terima melalui jalur hukum. Itu jika kalian memilih untuk peduli.

Tapi jika kalian memilih tidak peduli lagi, menyerah pada alasan klise “suka sama suka” maka kalian akan pasrah saja “di-anu-anuin” sama pacar. Alih-alih merasa berdosa, boleh jadi kalian malah sibuk menikmati “servis” dari pacar kalian. Suka tidak suka, kalian berhasil membuat pacar kalian senang karena mendapat layanan seks gratis tanpa harus membayar. Itulah yang saya sebut sebut menjadi “pekerja seks” sukarela.

Sampai di sini mungkin kalian akan nyinyir bilang, “Apa salahnya kalau cuma ciuman, pelukan, kan nggak sampai melakukan hubungan ranjang..Well, itu hak kalian bicara. Asal kalian tahu saja, kebanyakan “hubungan terlarang yang kebablasan” berawal dari kata “cuma.” Ah,kita cuma pegangan tangan kok. Ah, kita cuma cipika-cipiki kok. Ah, kita cuma bla bla bla. Pada akhirnya, ketika yang “cuma-cuma” itu berlanjut, maka kehormatan diri tidak bisa dikembalikan dan waktu tidak bisa kalian putar.

*   *   *

Sebagian orang merasa pacaran tidak akan seru jika cuma ngobrol dan kencan tanpa ada “servis” lain yang lebih menggairahkan. Lebih-lebih jika pelakunya masih remaja dengan dorongan seks yang tinggi. Dengan dalih pembuktian cinta, seseorang bisa meminta pacarnya untuk memberikan “servis gratis“. Bujuk rayu dan janji manis—seperti kasus Nenengseringkali digunakan untuk meluluhkan "iman" pasangannya. Tidak jarang permintaan itu disertai unsur paksaan dan ancaman pemutusan hubungan.

Di sisi lain, kita tidak bisa memaksakan pacaran gaya Barat yang menganggap pacar hamil sebagai hal yang biasa. Dalam budaya Timur, hamil di luar nikah tetap saja aib yang tidak termaafkan dan menodai citra diri kita di mata masyarakat.

Jika memang pacaran adalah jalan yang sudah kalian pilih saat ini, maka jagalah kehormatan diri kalian baik-baik. Jangan pernah mau dijadikan “pekerja seks sukarela” demi memuaskan birahi pacarmu. Sungguh, jika pacarmu itu beneran baik, dia tidak akan berani menggerayangimu. Dia akan memilih untuk segera menseriusi hubungan kalian dalam ikatan yang dicatat negara dan direstui agama. Pikirkanlah! []

Sunday, 14 February 2016

Tak Bisakah Kita Berhenti Merayakan Valentine


Kita tidak bisa menyimpulkan suatu perbuatan itu baik
hanya karena banyak orang melakukannya.
(Hatake Niwa)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal 14 Februari banyak orang ramai membicarakan Valentine. Dan setiap tahun, media sosial dibanjiri artikel yang melarang kita mengikuti ritus Hari Kasih Sayang. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari sejarah kelam Hari Valentine sampai menyitir dalil-dalil agama tertentu (yang boleh jadi tidak bisa dipahami oleh mereka yang merayakan Valentine).

Yang membuat saya jengah, artikel-artikel semacam itu hampir selalu memicu perdebatan di kotak komentar. Perdebatan itu terasa konyol karena selalu mencuat setiap tahunnya, pada tanggal yang sama, pada kasus yang sama, seakan-akan kita tidak pernah mengambil pelajaran dari perdebatan sebelumnya. Perdebatan itu pun menjadi perdebatan antara HABIT dan FAITH yang pelik sekali—tidak jauh beda dengan perdebatan perayaan malam Tahun Baru. Dan saya yakin, perdebatan tentang Hari Valentine juga tidak akan selesai.

Manusia dewasa dengan pemikiran yang semakin kompleks selalu menimbang untung-rugi dalam melakukan suatu perbuatan. Jika ia merasa perbuatannya tidak merugikan, maka ia akan terus melakukannya. Sebaliknya, jika ia merasa perbuatan itu merugikan, ia pun akan berpikir dua kali sebelum melakukannya.

Kita semua tahu, Hari Valentine adalah tren global yang telah membudaya. Perayaan Valentine sudah menjadi sebuah kebiasaan (habit) yang dinilai tidak merugikan siapapun. Alih-alih Hari Valentine terlihat seperti sebuah perayaan yang menarik. Pada Hari Valentine, orang-orang lebih senang membicarakan hal-hal romantis seperti pernyataan cinta, bertukar cokelat, hadiah bunga, dan ajakan kencan. Kenapa? Karena semua itu tampak menyenangkan dan tidak ada seorang pun yang melihat kerugian di dalamnya. Itu sebabnya, mengubah mindset orang-orang untuk tidak merayakan Valentine sangatlah sulit. Jika kita nekat melarang, orang-orang akan nyinyir bilang, “Emang kenapa sih ngelarang-larang gue ngerayain valentine? Ini kan cuma tukeran cokelat, ngasih bunga, ngasih kado. Apa ruginya buat elu?

Well, bagi yang menganggap Valentine biasa-biasa saja, mungkin mereka akan merayakan Valentine dengan pacar atau pasangan mereka. Mereka bisa saling bertukar cokelat, mengajak kencan, memberi bunga, atau melakukan apa-apa yang menurut mereka biasa-biasa saja dan tidak melanggar batas norma.

Masalahnya, ada sebagian orang yang merayakan Valentine secara ‘kebablasan.’ Hari Kasih Sayang malah diartikan sebagai ‘Hari Bebas’ di mana mereka merasa bebas melakukan apa saja dengan pasangannya pada hari itu. Bahkan berbuat mesum sekalipun.

Berbagai portal berita online mengabarkan bahwa pada menjelang Valentine, penjualan alat kontrasepsi (jenis kondom) meningkat drastis. Di Medan, seorang apoteker mengaku penjualan kondom di apoteknya meningkat dari 20 bungkus per hari menjadi 350 bungkus per hari. Hal serupa juga dialami seorang pedagang kaki lima di daerah Bandar Lampung. Menjelang Valentine, lima sampai tujuh kotak kondomnya bisa habis terjual. Yang mencengangkan, usia pembelinya tergolong masih remaja, berkisar antara 17-23 tahun. (Berita serupa juga bisa kalian temukan di sini dan di sini).

Dari sini, saya mulai khawatir. Memangnya remaja-remaja itu membeli kondom untuk apa? Main pelembungan? Untuk menemani anak PAUD bermain?

Implikasi psikologis itulah yang sering luput dari perhatian kita. Dewasa ini, ada banyak anak muda yang berkecimpung dalam perilaku pacaran. Padahal kita semua tahu, dorongan seks pada usia remaja sangat tinggi. Membiarkan mereka merayakan Valentine sama saja membiarkan mereka dalam perilaku beresiko. Kita tidak pernah tahu bagaimana mereka akan merayakan Hari Valentine. Siapa yang bisa menjamin mereka akan merayakan Valentine dengan biasa-biasa saja? Siapa pula yang bisa memastikan mereka tidak akan ‘khilaf’ ketika sedang bermesraan di tempat yang sepi?

Itu kan mereka, Valentine gue biasa aja tuh. Bodo amat kalo mereka kebablasan, itu salah mereka sendiri!

Oh, well, itu hak kalian menilai. Saya menulis ini untuk mereka yang mau memikirkan masalah ini. Jika kalian masih memiliki sisa kepedulian pada adik-adik kalian, pada teman, pada para remaja yang belum matang dalam urusan cinta, tolong jangan “kompori” mereka untuk merayakan Valentine, menggoda mereka untuk mencari pacar, berkencan di kafe, ikut-ikutan berbagi cokelat, atau semacamnya!!!


Mengapa? Karena—sekali lagi—siapa yang bisa menjamin mereka akan merayakan Valentine dengan biasa-biasa saja? Siapa pula yang bisa memastikan mereka tidak akan ‘khilaf’ ketika sedang bermesraan di tempat yang sepi? Pikirkanlah! Pikirkanlah jika kepedulian itu memang masih ada dalam benak kalian…

Friday, 5 February 2016

Kenapa Belum Punya Pacar?


.   .   .

“Kenapa kau belum punya pacar?”

“Untuk apa? Aku malah kasihan jika aku punya pacar.”

“Lho, kok kasihan?”

“Pacaran saat kita masih jauh dari menikah itu tidak mudah.”

“Ya, tentu saja. Bukankah cinta memang perlu diperjuangkan?”

“Diperjuangkan, tapi bukan berarti dilakukan dengan nekat dan tanpa memperhitungkan resiko patah hati. Alih-alih berakhir bahagia, yang aku lihat pacaran justru menyiksa pelakunya.

“Maksudmu?”

“Ketika pacaran kau memberi harapan, membicarakan janji-janji masa depan yang semuanya terlihat begitu hijau bagi pasanganmu. Semakin lama pasanganmu akan semakin berharap semua itu akan menjadi kenyataan. Tapi ketika kau tak kunjung bisa mewujudkannya, bukankah itu sama saja kau sedang menyiksa pasanganmu dengan harapan?”

“Memang terdengar menyakitkan kalau yang terjadi seperti itu.”

“Bukankah di dunia ini banyak orang yang pacaran bertahun-tahun tapi akhirnya kandas sebelum ke pelaminan? Bukankah tidak sedikit di antara pelaku pacaran yang terjebak dalam perasaannya sendiri, susah move on, bahkan sampai menikah pun mereka masih teringat pada masa-masa pacaran? Apa jadinya kalau mantan pacarnya ternyata bukan orang yang dinikahinya?”

“Menurutmu apakah itu memalukan?”

“Ya. Dan dalam standar moralku, orang yang sudah lama pacaran tapi tidak jadi nikah itu memalukan. Aku tidak mau itu terjadi padaku. Belum lagi mereka yang pacarannya kebablasan, sampai harus menjalani pernikahan yang bukan karena kesiapan melainkan karena ‘kecelakaan.’ Itu ironis sekali.”

“Tapi kau kan orang baik-baik. Kau tampan. Pintar. Kau disenangi banyak orang. Luwes dalam bergaul. Kau punya wawasan tentang bagaimana menghadapi wanita dan semacamnya. Rasa-rasanya kau tidak mungkin melakukan kekhilafan seperti itu.”

“Justru karena itulah. Aku tidak tahu kapan aku akan khilaf. Aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa menjaga diriku sendiri. Tidak ada jaminan. Dan ketika kita memutuskan untuk melibatkan orang lain dalam lingkaran kehidupan kita, itu bukan persoalan main-main dan penuh coba-coba. Jika sampai orang yang aku libatkan merasa tersakiti, merasa dirugikan, maka aku akan menanggung dosa selama orang itu belum mau memaafkanku. Bukankah itu mengerikan?”

“Jadi apa yang sedang kau lakukan? Kapan kau akan mulai memikirkan tentang jalinan hubungan yang serius dengan seseorang?”


“Entahlah. Ada hal lain yang harus aku lakukan untuk saat ini. Kalau kau ingin meminta saran tentang urusan perasaan, urusan cinta, lebih baik kau tanyakan pada temanmu yang sudah menikah. Mereka pasti jauh lebih paham pahit manisnya jatuh cinta dan tahu seluk-beluk membangun komitmen yang lebih tinggi daripada seorang lajang sepertiku.”

Membahas Cinta dan Tetek Bengek Perasaan Lainnya


Begitulah hakikat urusan perasaan,
ia tidak akan pernah menjadi cerita yang selesai ditulis,  apalagi dibicarakan.
(Hatake Niwa)

Sejak saya mulai menggunakan internet secara intens (sekitar tahun 2008), saya sering menjumpai realitas bahwa topik-topik tentang asmara dan tetek-bengek percintaan selalu ramai dibicarakan. Setiap posting, tweet, atau update status yang membahas topik itu akan segera dibanjiri komentar, likes, atau di-retweet oleh pembacanya. Apalagi jika topik tersebut ditulis oleh artis, novelis, atau orang ternama lainnya yang memiliki ribuan followers. Dalam hitungan menit, konten itu akan segera menjadi viral di dunia maya.

Sebagai contoh di Facebook, saya kerap menyimak tulisan-tulisan seorang novelis dengan nama pena “Darwis Tere Liye” melalui fanspage-nya. Fanspage Tere Liye masuk dalam top list yang hampir selalu saya kepo setiap kali membuka facebook. Tulisan-tulisannya banyak berbicara tentang etika pergaulan, cinta, perilaku remaja, dan liku-liku kehidupan sehingga sering menohok anak muda dan remaja tanggung hilang arah (seperti saya). Secara khusus, topik-topik tentang cinta dan urusan perasaan yang ditulis Tere Liye di fanspage-nya selalu mendapat perhatian lebih dari pembacanya. Hanya dalam hitungan menit, jumlah likes, share, dan komentar dari pembaca akan melesat.

Hal ini juga pernah saya alami ketika saya menulis tentang konsep “relativitas jodoh” di forum Kaskus. Selang sehari setelah saya posting, tulisan saya mulai ramai ditanggapi para Kaskuser. Apalagi ternyata tulisan saya sempat menjadi Hot Thread. Gara-gara itu pula konsepsi “relaitvitas jodoh” yang sebetulnya hanya istilah hasil reka-reka saya, menjadi viral tersendiri di dunia maya. Padahal saya menulis thread itu dengan emosional dan bahasa yang sempat carut-marut. Kok bisa-bisanya tulisan semacam itu malah ramai dibicarakan orang? Entahlah, boleh jadi kegelisahan saya tentang urusanpercintaan selama ini adalah kegelisahan yang sama yang dirasakan orang-orang kebanyakan.

Lantas kenapa? Apakah milyaran umat manusia di bumi selalu galau setiap harinya? Apakah sudah sedemikian parahkah kasus orang-orang patah hati di planet ini?

Boleh jadi memang demikian adanya. Jika kalian mampir ke toko buku, coba tengok deretan buku yang dipajang di rak best seller. Setidaknya selalu ada satu buku (novel) bergenre romance di sana—selain buku-buku tentang “cara cepat kaya” tentunya. Tidak mengherankan jika banyak novelis yang mengangkat topik percintaan sebagai fokus konflik atau sekedar menjadi bumbu penyedap agar plot cerita lebih menarik. Itu sendiri sudah menunjukkan bahwa animo masyarakat terhadap produk-produk bertemakan cinta tidak pernah surut. Tidak mengherankan jika para kapitalis memanfaatkan bulan Februari ini untuk mengeruk untung besar dengan propaganda Valetine’s Day.

Jika dikaitkan dengan urusan blog, selama ini saya jarang membahas topik cinta dan tetek bengek urusan perasaan. Boleh jadi karena alasan itulah, trafik blog ini tidak kunjung melesat. Jadi, jangan heran jika di postingan-postingan saya selanjutnya kalian akan lebih sering menemui tulisan tentang percintaan. Semua ini juga karena kalian—para pembaca—yang selalu ingin diberikan cerita-cerita cinta.

Bagaimana tidak? Kalian mudah hanyut setiap kali mendengar lagu-lagu cinta. Itulah kenapa dari jaman Koes Ploes sampai Raisa lahir, lagu-lagu cinta tak pernah selesai dibuat. Begitu juga dengan film-film picisan, kalian tentu lebih suka jika tokoh utamanya terlibat cinta segitiga, tersangkut konflik percintaan akibat perbedaan status, berjuang mempertahankan cinta, dan semua itu (harus) diakhiri dengan ending yang bahagia. Selera kalian menciptakan pangsa pasar tersendiri yang mendorong para pelaku bisnis industri hiburan berlomba mengangkat topik percintaan dan mengemasnya semenarik mungkin.


Jadi, dengan sangat naif saya umumkan—semoga dengan diangkatnya topik-topik percintaan, blog ini akan mulai ramai pengunjung dan populasi manusia galau akan jauh lebih berkurang, alih-alih berkembang biak. Demikian.

Wednesday, 27 January 2016

Obrolan Bujang

.  .  .

“Satu dua teman kita sudah menikah. Pekan depan, Si Baik Hati itu yang akan menikah.”

“Yeah, kita semua tahu itu.”

“Bagaimana perasaanmu?”

“Biasa saja—selain fakta bahwa kita ‘kehilangan’ seorang teman lagi.”

“Pertemuan ini jadi kurang seru tanpa Si Baik Hati itu. Sejak sekolah dulu, kita sering menghabiskan waktu di kedai ini. Aku juga merasa ‘kehilangan.’ Apa kau juga akan segera menyusulnya?”

“Pertanyaanmu seperti kau tak mengenal diriku saja. Kita sudah bersama sejak SMP, termasuk Si Baik Hati itu. Kalau kau ingin tahu apakah pernikahannya membuatku gusar untuk segera menikah, tentu saja tidak.”

“Kau tidak berpikir untuk punya pacar?”

“Pacar? Jangan bodoh. Untuk apa punya pacar jika tidak ada rencana menikah dalam waktu dekat? Itu sama saja menyakiti pacarmu dengan harapan-harapan semu. Membuatnya menunggu tanpa kepastian dan janji yang belum tentu kau tepati.”

“Sepertinya kau mulai percaya pada ‘bualan’ Si Baik Hati itu. Tapi, bukankah banyak orang melakukannya?”

“Haha…peduli setan dengan orang-orang. Jika mereka melakukan itu hanya karena novel-novel picisan atau film-film roman, itu sangat disayangkan. Mereka tidak benar-benar memahami pilihan hidupnya. Tapi aku—prinsipku, keputusanku, ini semua berdasarkan pertimbangan nalar logikaku.”

Well, setiap kepala bisa berbeda. Aku tak ingin berdebat denganmu.  Lagipula, Si Baik Hati itu tak jauh beda denganmu. Wanita yang dinikahinya bukan bekas pacarnya.”

“Benarkah? Aku belum tahu soal itu. Dan bagaimana mereka bisa bertemu?”

“Mereka teman saat SMA. Saat Si Baik Hati pergi berbelanja di swalayan, dia bertemu wanita itu, terlibat obrolan dengannya dan……….. Yah, seperti di cerita-cerita picisan—pertemuan yang tidak sengaja, takdir, jodoh, kiranya kau sudah tahu kelanjutannya. Si Baik Hati itu benar-benar beruntung.”

“Oh, well, Si Baik Hati itu menohok banyak orang yang bertahun-tahun pacaran tapi belum kunjung menikah juga.”

“Jadi pekan depan, bisakah kau datang?”

“Tentu saja. Mana bisa aku mengecewakan karibku sekarang. Aku banyak berhutang budi padanya.”

“Ya. Dia memang selalu baik pada semua orang. Ngomong-ngomong, berapa banyak yang akan kau beri?”

“Sebanyak yang aku bisa. Haha…untuknya tidak ada diskon.”

“Kita tak akan tega memberinya amplop kosong, bukan?”

.  .  .


Derai tawa kami pecah di kedai itu. Dulu, kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama di sana—melewati hingar bingar masa sekolah. Si Baik Hati itu sering menraktir kami, memberi banyak nasihat untuk tidak pacaran. Sempat aku berpikir dia membual. Tapi kini, Si Baik Hati itu benar-benar membuktikan ‘bualannya’.


Menikah adalah bagian dari ‘ritual hidup’ manusia yang memilih untuk menikah. Bagi kami yang masih bujang, tidak ada yang bisa disalahkan dari pernikahan, selain fakta bahwa kita ‘kehilangan’ seorang teman bermain. Toh, jika memang sudah waktunya, kita juga harus mulai memikirkan ‘sahabat hidup’ yang akan menemani sisa umur kita. Begitulah.

Friday, 1 January 2016

Karena Cinta Tak Selalu tentang Cantik


Where there is love, there is life
(Mahatma Gandhi)

Saya tidak mau munafik. Sebagai pria normal, saya akui bahwa kecantikan menempati kriteria pertama dalam menilai wanita. Saya sendiri tidak tahu mengapa. Kebanyakan pria juga berpikir begitu. Sulit dibantah jika pria adalah ‘makhluk visual’ yang mudah tergoda oleh penampilan. Meski kenyataannya banyak wanita yang kurang suka jika kecantikannya dibanding-bandingkan dengan wanita lain.

Karena pria cenderung melihat tampilan luar, jauh lebih mudah bagi mereka untuk jatuh hati pada wanita cantik. Tak peduli pria itu ganteng atau jelek, seleranya satu suara—suka yang ‘cantik-cantik.’

Di Instagram misalnya. Akun yang berisi foto-foto wanita cantik cenderung memiliki banyak followers dan feedback yang notabene berasal dari netizen pria. Foto-foto cantik tersebut akan segera kebanjiran like dan komentar bernada pujian seperti “wah…cantiknya,” “ayu tenan…,” “kamu cantik,” dan komentar sejenis lainnya. Di sisi lain, hasrat pria untuk menikmati sajian yang ‘cantik-cantik’ semakin mudah karena banyak sekali wanita yang tak ragu memamerkan foto-foto pribadi di akun sosial media miliknya.

Wanita juga memiliki kecenderungan untuk tertarik pada tampilan fisik pria. Hanya saja, wanita tidak seagresif pria dalam mengungkapkan ketertarikan visualnya. Hampir tidak pernah saya dapati wanita yang terang-terangan memuji foto pria sambil nyinyir bilang “iihh…kamu ganteng banget deh.” Wanita cenderung lebih kalem dalam mengekspresikan ketertarikan visualnya.

Akan tetapi dalam hal kriteria jodoh, wanita tidak seperti pria yang mudah tertarik pada citra visual pasangannya. Memang ada sebagian wanita yang mempertimbangkan fisik pria—seperti postur tinggi atau kulit putih—dengan dalih ‘memperbaiki keturunan.’ Tapi bagi wanita, komitmen dan tanggung jawab seorang pria jauh lebih penting sebagai prasyarat membina hubungan yang serius. Jangan heran jika kemudian seorang wanita cantik menikahi pria yang (kata orang) jelek. Boleh jadi yang kata orang ‘jelek’ itu malah lebih jelas komitmen dan tanggung jawabnya daripada yang ganteng tapi brengsek nan plin-plan sikapnya.

Dari sini muncul pertanyaan, jika pria ‘jelek’ masih mungkin mendapat wanita cantik, bagaimana jika wanitanya yang ‘jelek’? Mungkinkan wanita ‘jelek’ mendapat pria yang ganteng? (mengingat kaum pria lebih tertarik pada tampilan fisik wanita).

Tentu saja cinta tidak se-kekanak-kanakan itu. Seringkali cinta yang kita kenal di dunia ini tidak mengenal sekat-sekat logika ataupun nilai-nilai artifisial manusia. “Cinta” yang benar-benar cinta tidak akan naif dengan hanya melihat tampilan fisik yang sifatnya sesaat. Alih-alih cinta akan mewujud dalam bentuk ikatan emosional yang lebih abadi seperti kesetiaan, kepedulian, kepercayaan, perhatian, ketulusan, dan pengorbanan.

Di Amerika Serikat, seorang pria bernama Mark Lukac harus menjalani hari-hari yang panjang bersama istrinya—Giulia—yang mengidap bipolar disorder. Bukan hal mudah mendampingi seorang pengidap gangguan kejiwaan semacam itu. Mark mengaku sempat putus asa, sampai-sampai Mark pernah berpikir untuk bunuh diri di jembatan Golden Gate.

Saat ditanya kenapa Mark masih mau menjadi istri Giulia, dia menyebutkan dua alasan: CINTA-nya yang banyak dan KOMITMEN yang telah Mark jalin dengan Giulia.
Mark sadar, tidak ada seorang pun yang menginginkan gangguan kejiwaan itu—termasuk istrinya. Tapi ketika takdir menuliskan bahwa istrinya mengidap bipolar disorder, maka tidak ada yang bisa mencegahnya.

Tentu saja meninggalkan Giulia adalah pilihan paling realistis bagi Mark. Godaan untuk menceraikan istrinya pun sangat besar. Tapi Mark mencoba bertahan dengan CINTA dan KOMITMEN-nya pada sang istri. Mark pun memutuskan untuk setia membersamai Giulia—karena Mark percaya—hanya kasih sayang-lah yang bisa membuat istrinya lebih kuat untuk menjalani hidupnya.

Dalam keseharian, sering kita jumpai sepasang kakek-nenek yang meneladankan nilai-nilai cinta yang agung. Keduanya sudah puluhan tahun menikah dan saling membersamai dalam manis-getirnya kehidupan. Si Kakek sudah pikun dan berkurang pendengarannya. Setiap kali Si Kakek kurang paham dengan lawan bicaranya, maka istrinya akan membantu menjelaskan. Ketika Si Kakek mulai sakit-sakitan, istrinya tetap bersabar merawatnya, menyuapinya, dan mengurusi segala kebutuhannya. Hingga ketika ajal menjemput Si Kakek, istrinya masih turut serta mengiring jenazahnya menuju pembaringan terakhirnya.

Kakek dan nenek itu tidak lagi memiliki ketampanan maupun kecantikan fisik seperti saat keduanya masih muda. Mereka menua bersama-sama, mendapati keriput yang sama, dan mengalami kerentaan yang sama. Tapi bukan fisik yang menyatukan mereka melainkan benih-benih cinta yang selalu mereka jaga hingga tetap tumbuh meski telah puluhan tahun berlalu.

Cinta adalah anugerah terindah Sang Pencipta. Tak sepatutnya anugerah itu terbatasi oleh sekat-sekat artifisial manusia yang naif seperti tampilan fisik semata. Karena cinta sejati tak pernah mensyaratkan apapun dan takkan habis terurai dalam bait-bait pujangga. Cinta sejati hanya akan mewujud dalam kesetiaan, kepedulian, kepercayaan, perhatian, ketulusan, dan pengorbanan—yang ditujukan demi orang yang selalu dikasihi.

Monday, 26 October 2015

Tentang Cinta dari Dunia Maya


“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada,  cinta tak akan pernah tercipta
dalam hitungan tahun bahkan abad.
(Kahlil Gibran)

Hari sudah semakin sore. Lorong-lorong kampus sudah sepi. Kebetulan ini hari Jumat, hanya beberapa jurusan yang membuka kelas sore. Aku tercenung sendirian di lantai 2, di depan ruang penyimpanan barang. Tempat yang selalu kupilih untuk menyendiri karena kesunyiannya. Begitu sunyinya, membuatku menerawang jauh mengingat fragmen-fragmen masa laluku. Masa lalu yang seharusnya tidak pernah kuingat.

Seperti sebuah film hitam putih—kenangan-kenangan itu terputar begitu saja. Rasa-rasanya, kejadiannya baru kualami kemarin. Tanpa terasa semua itu telah berlalu. Ya, waktu memang berlalu begitu cepat dan hanya menyisakan dua hal: kenangan atau—penyesalan.

“Masih mencoba untuk melupakan masa lalu?” Suara temanku membuyarkan nostalgiaku.

“Eh…apa?” aku beringsut menoleh setengah kaget.

“Yang kau lakukan itu.” Agaknya temanku hafal membaca pikiranku.

“Bukan urusanmu!” Aku mendengus sebal.

“Ah, sikapmu selalu saja begitu. Sok tegar, meski hatimu tak pernah damai.”

“Hey, sejak kapan kau berubah menjadi pria yang peduli?” kataku ketus.

“Sejak kita berkenalan.”

“Sudah basa basinya? Ada perlu apa kau menemuiku? Tak biasanya.”

“Baiklah, aku hanya ingin bertanya. Menurutku kau yang paling tahu di antara teman-temanku yang lain.” Wajah pria di hadapanku menjadi serius.

“Kalau kau ingin menanyakan tentang keburukan seseorang, kau salah tempat.”

“Bukan itu. Aku hanya minta tanggapanmu. Apa kau percaya cinta dari dunia maya?”
Aku mengernyitkan dahi.

“Maksudmu?”

“Itu…Cinta yang muncul karena komunikasi yang intens di dunia maya.”

“Hm…aku belum pernah mengalaminya.” Jawabku pendek.

“Anggaplah kau sedang mengalaminya sekarang.” Temanku mencoba membujukku bicara.

Sebenarnya aku malas membahas persoalan perasaan. Jika pria yang berdiri di hadapanku bukan teman baikku, tak sudi kulanjutkan percakapan itu.

“Hei, bukankah sudah lama kau tahu kalau aku seorang yang sangat rasional? Lantas bagaimana mungkin aku bisa merasakan cinta hanya dari komunikasi dunia maya? Aku bukan lelaki gampangan semacam itu.”

“Ini bukan perkara gampangan atau tidak. Aku hanya menanyakan, apa kau percaya bahwa cinta bisa muncul dari dunia maya?”

“Tentu saja bisa. Tapi itu tak lebih dari proses bertemunya “perhatian” dengan “perhatian.”

“Maksudnya?” giliran temanku yang mengernyitkan dahi.

“Sederhananya, siapa sih yang tidak gembira jika  mendapat perhatian dari seseorang? Apalagi jika perhatian itu berlangsung secara intens. Padahal kau tahu, rumus agar orang bisa jatuh cinta itu sederhana. Berikan ‘perhatian dan kepedulian’ Jika yang kau cinta orang yang waras nuraninya, lama-lama dia akan luluh juga.”

“Segampang itukah? Kalau begitu, bisakah perasaan dari dunia maya menjadi cinta sejati?”

“Apa kau tidak salah orang menanyakan hal itu pada seorang lajang yang bahkan tidak punya pacar sepertiku?”

“Oh, ayolah. Aku malah lebih percaya pada kata-katamu karena jawabanmu murni dari rasionalitas pikiran yang tidak terecoki sisi emosional tertentu. Sekali lagi kutanya, bisakah perasaan dari dunia maya menjadi cinta sejati?”

“Tergantung. Setiap diri kita tidak pernah bisa memastikan masa depan. Cinta sejati, jodoh, urusan perasaan, semuanya jauh lebih rumit dari relativitas Einstein. Kau tak akan mendapat jawaban jika kau menggunakan pendekatan rasional untuk memahami urusan perasaan. Memangnya kau sedang jatuh cinta dengan gadis di dunia maya?”

“Entahlah, kukira begitu.”

“Sudah pernah bertemu?”

“Belum.” Temanku menggeleng.

“Saranku, berhentilah berangan-angan. Jangan simpulkan apapun tentangnya sampai kau menemuinya. Urusan perasaan terlalu rumit jika kau jadikan meja taruhan.”

“Bagaimana denganmu?”

“Hah? Aku? Jangan konyol. Pembicaraan ini tidak menyinggung tentangku melainkan dirimu.”

“Aku dengar kau sempat bertemu dengan gadis yang kau kenal dari dunia maya. Teman chatmu?”

“Entahlah. Aku malas membicarakannya. Dia orang yang berbeda dengan ‘dia’ yang kukenal di dunia maya.”

“Kau menyukainya?” Temanku malah menginterogasiku.

“Bodoh! Sudah lama aku tak mempercayai dongeng-dongeng cinta di masa kecil. Omong kosong jika kita membahas cinta tanpa membahas komitmen! Sudah, pembicaraan ini sampai di sini.”


Aku beringsut pergi. Temanku hanya melongo. Terpaku di tempat yang sama ketika aku menerawang mengingat-ingat masa lalu. Pria yang tengah berdiri di sana, mungkin jauh lebih menderita daripada aku.

Wednesday, 10 June 2015

Surat Kecil dari Ayah

Dear Rizal...

Nak, manusia hanya diizinkan ‘tahu’ tentang masa depannya—tahu tentang apa-apa yang harus dipersiapkan untuk membuat masa depannya berjalan lebih baik. Tapi ketahuilah bahwa tak seorang pun tahu takdir apa yang akan menimpanya kelak. Itu mutlak kuasa Tuhan. Tuhan tak pernah menyuruh manusia untuk duduk manis mengharap takdir terbaik mendatanginya. Tuhan meminta kita untuk berupaya seikhlas dan semampunya.

Bahkan Ayah pun tak tahu kalau kau akan mengalami kecelakaan itu. Ayah juga tak pernah mengharapkan kau harus menanggung takdir ini. Semua itu di luar kuasa Ayah, Nak. Bila Tuhan telah berkehendak, maka tugas kita adalah menjalani. Tak perlu banyak protes karena kita harus yakin bahwa selalu ada tujuan dan hikmah dari semua ketentuan-Nya. Karena tak satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia.

Sekarang, lihatlah dirimu, Nak. Syukurilah apa-apa yang telah kau miliki saat ini. Syukurilah kedua telingamu yang dengannya kau masih bisa mendengar banyak nasehat. Syukurilah kedua matamu yang dengannya kau masih bisa membaca. Syukurilah kedua tanganmu yang dengannya kau masih bisa makan, menulis, dan memberi sedekah pada orang lain. Dan yang terpenting syukurilah dirimu sendiri yang hari ini masih diperkenankan Tuhan untuk belajar menerima takdir lebih dari siapapun.

Bersyukurlah, Nak. Dan rayakan setiap kemenangan-kemenangan kecil hari ini agar kau selalu percaya bahwa masih ada harapan untuk hari esok sekalipun kau menjalaninya dengan tetap ‘berpijak’ di tempat dudukanmu sekarang. Ayah selalu percaya padamu, Nak. Ayah akan selalu bangga padamu...

ttd

Ayah

Monday, 8 June 2015

Pangeran Tampan dari Kerajaan Timur

Ini cerita lama. Tentang seorang pangeran dari negeri seberang nun jauh di Timur. Alkisah di Kerajaan Timur hiduplah seorang Pangeran yang sangat tampan. Badannya gagah perkasa dan tutur katanya santun, membuatnya menjadi idola gadis-gadis di Kerajaan Timur.

Sayangnya, hati Sang Pangeran terlampau sulit menjatuhkan pilihan. Sebagai satu-satunya pewaris tahta dan putra kebanggaan ayahandanya, Sang Pangeran ingin mencari sesosok wanita yang sempurna sebagai istri. Ayahandanya yang tak lain adalah raja Kerajaan Timur dibuatnya resah. Maka dimintalah Sang Pangeran untuk berkelana mencari calon pendamping hidupnya.

Suatu hari Sang Pangeran tiba di sebuah perkampungan di pinggir sungai. Ia bertemu dengan seorang gadis pembuat mi di sana. Wajahnya cantik dan baik hatinya. Sang Pangeran langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Ia pun memutuskan untuk berkenalan lebih jauh dengan gadis pembuat mi itu. Selang beberapa hari kemudian, Sang Pangeran mengetahui bahwa keluarga gadis pembuat mi itu sangat miskin. Mengetahui status sosialnya yang jauh berbeda, Sang Pangeran memutuskan untuk urung menikahi gadis pembuat mi.

Sang Pangeran melanjutkan perjalanannya hingga tiba di sebuah kota. Di sana ia betemu dengan rombongan pembesar Kerajaan Selatan yang tengah singgah. Sang Pangeran terkesima dengan kecantikan putri pembesar Kerajaan Selatan. Oleh Sang Pangeran, diajaknya gadis itu berkenalan, membincangkan banyak hal, hingga Sang Pangeran jatuh hati pada putri pembesar itu. Sang Pangeran pun membulatkan tekad untuk menikahinya.

Namun sehari kemudian, tersiar kabar bahwa putri pembesar yang ingin dinikahi Sang Pangeran terjatuh dari kereta kuda. Kepalanya terbentur cukup parah hingga menyisakan luka gores di dahi yang tak bisa dihilangkan dengan penawar apapun. Menyadari ada kecacatan pada calon istrinya, Sang Pangeran mengurungkan niatnya menikah. Ia takut menanggung malu bila istrinya kelak digunjingkan karena memiliki ‘cacat’ di dahinya.

Dengan perasaan yang tak menentu, Sang Pangeran beringsut pergi lebih jauh hingga tersesat di dalam hutan. Di sana, Sang Pangeran kehabisan bekal dan akhirnya terjatuh tak sadarkan diri. Ia ditolong oleh seorang saudagar kaya yang kebetulan lewat. Sang Pangeran dirawat di rumah saudagar kaya itu. Di kediaman saudagar kaya itu, Sang Pangeran jatuh hati dengan putri saudagar kaya. Saudagar kaya itu senang melihat keakraban Sang Pangeran dan putrinya. Ia pun berpikir untuk menjodohkan keduanya. Sang Pangeran pun menyanggupinya.

Dibawanya putri saudagar kaya beserta keluarganya menuju kerajaan. Ayahandanya sangat gembira melihat putranya telah menemukan calon pendamping hidup. Persiapan pernikahan pun segera dilakukan. Undangan-undangan disebar ke seluruh penjuru negeri. Hidangan-hidangan terlezat dihidangkan menyambut kerabat yang berdatangan. Gelas-gelas anggur diisi penuh. Dan setiap ruang istana didekorasi seindah dan semewah mungkin.

Namun tepat sehari sebelum pernikahan agung digelar, Sang Pangeran membatalkan niatnya untuk menikahi putri saudagar kaya. Gadis itu dirasa terlalu sering menasehatinya dan banyak menuntut. Sang Pangeran ingin gadis lain yang lebih pengertian dan tahu diri. Ia pun bergegas pergi ke luar Kerajaan Timur dengan harapan akan menemukan gadis lain yang lebih baik.

Malang bagi Sang Pangeran, kendaraan yang ditumpanginya terperosok ke dalam jurang. Sang Pangeran terluka parah. Ketika dirinya ditemukan penggawa kerajaan, wajahnya nyaris tak bisa dikenali. Kulit wajahnya tersayat belukar—meninggalkan bekas luka yang tak bisa dihilangkan. Kedua kaki Sang Pangeran pun lumpuh. Ketampanan yang dulu membuatnya dipuja gadis-gadis Kerajaan Timur kini hilang tak berbekas. Nasib Sang Pangeran berakhir tragis karena tak ada satu pun wanita yang ingin menikahinya hingga akhir hayatnya.


EPILOG:
Selama kau mencari ‘dia’ yang sempurna, maka selamanya tak akan kau dapatkan meski kau tempuh sepanjang negeri. Lebih bijak kau cari ‘dia’ yang senantiasa memperbaiki diri dan berlapang dada ketika kau ajak untuk bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itulah hakikat ‘kasih’ yang sebenar-benarnya.

Wednesday, 29 January 2014

JODOH di Otak Mahasiswa Semester Akhir

Selaku mahasiswa semester akhir, saya rasa topik tentang “JODOH” merupakan salah satu topik yang cukup sensitif. Saya belum menikah (di KTP masih belum kawin), dan sejauh ini belum memahami betul tentang konsep jodoh. Jadi daripada nanti dikira sok tahu, saya akan menyitir nasihat seorang bijak saja dalam urusan ini.

Orang bijak tersebut mengungkapkan bahwa dalam urusan jodoh, RESTU ORANGTUA adalah salah satu kunci pokok yang akan mendukung langgengnya hubungan selanjutnya. Secara logika saya yang awam, jelas saja restu orangtua sangat berpengaruh. Bayangkan, betapa indahnya bila kita mendapati jodoh kita sebagai sosok yang disayang orangtua kita. Urusan-urusan rumah tangga ke depan sangat mungkin lebih lancar karena hubungan pernikahan sejak awal telah mendapat restu dan dukungan penuh orangtua.

Namun bagaimana dengan mereka yang ngotot dengan pilihannya? Boleh jadi, si anak merasa bahwa pilihannya yang paling tepat. Alasannya karena sudah pacaran sekian tahun lamanya. Sudah saling mengenal luar daleman segala (ihh). Si anak mati-matian meyakinkan kedua emak-babe-nya untuk merestuin hubungan si anak dengan jodoh pilihannya itu. Entah bagaimana, si orangtua tetap keukeuh mengatakan tidak. “Pokoke, aku ora ngrestoni koe rabi karo bocah kae!”

Galau? Jelaslah. Nyeseknya lagi kalau di balik penolakan itu, diam-diam orangtua telah memilihkan jodoh untuk si anak yang dirasa lebih cocok dan tepat sesuai bibit, bebet, dan bobotnya. Emangnya ini jaman Londo apa? Masih main jodoh-jodohan segala! Sekarang jaman demokrasi Mak. Saya bebas bergaul dengan siapa saja, dan saya bebas menentukan pilihan terbaik bagi hidup saya (kata si anak berapi-api).

Well, saya tidak tahu kelanjutan nasib mereka yang mengalami kasus seperti ini. Bisa saja si anak memaksa orangtuanya untuk merestui pilihannya (sambil berderai-derai air mata tentunya). Bisa juga pihak orangtua memaksa si anak untuk menerima jodoh pilihan mereka. Tapi di jaman serba bebas seperti sekarang, asumsi pertamalah yang lebih mungkin terjadi. Pengecualian kalau kalian adalah anakr raja atau bagian dari keluarga kerajaan yang masih sangat mungkin urusan jodoh-perjodohan diatur/dikonspirasikan (piss).

And then, what’s wrong with it? Sebagaimana nasihat orang bijak di awal tulisan ini, saya rasa sudah saatnya kalau memang kalian mau serius memikirkan jodoh, maka kalian pun harus siap mencari jodoh yang sekiranya bisa membuat melting orangtua kalian. Nggak bisa asal comot. Orangtua selalu membuat standar penilaian (idealisme) tertentu soal jodoh. Tugas kalian adalah mencoba mengorek informasi dari orangtua kalian. Mengajak orangtua mengobrol santai soal jodoh lebih berguna daripada curhat pada teman satu kos (yang boleh jadi endingnya malah gosipin cowok sebelah).

So, inilah pilihan kalian. Mau tak mau, kalian harus menerima kenyataan ini dan menyikapinya sebijak dan searif mungkin. Semoga kalian segera dipertemukan dengan jodoh pilihan hati yang direstui orangtua, dilegalkan negara, dihalalkan agama, dan kelak menjadi pendamping kalian kala menapak surga-Nya. Aamiin.


Salam,

CMIIW

Dear Mona


Dear Mona...

Apa kabarmu di sana Mona? Baik-baik saja kah? Apa kau kurang makan di sana? Bagaimana kabar rambut hitam pekatmu yang setiap sepuluh menit sekali kau rapikan itu? Hahaha... mana mungkin aku lupa dengan kebiasaanmu di kelas dulu. Lima tahun sekelas denganmu adalah salah satu anugerah terindah yang Tuhan beri dalam hidupku. Dan selama lima tahun itu pula kau mengajarkan banyak hal padaku, juga pada semua orang. Hingga detik ini pun masih banyak orang yang merindukan kehadiranmu, termasuk diriku...

"Dian Kusuma Evinawati." Entah kenapa kau lebih suka dipanggil Mona (terdengar maksa banget deh). Gadis yang lucu, imut, periang dan jago menulis cerpen. Kerjaannya di kelas: Sibuuuk sekali menulis sesuatu di kertas memo. Entah apa lah yang kau tulis. Begitu pelajaran berakhir kau buang kertas-kertas itu. Boleh jadi kau tak pernah menyadari bahwa diam-diam aku rajin memungut kertas demi kertas yang kau buang ke tong sampah. Aku hanya tertawa geli membaca luapan perasaanmu di kertas memo itu. “HUFT,” “Hadeewww,” “Boring beud!” adalah tiga kata yang paling sering kudapati dalam kertas memo itu. Tuduh aku seorang yang kepo atau apalah. Silahkan. Aku pun takkan keberatan kalau dicap sebagai pemulung. Faktanya aku memang rajin mungutin kertas-kertas memomu dari tong sampah. Kalau kau sebal setelah mendengar pengakuanku ini, silahkan kau tempeli kotak sampah itu dengan stiker: “YANG MERASA PEMULUNG DILARANG KEPO!” Hehe...

Apa kabarmu di sana, Mon? Baik-baik saja kan? Harus kuakui bahwa aku di kelas merindukan kehadiranmu. Gadis manis dengan bandana merah yang setia nangkring di kepalanya. Gadis yang paling rajin berangkat pagi, mengerjakan piket harian yang sebenarnya bukan gilirannya. Gadis periang yang dengan sukarela meminjami PR untuk dicontek teman-teman sekelas. Kau tahu, guru Bahasa Indonesia yang sekarang jauh lebih galak dari Pak Nur lho.

Inget nggak, dulu waktu masih duduk di kelas X, Pak Nur yang tampak awet muda di usia 38 tahun adalah primadona cewek sekelas. Sampai-sampai seisi kelas sepakat memanggilnya Mas Nur. Si Ryan yang  tampangnya setara dengan Denny Sumargo saja sampai sirik dibuatnya. Barangkali kau termasuk salah satu fans Mas Nur. Sayang, semenjak kau pergi beliau juga turut pergi meninggalkan sekolah. Katanya sih mau pindah ke luar negeri. Padahal itu cuma akal-akalannya doang buat ngibulin anak-anak sekelas kalo dia mau pindah mengajar di salah satu SMA swasta di Semarang.

Apa mau dikata, Mas Nur yang ramah lingkungan itu pergi, begitu pula denganmu. Aku hanya bisa terdiam sendiri di sini berkutat dengan lembar-lembar buku yang kian kusut. Membuatku malas menjamahnya meski hanya sekian menit. Padahal ujian kini tinggal menghitung minggu. Dulu, ketika kau di sini, kau yang mengingatkanku untuk terus belajar. Ingat kan waktu kau mengajariku menulis cerpen? Ya, sebuah tugas menyebalkan yang menurutku cuma cocok buat kaum hawa. Mana ada cowok yang minat nulis cerpen? Kalaupun ada pasti jumlahnya tidak banyak. Aku tak terlalu berminat pada cerpen Mon. Menulis cerpen itu terlalu feminim dan nggak ada cocok-cocoknya buat cowok. Nulis cerpen cuma buat mereka para banci nggak jelas identitas kelaminnya yang doyan dengerin lagu-lagu cinta, galau, dan nonton FTV. Beuh! Tak terbesit di otakku untuk menulis cerpen. Gengsiku terlalu tinggi untuk melakukannya.

Dear Mona...

Kini sepertinya kau telah berhasil memaksaku untuk menjilat ludahku sendiri. Ya, faktanya karena cerpen inilah aku bisa terus mengingatmu meski tak lagi bersitatap denganmu. Aku tak pernah berhenti menulis cerpen sekedar untuk merasakan kehadiranmu. Mengenang kembali saat-saat di bawah pohon kersen di sekolah. Kau sempurna mengajarkan sesuatu yang membuatku tak dapat melupakanmu. Dengan cerpen, kau memberiku kesempatan untuk memanjakan diri dengan segala perasaan “spesial” yang hanya aku rasakan ketika bersua denganmu.

Kau memang selalu cuek dengan urusan perasaan ini. Kau tidak pernah pacaran. Kau terlalu teguh memegang prinsip pacaran setelah nikah. Jagoan basket dan primadona sekolah sekaliber Ryan pun tak kau tanggapi. Kasihan dia dulu rela hujan-hujanan cuma buat menungguimu membuka pintu rumahmu. Pembuktian cinta katanya. Omong kosong. Meski akhirnya kau bukakan pintu rumah, itu pasti bukan karena kau sudi menerima kehadirannya. Kau cuma iba dan takut dianggap sebagai tersangka atas flu yang bakal Ryan derita kalau terus-terusan kehujanan.

Hahaha...ijinkan aku kembali tertawa Mon. Kau begitu lucu. Kau begitu berbeda dari cewek-cewek kebanyakan. Kau seakan tahu bagaimana cara meninggalkan kesan dan kenangan yang terindah di relung hati setiap orang semasa sekolah dulu. Kau...kau begitu spesial di mata setiap orang. Tak seorang pun yang tahu tentang perasaanmu. Kau pintar bersandiwara, menyembunyikan setiap masalahmu agar orang lain tak terbebani dengan kehadiranmu. Meski demikian tak sedikit pula anak-anak usil yang menyalahgunakan kebaikanmu. Lima tahun kita menjalani masa-masa sekolah bersama. Dan selama 5 tahun itu pula kau menghadirkan banyak cerita yang tak bisa kutulis satu per satu di sini.

Tapi kenapa kau tak pernah jujur padaku? Kenapa kau membohongi semua orang Mon? Ya, kau telah sempurna membohongi semua orang dengan senyum manis dan wajah tegar itu. Wajah yang begitu teduh seakan kau tak pernah dirundung duka? Mungkinkah kau tidak suka dikasihani oleh orang lain hanya karena penyakit leukemiamu? Ataukah karena kau saja yang terlalu pandai bersandiwara, bersikap tegar dan tetap berlaku baik pada semua orang meski kau tahu hidupmu takkan lama?

Seandainya kau mengatakan yang sebenarnya, tak akan ada orang yang menyakitimu. Kau akan menjadi makhluk paling disayang di dunia ini. Bahkan aku pun akan berjanji untuk menjagamu apapun yang terjadi. Aku takkan membiarkanmu dimaki habis-habisan oleh Sarah sewaktu kau disangka selingkuh dengan pacarnya. Aku juga tak akan membiarkan makananmu ludes disambar gengnya Nindy. Aku takkan membiarkanmu menjadi bahan ejekan hanya gara-gara sepatu bututmu. Aku takkan membiarkan setiap PR yang kau kerjakan menjadi sasaran contekan teman-teman sekelas. Bahkan aku menyesal telah ikut nimbrung mencontek PRmu berkali-kali. Aku menyesal tidak sempat membalas setiap budi baikmu selama ini.

Satu-satunya kenangan pahit yang terssisa tentangmu hanyalah hari-hari terakhir menunggui tubuhmu yang tergolek lemah dengan detektor detak jantung yang justru menambah kesan horor di ruang perawatan. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Lagipula aku bukan siapa-siapa untukmu, Mon. Saat itu aku hanya bisa menengadahkan kedua tangan, memohon keajaiban demi kesembuhanmu. Namun, hingga sebuah garis mendatar terpampang di layar detektor, keajaiban itu tak kunjung datang. Saat itulah untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan sesaknya ketika ditinggal pergi seseorang yang terlanjur kita sayangi.

Dear Mona...

Kini, genap  3 bulan kepergianmu. Hanya cerpen ini yang bisa aku tulis untuk mengingatmu. Terkesan seperti surat memang, karena aku terlampau bingung untuk menjadikan setiap momen yang kita alami bersama menjadi sebuah cerpen yang penuh makna. Mon, dirimulah yang dulu mengajariku menulis cerpen. Kini kau lihat sendiri aku telah menulisnya meski aku tahu, cerpen ini takkan pernah seapik goresan penamu. Bukankah kau berpesan bahwa langkah pertama untuk menulis adalah mengabaikan kritikan orang lain sampai tulisan kita selesai? Setidaknya hingga detik ini aku masih mematuhi nasihatmu.

Hmm... seandainya saat ini aku bisa memanggil satu malaikat, akan kutitipkan cerpen ini untukmu. Akan kuselipkan cerita ini dalam sepucuk amplop paling wangi di dunia. Meski aku belum tahu di mana letak surga itu, aku hanya berharap kau bisa meraih kebahagiaanmu di sana. Bersanding bersama belaian sayang dan kecupan lembut dari bundamu tercinta, juga orang-orang yang akan selalu mengasihimu. Lekas pejamkan matamu, Mon. Rapatkan selimut kedamaian agar kau tetap hangat. Rasakan kehangatan kasih semua orang di sini yang tak pernah berhenti mencintaimu. Semua orang hingga kini masih sibuk membisikkan rindu untukmu. Begitu pula dengan diriku...

Teruntuk malaikat-malaikat di langit, dengan kepak sayap-sayapmu yang agung, sampaikan sepucuk cerita ini, dariku untuk Mona di surga...



Your friend and secret admire,


Kevin Pratama