Subscribe:

Labels

Showing posts with label pacaran. Show all posts
Showing posts with label pacaran. Show all posts

Wednesday, 30 March 2016

Karena Cinta Butuh LOGIKA


Cinta tanpa logika,
kalau tidak bikin sakit, paling-paling bikin ‘’khilaf’’.
 (Hatake Niwa)

Seorang bijak pernah berkata “hidup itu pilihan.” Dalam pandangan filsafat, setiap orang memiliki apa yang disebut “kehendak bebas”. Kehendak bebas itulah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Dengan kehendak bebas itu, setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Karenanya, pada hakikatnya kehidupan ini hanya berisi pilihan-pilihan hidup. Tugas kita hanya memilih pilihan-pilihan itu. Dan untuk setiap pilihan yang kita pilih, selalu ada konsekuensi logis yang akan menentukan perjalanan hidup kita di masa depan.

Konsep kehendak bebas ini mencakup segala aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal cinta. Sebagai perasaan universal, cinta menyediakan berbagai macam pilihan bagi kita. Pacaran, menikah, LDR, HTS, jomblo, TTM, selingkuh, putus, dan cerai, adalah beberapa contoh pilihan dalam cinta. Tugas kita tidak lebih dari memilih pilihan-pilihan itu dan menerima segala konsekuensinya.

Jika kita memilih pacaran misalnya. Ok, well, mungkin kita akan merasakan betapa bahagianya memiliki kekasih. Kita bahagia, karena memiliki seseorang yang spesial yang tulus memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada kita. Dengan pacaran, kita berpikir kita sudah mendapatkan calon pendamping hidup. Itu gambaran indahnya pacaran. Tapi di sisi lain, ada saja kemungkinan buruk saat kita memilih pacaran.

Kita tidak bisa naif mengatakan pacaran adalah cara terbaik mencari pasangan hidup. Di satu sisi pacaran memang terlihat indah, seperti cerita novel atau di film-film picisan. Tapi di dunia nyata, realitasnya tidak semudah itu. Bagaimana jika pacar kita ternyata orang yang cuek? Bagaimana jika pacar kita ternyata seorang maniak tukang selingkuh? Bagaimana jika pacar kita keburu jengah dan memilih putus ? Semua kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi saat pacaran.

Sama halnya dengan menikah. Betapa banyak orang yang mengompori para lajang untuk segera menikah tanpa mau mengungkap susah payahnya kehidupan berumah tangga. Itu berbahaya sekali. Orang akan berpikir menikah itu mudah. Kemudian tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk menikah meski persiapannya pas-pasan. Tahu-tahu setelah menikah, orang itu menyadari ternyata kehidupan rumah tangga tak seindah kata orang. Biduk rumah tangga pun berantakan.

*   *   *

Seperti yang saya katakan di atas, setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi. Kita sendirilah yang harus bertanggung jawab atas setiap pilihan hidup yang kita ambil. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain, jika pilihan yang kita pilh ternyata keliru. Begitu juga dengan pilihan hidup orang lain. Kita tidak bisa menjamin pilihan hidup orang lain akan berdampak sama baiknya bagi kehidupan kita. Masing-masing orang menghadapi situasi dan kondisi lingkungan yang berbeda. Karenanya, pilihan-pilihan yang diambil pun sudah pasti berbeda.

Sebagai contoh, jika ada orang yang pacarannya awet sampai menikah, itu tidak selalu berarti pacaran adalah pilihan terbaik untuk mendapat pasangan. Kenyataannya, tidak sedikit orang yang pacaran sampai bertahun-tahun, tapi akhirnya putus sebelum ke pelaminan. Begitu juga dengan orang yang sudah menikah. Meski banyak orang mengaku bahagia setelah menikah, belum tentu setiap orang yang menikah akan bahagia. Ada saja segelintir orang yang rumah tangganya berantakan, meski sudah menikah bertahun-tahun lamanya.

Kita semua tahu, urusan cinta terkait dengan perasaan. Dan setiap perasaan akan selalu menyentuh emosi. Sementara emosi hanya bisa dikendalikan dengan LOGIKA. Cinta membutuhkan LOGIKA agar ia tetap berjalan dalam batas-batas hubungan yang semestinya. Menyikapi cinta tanpa logika, sama saja menyerahkan cinta pada dorongan nafsu dan pemenuhan ego pribadi.

Misalkan kita memiliki seorang pacar. Kita sangat mencintai pacar kita dan tidak bisa berpaling darinya. Karena hanya dia yang tahu cara membuat kita merasa nyaman. Tapi ketika pacar kita tak lagi perhatian dan berulang kali mengecewakan kita, logika kita akan bertanya, “Apakah pacar kita memberi cinta sebesar cinta yang kita berikan padanya? Apakah pacar kita berharap sebagaimana kita selalu berharap padanya?”

Jika saat itu kita memperturutkan perasaan kita, maka yang terjadi kemudian adalah kita “membenarkan” setiap perlakuan buruk dan kekecewaan yang kita terima. Kita selalu memaafkan pacar, dengan harapan suatu saat pacar kita akan sadar dan berubah. Kita yakin itu, karena cinta selalu memaafkan. Ya, memang benar cinta selalu memaafkan. Tapi ketika orang yang dimaafkan tidak kunjung memperbaiki diri, apa lagi yang bisa kita percaya dari cinta semacam itu? Tanpa sadar, kita justru "memperkosa" makna cinta itu sendiri, dan membiarkan orang lain “memanfaatkan” keluguan kita karena menyikapi cinta tanpa logika.

Contoh di atas hanya segelintir kasus di mana orang-orang terjebak dalam perasaan cinta sampai mengabaikan pertimbangan logika. Di luar itu, masih banyak kasus lain yang jauh lebih mengkhawatirkan, seperti kehamilan di luar nikah, aborsi, kawin lari, sampai pembunuhan berencana. Semua itu bisa terjadi, karena cinta disikapi dengan nafsu dan ego pribadi, hingga mengabaikan batas-batas logika.

*   *   *

Orang pacaran bisa saja putus. Orang menikah, bisa saja bercerai. Dan jomblo pun, tak selamanya berarti kebebasan. 

Dengan logika, kita belajar menerima segala konsekuensi hubungan cinta. Kita akan melihat cinta dari sisi yang berbeda—tidak hanya sisi indahnya, seperti di cerita novel atau film picisan, tapi juga mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dengan memahami konsekuensi hubungan cinta, kita bisa menjaga cinta itu pada koridor-koridor hubungan yang sewajarnya. Kita pun lebih mudah menerima kenyataan untuk move on, ketika hubungan itu harus kandas. Karena bagi orang yang jatuh cinta, konsekuensi logisnya cuma dua: berujung derita atau berakhir bahagia. Demikian. []

Tuesday, 15 March 2016

Long Distance Relationship Tak Selamanya Buruk


Yang nikah saja bisa kandas gara-gara LDR,
apalagi yang cintanya sebatas pacar, TTM, 
atau hubungan lain  yang tidak jelas statusnya.
(Hatake Niwa)

Saya sering kasihan pada orang yang LDR. Gara-gara LDR, mereka tidak bisa menghabiskan malam minggu bersama. Gara-gara LDR, mereka harus membunuh tega setiap kerinduan yang muncul ke permukaan. Gara-gara LDR pula, mereka sibuk berharap-harap cemas, takut pasangannya mencari “ban serep di perantauan. Saking beratnya LDR, sampai-sampai banyak hubungan percintaan yang kandas di tengah jalan.

Bagaimana tidak. Sampai batas-batas tertentu, LDR bisa mengurangi, bahkan meniadakan jalinan interaksi dan komunikasi dengan pasangan. Padahal interaksi dan komunikasi intens dengan pasangan merupakan elemen penting dalam membangun hubungan percintaan. Minimnya interaksi dan komunikasi bisa mendorong kita untuk mencari kompensasi lain demi memenuhi rasa ingin diperhatikan dan disayang. Karena itu, jangan heran jika banyak cerita LDR yang endingnya ditinggal selingkuh atau ditinggal nikah.

Terlepas dari semua itu, LDR tidak melulu terlihat buruk. Bagi pasangan yang sudah di ambang perceraian, misalnya, LDR malah dilihat sebagai jalan terbaik untuk memperlancar urusan cerai. Alih-alih mereka memang “sepantasnya” menjaga jarak dengan mantan istri atau suami demi menjaga martabat dan harga diri.

Tapi bagi pasangan muda yang baru saja menikah, LDR jelas sebuah mimpi buruk. Malam-malam di saat mereka seharusnya berbulan madu, malah diisi dengan dinginnya harapan dan penantian. Setan pun leluasa membuka prasangka, “Jangan-jangan laki-mu sedang ‘main gila’ dengan wanita lain di seberang.

LDR bagi mereka yang sudah nikah tentu terasa berbeda daripada LDR-nya mereka yang belum nikah. Setelah menikah, kita menanggung tanggung jawab dan konsekuensi yang lebih besar dalam setiap keputusan yang diambil. Ikatan pernikahan mengharuskan sebuah hubungan percintaan mengikuti tatanan formal hukum yang berlaku. 

Orang yang sudah nikah akan berpikir dua kali untuk selingkuh, lebih-lebih jika mereka ingin kawin lagi di perantauan. Andai nekat meminta cerai karena tidak betah LDR, mereka harus mengurus seabrek berkas gugatan ke pengadilan agama. Belum lagi berbicara seputar hak asuh, hubungan dengan mertua, sampai uang ganti rugi.

Sementara pada pasangan yang belum nikah, tanggung jawab yang diemban tidak sebesar mereka yang sudah nikah. Orang pacaran yang LDR lebih leluasa untuk minta putus dan berpaling, tanpa harus menanggung konsekuensi seperti halnya orang minta cerai. Orang pacaran bisa saja minta putus dalam semenit. Dan LDR bisa menjadi alasan paling wajar untuk minta putus. Jika itu yang terjadi, tidak akan ada satu pengadilan pun yang sudi mengurus gugatan kita. Yang bisa kita lakukan paling-paling ‘cuma’ mengurung diri di kamar dan mewek—menangis semalaman.

Saya bukan bermaksud menakut-nakuti apalagi mendoakan yang buruk-buruk. LDR-nya mereka yang belum menikah boleh jadi lebih berpotensi “merusak hubungan” daripada mereka yang sudah nikah. Semua ini simply karena mereka yang belum nikah hanya menyandarkan hubungan mereka pada “kontrak lisan” yang berupa janji-janji—entah janji untuk setia, janji untuk tetap mencinta, atau janji untuk menikahinya kelak saat kembali. Karena tidak ada “hitam di atas putih”, pada akhirnya lebih banyak orang yang memilih ingkar daripada setia.

Melihat beratnya menjalani LDR, kita tidak bisa memutuskan LDR dengan mengabaikan keinginan pasangan kita. Kita harus memiliki pembenaran logis sebelum memutuskan untuk menjalani LDR. Setiap pasangan harus memahami alasan mereka memilih LDR. Mereka juga harus siap menerima segala konsekuensi dan skenario terburuk dari hubungan jarak jauh.

Kita juga tidak bisa naif mempasrahkan urusan LDR pada “kontrak emosional” seperti komitmen, kepercayaan, dan janji setia seperti yang ada dalam novel-novel picisan. Apalagi jika kita masih belum bisa percaya sepenuhnya pada pasangan kita. Dalam konteks ini, boleh dibilang kita belum siap menjalani hubungan jarak jauh. Karena itu, ada baiknya kita mengutarakan masalah tersebut di awal, daripada menelan pil pahit belakangan. Dengan begitu, kita bisa mendiskusikan win-win solution sebelum memutuskan menjalani LDR.

LDR memang tidak selamanya buruk. Kita bisa memaknai "jarak" sebagai sebuah variabel untuk menguji kesetiaan pasangan kita. Dengan jarak, kita akan mengerti apakah cinta yang selama ini kita rasakan semakin besar atau malah sebaliknya—berubah hambar. Dengan jarak pula, kita akan belajar untuk bersabar, mentafakuri kesetiaan dan menyelami agungnya pengharapan. Karena yakinlah, ada saat di mana kita harus merelakan orang yang kita kasihi pergi—menuju kehidupan lain yang lebih abadi. Tak tertolak!

Thursday, 3 March 2016

Menjadi Pekerja Seks Sukarela


Ada siswi SMA hamil di-DO sekolahnya.
Giliran mahasiswi hamil kok tidak di-DO kampusnya?
Oh, betapa ‘adilnya’ si pembuat peraturan
(Hatake Niwa)

Sebelumnya, saya mohon maaf, jika judul di atas terlalu vulgar. Tapi yakinlah, tulisan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan Kalijodo atau penertiban lokalisasi sejenisnya. Kasus yang ingin saya utarakan di sini berbeda.

Ilustrasi :
Ceritanya, ada seorang mahasiswi—sebut saja Neneng—yang kedapatan hamil di luar nikah. Neneng mengaku khilaf saat berpacaran dengan kekasihnya yang bernama Blengur. (sebut saja begitu). Neneng terpikat bujuk rayu dan janji manis Blengur yang mengaku akan segera menikahinya. Blengur juga mengaku akan bertanggung jawab setelah “menyebar benih” di perut Neneng.

Tapi setelah tahu perihal kehamilan Neneng, Blengur ingkar janji. Bukannya segera bertanggung jawab, Blengur malah kabur. Blengur tidak kunjung menikahi Neneng. Neneng pun tidak terima. Neneng mencoba membawa persoalan ini ke jalur hukum. Neneng ingin menggugat Blengur dengan tuduhan penipuan, perkosaan, dan serangkaian tindak asusila. Harapannya, Blengur akan dijerat pasal berlapis dan “mampus” dipenjarakan.

Sayang seribu sayang, gugatan Neneng tidak dikabulkan. Neneng tidak bisa membuktikan adanya unsur kekerasan atau paksaan yang mengakibatkan dirinya hamil. Padahal dalam pasal 285 KUHP (pasal yang biasa dipakai untuk kasus perkosaan), harus ada unsur kekerasan atau ancaman yang memaksa korbannya. Sementara dalam kasus Neneng, perbuatannya dilakukan atas dasar suka sama suka.

Neneng tidak putus asa. Dia mencoba menggugat Blengur dengan tuduhan lain, yakni pencabulan. Neneng yakin, Blengur bisa dijerat pasal pencabulan atas dirinya. Tapi sekali lagi, gugatan Neneng tidak dikabulkan. Alasannya, Neneng sudah berumur 21 tahun saat terlibat “hubungan terlarang” dengan Blengur. Neneng tidak masuk kategori “anak di bawah umur” sebagaimana yang disyaratkan pasal 81 dan 82 Undang-Undang Perlindungan Anak (pasal yang biasa dipakai menjerat pelaku pencabulan).

Kasus Neneng pun menjadi benang kusut yang tidak bisa diurai oleh hukum. Neneng ingin menggugat Blengur dengan pasal 287 KUHP (pasal tentang perzinahan) tapi urung, karena pasal itu diperuntukkan khusus bagi mereka yang sudah menikah (memiliki pasangan sah). Neneng pun hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia benar-benar khilaf saat berpacaran dengan Blengur. Tapi itulah harga yang harus dibayar untuk cinta yang tidak semestinya, sampai-sampai kehormatan diri pun telah tergadaikan.

*   *   *

Seperti yang pernah saya bilang di sini, saya tidak berani menyarankan orang lain untuk pacaran. Resiko terjadinya kasus seperti Neneng terlalu besar. Di luar sana, boleh jadi ada banyak Neneng-Neneng lain yang mengalami nasib serupa—kedapatan hamil lantas ditinggal kabur pacarnya. Jika sudah begitu, apa yang bisa dilakukan?

Pacaran sudah menjadi aktivitas jamak di kalangan remaja. Pacaran dinilai sebagai “jalan terbaik” menemukan cinta sejati. Banyak pelaku pacaran yang berharap pacarnya akan setia sehidup semati, hingga mengikat janji suci, bla bla bla. Karena itu, banyak orang rela mengorbankan apapun demi mempertahankan hubungan cintanya (atau mungkin egonya).

Masalahnya, aktivitas pacaran tidak bisa lepas dari interaksi intens antara dua orang berlainan jenis (LGBT di luar konteks). Interaksi intens tersebut bisa menimbulkan stimulus emosional bagi pelakunya, entah berupa perasaan nyaman, keakraban, rasa damai, bahkan sampai……..dorongan seksual.

Itu benar. Kita tidak bisa naif mengabaikan variabel itu saat membahas aktivitas pacaran. Kita juga tidak bisa menganggap sepele dengan berkata: “saya pacarannya nggak ngapa-ngapain kok.” Saat remaja, manusia akan merasakan dorongan seksual yang tinggi. Hal itu sudah menjadi semacam “hukum alam,” yang dialami semua orang.

Adanya dorongan seksual itulah yang kemudian meracuni aktivitas pacaran. Pacaran yang semula dianggap jalan mencapai cinta sejati, malah menjadi ajang “memberi servis” pada pasangan. Boleh jadi awalnya cuma pegangan tangan—(tapi kok) lamaaaa…banget. Kemudian mulai berani cipika-cipiki, pelukan, cium bibir (maaf), hingga berlanjut pada perbuatan tidak senonoh yang lebih “dewasa.”

Sekali lagi, jangan naif membaca urusan ini dengan mengabaikan realitas yang terjadi!

Memang ada orang yang pacarannya safe banget, cuma ngobrol, tidak pernah kencan, dan sebagainya. Tapi berapa banyak yang seperti itu? Lebih banyak mana dengan yang melakukan peluk-cium dan perbuatan tidak senonoh lainnya?

Seseorang yang rela memberikan tubuhnya untuk digerayangi pacarnya, entah karena penasaran atau alasan suka sama suka, tidak jauh beda dengan (maaf) “seorang pekerja seks” yang menjajakan kenikmatan pada pelanggannya. Boleh jadi pekerja seks malah lebih "bermartabat" karena mereka dibayar untuk itu. Sementara seseorang yang dibutakan oleh bujuk rayu dan dalih pembuktian cinta, dengan sukarela memberikan tubuhnya pada pacar yang entah kapan dinikahinya. (Ironis!)

Jika kalian masih memiliki kepedulian untuk menjaga kehormatan diri dan tidak ingin disamakan dengan pekerja seks, maka kalian harus melakukan sesuatu untuk menghentikan pacar kalian yang bertindak sembrono—bukannya malah menikmati “servis gratis” dari pacar kalian.

*   *   *

Dari kacamata hukum, remaja yang belum genap 18 tahun masih tergolong “anak di bawah umur.” Golongan tersebut masih bisa mendapat perlindungan hukum dari Undang-Undang Perlindungan Anak. Jadi, jika kalian merasa diperlakukan tidak senonoh oleh pacar kalian, dicium, dipeluk, atau digerayangi yang aneh-aneh, maka kalian bisa memperkarakan pacar kalian ke pengadilan dengan tuduhan pencabulan.

Ini serius. Undang-Undang Perlindungan Anak, khususnya pasal 81 dan 82, dibuat untuk melindungi anak di bawah umur dari ancaman kekerasan seksual dan tindak pencabulan. Pasal-pasal itu ampuh sekali untuk menjerat orang-orang cabul di sekitar kita. Nggak percaya? Buktinya, tuh ada artis ngetop yang baru saja terjerat pasal 81 dan 82 setelah terbukti mencabuli remaja cowok di bawah umur.

Sekali lagi, jika kalian masih peduli pada kehormatan diri, peduli pada batas-batas nilai agama, dan peduli pada masa depan, maka kalian tidak akan membiarkan seorang pun “menodai” kalian. Tak peduli siapa pelakunya, kalian berhak memperkarakan setiap perilaku mesum yang kalian terima melalui jalur hukum. Itu jika kalian memilih untuk peduli.

Tapi jika kalian memilih tidak peduli lagi, menyerah pada alasan klise “suka sama suka” maka kalian akan pasrah saja “di-anu-anuin” sama pacar. Alih-alih merasa berdosa, boleh jadi kalian malah sibuk menikmati “servis” dari pacar kalian. Suka tidak suka, kalian berhasil membuat pacar kalian senang karena mendapat layanan seks gratis tanpa harus membayar. Itulah yang saya sebut sebut menjadi “pekerja seks” sukarela.

Sampai di sini mungkin kalian akan nyinyir bilang, “Apa salahnya kalau cuma ciuman, pelukan, kan nggak sampai melakukan hubungan ranjang..Well, itu hak kalian bicara. Asal kalian tahu saja, kebanyakan “hubungan terlarang yang kebablasan” berawal dari kata “cuma.” Ah,kita cuma pegangan tangan kok. Ah, kita cuma cipika-cipiki kok. Ah, kita cuma bla bla bla. Pada akhirnya, ketika yang “cuma-cuma” itu berlanjut, maka kehormatan diri tidak bisa dikembalikan dan waktu tidak bisa kalian putar.

*   *   *

Sebagian orang merasa pacaran tidak akan seru jika cuma ngobrol dan kencan tanpa ada “servis” lain yang lebih menggairahkan. Lebih-lebih jika pelakunya masih remaja dengan dorongan seks yang tinggi. Dengan dalih pembuktian cinta, seseorang bisa meminta pacarnya untuk memberikan “servis gratis“. Bujuk rayu dan janji manis—seperti kasus Nenengseringkali digunakan untuk meluluhkan "iman" pasangannya. Tidak jarang permintaan itu disertai unsur paksaan dan ancaman pemutusan hubungan.

Di sisi lain, kita tidak bisa memaksakan pacaran gaya Barat yang menganggap pacar hamil sebagai hal yang biasa. Dalam budaya Timur, hamil di luar nikah tetap saja aib yang tidak termaafkan dan menodai citra diri kita di mata masyarakat.

Jika memang pacaran adalah jalan yang sudah kalian pilih saat ini, maka jagalah kehormatan diri kalian baik-baik. Jangan pernah mau dijadikan “pekerja seks sukarela” demi memuaskan birahi pacarmu. Sungguh, jika pacarmu itu beneran baik, dia tidak akan berani menggerayangimu. Dia akan memilih untuk segera menseriusi hubungan kalian dalam ikatan yang dicatat negara dan direstui agama. Pikirkanlah! []

Sunday, 14 February 2016

Tak Bisakah Kita Berhenti Merayakan Valentine


Kita tidak bisa menyimpulkan suatu perbuatan itu baik
hanya karena banyak orang melakukannya.
(Hatake Niwa)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal 14 Februari banyak orang ramai membicarakan Valentine. Dan setiap tahun, media sosial dibanjiri artikel yang melarang kita mengikuti ritus Hari Kasih Sayang. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari sejarah kelam Hari Valentine sampai menyitir dalil-dalil agama tertentu (yang boleh jadi tidak bisa dipahami oleh mereka yang merayakan Valentine).

Yang membuat saya jengah, artikel-artikel semacam itu hampir selalu memicu perdebatan di kotak komentar. Perdebatan itu terasa konyol karena selalu mencuat setiap tahunnya, pada tanggal yang sama, pada kasus yang sama, seakan-akan kita tidak pernah mengambil pelajaran dari perdebatan sebelumnya. Perdebatan itu pun menjadi perdebatan antara HABIT dan FAITH yang pelik sekali—tidak jauh beda dengan perdebatan perayaan malam Tahun Baru. Dan saya yakin, perdebatan tentang Hari Valentine juga tidak akan selesai.

Manusia dewasa dengan pemikiran yang semakin kompleks selalu menimbang untung-rugi dalam melakukan suatu perbuatan. Jika ia merasa perbuatannya tidak merugikan, maka ia akan terus melakukannya. Sebaliknya, jika ia merasa perbuatan itu merugikan, ia pun akan berpikir dua kali sebelum melakukannya.

Kita semua tahu, Hari Valentine adalah tren global yang telah membudaya. Perayaan Valentine sudah menjadi sebuah kebiasaan (habit) yang dinilai tidak merugikan siapapun. Alih-alih Hari Valentine terlihat seperti sebuah perayaan yang menarik. Pada Hari Valentine, orang-orang lebih senang membicarakan hal-hal romantis seperti pernyataan cinta, bertukar cokelat, hadiah bunga, dan ajakan kencan. Kenapa? Karena semua itu tampak menyenangkan dan tidak ada seorang pun yang melihat kerugian di dalamnya. Itu sebabnya, mengubah mindset orang-orang untuk tidak merayakan Valentine sangatlah sulit. Jika kita nekat melarang, orang-orang akan nyinyir bilang, “Emang kenapa sih ngelarang-larang gue ngerayain valentine? Ini kan cuma tukeran cokelat, ngasih bunga, ngasih kado. Apa ruginya buat elu?

Well, bagi yang menganggap Valentine biasa-biasa saja, mungkin mereka akan merayakan Valentine dengan pacar atau pasangan mereka. Mereka bisa saling bertukar cokelat, mengajak kencan, memberi bunga, atau melakukan apa-apa yang menurut mereka biasa-biasa saja dan tidak melanggar batas norma.

Masalahnya, ada sebagian orang yang merayakan Valentine secara ‘kebablasan.’ Hari Kasih Sayang malah diartikan sebagai ‘Hari Bebas’ di mana mereka merasa bebas melakukan apa saja dengan pasangannya pada hari itu. Bahkan berbuat mesum sekalipun.

Berbagai portal berita online mengabarkan bahwa pada menjelang Valentine, penjualan alat kontrasepsi (jenis kondom) meningkat drastis. Di Medan, seorang apoteker mengaku penjualan kondom di apoteknya meningkat dari 20 bungkus per hari menjadi 350 bungkus per hari. Hal serupa juga dialami seorang pedagang kaki lima di daerah Bandar Lampung. Menjelang Valentine, lima sampai tujuh kotak kondomnya bisa habis terjual. Yang mencengangkan, usia pembelinya tergolong masih remaja, berkisar antara 17-23 tahun. (Berita serupa juga bisa kalian temukan di sini dan di sini).

Dari sini, saya mulai khawatir. Memangnya remaja-remaja itu membeli kondom untuk apa? Main pelembungan? Untuk menemani anak PAUD bermain?

Implikasi psikologis itulah yang sering luput dari perhatian kita. Dewasa ini, ada banyak anak muda yang berkecimpung dalam perilaku pacaran. Padahal kita semua tahu, dorongan seks pada usia remaja sangat tinggi. Membiarkan mereka merayakan Valentine sama saja membiarkan mereka dalam perilaku beresiko. Kita tidak pernah tahu bagaimana mereka akan merayakan Hari Valentine. Siapa yang bisa menjamin mereka akan merayakan Valentine dengan biasa-biasa saja? Siapa pula yang bisa memastikan mereka tidak akan ‘khilaf’ ketika sedang bermesraan di tempat yang sepi?

Itu kan mereka, Valentine gue biasa aja tuh. Bodo amat kalo mereka kebablasan, itu salah mereka sendiri!

Oh, well, itu hak kalian menilai. Saya menulis ini untuk mereka yang mau memikirkan masalah ini. Jika kalian masih memiliki sisa kepedulian pada adik-adik kalian, pada teman, pada para remaja yang belum matang dalam urusan cinta, tolong jangan “kompori” mereka untuk merayakan Valentine, menggoda mereka untuk mencari pacar, berkencan di kafe, ikut-ikutan berbagi cokelat, atau semacamnya!!!


Mengapa? Karena—sekali lagi—siapa yang bisa menjamin mereka akan merayakan Valentine dengan biasa-biasa saja? Siapa pula yang bisa memastikan mereka tidak akan ‘khilaf’ ketika sedang bermesraan di tempat yang sepi? Pikirkanlah! Pikirkanlah jika kepedulian itu memang masih ada dalam benak kalian…

Friday, 5 February 2016

Kenapa Belum Punya Pacar?


.   .   .

“Kenapa kau belum punya pacar?”

“Untuk apa? Aku malah kasihan jika aku punya pacar.”

“Lho, kok kasihan?”

“Pacaran saat kita masih jauh dari menikah itu tidak mudah.”

“Ya, tentu saja. Bukankah cinta memang perlu diperjuangkan?”

“Diperjuangkan, tapi bukan berarti dilakukan dengan nekat dan tanpa memperhitungkan resiko patah hati. Alih-alih berakhir bahagia, yang aku lihat pacaran justru menyiksa pelakunya.

“Maksudmu?”

“Ketika pacaran kau memberi harapan, membicarakan janji-janji masa depan yang semuanya terlihat begitu hijau bagi pasanganmu. Semakin lama pasanganmu akan semakin berharap semua itu akan menjadi kenyataan. Tapi ketika kau tak kunjung bisa mewujudkannya, bukankah itu sama saja kau sedang menyiksa pasanganmu dengan harapan?”

“Memang terdengar menyakitkan kalau yang terjadi seperti itu.”

“Bukankah di dunia ini banyak orang yang pacaran bertahun-tahun tapi akhirnya kandas sebelum ke pelaminan? Bukankah tidak sedikit di antara pelaku pacaran yang terjebak dalam perasaannya sendiri, susah move on, bahkan sampai menikah pun mereka masih teringat pada masa-masa pacaran? Apa jadinya kalau mantan pacarnya ternyata bukan orang yang dinikahinya?”

“Menurutmu apakah itu memalukan?”

“Ya. Dan dalam standar moralku, orang yang sudah lama pacaran tapi tidak jadi nikah itu memalukan. Aku tidak mau itu terjadi padaku. Belum lagi mereka yang pacarannya kebablasan, sampai harus menjalani pernikahan yang bukan karena kesiapan melainkan karena ‘kecelakaan.’ Itu ironis sekali.”

“Tapi kau kan orang baik-baik. Kau tampan. Pintar. Kau disenangi banyak orang. Luwes dalam bergaul. Kau punya wawasan tentang bagaimana menghadapi wanita dan semacamnya. Rasa-rasanya kau tidak mungkin melakukan kekhilafan seperti itu.”

“Justru karena itulah. Aku tidak tahu kapan aku akan khilaf. Aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa menjaga diriku sendiri. Tidak ada jaminan. Dan ketika kita memutuskan untuk melibatkan orang lain dalam lingkaran kehidupan kita, itu bukan persoalan main-main dan penuh coba-coba. Jika sampai orang yang aku libatkan merasa tersakiti, merasa dirugikan, maka aku akan menanggung dosa selama orang itu belum mau memaafkanku. Bukankah itu mengerikan?”

“Jadi apa yang sedang kau lakukan? Kapan kau akan mulai memikirkan tentang jalinan hubungan yang serius dengan seseorang?”


“Entahlah. Ada hal lain yang harus aku lakukan untuk saat ini. Kalau kau ingin meminta saran tentang urusan perasaan, urusan cinta, lebih baik kau tanyakan pada temanmu yang sudah menikah. Mereka pasti jauh lebih paham pahit manisnya jatuh cinta dan tahu seluk-beluk membangun komitmen yang lebih tinggi daripada seorang lajang sepertiku.”

Wednesday, 29 January 2014

Cinta itu Selalu Sederhana


Ijinkan saya mengungkapkan satu hal saja yang cukup membingungkan bagi diri saya pribadi. Siapa tahu di antara kalian ada yang berkenan membantu saya menemukan jawaban atas persoalan yang sepertinya sangat sederhana ini. Namun sebelumnya, saya tegaskan di sini bahwa saya tidak sedang membuat sebuah generalisasi terhadap realita yang ada di sekitar kita. Saya hanya menyajikan sudut pandang saya pribadi yang boleh jadi sangat keliru dan menyimpang jauh dari dalil-dalil kebenaran dan logika. Saya perlu untuk belajar. Dan untuk itulah saya perlu untuk bertanya pada Anda yang lebih tahu daripada saya. . .

***

Hmm...boleh jadi sampai detik ini masih banyak orang yang berjibaku, berjuang sekuat tenaga, berkorban waktu, materi, tenaga, demi mengusung misi pembuktian cinta. Dalam misi ini, tak sedikit di antara mereka yang meluangkan banyak waktunya demi mengantarkan sang pujaan hati kesana kemari dengan motor kesayangan pembelian orangtuanya. Tidak sedikit pula yang saling bertukar bingkisan, coklat, dan kue tart setiap hari ulang tahun atau valentine. Sebagian lagi merelakan uang tabungannya untuk 'sedikit' berbagi makanan dengan sang pujaan hati di restoran/cafe-cafe berhiaskan temaram lampu-lampu 10 Watt. Tak sedikit pula yang setiap malam minggu berdandan rapi, wangi, dengan parfum yang mengusik hidung dan pakaian paling modis. Kemudian, sambil bersiul dan berdendang, ia melangkahkan kaki menuju rumah sang pujaan hati. Kencan, apel, ngedate, hang out, whatever lah namanya.

Haruskah semua itu dilakukan untuk membuktikan cinta itu sendiri? apa tidak ada cara lain yang lebih sederhana untuk memahami hal ini?

Mungkin dengan cara seperti inilah kita bisa meyakinkan diri bahwa orang yang kita cintai akan tetap kita miliki dan tetap mencintai kita. Sempurna, tidak berpaling, tidak berpindah ke lain hati. Ya, saya pikir sudah banyak orang yang beranggapan bahwa cinta itu harus dibuktikan dan diperjuangkan. Hati yang selalu memendam gelisah membutuhkan lebih banyak 'obat penenang' untuk memastikan bahwa orang yang kita cintai akan selalu dekat dan tetap kita miliki.

Lihatlah, banyak muda-mudi sekarang yang begitu gampang galau, gelisah hanya karena sang pujaan hati tak kunjung membalas SMS. Ada saja orang-orang yang gusar ketika orang yang dicintainya sedang mojok, asyik ngobrol dengan seseorang yang bukan diri kita. Betapa banyak yang lamaa sekali menggenggam HPnya erat2, sambil sesekali melongok layar HP, menghidupkan layar sekedar mengecek apakah ada sms masuk atau tidak. Berapa banyak orang yang melototin layar leptop, sibuuk sekali online di jejaring sosial, hanya demi menunggu balasan coment dari orang yang sedang dijatuh cintai? Lebay? Tidaak, tidak ada yang mengira ini sesuatu yang lebay terutama bagi mereka yang tengah kasmaran. Begitulah...

Namun sebongkah keheranan menyeruak dalam benak saya. Lihatlah ibu bapak, kakek nenek (bagi yang masih punya), atau orang2 tempo doeloe lainnya di mana saat itu TV dan HP adalah barang yang sangat langka. Lihatlah mereka yang entah bagaimana hanya dengan prosesi sederhana: melamar, tunangan, menikah, saling berkasih sayang, lantas mengarungi bahtera rumah tangga. Hidup bersama, membesarkan anak-anaknya dengan penuh gurat kebahagiaan di wajahnya. Saya sendiri merasa termasuk salah satu produk yang dihasilkan dari proses sederhana itu. Membahagiakan sekali.

Tak perlu ada hubungan penjajakan seperti pacaran, HTS, LDR, dsb. Tak ada even bagi2 coklat di tanggal 14 Februari. Tak ada acara traktir-traktir makan yang menghabiskan beribu-ribu perak. Tak ada pula aktivitas ojek2an (baca: antar jemput sana sini). Tak ada...dan memang sepertinya semua itu tidak diperlukan untuk sekedar membuktikan cinta. Tak perlu semuanya. Singkatnya: AKU+KAU = KUA !? Sesederhana itu. Bayangkan betapa herannya saya saat ini melihat paradoks sosial ini...

Hmm...seperti memutar ulang film-film percintaan tempo doeloe, adakah kini kita temui sepasang muda-mudi yang tanpa sengaja bertemu di halte bus, kemudian saling tersipu-sipu malu dengan raut muka yang memerah? Adakah kini kita temui sepasang muda-mudi yang saling salah tingkah ketika berpapasan dengan pujaan hatinya namun tak kuasa untuk mengungkapkan perasaannya? Si cowok berpura-pura menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terasa gatal hanya untuk menyembunyikan kegugupan dan wajah yang bersemu merah di hadapan wanita yang dikaguminya. Adakah kini kita temui sepasang muda-mudi yang di tengah lalu lalang orang di jalan mencoba menunggui sang pujaan hati lewat dengan harapan ia akan berpapasan dengannya? Adakah kini kita temui sepasang muda-mudi yang memendam rapat-rapat cintanya dan seketika tersontak girang karena orang yang dikagumi itu mengajukan diri untuk menjadi pendamping hidupnya?

Cinta bukanlah matematika. Cinta tidak pernah pasti kapan datangnya dan kapan perginya. Lihatlah, banyak orang yang mengaku mencintai seseorang, namun ketika hubungan itu kandas, entah kenapa selang beberapa waktu kemudian ia bisa membangun kembali hatinya untuk kemudian mengaku cinta pada orang lain. Lihatlah orang yang jatuh cinta berkali-kali, kemudian berusaha mati-matian untuk mendapatkan orang yang dicintai namun akhirnya bertepuk sebelah tangan.

Di sisi lain tidak sedikit mereka yang secara ekstrim langsung menjalin ikatan pernikahan tanpa sekalipun pernah saling mengenal sebelumnya. Entah karena keyakinan pada firman Tuhan atau karena alasan lain, akhirnya dengan penuh tanggung jawab dan komitmen kuat untuk saling bersama mereka dapat menjalin hubungan yang serius, penuh kebahagiaan, dan melahirkan anak-anak yang lucu yang tertawa dengan riangnya, sembari memintal benang-benang masa depan.

Inilah kebingungan saya selama ini. Kebingungan yang mengundang berjuta tanya yang belum terjawab. Saya tidak bermaksud sok suci, sok alim dengan mengatakan pacaran itu haram, terlarang dan sebagainya. Buang jauh-jauh asumsi itu. Saya hanya ingin mengajak Anda berpikir sejenak. Merenungkan diri ini, merenungkan apa-apa yang telah kita jalani, mengenang pengalaman-pengalaman ketika pertama kali kita jatuh cinta, kemudian dengan penuh kearifan kita pun bertanya: "Apakah saya benar-benar mencintainya? Ataukah saya hanya dipermainkan oleh egoisme pribadi, perasaan emosional, dan obsesi kuat yang menuntut pemenuhan kebutuhan akan kehadiran sang pujaan hati dalam kehidupan kita?"

Sekali lagi saya bertanya: "Siapakah yang bisa memastikan bahwa orang yang ditakdirkan menjadi pasangan hidup kita adalah orang yang sama dengan orang yang sedang kita cintai saat ini?"


Jogja, 14 Februari 2013 di tengah rintik-rintik gerimis

Tips Mengatasi Galau #3


Semakin tidak menentu perasaan ini berarti makin galau lah kita. Ya, booming galau udah bikin banyak orang kecipratan perasaan nggak menentu yang nggak mengenakkan ini. Tapi anehnya karena banyak orang yang galau, dari sekian banyak itu nggak banyak yang nyadar dan pengen mentas alias keluar dari kungkungan perasaan galau yang jelas-jelas nggak nyaman itu. Banyak orang yang justru menikmati rasa galau demi sesuatu yang aneh dan tak pasti, yaitu perasaan bodohnya sendiri.

Menurutku perasaan ini juga kayak otak, bisa pinter, bisa juga bodoh. Pinter kalo lagi tenang, bodoh kalo lagi semrawut atau pas galau tadi. Ya begitulah realitanya. Tanyakan pada diri Anda sendiri karena hanya Anda yang paling tahu perasaan sendiri. Bukankah galau justru menyiksa kalo dibiarin? Perasaan kayak gitu kok dipelihara, padahal udah tahu rasanya nggak ngenakin banget. Bukane blo’on kalo kayak gitu caranya?

Oke lah aku elu semua orang di dunia ini pernah galau. Tapi kecerdasan emosional masing-masing orang lah yang bisa membuat rasa galau menjadi ringan, tak membebani dan segera hilang. Sayangnya menghilangkan galau nggak gampang. Maklum, semakin banyak orang di dunia ini yang galau. Kalo dipersen, dari 7 milyar ekor manusia di bumi ini yang galaunya hilang mungkin cuma 3,66943965397% (perhitungan ngawur).

Galau itu energi negatif, makanya alihkan saja energi negatif itu menjadi energi positif. Ingat, energi nggak bisa dimusnahkan tapi bisa dialihkan. Caranya ya dengan mengisi hari-hari ente semua dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat. Kalo seharian cuma nongkrongin HP, nunggu SMS pacar misalnya, apalagi sambil denger lagu-lagu mellow, uda pasti gampang kena galau. Ada baiknya jangan sendirian. Gue sendiri udah berkali-kali nyoba kalo lagi sendiri bawaannya galau lebih kuat. Ni semua cuma teori, gue sendiri juga nggak mesti bisa menerapkan teori ini. Praktek emang selalu lebih susah. Tapi nggak ada salahnya mencoba menjadi lebih baik daripada nggak sama sekali. Jadi, katakan  pada dirimu sendiri, “Galau? ngGAk LAh yaUuuu...!” (hahahaaaa....lebay kuadrat!!!!!!!!)

Tips Mengatasi Galau #2


Kalo diputus pacar gimana perasaanmu? Kalo ditinggal pacar selingkuh gimana perasaannmu? Kalo seharian nggak di-SMS pacarmu gimana perasaannmu? Nggak usah jauh-jauh, lihat aja status-nya. Mungkin saja tinggal update jadi “GALAU.” Yah...galau lagi, galau lagi. Perasaan nggak menentu yang bikin penderitanya stres bin depresi. Terus gimana kalo udah kena virus galau?

Galau dan cinta menurutku erat banget kaitannya. Apalagi buat yang cintanya pake tambahan bumbu pacaran alias ikatan kovalen antara cowok-cewek tanpa status yang sah karena belum memiliki persetujuan legal hitam di atas putih dari ortu maupun Depag (departemen agama) setempat (haha...definisi pacaran yang aneh). Nah, berawal dari ketidaklegalan itulah yang justru mengundang banyak masalah dalam pacaran, seperti galau tadi. Cinta yang diutarakan pada seseorang menjadikan perasaan ingin memiliki yang entah gimana asalnya nggak terbendung lagi. Pokoknya gue mau kamu, i want u because i need u. Bah... sshiiit, bullshit!!!

Ungkapan lebay seorang pacar lebih bisa bikin galau cepet mampir. Misal setiap hari ente diSMS pacar, bahkan mungkin setiap jam bahkan menit pun do’i tetep kasih kabar meski hanya bertanya “Udh mkn blm???” Ketika semua kemesraan, romantisme, dan kenyamanan hubungan tak lagi diperoleh serta munculnya prasangka bahwa do’i udah berubah sikap maka yang terjadi adalah munculnya perasaan galau. Galau karena takut jangan-jangan do’i udah lari ke lain hati, takut jangan-jangan do’i lagi main sama kekasih remang-remangnya, takut jangan-jangan do’i kenapa-kenapa di jalan, takut jangan-jangan do’i udah nggak betah lagi pacaran ama gue, dan masih banyak lagi “jangan-jangan do’i” yang semuanya bikin ente tambah galau. YAKIN!!!

Trus, kalo galau gimana? Yaudah, itu resiko ente yang pacaran. Belajar aja ama yang bisa menjaga perasaan ampe nggak galau meski si do’i udah mulai nggak betah ato mulai nglirik laen hati. Udah deh, sejujurnya ane orang single, (sedang tidak) berpacaran dengan (siapa-siapa). Makanya, jangan tanya gue, tanya orang lain sono. Ada baiknya, jangan lupa ente tanya guru ngaji ente di masjid-masjid ato TPA terdekat. Insya Allah galaunya hilang! (//_n)

Cinta dan Kebohongan Publik (Cintaikebo/Cinta = Bull-SHIT)


Beruntunglah kalo Anda orang yang cuek. Dialah orang yang sedikit sekali merenungi perasaannya dan senantiasa bersukacita dengan kehidupannya saat ini saja tanpa sesal masa lalu dan ketakutan masa depan...” (Yuswa, 2011).

To the point wae...sejujurnya aku masih bingung maksute “CINTA” tuh apaan? Banyak orang bilang “aku cinta kamu” “aku sayang kamu” “i love you” tapi prakteknya kok nggak ngeliatin arti cinta yang sebenernya??? Banyak orang yang pacaran atas dasar cinta tapi akhirnya putus. Banyak juga orang yang nikah atas dasar cinta tapi akhirnya cerai. Cinta is bullshit alias TAI-KEBO! Salah nggak omonganku? Salah banget ???

Cinta itu nggak menjamin bahagia karena kita terlalu menuntut cinta itu. Besarnya cinta diukur dari seberapa sering do’i SMS, seberapa sering do’i berkorban, seberapa sering do’i perhatian, tapi kalo semua itu kagak didapet rasanya menyiksa banget! Sadar nggak sadar banyak orang yang terjebak dalam sikap POSESIF dengan orang yang dicintainya. Harus begini begitu. Kalo nggak begini harus begitu. Kalo nggak begitu harus begini. Begini2... Begitu2...dan seterusnya! Inilah yang sering bikin pacaran gampang putus ampe bikin pernikahan yang katanya suci jadi berantakan!!! Kita terlalu berharap orang yang kita cintai selalu bersikap seperti apa yang kita mau. Kalo kagak gitu kita ngerasa nggak nyaman.

Ente bisa aja sok sabar en sok tegar ngadepin pasangan ente yang mulai bersikap beda dan nggak lagi nurutin ente. Ente boleh bilang “Gue masih sayang sama dia, gue bisa sabar ngadepin sikap2 dia sekalipun orang bilang dia buruk, gue masih ngeliat sisi baiknya,” (sambil nangis2). Sekarang gue bilangin: Udah deh! STOP IT!!! Berhenti menyiksa diri ente dengan kata2 itu!!! Cinta itu tulus dan serius! Cinta itu bener2 dari hati. Sulit banget nemuin orang yang cocok (perfect) untuk kita cintai. tapi alangkah baiknya bila kita senantiasa BELAJAR untuk mencintai orang lain. Nggak perlu status pacar, jadian, nraktir makan, belanja, beliin pulsa, sok keren, whatever lah. Yang ente butuhin cuma kesediaan ente untuk memahami dan menerima kepribadian orang lain sekalipun berbeda dengan yang kita harapkan. Lama kelamaan cinta akan ente temukan sendiri di saat yang tepat.

Yakinlah…cinta yang mulia adalah mencintai orang lain selayaknya kita mencintai diri kita sendiri dan meniatkannya sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Bila hari ini Anda masih diajak pacar untuk saling memuaskan ‘nafsu esek2’ atas nama cinta,,,YAKINLAH… ITU BUKAN CINTA! Ojo gelem digobloki. Jangan mau dijadiin alat pemuas nafsu pacar Anda. Eman2 ganteng/ayune! Nek pacarmu serius, nikah wae sisan mah karuan!!! Gek lamaran njug RABI. Tapi yo kuwi lah masalahe… nek arep nikah pie? Duit rung iso golek dhewe. Nek arep nglamar bakal diamuk bapakne sing wedok. Nek apes yo iseh diunek2ke: “WANI PIRO???!!!” (koyo iklan rokok nang TV kae). (//_n) hahaha…