Subscribe:

Labels

Showing posts with label obrolanDinding. Show all posts
Showing posts with label obrolanDinding. Show all posts

Tuesday, 1 March 2016

Anak Kucing


Bahkan anak kucing pun tak akan sanggup bertahan lama jika mesti ditinggal induknya. Saya jadi bingung, kenapa makhluk yang bernama manusia bisa setega itu 'membuang' anaknya?

Boleh jadi, seekor kucing bisa lebih bermartabat daripada manusia.

Wednesday, 24 February 2016

Ini Blog Apaan???


.   .   .

Prolog *
Suatu hari, seorang ABG nyasar ke blog saya. Dia mendapati konten blog saya tidak wajar. ABG itu banyak bertanya tentang blog ini. Agar tidak salah paham, saya merasa perlu menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Saya tuliskan di sini untuk kalian yang mungkin juga memiliki pertanyaan yang sama.

*   *   *

1.  Barusan saya blogwalking  terus nemu blog ini. Sebenernya, ini blog apaan?
Singkatnya, genre blog saya ini gado-gado. Ibarat kamu dulu sekolah cuma bawa satu buku. Buku itu kamu pakai nulis pelajaran matematika, fisika, kimia, bahasa, geografi, santet, sampai pertahanan terhadap ilmu hitam. Blog ini juga begitu. Saat saya sedang ‘waras,’ saya akan menulis tentang hal-hal yang bisa menginspirasi orang lain. Jika saya mengalami peristiwa berkesan, saya akan menulis cerita tentangnya. Jika saya sedang mendapat ide dari membaca buku, saya akan menuliskannya juga. Sesimpel itu, tergantung mood.


2.  Bisa Anda ceritakan saat pertama kali membuat blog ini?
Perlu kamu tahu, blog ini awalnya saya buat untuk ‘pelampiasan’ ketika saya mengerjakan skripsi. Saat itu, saya sering kesulitan untuk fokus dalam menulis. Saya terlalu banyak memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu saya pikirkan dalam-dalam. Jangan heran jika banyak tulisan saya di tahun 2014 yang tata bahasanya acak-acakan, salah ketik di sana sini, dan pilihan katanya amburadul. Semua itu tidak lain karena saya masih menulis dengan emosi, tanpa editing, dan hanya berprinsip yang penting beban pikiran saya terlampiaskan. Beruntung, untuk saat ini hal semacam itu sudah banyak berkurang—berkat jasa blog ini.


3.  Jadi ini bukan personal blog ya?
Tentu saja bukan. Setelah urusan dengan tetek-bengek skripsi selesai, saya memang mulai memikirkan blog ini akan dibawa ke mana. Jika saya memilih menjadikan blog ini sebagai personal blog, saya malah inferior karena saya tidak punya cukup amunisi membuat cerita komedi. Hidup saya miskin drama dan tidak banyak hal yang bisa saya tertawakan dari pengalaman sehari-hari. Saya juga enggan menulis satu topik yang spesifik, seperti fotografi, desain grafis, komputer, atau semacamnya. Saya paling malas membuat tulisan how to terus-terusan.


4.  Jadi, apa yang Anda tulis di blog ini?
Apapun. Saya menulis apapun terutama yang sekiranya bisa bermanfaat untuk orang lain. Saya mengikuti prinsip novelis favorit saya: “Tulislah apa yang HARUS dibaca orang, bukan apa yang INGIN dibaca orang.”


5.  Kenapa Anda tidak pernah memakai sebutan lo, gue di blog Anda? Bukankah itu terdengar lebih akrab?
Untuk sebagian orang, memang iya. Tapi dalam standar etika saya, memakai lo, gue, itu kurang sopan. Kebetulan saya orang Jawa. Saya terbiasa dengan hierarki kata. Misalnya, menyebut kowe (kamu) untuk orang yang lebih tua itu kurang sopan. Akan lebih baik jika kata kowe diganti menjadi panjenengan.


6.  Kenapa namanya Hatake Niwa? Seperti nama Jepang, tapi malah tidak ada konten Jepang di sini.
Saya pernah menuliskan tentang itu di sini. Jadi saya hanya sembarang membuat nama, hasil dari menghubung-hubungkan dan menyortir nama panjang saya. Jadi nama saya tidak ada kaitannya dengan budaya Jepang sama sekali. Lagipula, blog yang membahas budaya Jepang sudah terlalu banyak.


7.  Kalau boleh saya tahu, kenapa jarang sekali memposting ‘blue material? ’ Artikel-artikel Anda sepertinya “main aman,” dan terlalu sopan.
Tergantung sih, blue material seperti apa. Blue material jika ditujukan untuk penjelasan ilmiah bisa bermanfaat. Misalnya, jika saya merasa perlu menulis tentang (maaf) kondom. Boleh jadi saya akan lebih tertarik untuk menulis tentang dampak kondom yang dijual bebas bagi para remaja. Saya ragu jika menulis sesuatu yang ‘nyeleneh ’ seperti cara memakai kondom atau pengalaman pertama memakai kondom. Itu sangat beresiko dan bisa ditafsirkan lain oleh pembaca yang belum cukup dewasa. Apalagi, blog saya tidak memakai label “adult content.” 


8. Wah, kalau begitu blog ini membosankan sekali ya?
Ya, tergantung penilaian dan selera masing-masing orang. Sekali lagi, saya ingin menulis apa yang harus dibaca orang. Saya takut jika tulisan saya disalahartikan. Tulisan semacam itu bisa berbahaya sekali.


9. Maksudnya?
Misalnya kenapa di blog ini saya jarang menulis tentang tips-tips kencan, cara cepat dapat pacar, atau topik-topik lain seputar pacaran? Itu tidak lain karena saya tidak mau ‘memotivasi’ pembaca saya untuk pacaran. Ilustrasinya begini: katakanlah saya menulis tentang “tips cepat dapat pacar.” Suatu kali ada pembaca saya—sebut saja Neneng—yang mempraktekkan tips dari blog saya sampai akhirnya dia beneran dapat pacar. Satu dua tahun Neneng awet dengan pacarnya, sampai kemudian Neneng terlibat masalah pelik. Suatu malam pacarnya khilaf, Neneng kedapatan hamil, kemudian DO dari sekolah.


10.  Lha itu kan salah pembacanya yang tidak cerdas.
Iya, tapi poinnya bukan di situ. Saya merasa ikut bertanggung jawab karena tulisan saya mendorong Neneng untuk pacaran. Secara tidak langsung, saya manas-manasin dia untuk pacaran. Padahal kita tahu, resiko pacaran tidak hanya putus, sakit hati, nyeseg, galau, tapi juga resiko lain yang jauh lebih gawat seperti hamil di luar nikah sampai keinginan untuk bunuh diri. Itu berbahaya sekali. Karenanya, saya tidak mau kena “dosa turunan” gara-gara menyarankan sesuatu yang banyak resikonya—seperti pacaran—kepada pembaca blog saya.


11.  Saya malah tidak pernah berpikir sejauh itu.
Makanya ada baiknya kamu mulai memikirkannya. Masak ngeblog cuma sekedar posting nananina, judul heboh, konten wah, foto vulgar, bahasa kocak, tapi itu semua dibuat cuma demi mengejar traffict ? Pikirkan juga dampak negatif yang mungkin timbul akibat tulisan kita.


12.  Ya, itu masukan buatku. Ngomong-ngomong kalau begitu terus, bukannya blogmu bisa sepi? Apalagi nggak ada hiasan apa-apa di sini? 
Nggak apa-apa sepi. Sebisa mungkin saya akan belajar membuat tulisan yang (semoga) bermanfaat bagi orang lain. Kalau soal tampilan saya tidak mau ambil pusing. Saya pilih yang simpel saja. Toh saya juga jarang memposting gambar di blog. Loading blog jadi lebih ringan dan tidak banyak memakan kuota internet pengunjungnya.


13.  Jadi begitu ya. Saya sependapat denganmu soal itu. Ngomong-ngomong saya sudah terlalu lama ngobrol dengan Anda. Perbincangan kita cukupkan sampai di sini saja dulu. Nuhun informasi dan sharing-nya. Saya mau lanjut blogwalking . Kapan-kapan tak dolan ke sini lagi.
Oke, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Hati-hati, banyak blog nggak jelas di luar sana.


14. Haha…bukannya blogmu sendiri juga nggak jelas?
Makanya, baca dulu dong keterangannya. Yang punya blog ini kan ingin “menyesatkan pembacanya ke jalan yang lurus!”


NB:
* obrolan di atas murni fiktif—untuk memudahkan pembaca memahami konteks tulisan, bukan untuk tipu-tipu. Jika ada kesamaan nama atau kejadian, mungkin karena kita berjodoh !?


Thursday, 18 February 2016

Pacar Blangsak



.   .   .

Suatu hari pacarmu yang blangsak*  minta putus. Tapi kamu malah nggak terima. Kamu keukeuh  nolak putus tanpa alasan. Kamu pikir kamu cukup ahli buat ngubah tabiat blangsak-nya. Kamu selalu berharap dia sadar diri dan mau berubah.

Tapi kamu keliru. Sangat keliru malah. Dia nggak pernah peduli pada ‘dirimu.’ Dia nggak pernah menganggap semua pemberian kamu itu berarti. Blangsak !!!

Dia hanya mempedulikan egonya. Dia hanya mempedulikan kesenangannya. Ketika dia bosan, dia pergi begitu saja. Oh, alangkah malangnya dirimu.

Tapi masalahnya, kenapa sekarang kamu malah menyesal? Kenapa malah kamu yang menangis? Jelas-jelas kamu sendiri yang cari gara-gara dengan memacarinya? Padahal, kamu ini jagoan matematika di kelas. Bagaimana mungkin kamu alpa memperhitungkan semua ini?

Oh ya, cinta memang bukan matematika. Tapi tak kusangka kamu malah percaya pada prasangka. Sekarang lihatlah, kamu malah jadi sakit hati sendiri. Dia memang ganteng, tajir, bintang sekolah, tapi jika kelakuannya blangsak, apa lagi yang tersisa untuk dipertahankan?

Kalau pun kamu masih mau bertahan dengannya, apa yang kamu harapkan dari hubunganmu selanjutnya? Bukannya kamu malah semakin makan hati? Padahal kamu nggak pantas diperlakukan blangsak  oleh pacarmu. Kamu punya harga diri, ‘adikku sayang.’

Sini-sini mendekatlah padaku. Aku lebih tahu bagaimana membuatmu bahagia. Aku memang tidak pernah menyatakan cintaku padamu. Aku selalu mencintaimu dalam diam. Karena itu, boleh jadi akulah orang yang paling peduli pada perasaanmu—lebih dari siapapun.

Sini-sini, mendekatlah padaku. Aku mau menemanimu, mendengarkan keluh kesahmu sampai akhir malam. Tapi tolong jangan baper. Aku tidak bisa menjadikanmu pacar sekarang. Aku tidak ingin kamu terlalu berharap. Ada hal lain yang ingin kukejar saat ini.

Jika kamu mau menungguku di batas waktu, maka tunggulah. Bersabarlah, sambil terus memperbaiki diri. Biarkan jarak menjawab perasaan ini. Apakah ia akan semakin membesar atau malah lenyap tak berbekas.

Untuk sekarang, aku hanya ingin menemanimu—sebatas seorang sahabat.


Oh, iya, jangan lupa sampaikan ‘jari tengahku’ pada pacarmu yang blangsak itu!


NB:
* blangsak = tabiat buruk, semacam kata ganti untuk "brengsek"

Sunday, 14 February 2016

Para Pengikut


.   .   .

“Kau tahu apa yang paling aku khawatirkan di dunia ini?”

“Tidak.”

“Aku khawatir suatu hari nanti orang-orang tidak bisa berhenti untuk ikut-ikutan.”

“Maksudmu?”

“Lihatlah, orang-orang tidak pernah menjadi diri mereka sendiri. Mereka tidak memiliki kesadaran pada pilihan hidupnya. Keputusan mereka disetir oleh tren, gengsi, pangkat, wibawa, dan atribut artifisial lainnya. Mereka terjebak untuk selalu ikut-ikutan dan menganggap perbuatan baik adalah apa yang dilakukan kebanyakan orang. Mereka tidak pernah merasakan kemerdekaan untuk menentukan pilihan mereka sendiri.“

“Lantas, apa hubungannya dengan kekhawatiranmu?”


“Aku khawatir jika suatu hari nanti ‘ketelanjangan’ menjadi sebuah tren di dunia. Orang-orang akan sibuk menelanjangi diri mereka tanpa risih, tanpa merasa malu, dan tanpa rasa sungkan. Mereka yang tidak ikut telanjang dicap sebagai orang kuno, tidak gaul, tidak mengikuti trend, dan tersisih dari pergaulan. Jika ditanya mengapa, mereka hanya akan menjawab: “Karena banyak orang yang melakukannya,

Friday, 5 February 2016

Kenapa Belum Punya Pacar?


.   .   .

“Kenapa kau belum punya pacar?”

“Untuk apa? Aku malah kasihan jika aku punya pacar.”

“Lho, kok kasihan?”

“Pacaran saat kita masih jauh dari menikah itu tidak mudah.”

“Ya, tentu saja. Bukankah cinta memang perlu diperjuangkan?”

“Diperjuangkan, tapi bukan berarti dilakukan dengan nekat dan tanpa memperhitungkan resiko patah hati. Alih-alih berakhir bahagia, yang aku lihat pacaran justru menyiksa pelakunya.

“Maksudmu?”

“Ketika pacaran kau memberi harapan, membicarakan janji-janji masa depan yang semuanya terlihat begitu hijau bagi pasanganmu. Semakin lama pasanganmu akan semakin berharap semua itu akan menjadi kenyataan. Tapi ketika kau tak kunjung bisa mewujudkannya, bukankah itu sama saja kau sedang menyiksa pasanganmu dengan harapan?”

“Memang terdengar menyakitkan kalau yang terjadi seperti itu.”

“Bukankah di dunia ini banyak orang yang pacaran bertahun-tahun tapi akhirnya kandas sebelum ke pelaminan? Bukankah tidak sedikit di antara pelaku pacaran yang terjebak dalam perasaannya sendiri, susah move on, bahkan sampai menikah pun mereka masih teringat pada masa-masa pacaran? Apa jadinya kalau mantan pacarnya ternyata bukan orang yang dinikahinya?”

“Menurutmu apakah itu memalukan?”

“Ya. Dan dalam standar moralku, orang yang sudah lama pacaran tapi tidak jadi nikah itu memalukan. Aku tidak mau itu terjadi padaku. Belum lagi mereka yang pacarannya kebablasan, sampai harus menjalani pernikahan yang bukan karena kesiapan melainkan karena ‘kecelakaan.’ Itu ironis sekali.”

“Tapi kau kan orang baik-baik. Kau tampan. Pintar. Kau disenangi banyak orang. Luwes dalam bergaul. Kau punya wawasan tentang bagaimana menghadapi wanita dan semacamnya. Rasa-rasanya kau tidak mungkin melakukan kekhilafan seperti itu.”

“Justru karena itulah. Aku tidak tahu kapan aku akan khilaf. Aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa menjaga diriku sendiri. Tidak ada jaminan. Dan ketika kita memutuskan untuk melibatkan orang lain dalam lingkaran kehidupan kita, itu bukan persoalan main-main dan penuh coba-coba. Jika sampai orang yang aku libatkan merasa tersakiti, merasa dirugikan, maka aku akan menanggung dosa selama orang itu belum mau memaafkanku. Bukankah itu mengerikan?”

“Jadi apa yang sedang kau lakukan? Kapan kau akan mulai memikirkan tentang jalinan hubungan yang serius dengan seseorang?”


“Entahlah. Ada hal lain yang harus aku lakukan untuk saat ini. Kalau kau ingin meminta saran tentang urusan perasaan, urusan cinta, lebih baik kau tanyakan pada temanmu yang sudah menikah. Mereka pasti jauh lebih paham pahit manisnya jatuh cinta dan tahu seluk-beluk membangun komitmen yang lebih tinggi daripada seorang lajang sepertiku.”

Thursday, 31 December 2015

Akhir 2015, Postingan ke-100, dan Catatan 'Payah' Blog Ini


Orang payah akan tetap payah selama dia masih bersikap lemah
dan tak punya arah dalam hidupnya.
Hatake Niwa

Sepanjang 2014 lalu, jumlah postingan saya di blog ini hanya 49 tulisan. Postingan absurd yang sedang kalian baca ini, adalah postingan saya ke-51 di tahun 2015. Artinya jumlah postingan saya mengalami peningkatan dibanding tahun lalu—meski cuma dua biji. Bisa dikatakan tidak ada peningkatan berarti pada aktivitas blogging saya di tahun ini. Meski artikel ini adalah artikel saya yang ke-100, rasanya tidak ada yang istimewa dari pencapaian itu, mengingat dua bulan yang lalu, saya sempat hiatus. So lame.

Saya jadi tidak PeDe menuliskan tetek bengek akhir tahun seperti resolusi 2016, kaleidoskop 2015, atau menulis tentang pengalaman berkesan di tahun 2015 mengingat tidak ada yang bisa dibanggakan dari blog ini. Sepanjang 365 hari, blog ini hanya mampu menjaring satu follower. Kolom komentar juga masih kosong meski saya sudah berpeluh-peluh memutar otak untuk membuat artikel yang sekiranya tidak berguna. Jumlah pengunjung? Stagnan di angka dua ribuan.

Entah aib apalagi yang bisa saya tuliskan di sini. Blog ini hanya berawal dari keletihan saya mengerjakan skripsi. Saat itu saya butuh pelampiasan bagi ide-ide yang berkelindan di otak liar saya. Dan sekarang, lebih dari setahun sejak hingar bingar skripsi berlalu, saya masih belum mampu menunjukkan passion membara untuk blogging. Benar-benar milestone yang payah.

Dari segi isi tulisan, kebanyakan postingan saya adalah hasil interpretasi dan perenungan saya pribadi terhadap fenomena yang saya jumpai di lingkungan sehari-hari. Karena itu, tulisan-tulisan saya di blog ini hanya bersifat berbagi pemikiran. Kalian harus bisa memilah sendiri mana yang berguna perlu diambil, mana yang keliru, tidak berguna sehingga perlu ditinggalkan. Itu hak kalian sebagai pembaca. Yang jelas jangan pernah menjadikan konten blog ini sebagai sumber referensi pelajaran lebih-lebih referensi tugas kuliah.

Jika kalian memaksa saya membuat resolusi tahun 2016 untuk blog ini, saya hanya berharap tahun depan saya tidak berlama-lama hiatus ngeblog. Setidaknya saya harus menulis satu artikel sebulan, agar jumlah bulan di side bar  genap dua belas. Lebih dari itu, semoga saya segera menemukan passion membara untuk mengisi blog ini dengan artikel-artikel yang tidak berguna di masa mendatang. Oh iya, mungkin saya juga harus mulai memikirkan artikel bertema “cinta” untuk mengisi blog ini tahun depan. Sudah terlalu lama saya tidak menulis artikel tentang itu (sedang hiatus  untuk menulis topik itu juga).

Akhir kata, untuk siapapun yang pernah “nyasar” di blog ini, saya haturkan terima kasih atas kunjungannya. Saya malah tidak yakin kalian akan nyasar ke sini lagi dan membaca catatan ini. Sampai jumpa lagi tahun depan nggih… ( ngomong-ngomong, besok pagi sudah tahun depan kan ya? )


Dari aku yang payah,
Salam

H. N , December 31th, 2015

Monday, 15 June 2015

Percaya pada Kekuatan Doa


"Apa kau percaya pada kekuatan doa?"
"Ya, tentu saya meyakininya."
"Lantas kenapa kau berhenti melakukannya?"

— Self Reminder 

Monday, 18 May 2015

Manusia yang Menganiaya Dirinya Sendiri

Kau tahu, hal termudah dalam hidup ini adalah melihat segala sesuatu dari kacamata kesedihan, kecemasan, dan ketidakberdayaan hingga pada akhirnya dirimu membiarkan ketakutan menyakiti dirimu sendiri. 

Bodoh—tapi begitulah kebiasaan manusia yang selalu menganiaya dirinya sendiri

Lantas mengapa kau tidak memilih untuk bersyukur? 

Tidak ada lagikah Tuhan dalam hatimu?

-  H.N.  -

Wednesday, 29 January 2014

Nggak Ada yang Namanya Orang Bodoh


Lagi-lagi menyoal orang bodoh. CApek deh dibilang anak bodoh melulu. Positifnya apa sih jadi orang bodoh??? Bodoh itu label sob. Bukan ketokan palu hakim yang adil. Bodoh itu relatif. Jadi kalo saat ini ente ngerasa bodoh, itu cuma luapan perasaan sesaat. Misalnya ada orang nggak bisa maen gitar, dia bakalan dibilang bodohlah kalo megang gitar. Tpi tanpa disadari ternyata si bodoh yang nggak bisa maen gitar tadi jago nyanyi. Apa kita masih mau bilang dia bodoh???

Ada baiknya kita mengembalikan semuanya pada hakikat penciptaan manusia oleh Tuhan. Masak Tuhan tega ngasih kita label bodoh? Manusia diberi akal en hati untuk memakmurkan bumi ini kan? LAgian asal ita pinter2 ngembangin bakat kita, label cerdas tadi tinggal nunggu waktu aja. Cerdas itu hasil usaha jga loh. Jadi kalo hari ini masih juga ada yang merasa bodoh munkin perlu diklarifikasi lagi pernyataan ente.

Katakan: Saya orang cerdas...saya orang cerdas...saya orang cerdas,...dan saya masih WARAS!
Selamat menjadi orang cerdas... Inilah saatnya berubah!